Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

Sepucuk Surat Untuk Sahabat



Seorang sahabat pernah mengirimkan sebuah pesan yang penuh makna. Isi pesan itu adalah: "Sahabat, dengarkanlah sejenak.. Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala .. "Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia, Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami," Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")

 
Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena Mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat." Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku, "Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu." Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu Tentang Allah ta'ala ..Agar aku dapat besamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya.. Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu.. Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu.. Amiin... 

(Cuplikan kajian Ustadz Badru Salam Lc, -hafidzahullah-) Qultu: Terima kasih sahabat.... Semoga Allah mengumpulkan kita didalam Firdaus-Nya.... Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

Sabtu, 27 September 2014

Banyak Kerinduan Saat Hendak Melupakan


Rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja
Benarkah... sedang hilang ?
Benarkah... sedang ditelan dunia ?
Benarkah.......???
Atau ... !!!
Kisah sebuah perjalanan panjang kerinduan

Sabtu, 19 Juli 2014

Ingatlah Kebaikannya

“Mata keridhaan, buta terhadap segala aib, tetapi mata kebencian, menampakkan segala keburukan” (Sa’id Hawwa, Al Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus)

Rasanya tak kan ada yang menyangkal bahwa persahabatan itu sangat indah. Betapa tidak, sungguh menyenangkan sekali mempunyai seseorang untuk melewatkan hari-hari, berbagi cerita, serta merasakan suka dan duka bersama-sama. Begitu hebatnya persahabatan ini, hingga seseorang bisa menganggap sahabatnya seperti saudara kandung sendiri, bahkan juga dapat melebihi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa keindahan hidup ini belumlah lengkap tanpa kehadiran sahabat.

Tetapi kadangkala…

Persahabatan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena sang sahabat melakukan hal-hal yang tidak kita suka. Kadang kita merasa, sang soulmate mulai menjauh dan lebih memilih berteman akrab dengan orang lain entah karena alasan apa. Kecewa, marah, dan perasaan merasa diabaikan bercampur aduk menjadi satu. Pepatah “habis manis sepah dibuang” tiba-tiba saja dirasa sesuai dengan keadaan kita.

Kenangan lama tentang sang sahabat tak jarang datang kembali ke benak ini. Akan tetapi yang muncul hanyalah ingatan tentang sisi buruknya saja. Kebencian lalu menuntun kita untuk meneliti kekurangannya satu persatu. Kesalahannya di masa lampau mulai menari-nari di panggung pikiran. Berbagai prasangka yang tak beralasan pun perlahan-lahan menyeruak dan membelenggu akal sehat.

Begitulah. Sahabat yang pada awalnya kita sayangi berubah menjadi orang yang paling ingin kita hindari. Kita menjadi malas berbicara dengannya. Tak ada lagi keinginan untuk menelponnya barang beberapa menit saja. Kita pun tak berkehendak menyapanya lewat sms atau e-mail. Ya, dengan ungkapan lain, kita menjadi alergi dengan keberadaannya, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan biarkan kebencian kita bertahta, wahai kawan!

Memang, kita hanyalah manusia biasa. Adalah hal yang wajar jika kebencian terbit ketika kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai kehendak hati. Tapi ingatlah, tak sedikitpun kita diperintahkan untuk memelihara kebencian. Tidak oleh Allah, tidak oleh para nabi dan rasul-Nya, tidak juga oleh para pecinta-Nya yang sejati. Tak ada satupun. Kebencian adalah bagian dari amarah. Dan bukankah Rasulullah telah berulangkali mewasiatkan supaya ummatnya tidak marah?

Berpikir jernihlah, wahai saudara!

Manusia diciptakan tak hanya dengan kelebihan, tapi juga kekurangan dan kelemahan. Sangatlah tidak mungkin kita menemukan orang yang segala perilakunya sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Maka janganlah membencinya apalagi memutuskan hubungan silaturahim dengannya.

Untuk mengusir rasa benci, mengapa kita tidak mengingat sisi yang baik saja darinya? Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang amanah. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu menepati janji. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu berkata jujur. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dialah pendengar yang baik. Mungkin saja, dia mempunyai kebaikan yang tidak ditemukan pada sahabat kita yang lain… Sekarang, kita hanya perlu membimbing pikiran kita untuk mencari kebaikan-kebaikannya itu.

Masih ada noktah hitam yang menodai hati?

Janganlah biarkan pikiran buruk yang berkuasa. Ingat saja kenangan indah yang lain. Ketika kita merenda hari-hari bersamanya. Ketika kita melakukan banyak hal yang menggembirakan dengannya. Sungguh tiada guna mengingat kenangan yang kurang menyenangkan karena bisa saja timbul prasangka dan pikiran buruk terhadapnya. Dikarenakan itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu, jangan mencari-cari dan mematai-matai kesalahan orang lain, jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain, dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
Masih ada berkas-berkas kebencian yang menyusup di relung hati?

Ayolah, coba ingat yang baik-baik dari dirinya. Tentu ada! Jikalau dia memang bersalah, serahkan saja pada yang Maha Adil. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan membencinya? Bukankah kebencian hanya akan menyuburkan amarah dan perlahan-lahan akan mengotori jiwa? Maka dengarkanlah firman Allah,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)
Dan mengapa kita mesti terpaku dengan “karena nilai setitik, rusaklah susu sebelanga”? Bukankah kita bisa memindahkannya ke belanga yang lebih besar lalu menambahkan lebih banyak susu untuk memperkecil kadar nila dalam campuran itu?

Kemudian, tak ada ruginya untuk menengok sejenak apa yang ada dalam hati kita sekarang. Apa yang menjadi pendorong sewaktu kita menjalin persahabatan dengan orang lain? Adakah kita yakin bahwa kita mengharapkan pujian, penghormatan, ataupun semacam bentuk balasan dari sahabat itu? Sekali lagi, astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan. Buanglah jauh-jauh niat-niat seperti itu. Percayalah, kekecewaan itu muncul karena kita menghadirkan tujuan-tujuan selain-Nya. Sejatinya, tidak ada balasan yang lebih baik selain yang diberikan-Nya. Dan betapa rendahnya kita jika mengharap balasan selain dari-Nya. Maka bersahabatlah karena Allah. Jalinlah hubungan persahabatan jika itu membuat kita makin dekat dengan-Nya. Seandainya kelakuan sang sahabat tidak sesuai dengan harapan, kita akan bisa mengerti bahwa dia hanya seorang ciptaan Allah yang pasti jauh dari kesempurnaan.

Teman, masih ada kebencian yang seadang bersemai?

Tidak usah merusak kebahagiaan kita dengan hal-hal yang buruk. Pikirkan saja sesuatu yang membuat iman kita tidak luntur dan suasana hati menjadi lebih tenang. Dengan begitu, insyaAllah kita akan tetap berada dalam kondisi emosi yang stabil. Maka Alfred Adler, seorang psikiater pun berkata, “Di antara keistimewaan yang paling indah pada manusia adalah kemampuannya mengubah negatif menjadi positif.”

Lalu, mengapa kita tidak mencoba?

Allahu a’lam bish-showab,

Sumber : Klik

Kamis, 03 Juli 2014

Lagi...Untuk Sebuah Maaf

Aku menemukannya diantara catatan diamku yang lama untuk sebuah maaf yang tak pernah lelah

Bismillah...


Mari bercermin sejenak pada sebuah telaga bening bernama Hati..
Semoga kedalamannya memberi satu peluang bahwa masih ada ruang untuk sekedar membuka harapan pada sebuah kata maaf..
Semoga telaga itu tak keruh penuh dgn prasangka,curiga dan kemarahan...
Catatan ini saya buat untuk mewakili hati, bila selama bersahabat saya salah
Karena tak ingin memberikan celah bernama kemarahan untuk berkuasa...
Mari beri sedikit momen untuk jiwa melihat lebih dalam dengannya kita bisa pahami bahwa hangatnya kata maaf akan menurunkan kekecewaan agar ukhuwah kita kembali terjalin dengan baik.



"Maka sesuatu yg diberikan kepadamu ,itu adalah kenikmatan hidup di dunia dan yang ada pada sisi Allah, lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf dan( bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan tuhannya dan mendirikan shalat,sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antar mereka " (Qs.Asy-Syuura 36-40)

Persaudaraan itu sesuatu yg indah.
Rasa bahagia dlm jiwa itu menjelma bila kita di kasihi dan mengasihi.
Itu memang fitrah penciptaan manusia. Suka bila dirinya disayangi. Gembira bila dirinya dicintai. Nikmat persaudaraan itu sendiri adalah kasih dan cinta.
Tanpa keduanya,kita tidak akan menikmati kemanisan dalam nikmat ukhuwah.
Manisnya lebih terasa bila kita yg memberi ukhuwah atas iman.
Jiwa akan terasa lebih bahagia apabila ukhuwah yang terjalin adalah atas dasar iman  kepada Allah.
Ia bukanlah satu hubungan yang biasa. Tetapi ia dibina atas kekuatan iman yang mendominasi jiwa.
Akhirnya melahirkan natijah yang hebat.

Maros, 17 Januari 2012

Selasa, 01 Juli 2014

Beda. Sangat beda. Teramat Sangat Beda



Entah karena apa yang terjanggal dipikirku dari bulan-bulan sebelumnya yang sampai saat ini masih memilih diam tanpa banyak kata dan menuangkannya di catatan diam ponselku beberapa pekan yang lalu. 

Kaki yang berpijak ditanah basah, tetiba mengering. Aku tidak mengerti musim macam apa yang membuatnya seperti ini. Hijau yang telah dijadikannya abu tak terasa lagi keindahannya. Kutelusuri semua penjuru namun tak jua kutemui apa dan kenapa ? Semudahnya saja melepas ikatan, genggaman harapan dan impian yang telah diraih susah payah lalu pergi tiada berita. Ikatan macam apa ini ?, tanyaku.

Dirimu tak lagi dahulu. Beda. Sangat Beda. Teramat sangat beda. Jalan yang dirimu tempuh itu semakin baik, semakin mengenal Allah dan aku bangga akan hal itu tapi tak lagi mengingat sama sekali sosok diriku, siapa aku bagimu. Tanggapanku yang dulunya dirimu kata diatas angkot dalam pertemuan tak disengaja dan yang sesingkat-singkatnya “maaf, saya tidak sering sapaki di dunia maya” jawab diriku “tidak mengapa saya juga tidak sering OL”, hanya itulah diriku ucap sebab diriku tahu pasti bentuk alasannya, dirimu tentu tahu alam maya bukanlah suatu penghalang untuk kita.

Kutahu segala ingatan dan mengingat-ingatnya membuatmu luka. Sedikit kuingat, surat kaleng yang berisi kata-kata kejudesanku tanpa berfikir-fikir membuatmu luka yang teramat nyeri dan kusadari itu bahwa diriku melakukan kesalahan yang fatal. Dirimu merasa bahwa dirimulah yang teramat luka tanpa tahu diriku pun teramat luka atas kata-kata judesmu pula yang sedikit kutahu dirimu menjudge diriku mengimitasi yang sepenuhnya disalahkan pada diriku, yah tumpahkan saja. Namun, Allah Maha Baik. Tanpa ku minta sekalipun Allah membuatku lebih banyak lupa kesakitan dari sekian kata-kata itu dulu daripada banyak mengingat dan diriku tak ingin memaksa mengingatnya, menyelami ingatan dan berlarut-larut didalamnya. Diriku pun hanya meminta sepotong hati yang baru. Sebab, diriku tak ingin menghilangkan dan terlupa sisa-sisa kenangan indah yang kita punya yang sebagian besar telah terlupa dan walau diriku tahu kenangan indah dihati ini perlahan-lahan akan dihapus oleh ingatan dan oleh dirimu. Tak seperti dulu, bukannya kita saling menguatkan dan saling memahami, malah saling melemahkan dan saling menyalahkan hanya karena menemukan hal-hal kecil yang sama kemudian dibesar-besarkan. Bila kutanya, adakah dirimu juga imitasi hal-hal tertentu terhadap diriku ataupun orang lain tanpa diriku ataupun mereka marah bila terdapat kesamaan atau misalnya dirimu menemukan sebuah kesamaan dirimu dengan orang lain yang memiliki segala unsur kesamaan yang sama halnya dirimu menjudgeku imitasi, apakah dirimu akan menuduhnya dia mengimitasi dari dirimu ?. Hal ini tak pernah pun ku tanya padamu dan diriku cukup diam dengan ini dengan hatiku yang sekarang, dan cukup dirimu yang tahu jawabnya. Tak mengapalah bagi diriku bila itu adalah sebuah kebaikan yang dirimu dapat didiriku untuk dirimu. Bukankah kesamaan kebaikan yang disengaja dan tak disengaja adalah berkah ? Bukannya menggali dan mencari-cari kesalahan, melainkan menutupi sekecil apapun aib saudara (i) kita dan menasehatinya.

OK baiklah, diriku bukanlah tipe pemaksa untuk menjadikannya kembali hijau kita. Diriku hanya mempertahankan sekeping hati rindu buatmu yang telah kutitipkan dan kutebarkan dengan do'a-do’a pada-Nya. Yakinku, jika rindumu merindukanku, kita pasti bertemu di suatu jalan. Sekalipun rindu terlalu lama bagiku, sekalipun rindu tak tersampaikan, sekalipun rindu mematikan setengah ingatan dan hati.

Diriku hanyalah mempertahankan apa yang baik dalam pandanganku dan apa yang baik dalam pandangan agamaku. Itulah dirimu untuk menjadikannya indah di ruang hijau yang kita impikan. Bagiku dalam ukhuwah tak ada yang pergi dari hati, tak ada yang hilang dari sebuah kenangan dan tak ada kata trauma untuk kebaikan mengembalikan ukhuwah kita. Dirimu pasti tahu maksud apa yang kukata. Sebab, tak terlalu mudah tuk sekedar kubahasakan dengan hati. Diriku hanya meraba dinding ruang hijau seberapa dirimu lupa diriku tiada tanya. Sudah diriku kata, alam maya bukanlah suatu penghalang kita. Diriku hanya diam memperhatikan keaktifan dirimu  diduniamu yang sekarang bersama orang-orang yang telah mengenalmu. Lebih memilih menyapa orang yang jauh dibanding orang yang lebih dulu dirimu kenal. Lebih merindukan mereka yang diriku pun tak tahu hatimu merindu sepertiku atau tidak. Entahlah, yang diriku tahu, ruangmu dan ruangku bukanlah kita.

Terasa beda, sangat beda, teramat sangat beda. 
Terlalu gengsi  bercerita kita yang bahkan kini tertutup untuk sekedar tahu menahu. Dirimu tak lagi sesering atau tidak sama sekali menanyaiku dan hanya berbagi sekedar info. Diriku yang pernah mengirim kata hadits dilayar hp-mu dengan perlahan-lahan mengembalikan ruang hijau itu tapi hanyalah berbalas terima kasih tanpa dirimu tak ingin tahu diriku yang merindui dirimu. Beberapa hari yang lalu pun dirimu mengirimiku pesan maaf lahir batin diawal ramadhan, hanya sekedar itu dan pada momen itu. Diriku tahu, dirimu sedang dalam diam tapi jika diam...tandanya dirimu sudah tidak peduli lagi. Dirikupun mengakui bahwa maluku dan gengsiku juga terkadang diatas batas normal untuk sekedar bertanya beritamu semisal, "Hei, sahabat ?, Sibukkah ? Masihkah dirimu merindukanku ?" bahkan diriku sesekali menunggu kedatangan dirimu dengan tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. Mungkin tanyamu, mengapa diriku selalu kutuliskan dan kukata hal yang sama ? Karena disaat kerinduanku memuncak tentang cinta karena Allah, diriku lebih memilih mengenang masa lalu indah saat bersama kita. Dirikupun tak ingin termasuk orang-orang yang dicap oleh Allah yang tidak menunaikan hak terhadap sahabatnya.

“Tidak ada seorang jua pun yang bersahabat dengan orang lain walaupun hanya satu saat sahaja, kecuali ia akan ditanyai pada hari kiamat nanti tentang hak persahabatanya, apakah ia telah menunaikan padanya hak Allah atau tidak.” (Sabda Rasulullah)

Diriku pula memilih dirimu… sebab, Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :
“Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”

Ukhti, dirimu terlalu indah untuk kuhilangkan dalam sebuah kenangan. Diriku hanya cukup diam menanti dirimu siapa aku bagimu dan kembali di ruang hijau kita dulu yang tak lagi terasa beda dalam ukhuwah yang bermakna, kini ataupun nanti. Meskipun, diriku bukanlah deretan orang-orang yang berarti dan dilupa dirimu kini, itu tak membuatku lemah. Apapun bentuk ketidakpedulianmu menemukan sebagian catatan-catatanku disini, tak mengapalah diriku. Sebab, bagiku memaafkan kesalahan adalah bagian dari melupakan tanpa memutuskan silaturahmi dan tanpa berinkubasi. Bukan pada katamu "Memaafkan tidak harus melupakan atau putus silaturahmi.. Tapi adakalanya lebih baik jika kita ber-inkubasi di alam kita masing-masing". Maaf, kata-kata ini ku kutip dari twittermu beberapa bulan lalu. 

Yah, walau dirimu diriku ada sedikit berbeda kata, diriku menghargai keputusanmu. Jika dirimu kata adalah baiknya tanpa kata KITA, katakanlah. Dimasa depan nanti, dirimu diriku akan berhadap-hadapan diatas dipan-dipan yang sama-sama dirindui yaitu di ruang hijau yang setiap orang kata adalah surga (semoga Allah mempertemukan dirimu diriku), aku yakin itu. Untuk segala perlakuan dan perkataan ada banyak alasan yang tersirat yang telah kupahami dari dirimu bahwa itu adalah jenis keterpaksaan. Mungkin, kenangan KITA itu haruslah terbuang. Satu-satunya pemberianmu yang kumiliki hanyalah secarik foto yang tersimpan dan terjaga dalam album. Yah, hanya itu darimu yang ku punya meskipun ingatanku sudah tak cukup kuat untuk mengingat kenangan indah dirimu dan diriku di waktu itu, maka jika dirimu benar-benar berminat tanpa ada gengsi dan keterpakasaan merapatkan jari-jari yang dulu terikat dalam ukhuwah yang indah, kembalilah. Ingatkan diriku dibagian kenangan mana diriku terlupa dan kapan terakhir kali diriku dirimu benar-benar bersama tanpa jeda. Terlupa adalah bagian dari ikhlasku dan mengingat dirimu adalah sahabatku bagian dari yang tak termatikan dihatiku. Meskipun masa lalu, tidak akan pernah menang, karena ia selalu ada di belakang. Jika dirimu mau, marilah menuju masa depan bersama KITA. Segala do'a terbaik untukmu ukhti Aminah.

Semoga Allah selalu menjagamu dimana penjagaanku tidak sampai kepadamu dikala dirimu bersuka lara dan bersuka ria. Jaga kesehatanmu baik-baik terutama detak jantungmu, jangan lupa makan, jangan terlalu sibuk dengan orderanmu, jangan begadang, dan perbanyak mengingat Allah. Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan yang tercapai menjadikan dirimu lebih baik dan indah. Aamiin :).
Diriku hanya bisa berucap lewat beberapa kata yang saat ini dirimu telah temukan sedikit catatan diamku disini. Sebab, tak memuat memori ingatanku yang mungkin suatu saat nanti dirimu atau diriku akan mengingatkan diriku kembali yang tak mampu ucap semua kata dari cerita hati dan terlupa dengan ingatan. Maaf, bila dirimu membaca catatan diamku yang tak benar dan tak sesuai hati dariku. Tegur, nasehati dan katakan padaku jika diriku salah karena persahabatan bukanlah drama :)