astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzimastaghfirullahaal'adzim
seperti malam-malam sebelumnya, usai sholat sunnah sholat isya adalah agenda penyampaian panitia amaliah ramadhan mengenai keuangan masjid dan penyampaian siapa yang akan menjadi mubalig ceramah ramadhan malam ini yang biasanya aku menunggu dengan membaca ayat-ayat Allah 2-3 lembar sebelum ceramah dimulai. Namun, kali ini ku sengaja diriku untuk tidak membawa Al-Qur'an ke Masjid di dua malam ini. Seperti sebagian jama'ah lainnya, Aku hanya duduk terdiam diatas sajadah merah dan menunggu penyampaian dari mereka, siapa yang akan menjadi mubalig malam ini dan judul ceramah apa yang akan dibawakannya berdasar pada tugas agenda ramadhan adik-adik SD terutama yang diberikan oleh adikku untuk sekedar membantunya menangkap isi ceramah sesuai judul. Telinga kanan dan kiriku mulai kupertajam yang kini mulai berkurang pendengarannya sementara buku dan pulpen sudah ada dalam genggaman tangan kananku untuk siap-siap mencatat hal-hal yang akan tersampaikan malam ini. Namun, ternyata malam ini tak ada penyampaian dari mereka yang tiba-tiba aku dan mungkin yang lainnya terkagetkan oleh suara yang tidak asing lagi bagiku dari mikrofon yang tidak lain itu adalah suara Om-ku yang berdiri diatas mimbar sebagai Ustadz yang pada hakikatnya merupakan bagian dari jadwalnya untuk membawakan hikmah Ramadhan. Begitu lantang, begitu tegas, dan begitu bersemangatnya menyampaikan agenda hari ini. Yah, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014 adalah agenda bersejarah di tahun ini bagi Warga Indonesia memilih capres dan cawapres yang layak menjadi pemimpin Indonesia ke-7. Namun, hal ini bukanlah yang akan dibahas layaknya pengamat politik yang lagi gencar-gencarnya saat ini. Kita hanya difokuskan mendengar dan merenung sesuai judul "Iman". Ah, penyampaian kata-katanya yang lagi-lagi berhasil membawa diriku ke alam bawah sadarku hingga aku kembali terisak bercucurkan air mata dengan menjerit dan menangisnya hati mendengar kembali saudara(i)ku di Palestina.
Begitu banyak nikmat Tuhanku tapi aku sedikit bersyukur (Astaghfirullah).
Dulu sampai saat ini, aku masih bisa menikmati masa kanak-kanak hingga dewasaku di Negara ini dengan tenang dan amat nyaman sementara disana sudah banyak yang bergelar syahid tanpa sempat menikmati masa indahnya kanak-kanak di Negara mereka sendiri #Gaza. Satu hari sebelum pesta demokrasi di Indonesia, Selasa, 8 Juli 2014 Gaza SIAGA 1, menjadi GAWAT DARURAT. Detik ini, bertambah korban 4 tewas. Detik ke detik korban tewas dan luka-luka kian bertambah. Dua masjid tak luput dari roket israel, masjid terletak di Abasan Gaza selatan, dua masjid tersebut rata dengan tanah. Pejuang Palestina, tidak pernah meminta menghentikan perang ini, pejuang palestina tetap melanjutkan perang dengan israel. Roket dari Gaza sudah menjangkau ibu kota israel tel aviv dan askelon, ashdood dan askol. #Allahu Akbar
Pejuang Palestina, tidak akan mengangkat bendera putih, tidak akan menyerah. Darah dan nyawa warga Palestina, harus di bayar dengan darah dan nyawa pula oleh Israel Laknatullah. #Allahu Akbar
Ah, Gaza.. Mendengarmu saja sudah terbayang keadaanmu disana seolah kita dekat. Namun, akan kutunggu 'Kun Faya Kun-Nya' hingga kakiku telah terjejak di atas tanahmu. Tunggu! Tunggulah aku, meski do'aku masih menuju Arsy'-Nya. Tapi, ratusan juta do'a-do'a umat muslim dari belahan dunia akan menjadi kekuatan terbesar untuk siapapun yang melawan saudara-saudara palestine. Gaza, kau tak sendiri. Ada aku, ada kami, dan ada mereka. Kami tengah menunggu do'a menjelma nyata dan kita bertatap wajah dalam ukhuwah Islamiyah yang indah.
***
Aku semakin terisak ditengah keramaian jama'ah tarawih hingga banyak yang menoleh padaku dan mungkin aku dilihat oleh ibu. Tapi, aku tidak peduli pandangan orang-orang disekitarku. Hatiku hanya terus menangis, kita masih bisa makan sahur dengan aman tanpa bombardir, mereka ? Untuk makan sahurpun harus berjuang dengan menikmati Ramadhan mereka melawan Israel hingga bergelar syahid. Shalat mereka menjadi 6 waktu karena setiap harinya harus menyolati Jenazah.
Kembali aku tersadarkan oleh kata-kata mubaliq yang membuatku semakin terisak yang diam-diam menutupi mukaku dalam mukena yang kupakai. Yah, dosa. Kata ini tak lepas dariku bahkan pada setiap orang. Begitu banyak dosa yang kuperbuat. Namun, Allah masih mempertemukanku dengan Ramadhan dengan harapan Allah menggantikan hatiku dengan hati yang baru, hati yang bersih dan ingatan yang bersih pula tanpa noda sedikitpun. Sedangkan, aku masih berada dalam kemarau dosa dan malas di tengah hujan rahmat-Nya. Begitu banyak perintah-Nya yang kulanggar, begitu banyak hati yang telah kusakiti, teman, sahabat dan orang tuaku, serta begitu banyak dosa yang selalu menghadirkan nafsu dan keduniaan yang entah berapa kali dosa dan nista itu kuulangi. Kemana lagi pandangan mata hati harus kulayangkan kalau bukan pada-Nya. Adakah seluruh kata penyesalanku masih berguna sedang seluruh pori -pori jiwaku hitam jelaga nista ? #astaghfirullah
Dosa-dosaku pun pasti sudah menumpuk seperti gunung sedangkan amalanku mungkin hanya selembar kapas yang kapan saja dapat terhempas angin. Sulit rasanya memejamkan mata jika terbayang-bayangi oleh perbuatanku yang begitu banyak, tak bisa kuhitung lagi sudah berapa banyak kesalahan itu. Berat kepala ini memikirkannya, perih hati ini merasakannya. Aku gundah dan resah karena dosa. Lalu, aku bisa apa ? Aku hanya bisa berdo'a memohon ampun dan bertaubat pada Allah dengan terus melakukan perbaikan diri dengan hati yang tersisa dan kuperjuangkan menjadikan pribadi yang lebih baik "be a good muslimah".
***
30 menit telah berlalu, ceramah pun selesai yang begitu menggugah nurani. Terlihat di jam dinding menandakan pukul 20.33 WITA dan sholat tarwih pun disegerakan. Namun, dalam sholat aku tetap saja terisak dengan menarik ulur ingus yang ada dihidungku. Mataku pun juga masih berkaca-kaca hingga tetanggakupun bertanya yang kebetulan aku berdekatan dengannya "apakah kamu sedang flu ?". Aku hanya menggelengkan kepala, sebab kutahu suaraku akan parau sehabis menangis hebat secara diam-diam. Inilah malam indah yang menjadi bagian dari perenungan di Ramadhan ini yang semoga Allah mempertemukanku kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar