Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Sabtu, 30 Juni 2012

✿ Cinta diatas Cinta ✿

Dari riak-riak rasa ingin dan harap
Telah membuatku lelah berfikir
Kataku rancu amburadul
Lelahku telah menjadi bukti kebodohanku
Jauh sudah ku melangkah meniti waktu bercucur keringat
Namun tampaklah sia-sia
Suram
Gelap
Hingga lidahku begitu keluh ‘tuk sekedar berkata
Bahwa “lebih baik menyayangi daripada mencintai"

Ah, tak semudah itu karena pada hakekatnya
Cinta adalah puncaknya segala rasa
Meski terasa sakit namun harus diredam
Jalanku masih panjang
Sabarku masih ada
Dalam ku menanti ikatan yg terindah dari yang terindah
Cinta diatas cinta
Cinta kepada Sang Pemilik Cinta
Cinta karena Allah

Minggu, 10 Juni 2012

Senyum di Sepanjang Kenangan

           
            Kau  duduk termenung dalam remang-remang lampu kamar. Aku melihat senja dimatamu. Menekuk kedua lututmu yang kedinginan. Sudah beberapa hari ini hujan terus membasahi bumi. Sepintas, tersirat suara angin dan mengencang menggoyahkan gubuk yang akan roboh. Sesekali, kau mengeluh pada malam tentang kehidupan. Tekanan hidup yang begitu berat yang menyebabkan dirimu terjatuh dalam sedih. Kesabaranmu memang benar-benar diuji. Hanya dekat dengan Allah saja yang membuat hatimu tenang. Hingga tiba-tiba, tercucur tangis dari matamu yang tak tertahankan.
“ibu”,
“hmm”
“jangan bersedih, bu”
            Kau selalu menangis secara sembunyi-sembunyi dan tanpa sadar aku selalu memperhatikanmu. Kau tak ingin orang atau anak-anakmu melihatmu. Kau tak mau kami mengetahui. Kau selalu tegar dihadapan kami. Mengumbar senyum namun sebenarnya kau sedih. Meski badai ditengah lautan menerpa. Meski hujan ditengah kemarau melanda. Ketegaranmu tetaplah kokoh. Namun, belakangan ini kau tampak selalu murung dan diam menyendiri. Semenjak kepergian adikku yang masih berumur 5 tahun itu.
“sabarlah, ibu !!!”
            Kau tetap saja diam. Dan dengan tangismu menjadikan basah pipi keriputmu yang termakan usia. Mengucur dan terisak tiada henti.
“ini semua salah ibu, nak !”
“bukan salah ibu. Kepergian Naya sudah menjadi kehendak Allah”
“andai saja ibu tidak mengajaknya ke jalan raya waktu itu. Semua itu tidak akan terjadi pada adikmu”
“sudahlah, bu ! serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Kita do’akan saja semoga Ayah dan Naya di tempatkan yang layak untuknya”
            Kau begitu terpukul dengan kepergian Naya selang 2 minggu kepergian Ayah karena kanker paru-parunya. Kau menyalahi dirimu sendiri atas kepergian mereka. Apalagi ketika kau hendak mengingat kejadian naas yang dialami Naya dan hanya kau yang terselamatkan dari kecelakaan itu. Kau menyiksa dirimu sendiri tanpa memakan sesuap nasi pun yang tertelan di tenggorokanmu. Dan kini tak ada lagi senyum manis yang tampak ku lihat dari rona wajahmu.
Jauh dari kemarin, kita masih bersama dengan ayah dan Naya.  Kita tak pernah berpikir untuk hidup dalam kemewahan. Meskipun sebenarnya kita selalu kekurangan dengan kebutuhan kita. Karena yang kau inginkan hanyalah kebersamaan dan kebahagiaan anak-anakmu. Kau selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur pada-Nya. Dan berkat kegigihanmu membantu ayah mencari nafkah sebagai buruh cuci membuatku  menjadi dewasa dalam hidup.  Dan kau tetap teguh menyekolahkanku sampai ke perguruan tinggi. Senyummu yang ku lihat pada hari-hari itu, membuatku semakin bersemangat. Tak pernah putus asa menjalani hari-hariku. Disamping, aku sebagai seorang mahasiswa. Aku juga mengeyampingkan diri bekerja di sebuah toko eceran sebagai pengantar barang dengan menggunakan sepeda pemberian Ayah untuk menambah biaya perkuliahanku dan untuk keluarga.
Pernah di waktu kecilku. Kau mengajakku ke Taman Bermain terdekat lagi murah. Dengan senangnya, aku menikmati ayun-ayunan yang kau tunjukkan padaku. Dan sesekali, kau melirikku dengan senyum atas kepolosanku sewaktu kecil. Kau sangat bahagia denganku. Hingga aku melihat sebuah boneka besar yang terpajang di dalam toko berkaca saat kita beranjak pulang.
“ibu, Mila ingin itu !”, rengekku.
“yang mana, nak ?”
“yang itu, bu. Yang itu…”, sembari mengarahkan jari telunjuk ke  boneka itu,
            Kau tampak berpikir panjang sewaktu aku meminta untuk dibelikan. Dan kau mengusap lembut kepalaku dan menggendongku untuk tetap pulang tanpa boneka itu. Karena kau tak memiliki uang untuk membelikan boneka untukku.
“ibu…”, rengekku lagi.
“nak, kalau ibu sudah punya uang yang banyak. Nanti ibu belikan untuk Mila”
“Mila ingin itu, bu.”, dengan kepolosanku, aku tetap merengek meminta dan memukul-mukul dada ibu untuk dibelikan boneka itu.
“Mila sayang. Nanti ibu belikan ya. Kalau ibu sudah punya uang banyak pasti ibu belikan”,
            Dalam perjalanan, kau masih menggendongku dan memeluk erat tubuhku agar aku tenang dan tidak merengek lagi.
***
            Dalam hari-hari itu, kita penuh bahagia. Karena senyummu yang begitu tulus mengembang. Senyummu yang tak pernah pudar, senyummu yang mempesona dan senyummu yang semanis madu. Bahkan menyaingi rasa madu yang selalu membuatku kuat untuk menjalani hari-hariku. Bukan hanya aku saja, tapi kau pun mampu menghadapi segala kesulitan dan cobaan itu dengan tersenyum. Kau yang selalu mengajariku untuk mengenal Allah hingga ku bertambah kuat dan kau pulalah yang mengajariku untuk berjilbab. Meskipun aku agak risih pada awalnya.
“Mila. Mila pakai jilbab ya. Nih, ibu belikan beberapa jilbab buat Mila”
“Aduh, ibu. Pakai jilbab kan bikin Mila gerah dan kepanasan”
“Mila, memakai jilbab itu wajib loh buat perempuan. Ingat, neraka itu lebih panas dibanding panasnya didunia. Lagi pula, kalau Mila pakai jilbab. Mila tambah cantik loh.”,
“pantesan ibu lebih cantik dari Mila. Dari jauh saja, sudah ketahuan kalau itu ibu. Kalau Mila pakai jilbab ini, pasti Mila lebih cantik dari ibu. Hehehe.”
“tua-tua gini, ibu tetap cantik dengan jilbab.” Sembari tersenyum ∩_∩.
Saat itu, aku sudah terbiasa memakai jilbab saat memasuki sekolah menengah pertama di sebuah Madrasah Tsanawiyah yang dekat dari rumah. Hingga saat SMA pun aku semakin tahu ternyata memakai jilbab itu indah, nyaman, tentram dan anggun. Jilbabku yang kecil pemberian ibu tersimpan rapi dalam lemari. Dan dari ibulah semuanya bermula. Jilbabku kehormatanku.
***
            Sejak aku akan memasuki sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di Kota Semarang. Kebahagiaanmu bertambah sejak Dokter mengabarimu tentang kehamilan keduamu. Kau selalu menunggu kelahiran Naya dari perubahan fisik dan psikis yang ada padamu. Seluruh aktivitas kau jalani dengan susah payah karena kandunganmu. Meski begitu, itu tidak mengurangi kebahagiaanmu. Setelah sembilan bulan berlalu dengan kehadiran Naya disisimu. Senyum itu masih tergambar jelas di gurat wajahmu ketika kau dan ayah bercanda di depan TV nonton Film Komedi OVJ yang gambarnya agak buram dan antenna yang kurang baik. Dan kau pun tersipu malu saat kau ketahuan oleh Ayah ketika sesekali meliriknya karena wajah Ayah hampir mirip dengan Aziz Gagap. Pipimu merona selaksa mawar merah yang indah saat kita berkumpul bersama. Karena bahagiamu adalah aku, Naya, dan Ayah.
            Namun, kepergian Ayah dan Naya kehidupanmu seolah sirna. Aku sedih melihatmu dengan kondisi tubuhmu yang mengecil karena memikirkan mereka yang telah pergi. Seolah kau tak rela dan ikhlas atas kehendak-Nya.
“Ibu, sudahlah. Ibu harus ikhlas. Ibu jangan merasa bersalah atas kepergian Naya. Sudah menjadi menjadi Takdir Allah . Kita tak pernah tahu kapan dan dimana terakhir kali kita hidup di dunia. Semuanya telah terprogram dalam megaserver di Lauhul Mahfuzh. Hari, tanggal, detik dan menitnya.”
            Beberapa saat tangismu reda dengan meraih tubuhku dan memelukku erat.
“ Ibu… !!! berikan Mila satu senyum saja”
“(diam)”, semakin erat memelukku.
“Mila hanya ingin melihat senyum Ibu. Bukan kesedihan yang berlarut-larut seperti ini”, batinku meringgis dalam tangis yang tak tertahankan.
“Jangan nangis, nak !!!
Kau menyeka air mataku. Kau memang tak kuat ketika kau melihatku menangis bahkan kau tak mau melihatku bersedih.
“tersenyumlah ibu, cukuplah duka cita di langit sana”
“Tapi Mila jangan nangis karena Ibu.”, kau mengusap kedua pipiku yang basah
“Mila sayang Ibu”
            Kau tersenyum pasrah. Parasmu yang terlihat tenang membuatku tak bisa memadamkan senyummu itu. Senyum itu masih terlihat semanis madu dalam bulir-bulir bening yang bergulir dari kedua pipimu. Meskipun senyuman itu lemah sekali.
***
            Dua hari kemudian, kini kau sudah terlihat sehat bahkan kau telah mulai beraktivitas kembali seperti biasanya. Aku pun ikut merasa bahagia melihatmu saat itu.
Namun, Allah berkehendak lain. Ketika aku berkali-kali membangunkanmu  dari istirahatmu untuk sholat Maghrib dulu. Kau telah pergi dalam tidurmu yang aman tanpa merasakan rasa sakit di jemput ajal. Wajahmu tampak bercahaya dengan senyum yang masih mengambang. Air mataku pun mengucur deras saat ku tahu kau telah pergi menemui kebahagiaan yang hakiki berjumpa dengan Sang Ilahi. Senyum yang terakhir itu akan selalu teringat jelas dalam memori kenangan saat bersama Ayah, Ibu, dan Naya.
Ibu, kini Mila sudah menyandang gelar sarjana setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun lebih di Universitas Diponegoro Kota Semarang. Dan kini Mila telah bekerja di sebuah Rumah Sakit sebagai Kepala Keuangan. Sukses telah ku raih dengan usaha yang begitu memeras keringat dan semua itu berkat do’a ibu dan senyum ibu. Walaupun Mila sadar bahwa ini tak cukup untuk membalas seluruh kasih ibu.
Ibu, besok Mila akan menikah dengan seorang lelaki yang shaleh, sederhana, tampan dan pintar. Mila berharap Ayah dan Ibu merestui dan meridhoi pernikahan Mila dengannya. Karena dialah pilihan Allah untuk Mila.
Ibu, Mila rindu Ibu. Mila berharap ibu baik-baik saja di sana. Begitu pun dengan Ayah dan Naya. Hanya do’a yang bisa Mila kirimkan untuk Ayah, Ibu dan Naya. Sampaikan salam terindah Mila untuk Ayah dan Naya.
Semoga, engkau selalu senantiasa di sisi-Nya dengan senyum dari langit.
Ibu, engkau yang lebih indah dari intan permata. I love you, Mom.
Mila Salsabila, SKM