Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Minggu, 08 Januari 2017

Sebaiknya Ku Pergi (Juga)

Terlalu...
Kukatakan lagi semuanya serba terlalu
Terlalu keterlaluan
Hingga memaksaku memutar otak atas semua ini.

Terlalu banyak bahan pertimbangan yang harus lolos dalam penghayatanku saat ini.

Entah harus ku mulai dari mana
Sebab kata demi kata terasa sulit untuk aku ungkap

Terkadang aku kehabisan kata-kata untuk menumpahkan seluruh beban hatiku.

Apa yang salah sebenarnya ?
Kenapa selalu disalahkan ?
Kenapa tidak ada yang mengerti ?
Kenapa harus pergi ?
Kenapa ada kenapa ?

Sepanjang malam ini, aku terpikirkan tentang aku dan kalian.

Rasanya baru kemarin kita bertemu, saling kenal, kemudian menjadi akrab.

Rasanya baru kemarin mewarnai kebersamaan kita disini dalam cerita yang mengharu biru dan tanpa sempat kita abadikan dan harus kehilangan semua tanpa aba-aba.

Dunia yang seharusnya dinikmati justru menjadi penyebab perpisahan kita. Terombang-ambing oleh peristiwa, pikiran dan perasaan.

Dan kalian benar-benar pergi
Meninggalkanku sendirian diantara mirisnya kehidupan disini

Kalian benar-benar pergi
Bersama kepingan hati yang menurutmu hancur padahal kau tak tahu betapa rapuhnya aku

Kalian benar-benar pergi
Membuat hatiku terbelit tanda tanya mengapa ?

Yah, sisa-sisa episode kemarin masih terasa hangat.
Aku tahu hal ini tak mudah. Sebab hatiku pun merasakan ngilu dari sebuah kejadian yang terulang, berkali-kali yang tergugat oleh nurani, menguras emosi dan pikiran. Dituntut tapi tak ada sedikitpun pengertian dan penyelesaian. Sebuah kejadian tersadis saja, alur ceritanya ditenggelamkan. Seolah-olah kita adalah tameng yang kapan saja siap dibunuh oleh kata-kata yang tak semestinya dilontarkan.

Tinggal diriku yang masih bertahan untuk berada diantara mereka walau pada hakekatnya aku tak sanggup.
Bagiku ini pahit.
Kurasa, aku juga harus pergi.

Rabu, 23 November 2016

Katakanlah, Aku Pandai Menyembunyikan Perasaan

Sampai saat ini, aku masih dengan perasaanku yang sama. Hanya saja kau tak tahu. Seperti hujan yang menumbuhkan kembali tanam-tanam pada lapang yang sempat gersang. Seperti hujan yang berkali-kali merasa sakit tapi tetap jatuh sejatuh-jatuhnya. Barangkali, kau sudah ditenggelamkan oleh perasaanku yang dalam tanpa sempat kuselamatkan lagi. Entah, mantra macam apa yang kau guna. Aku tahu persis bagaimana kau, melihatnya dan dari omongan orang lain tentangmu membuat enggan menyapa dengan suasana hatimu yang lagi meracau. Pernah sekali, kudapati dan tanpa sengaja kudengar kata-kata ketusmu. Terkadang pula kau senyum jika suasana hatimu lagi baik. Kau aneh. Aku menyukai segala keunikan yang ada padamu. Itulah mengapa kau tak bisa lepas dari pandanganku. Terasa misterius bagiku. Ingin tahu bagaimana kau. Semakin penasaranku menambah semakin tumbuh kau dihatiku. Mungkin kau terlalu mempesona dan aku terlalu biasa. Aku biasa-biasa dan diam-diam saja.

Bagiku, kita adalah ketidakmungkinan, itulah aku diam. Tapi bagi Allah kemungkinan, bisa jadi, itulah aku melangitkanmu dalam sujud tengah-tengah malamku. Beberapa kali, kau lebih sering hadir dalam mimpiku, dalam tulisan-tulisanku, kata hatiku, dan tentu saja dalam diamku. Kadang kita juga bertemu secara tak sengaja. Di jalan setapak misalnya. Bersama menikmati lampu-lampu kota tapi kita hanya menikmatinya sendiri-sendiri. Sering kehilangan kata-kata. Tegang dan diam saja.

Katakanlah, aku terlalu pandai menyembunyikan segala halnya tentang perasaan. Sendiri saja. Dulu, kesan awalnya kita pernah terlibat dalam sebuah perbincangan malam itu disebuah Klinik. Kau mengawali tapi maaf aku mengabaikanmu. Aku menjaga diri, menjaga hatiku. Takutnya terlalu dalam aku jatuh sejatuh-jatuhnya padamu. Grogi, tak tahu mesti bagaimana berinteraksi dengan seorang laki-laki. Lebih tepatnya aku yang pemalu.

Kadang pandanganku meluas mencari sesosok dirimu. Melihatmu dari kejauhan lalu kau mendekat. Aku pura-pura saja tak melihat, tak peduli. Kau berlalu tanpa kata dan aku terpukau tanpa sapa.

Meski terkadang ada setitik gumpalan kecemburuan, membuat dada sesak, tenggorokan tercekat dengan sesosok perempuan yang sudah tertawan dimatamu.
Aku pun kerap kali merapal mengikhlaskan untuk hati yang kau tautkan pada hati perempuan itu. Karenanya, aku melihat senyum yang merona diwajahmu. Dan akupun harus merelakanmu berkali-kali untuk bahagiamu. Menjauh dan berusaha menghindar pada garis waktu yang tak disengaja kita diketemukan. Siapa aku ? Aku bukan siapa-siapa. Tidak istimewa.

Tapi, kupikir aku akan baik-baik saja. Nyatanya, getir terasa melepas senyum dengan kepura-puraanku bahagia. Ada semacam perih dalam hatiku yang membuat mataku dipaksa berair. Aku bisa apa ?. Aku bisa diam saja. Kau selalu menjadi alasanku untuk pergi agar intensitas rasaku juga ikut berkurang. Tapi, mengapa kau juga menjadi alasanku untuk tetap disini ? Seperti ada yang menahan kakiku untuk melangkah pergi. Sampai saat ini, aku masih disini dengan rasaku yang tersembunyi.

Ah, kita hanyalah sama-sama makhluk asing yang berbatas jarak dan ruang waktu. Tak mampu memandang lekat, tak bisa menggenggam erat, hatimu beku, hatiku kalut, kau misteri dan aku kabut. Katakanlah, aku hebat menyembunyikannya dengan diam. Segalanya tentangmu. Karena yang kurasa terkadang yang dilakukan dengan diam itu lebih tulus. Meski, aku tak suka dengan kehadiran rasa ini. Akupun juga tak ingin berharap banyak. Terlalu menyedihkan. Aku lebih memilih diam dengan melangitkanmu dalam do'a-do'aku. Aku belajar berkali-kali mengikhlaskan, membiarkanmu pergi dengan cinta lain. Aku selalu menyiapkan diri dengan segala hal yang akan kulihat dan kudengar. Dan do'a yang sering kurapalkan. Semoga kau dapati dalam sujudmu. Anggap saja, matamu mataku tak pernah ada titik temu sampai kita dipertemukan pada titik rindu. Katakanlah, aku pandai menyembunyikan perasaan.

Rabu, 23 November 2016
@Maros

Senin, 08 Juni 2015

Berasal Dari Orang Yang Sama

Beberapa pekan yang lalu, aku dikejutkan sebuah kabar dari teman dekat, teman jalan yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Sebuah kabar yang membuat hatiku terperanjat kaget, goyah dan dan kakiku tak mampu berdiri ditempatku berpijak. Saat itu, seusai sholat isya dia hendak menahanku untuk pulang. Dia mengajakku duduk di pelataran Masjid dengan menikmati malam dan memandangi terangnya bulan sya'ban. Semua santri telah pulang dan hanya kami berdua. Ada sesuatu hal yang ingin dia katakan padaku dan sudah lama dia ingin mengatakannya. Ku pikir dia akan mengatakan hal yang sama tentang apa yang menjadi keluhannya selama ini. Tapi tidak...ini sebuah kabar yang mengekstrak hati. Sebuah kabar yang sangat tak disangka olehku hingga menjadi buah pembicaraan panjang dimalam itu dan pulang membawa getar sepotong hati. Yah, sebuah kabar gembira tapi membuat kami saling tidak mengenakkan hati.
Just why, berasal dari orang yang sama ?
Iya, kami sama-sama mempertanyakannya hal itu yang bisa jadi menjadi faktor kesenjangan ukhuwah kami.
Mengapa berasal dari orang yang sama ? Kujawab, inilah bagian dari pertemuan takdir kita dan inilah jawaban atas do'amu dan do'a orang itu. Dia memilihmu.
Just why ?
Berasal dari orang sama...
Orang yang sebelumnya dan tanpa sengaja menjadi tumpanganku sewaktu penelitian di Puskesmas dua tahun yang lalu.
Orang yang sebelumnya bertanya-tanya tentangku.
Orang yang ingin mengajukan lamaran untukku.
Yah, sebuah pengajuan-lamaran.
Saat pengajuan itu, aku hanya diberi sedikit waktu untuk menyetujuinya atau tidak dan yang kutahu dua pekan kedepannya adalah moment sakral yang telah ditentukan dari pihak keluarga orang itu agar bisa menyamakan waktu dengan adik perempuannya yang juga akan menunaikan setengah diennya. Dan dua pekan itu adalah waktu yang singkat bagiku untuk ingin berta'aruf dengannya dan bisa benar-benar menyiapkan diri. Tapi dikarenakan waktu yang sangat mepet, pengajuan itu tertolak secara sepihak oleh tanteku tanpa menanyakan keputusanku yang sebenarnya. Dengan penolakan secara sepihak itu, orang itu pun tak jadi menikah karena orang itu tak menemukan calon dengan waktu yang semepet itu. Hingga kini dia telah menemukan labuhan terakhir dalam pencariannya dibeberapa bulan ini yang tak lain adalah sahabatku sendiri.
Yang langsung terpikirkan olehku yang membuat aku terperanjat kaget adalah bagaimana keadaan persahabatan kami nantinya ? Bagaimana dengan pertemuanku di hari nikah sahabatku sendiri ? Haruskah aku menyembunyikan diri dibalik layar agar tak timbul ketercanggungan diantara kami bertiga ? Sedangkan, aku dan sahabatku sudah sama-sama tahu bahwa dia orang yang sama yang pernah kuceritakan sebelumnya padanya dan kini kembali menjadi trending topik dalam pembahasan kami kali ini yang sudah lama terkubur. Apa yang kurasa, juga dirasakan oleh sahabatku itu. Bagaimana mungkin ?
Hmmm...bagaimana dan apapun itu.
Aku harus menghadapi keadaan itu dan bersikap seperti biasanya seolah-olah tak mengenal dan tak terjadi apa-apa. Keep calm down, mujahidah.
kini, aku turut bahagia
Bahagia karena sahabatku akan menunaikan setengah diennya.
Bahagia karena orang itu telah menemukan waktu dan orang yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Bahagia karena mereka.
Alhamdulillah,
Adalah kejutan yang luar biasa dimalam itu.
Adalah sebuah kabar dari-Nya atas jawaban do'a-do'a mereka.
Adalah bahagia sahabatku bahagiaku juga.
Alhamdulillah...alhamdulillah...alhamdulillah...
Segala do'a terbaik untuk kalian. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin
***hehehe...sesuatu yang tak terduga oleh keadaan dikarenakan takdir. Cerita ini hanya fiktif belaka... 😄

Rabu, 04 Februari 2015

Februari, Januari Masih Sama


Februari, aku menyapamu... apa yang ingin kukatakan padamu masih seperti yang sudah kukatakan pada januari. Kau pasti sudah mengerti.

Februari, Iya, aku masih memandangi langit yang sama. Langit-langit kamarku yang dibawahnya itulah tempatku bermimpi dan tak berubah sama sekali, sedetik ataupun semenit. Meskipun, aku membuka mata dan terbangun... kenyataan tetap tak berlaku untukku tapi aku masih bisa bersabar menunggu keberlakuannya padaku.

Februari, bantu aku menemukan maret, april, mei, juni, juli, agustus, september, november dan desember yang indah agar aku bisa memenuhi dan menunjukkannya pada januari mendatang. Bisakah kau ?