Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Selasa, 01 Juli 2014

Beda. Sangat beda. Teramat Sangat Beda



Entah karena apa yang terjanggal dipikirku dari bulan-bulan sebelumnya yang sampai saat ini masih memilih diam tanpa banyak kata dan menuangkannya di catatan diam ponselku beberapa pekan yang lalu. 

Kaki yang berpijak ditanah basah, tetiba mengering. Aku tidak mengerti musim macam apa yang membuatnya seperti ini. Hijau yang telah dijadikannya abu tak terasa lagi keindahannya. Kutelusuri semua penjuru namun tak jua kutemui apa dan kenapa ? Semudahnya saja melepas ikatan, genggaman harapan dan impian yang telah diraih susah payah lalu pergi tiada berita. Ikatan macam apa ini ?, tanyaku.

Dirimu tak lagi dahulu. Beda. Sangat Beda. Teramat sangat beda. Jalan yang dirimu tempuh itu semakin baik, semakin mengenal Allah dan aku bangga akan hal itu tapi tak lagi mengingat sama sekali sosok diriku, siapa aku bagimu. Tanggapanku yang dulunya dirimu kata diatas angkot dalam pertemuan tak disengaja dan yang sesingkat-singkatnya “maaf, saya tidak sering sapaki di dunia maya” jawab diriku “tidak mengapa saya juga tidak sering OL”, hanya itulah diriku ucap sebab diriku tahu pasti bentuk alasannya, dirimu tentu tahu alam maya bukanlah suatu penghalang untuk kita.

Kutahu segala ingatan dan mengingat-ingatnya membuatmu luka. Sedikit kuingat, surat kaleng yang berisi kata-kata kejudesanku tanpa berfikir-fikir membuatmu luka yang teramat nyeri dan kusadari itu bahwa diriku melakukan kesalahan yang fatal. Dirimu merasa bahwa dirimulah yang teramat luka tanpa tahu diriku pun teramat luka atas kata-kata judesmu pula yang sedikit kutahu dirimu menjudge diriku mengimitasi yang sepenuhnya disalahkan pada diriku, yah tumpahkan saja. Namun, Allah Maha Baik. Tanpa ku minta sekalipun Allah membuatku lebih banyak lupa kesakitan dari sekian kata-kata itu dulu daripada banyak mengingat dan diriku tak ingin memaksa mengingatnya, menyelami ingatan dan berlarut-larut didalamnya. Diriku pun hanya meminta sepotong hati yang baru. Sebab, diriku tak ingin menghilangkan dan terlupa sisa-sisa kenangan indah yang kita punya yang sebagian besar telah terlupa dan walau diriku tahu kenangan indah dihati ini perlahan-lahan akan dihapus oleh ingatan dan oleh dirimu. Tak seperti dulu, bukannya kita saling menguatkan dan saling memahami, malah saling melemahkan dan saling menyalahkan hanya karena menemukan hal-hal kecil yang sama kemudian dibesar-besarkan. Bila kutanya, adakah dirimu juga imitasi hal-hal tertentu terhadap diriku ataupun orang lain tanpa diriku ataupun mereka marah bila terdapat kesamaan atau misalnya dirimu menemukan sebuah kesamaan dirimu dengan orang lain yang memiliki segala unsur kesamaan yang sama halnya dirimu menjudgeku imitasi, apakah dirimu akan menuduhnya dia mengimitasi dari dirimu ?. Hal ini tak pernah pun ku tanya padamu dan diriku cukup diam dengan ini dengan hatiku yang sekarang, dan cukup dirimu yang tahu jawabnya. Tak mengapalah bagi diriku bila itu adalah sebuah kebaikan yang dirimu dapat didiriku untuk dirimu. Bukankah kesamaan kebaikan yang disengaja dan tak disengaja adalah berkah ? Bukannya menggali dan mencari-cari kesalahan, melainkan menutupi sekecil apapun aib saudara (i) kita dan menasehatinya.

OK baiklah, diriku bukanlah tipe pemaksa untuk menjadikannya kembali hijau kita. Diriku hanya mempertahankan sekeping hati rindu buatmu yang telah kutitipkan dan kutebarkan dengan do'a-do’a pada-Nya. Yakinku, jika rindumu merindukanku, kita pasti bertemu di suatu jalan. Sekalipun rindu terlalu lama bagiku, sekalipun rindu tak tersampaikan, sekalipun rindu mematikan setengah ingatan dan hati.

Diriku hanyalah mempertahankan apa yang baik dalam pandanganku dan apa yang baik dalam pandangan agamaku. Itulah dirimu untuk menjadikannya indah di ruang hijau yang kita impikan. Bagiku dalam ukhuwah tak ada yang pergi dari hati, tak ada yang hilang dari sebuah kenangan dan tak ada kata trauma untuk kebaikan mengembalikan ukhuwah kita. Dirimu pasti tahu maksud apa yang kukata. Sebab, tak terlalu mudah tuk sekedar kubahasakan dengan hati. Diriku hanya meraba dinding ruang hijau seberapa dirimu lupa diriku tiada tanya. Sudah diriku kata, alam maya bukanlah suatu penghalang kita. Diriku hanya diam memperhatikan keaktifan dirimu  diduniamu yang sekarang bersama orang-orang yang telah mengenalmu. Lebih memilih menyapa orang yang jauh dibanding orang yang lebih dulu dirimu kenal. Lebih merindukan mereka yang diriku pun tak tahu hatimu merindu sepertiku atau tidak. Entahlah, yang diriku tahu, ruangmu dan ruangku bukanlah kita.

Terasa beda, sangat beda, teramat sangat beda. 
Terlalu gengsi  bercerita kita yang bahkan kini tertutup untuk sekedar tahu menahu. Dirimu tak lagi sesering atau tidak sama sekali menanyaiku dan hanya berbagi sekedar info. Diriku yang pernah mengirim kata hadits dilayar hp-mu dengan perlahan-lahan mengembalikan ruang hijau itu tapi hanyalah berbalas terima kasih tanpa dirimu tak ingin tahu diriku yang merindui dirimu. Beberapa hari yang lalu pun dirimu mengirimiku pesan maaf lahir batin diawal ramadhan, hanya sekedar itu dan pada momen itu. Diriku tahu, dirimu sedang dalam diam tapi jika diam...tandanya dirimu sudah tidak peduli lagi. Dirikupun mengakui bahwa maluku dan gengsiku juga terkadang diatas batas normal untuk sekedar bertanya beritamu semisal, "Hei, sahabat ?, Sibukkah ? Masihkah dirimu merindukanku ?" bahkan diriku sesekali menunggu kedatangan dirimu dengan tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. Mungkin tanyamu, mengapa diriku selalu kutuliskan dan kukata hal yang sama ? Karena disaat kerinduanku memuncak tentang cinta karena Allah, diriku lebih memilih mengenang masa lalu indah saat bersama kita. Dirikupun tak ingin termasuk orang-orang yang dicap oleh Allah yang tidak menunaikan hak terhadap sahabatnya.

“Tidak ada seorang jua pun yang bersahabat dengan orang lain walaupun hanya satu saat sahaja, kecuali ia akan ditanyai pada hari kiamat nanti tentang hak persahabatanya, apakah ia telah menunaikan padanya hak Allah atau tidak.” (Sabda Rasulullah)

Diriku pula memilih dirimu… sebab, Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :
Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia

Ukhti, dirimu terlalu indah untuk kuhilangkan dalam sebuah kenangan. Diriku hanya cukup diam menanti dirimu siapa aku bagimu dan kembali di ruang hijau kita dulu yang tak lagi terasa beda dalam ukhuwah yang bermakna, kini ataupun nanti. Meskipun, diriku bukanlah deretan orang-orang yang berarti dan dilupa dirimu kini, itu tak membuatku lemah. Apapun bentuk ketidakpedulianmu menemukan sebagian catatan-catatanku disini, tak mengapalah diriku. Sebab, bagiku memaafkan kesalahan adalah bagian dari melupakan tanpa memutuskan silaturahmi dan tanpa berinkubasi. Bukan pada katamu "Memaafkan tidak harus melupakan atau putus silaturahmi.. Tapi adakalanya lebih baik jika kita ber-inkubasi di alam kita masing-masing". Maaf, kata-kata ini ku kutip dari twittermu beberapa bulan lalu. 

Yah, walau dirimu diriku ada sedikit berbeda kata, diriku menghargai keputusanmu. Jika dirimu kata adalah baiknya tanpa kata KITA, katakanlah. Dimasa depan nanti, dirimu diriku akan berhadap-hadapan diatas dipan-dipan yang sama-sama dirindui yaitu di ruang hijau yang setiap orang kata adalah surga (semoga Allah mempertemukan dirimu diriku), aku yakin itu. Untuk segala perlakuan dan perkataan ada banyak alasan yang tersirat yang telah kupahami dari dirimu bahwa itu adalah jenis keterpaksaan. Mungkin, kenangan KITA itu haruslah terbuang. Satu-satunya pemberianmu yang kumiliki hanyalah secarik foto yang tersimpan dan terjaga dalam album. Yah, hanya itu darimu yang ku punya meskipun ingatanku sudah tak cukup kuat untuk mengingat kenangan indah dirimu dan diriku di waktu itu, maka jika dirimu benar-benar berminat tanpa ada gengsi dan keterpakasaan merapatkan jari-jari yang dulu terikat dalam ukhuwah yang indah, kembalilah. Ingatkan diriku dibagian kenangan mana diriku terlupa dan kapan terakhir kali diriku dirimu benar-benar bersama tanpa jeda. Terlupa adalah bagian dari ikhlasku dan mengingat dirimu adalah sahabatku bagian dari yang tak termatikan dihatiku. Meskipun masa lalu, tidak akan pernah menang, karena ia selalu ada di belakang. Jika dirimu mau, marilah menuju masa depan bersama KITA. Segala do'a terbaik untukmu ukhti Aminah.

Semoga Allah selalu menjagamu dimana penjagaanku tidak sampai kepadamu dikala dirimu bersuka lara dan bersuka ria. Jaga kesehatanmu baik-baik terutama detak jantungmu, jangan lupa makan, jangan terlalu sibuk dengan orderanmu, jangan begadang, dan perbanyak mengingat Allah. Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan yang tercapai menjadikan dirimu lebih baik dan indah. Aamiin :).
Diriku hanya bisa berucap lewat beberapa kata yang saat ini dirimu telah temukan sedikit catatan diamku disini. Sebab, tak memuat memori ingatanku yang mungkin suatu saat nanti dirimu atau diriku akan mengingatkan diriku kembali yang tak mampu ucap semua kata dari cerita hati dan terlupa dengan ingatan. Maaf, bila dirimu membaca catatan diamku yang tak benar dan tak sesuai hati dariku. Tegur, nasehati dan katakan padaku jika diriku salah karena persahabatan bukanlah drama :)

Tidak ada komentar: