Kau duduk termenung dalam remang-remang lampu
kamar. Aku melihat senja dimatamu. Menekuk kedua lututmu yang kedinginan. Sudah
beberapa hari ini hujan terus membasahi bumi. Sepintas, tersirat suara angin
dan mengencang menggoyahkan gubuk yang akan roboh. Sesekali, kau mengeluh pada
malam tentang kehidupan. Tekanan hidup yang begitu berat yang menyebabkan
dirimu terjatuh dalam sedih. Kesabaranmu memang benar-benar diuji. Hanya dekat
dengan Allah saja yang membuat hatimu tenang. Hingga tiba-tiba, tercucur tangis
dari matamu yang tak tertahankan.
“ibu”,
“hmm”
“jangan
bersedih, bu”
Kau selalu menangis secara
sembunyi-sembunyi dan tanpa sadar aku selalu memperhatikanmu. Kau tak ingin
orang atau anak-anakmu melihatmu. Kau tak mau kami mengetahui. Kau selalu tegar
dihadapan kami. Mengumbar senyum namun sebenarnya kau sedih. Meski badai ditengah
lautan menerpa. Meski hujan ditengah kemarau melanda. Ketegaranmu tetaplah
kokoh. Namun, belakangan ini kau tampak selalu murung dan diam menyendiri. Semenjak
kepergian adikku yang masih berumur 5 tahun itu.
“sabarlah,
ibu !!!”
Kau tetap saja diam. Dan dengan
tangismu menjadikan basah pipi keriputmu yang termakan usia. Mengucur dan
terisak tiada henti.
“ini
semua salah ibu, nak !”
“bukan
salah ibu. Kepergian Naya sudah menjadi kehendak Allah”
“andai
saja ibu tidak mengajaknya ke jalan raya waktu itu. Semua itu tidak akan
terjadi pada adikmu”
“sudahlah,
bu ! serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Kita do’akan saja semoga Ayah dan
Naya di tempatkan yang layak untuknya”
Kau begitu terpukul dengan kepergian
Naya selang 2 minggu kepergian Ayah karena kanker paru-parunya. Kau menyalahi
dirimu sendiri atas kepergian mereka. Apalagi ketika kau hendak mengingat
kejadian naas yang dialami Naya dan hanya kau yang terselamatkan dari
kecelakaan itu. Kau menyiksa dirimu sendiri tanpa memakan sesuap nasi pun yang tertelan
di tenggorokanmu. Dan kini tak ada lagi senyum manis yang tampak ku lihat dari
rona wajahmu.
Jauh
dari kemarin, kita masih bersama dengan ayah dan Naya. Kita tak pernah berpikir untuk hidup dalam
kemewahan. Meskipun sebenarnya kita selalu kekurangan dengan kebutuhan kita.
Karena yang kau inginkan hanyalah kebersamaan dan kebahagiaan anak-anakmu. Kau
selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur pada-Nya. Dan berkat kegigihanmu membantu
ayah mencari nafkah sebagai buruh cuci membuatku menjadi dewasa dalam hidup. Dan kau tetap teguh menyekolahkanku sampai ke
perguruan tinggi. Senyummu yang ku lihat pada hari-hari itu, membuatku semakin
bersemangat. Tak pernah putus asa menjalani hari-hariku. Disamping, aku sebagai
seorang mahasiswa. Aku juga mengeyampingkan diri bekerja di sebuah toko eceran
sebagai pengantar barang dengan menggunakan sepeda pemberian Ayah untuk
menambah biaya perkuliahanku dan untuk keluarga.
Pernah
di waktu kecilku. Kau mengajakku ke Taman Bermain terdekat lagi murah. Dengan
senangnya, aku menikmati ayun-ayunan yang kau tunjukkan padaku. Dan sesekali,
kau melirikku dengan senyum atas kepolosanku sewaktu kecil. Kau sangat bahagia
denganku. Hingga aku melihat sebuah boneka besar yang terpajang di dalam toko
berkaca saat kita beranjak pulang.
“ibu,
Mila ingin itu !”, rengekku.
“yang
mana, nak ?”
“yang
itu, bu. Yang itu…”, sembari mengarahkan jari telunjuk ke boneka itu,
Kau tampak berpikir panjang sewaktu
aku meminta untuk dibelikan. Dan kau mengusap lembut kepalaku dan menggendongku
untuk tetap pulang tanpa boneka itu. Karena kau tak memiliki uang untuk
membelikan boneka untukku.
“ibu…”,
rengekku lagi.
“nak,
kalau ibu sudah punya uang yang banyak. Nanti ibu belikan untuk Mila”
“Mila
ingin itu, bu.”, dengan kepolosanku, aku tetap merengek meminta dan
memukul-mukul dada ibu untuk dibelikan boneka itu.
“Mila
sayang. Nanti ibu belikan ya. Kalau ibu sudah punya uang banyak pasti ibu
belikan”,
Dalam perjalanan, kau masih
menggendongku dan memeluk erat tubuhku agar aku tenang dan tidak merengek lagi.
***
Dalam hari-hari itu, kita penuh
bahagia. Karena senyummu yang begitu tulus mengembang. Senyummu yang tak pernah
pudar, senyummu yang mempesona dan senyummu yang semanis madu. Bahkan menyaingi
rasa madu yang selalu membuatku kuat untuk menjalani hari-hariku. Bukan hanya
aku saja, tapi kau pun mampu menghadapi segala kesulitan dan cobaan itu dengan
tersenyum. Kau yang selalu mengajariku untuk mengenal Allah hingga ku bertambah
kuat dan kau pulalah yang mengajariku untuk berjilbab. Meskipun aku agak risih
pada awalnya.
“Mila.
Mila pakai jilbab ya. Nih, ibu belikan beberapa jilbab buat Mila”
“Aduh,
ibu. Pakai jilbab kan bikin Mila gerah dan kepanasan”
“Mila,
memakai jilbab itu wajib loh buat perempuan. Ingat, neraka itu lebih panas
dibanding panasnya didunia. Lagi pula, kalau Mila pakai jilbab. Mila tambah
cantik loh.”,
“pantesan
ibu lebih cantik dari Mila. Dari jauh saja, sudah ketahuan kalau itu ibu. Kalau
Mila pakai jilbab ini, pasti Mila lebih cantik dari ibu. Hehehe.”
“tua-tua
gini, ibu tetap cantik dengan jilbab.” Sembari tersenyum ∩_∩.
Saat
itu, aku sudah terbiasa memakai jilbab saat memasuki sekolah menengah pertama
di sebuah Madrasah Tsanawiyah yang dekat dari rumah. Hingga saat SMA pun aku
semakin tahu ternyata memakai jilbab itu indah, nyaman, tentram dan anggun. Jilbabku
yang kecil pemberian ibu tersimpan rapi dalam lemari. Dan dari ibulah semuanya
bermula. Jilbabku kehormatanku.
***
Sejak aku akan memasuki sebuah perguruan
tinggi negeri yang cukup terkenal di Kota Semarang. Kebahagiaanmu bertambah sejak
Dokter mengabarimu tentang kehamilan keduamu. Kau selalu menunggu kelahiran
Naya dari perubahan fisik dan psikis yang ada padamu. Seluruh aktivitas kau
jalani dengan susah payah karena kandunganmu. Meski begitu, itu tidak
mengurangi kebahagiaanmu. Setelah sembilan bulan berlalu dengan kehadiran Naya
disisimu. Senyum itu masih tergambar jelas di gurat wajahmu ketika kau dan ayah
bercanda di depan TV nonton Film Komedi OVJ yang gambarnya agak buram dan
antenna yang kurang baik. Dan kau pun tersipu malu saat kau ketahuan oleh Ayah ketika
sesekali meliriknya karena wajah Ayah hampir mirip dengan Aziz Gagap. Pipimu
merona selaksa mawar merah yang indah saat kita berkumpul bersama. Karena
bahagiamu adalah aku, Naya, dan Ayah.
Namun, kepergian Ayah dan Naya
kehidupanmu seolah sirna. Aku sedih melihatmu dengan kondisi tubuhmu yang
mengecil karena memikirkan mereka yang telah pergi. Seolah kau tak rela dan
ikhlas atas kehendak-Nya.
“Ibu,
sudahlah. Ibu harus ikhlas. Ibu jangan merasa bersalah atas kepergian Naya.
Sudah menjadi menjadi Takdir Allah . Kita tak pernah tahu kapan dan dimana
terakhir kali kita hidup di dunia. Semuanya telah terprogram dalam megaserver
di Lauhul Mahfuzh. Hari, tanggal, detik dan menitnya.”
Beberapa saat tangismu reda dengan
meraih tubuhku dan memelukku erat.
“
Ibu… !!! berikan Mila satu senyum saja”
“(diam)”, semakin erat memelukku.
“Mila
hanya ingin melihat senyum Ibu. Bukan kesedihan yang berlarut-larut seperti
ini”, batinku meringgis dalam tangis yang tak tertahankan.
“Jangan
nangis, nak !!!
Kau
menyeka air mataku. Kau memang tak kuat ketika kau melihatku menangis bahkan
kau tak mau melihatku bersedih.
“tersenyumlah
ibu, cukuplah duka cita di langit sana”
“Tapi
Mila jangan nangis karena Ibu.”, kau mengusap kedua pipiku yang basah
“Mila
sayang Ibu”
Kau tersenyum pasrah. Parasmu yang
terlihat tenang membuatku tak bisa memadamkan senyummu itu. Senyum itu masih
terlihat semanis madu dalam bulir-bulir bening yang bergulir dari kedua pipimu.
Meskipun senyuman itu lemah sekali.
***
Dua hari kemudian, kini kau sudah
terlihat sehat bahkan kau telah mulai beraktivitas kembali seperti biasanya.
Aku pun ikut merasa bahagia melihatmu saat itu.
Namun,
Allah berkehendak lain. Ketika aku berkali-kali membangunkanmu dari istirahatmu untuk sholat Maghrib dulu. Kau
telah pergi dalam tidurmu yang aman tanpa merasakan rasa sakit di jemput ajal.
Wajahmu tampak bercahaya dengan senyum yang masih mengambang. Air mataku pun mengucur
deras saat ku tahu kau telah pergi menemui kebahagiaan yang hakiki berjumpa
dengan Sang Ilahi. Senyum yang terakhir itu akan selalu teringat jelas dalam
memori kenangan saat bersama Ayah, Ibu, dan Naya.
Ibu, kini Mila sudah menyandang
gelar sarjana setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun lebih di Universitas
Diponegoro Kota Semarang. Dan kini Mila telah bekerja di sebuah Rumah Sakit
sebagai Kepala Keuangan. Sukses telah ku raih dengan usaha yang begitu memeras
keringat dan semua itu berkat do’a ibu dan senyum ibu. Walaupun Mila sadar
bahwa ini tak cukup untuk membalas seluruh kasih ibu.
Ibu, besok Mila akan menikah dengan
seorang lelaki yang shaleh, sederhana, tampan dan pintar. Mila berharap Ayah
dan Ibu merestui dan meridhoi pernikahan Mila dengannya. Karena dialah pilihan
Allah untuk Mila.
Ibu, Mila rindu Ibu. Mila berharap
ibu baik-baik saja di sana. Begitu pun dengan Ayah dan Naya. Hanya do’a yang
bisa Mila kirimkan untuk Ayah, Ibu dan Naya. Sampaikan salam terindah Mila
untuk Ayah dan Naya.
Semoga, engkau selalu senantiasa di
sisi-Nya dengan senyum dari langit.
Ibu, engkau yang lebih indah dari
intan permata. I love you, Mom.
Mila
Salsabila, SKM