Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Kamis, 30 Mei 2013

Indah Dibatas Akhir

 Alhamdulillah, bersama mereka senyum itu merekah dalam rinai hujan yang mengakhiri dari semua aktivitas sebagai mahasiswa akhir semester. Senyum bahagia dan sebuah harapan yang telah dinanti-nanti dari hasil usaha memenuhi tugas akhir mahasiswa melalui proses seminar proposal, penelitian, seminar hasil, dan ujian meja. Yah, tepatnya hari ini, saya dan mereka telah melalui tahap akhir itu, yaitu ujian meja. Wah, melelahkan memang ketika di suruh ulang dan melakukan perbaikan ini dan itu sesuai keinginan para pembimbing dan penguji, mengurus berkas ini dan itu agar cepat dan dapat mencapai tahap akhir itu. Memang indah tak selalu mudah.

Bebas... !!! Secara tidak langsung, mereka telah mengekspresikan tubuhnya seolah tanpa beban di pundaknya dengan bertingkah aneh yang membuatku hanya tersenyum melihat tingkah mereka dengan para dosen AKK. Saat ini, aku tengah berada dalam candaan dan tawa mereka yang sebentar lagi akan memudar seiring berhentinya hujan. Sepertinya, saya akan merindukan momen ini dengan wajah bahagia mereka dan berbagai karakter yang unik dan aneh itu yang terkadang membuatku geram dengan tingkah mereka saat mereka menggangguku dengan panggilan-panggilan yang tak ku sukai itu dan membuatku menjadi tidak nyaman baik di dunia maya maupun dunia nyata. Terkadang, aku ingin meneriakkan "STOP, Tolong Hentikan" tapi aku tak bisa. Aku tahu, mereka menyukai berteman denganku, tapi entahlah terkadang juga aku berfikir dan bertanya-tanya apakah itu sebuah ejekan atau itu bentuk kesayangan mereka terhadapku. Yang bisa kulakukan hanyalah, senyum, diam dan bersabar akan hal itu. Aku takut mengecewakan mereka. Aku takut senyum mereka tak lagi padaku. Aku takut kehilangan keakraban dengan mereka. Aku takut. Aku menyayangi mereka. Tapi, itulah bagian dari keindahan agar saya lebih baik menjadi seorang Mujahidah. Sabar dan Ikhlas...

Hujan pun berhenti, satu per satu dari mereka meninggalkan tempat itu (Jurusan AKK) untuk pulang ke rumah, bahkan ada yang telah menelpon langsung orang tuanya yang dengan senangnya telah menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dan tak sabar menyatakan kepada Bapak, Ibu da Saudaranya bahwa aku L U L U S ................ Ye Ye Ye.... La La La :)

Yah, Alhamdulillah. Tiada yang lebih indah selain rencana-Nya.

_Thanks To_  :
Dr. Darmawansyah, SE, MS selaku Pembimbing I
 Muh. Yusran Amir, SKM, MPH selaku Pembimbing II
Prof. Dr. H. Indar, SH, MPH selaku Penguji I
Ir. Nurhayani, M.Kes selaku Penguji II
Dr. Suriah, SKM, M.Kes selaku Penguji III
dan seluruh dosen FKM UNHAS khususnya Jurusan AKK beserta stafnya
^_^

Sahabat-sahabatku yaitu, Asni, Neqyun, Pety, Nunu, Ani Meonk, Mba' Naya, Rara, Neny dan Vivi
Teman-teman seperjuangan GALETER 2009 khususnya KECE ( Kelas C) dan Jurusan AKK yang senantiasa saling bahu membahu dalam menggapai harapan.

Hmm, maaf yah. Saya tak bisa menyebut nama kalian satu per satu. :) Tidak menyebut namamu bukan berarti melupakanmu, tapi jujur mengenal kalian adalah keberuntungan, akrab dengan kalian adalah anugerah dan melupakan kalian adalah kesalahan. :) Hehehe...

Sekarang, akhir dari perjalanan kita yang sangat dinantikan sebagai alumni  adalah upacara sakral itu. Coming Soon, W I S U D A @Baruga A.P Pettarani Universitas Hasanuddin.

_Canda, tawa, dan tangis adalah indah dibatas akhir_

Rabu, 22 Mei 2013

Green Places


Green Places...
Adalah tempat mengalir sungai-sungai dibawahnya,
Adalah tempat yang dihiasi dengan gelang emas,
Adalah tempat orang-orang yang berpakaian hijau yang terbuat dari sutera halus dan sutera tebal,
Adalah tempat orang-orang yang duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah,
Adalah sebaik-baik dan seindah-indahnya tempat istirahat,
Adalah tempat yang dijanjikan bagi orang muslim yang beriman, mencintai dan menyayangi karena Allah,
Adalah tempat yang menjadi harapan, impian dan keinginanku satu-satunya. 
Adalah tempat hijau yang bernama Surga, warna yang disukai Allah dan Rasul-Nya.
Yah, green places is my hope in my life

Green Places...
Sebelum jiwa tak lagi pada raga, mata tak lagi terbuka, hidung tak lagi bernafas, mulut tak lagi berbicara, telinga tak lagi mendengar, tangan tak lagi memegang dan memberi, kaki tak lagi berjalan, tubuh menjadi dingin dan kaku, dan sebelum itu terjadi. Aku berusaha mementaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik karena-Nya. Aku berusaha menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya. Aku berusaha menjadi sebaik-baik manusia yang baik amalnya dan paling baik akhlaknya. Sebab, tak mungkin mencapai kebahagiaan hakiki tanpa menyumbangkan kebahagiaan terhadap orang tua, saudara, sahabat, teman, yang dicintai karena Allah. Tapi, mungkinkah itu akan menjadi bekalku menghadap-Nya dan mendapat tempat sebaik-baik tempat ? Sedangkan aku tidak menemukan kebaikan dalam diriku kecuali secuil. Apakah itu menjamin ? Tidak, tidak menjamin. Sudah berapakah kebaikan yang telah ku lakukan ? Aku menghitungnya hingga lisanku keluh dan dosaku lebih banyak ketimbang amalku. Green places adalah impian dan keinginanku satu-satunya dalam setiap perjalananku mencintai-Nya menuju tempat terindah dari yang terindah. Surga...

Tapi sungguh, aku takut...
Aku takut jika diriku tak berada diantara orang-orang yang mencintai dan menyayangi karena Allah.
Aku takut jika diriku tak bersama orang tuaku, kakakku dan adik-adikku.
Aku takut jika diriku yang lebih besar dosanya yang tak bisa termaafkan.
Aku takut.... maka hanyalah tangis penyesalanlah yang ada atas kebodohanku yang tak luput dari dosa. Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah...

Tiada Tuhan Selain Allah...Allah Maha Pemurah, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu dustakan ? (QS. Ar-Rahman: 1-78). Tiada nikmat yang dapat ku dustakan.

Hijau...
Jika ada yang berpikiran dan mempunyai perasaan yang sama denganku. Maka itu adalah nikmat hijau. Nikmat hijau yang sama-sama kita rasakan. Nikmat hijau yang sama-sama kita rindui. Nikmat hijau yang sama-sama kita sukai. Nikmat hijau yang sama-sama kita cintai. Nikmat hijau yang meneduhkan dan menentramkan jiwa. Yah, nikmat hijau yang membuat kita takkan berpaling. Nikmat hijau dari-Nya. Dark Green 
مُدْهَامَّتَانِ

Senin, 20 Mei 2013

Surat PHP (Putus Hubungan Pacaran)


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ba’da tahmid dan shalawat…
Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.
Maaf Akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.

Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang lamunanku yang selalu membayang-kan wajahmu. Ia bisa marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.

Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. Insya Allah, Dia punya rencana indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantu-mu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.

Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.
Maaf akhi. Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, Insya Allah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Demikianlah isi surat yang dihadiahkan oleh Salim A. Fillah untuk kita yang saya kutip dari bukunya yang berjudul ”Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”.
Semoga bermanfaat bagi kita ya … Insya Allah

Minggu, 19 Mei 2013

Benciku Bukanlah Cinta



Awalnya, ku rasa hatiku baik-baik saja, yang masih polos dan manis tanpa ingin tahu dari orang lain dan bertanya 5 W + 1 H. Cukup dengan diriku saja yang akan tahu melalui prosesku.

Yah, dengan diriku, aku mengenalnya yang awalnya hanya berpapasan melalui satu ruang ke ruang yang lain dan itu terjadi beberapa kali hingga sampai saat ini ku sebutnya seseorang. Awal semester yang ku tempuh, aku memasuki ruangan yang menjadi zona nyamannya, disapa dan menyapa setiap orang ia temui yang dipandangnya menarik kemudian menjadi akrab. Pada hari berikutnya, aku kembali memasuki zona nyamannya itu, saat itu aku berada disamping ruang kecilnya yang tersekat dengan ruangku karena tempat lainnya sudah di penuhi oleh orang-orang yang juga berkepentingan dan yang tersisa hanyalah tempat di sampingnya. Aku masih ingat, dirinya kelimpungan mencari sebuah pulpen diatas mejanya namun tak ia dapati. Aku yang sibuk dengan layar di hadapanku dan belajar sendiri mengakses dunia yang tak terlampaui batas itu, tiba-tiba aku terkagetkan dengan suara kecilnya meminta sebuah pulpen untuk ia pinjam dariku. So, langsung ku sodorkan saja pulpen padanya yang berada ditanganku. Selanjutnya, berlalulah aku dan dia. Aku tak begitu ingat, apakah ia berterima kasih padaku atau tidak. tapi, yang jelas aku tak berharap dia berterima kasih padaku.

Hingga beberapa hari, aku yang awalnya adalah tipe orang yang malas kenalan, malas menyapa dan tak ingin tahu siapa, kini mulai tertarik ingin mengenalnya dan kemudian mencari tahu siapa setelah beberapa papasan terjadi dan tak terencana itu.

Aku beranggapan tentang dirinya bahwa dia bijaksana, murah senyum, baik, tidak sombong dan taat agama. Tapi,`semuanya sirna, setelah satu hal yang dia lakukan bukan pada waktu dan tempatnya. Dan saat itu juga, aku telah memfonis dirinya bahwa dia sama dengan yang lainnya. Aku tak menyalahkannya sepenuhnya, karena gadis manisnya yang duduk di sudut jendela pada saat itu sedang memasang wajah cemberut dan dia menghampiri menggodanya. Yah, hal itulah yang tak ku suka darinya dan membuatku mulai benci. Karena memang aku tak suka melihat hal seperti itu. Pada papasan berikutnya yang ditentukan oleh-Nya, aku merasa baik-baik saja dan mengganggapnya kejadian yang kemarin hal yang biasa terjadi dalam sebuah hubungan. Memang terkadang perempuan jabe-jabe, (dimanja-manja) karena  ingin di perhatikan oleh si lelaki.

Hanya saja, yang ku rasa dalam hatiku ada hal yang berbeda, tak seperti biasanya, berdebar kencang dan terasa sesak.. Aku berharap itu bukanlah cinta. Aku berusaha meminimalisir perasaan-perasaan yang hadir dalam diriku. Dan entah mengapa, semakin hari terasa sesak dengan tingkah yang dibuatnya dan membuatku terkesima akan dirinya yang terkadang pula sangat menjengkelkan dan menyebalkan. Aku sibuk sendiri dengan perasaanku tanpa ada yang tahu selain-Nya. Hanya aku dan Allah yang tahu. Dianya pun tak menyadari bahwa ada seseorang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Aku telah tanpa sadar mengikuti jejak-jejak yang dibuatnya, dari jam berapa ia datang, sedang apa, sibuk apa, dengan siapa dan pulang jam berapa hingga aku telah jauh mengikutinya. Aku benar-benar bodoh saat itu. Aku tahu bahwa ia telah memiliki gadis manis dan itu adalah seniorku. Namun, hatiku tetap tertuju padanya. Hingga sampai aku benar-benar lelah dengan perasaanku. Di semester 4, aku mulai membenci dirinya dengan segala hal yang tak ku suka darinya. Sebenarnya, aku juga tak tahu perasaan apa yang ku miliki saat itu, jatuh cinta ataukah bukan. Yang ku tahu, jatuh itu sakit, maka lebih baik bangun cinta. Bukankah begitu ? ^_^

Dengan beberapa pertemuan singkat dan tak terencanakan itu, aku  membencinya yang terkadang aku berbalik arah ketika ku lihat dari arah berlawanan berjalan dengan pesonanya. Dengan do'a dan harapan, dalam setiap pandanganku dan dimanapun ku memandang ia tak hadir dengan gayanya yang sok mempesona itu. Tapi, Allah selalu membuat episode-episode pertemuanku dengannya dan hanya menambah dosa. Astaghfirullah... Manusia boleh berencana tapi Allah lah yang menentukan.

Betapapun, aku tak menyukai dan membencinya. Aku mencoba untuk tidak membencinya dan bersikap seperti biasanya dengan menganggap bahwa ia tak pernah hadir dalam hidupku dan ia hanyalah bagian dari waktu yang menggangguku. Saat itu, aku membeli sebotol air minum Aqua pada warung kecil yang berada di pojok kelas yang tanpa ku tahu ia tepat berada di belakangku. Aku berbalik terkejut dan hatiku berdebar. Aku menenangkan hatiku dan mencoba membuat simpul senyum untuknya saat ia menyapa seorang bocah kecil, anak si pemilik warung itu. Namun, dia terheran-heran dengan diriku yang tersenyum padanya. Aku malu dengan diriku sendiri dan menjadi orang bodoh dihadapannya. Serasa ingin menyembunyikan mukaku darinya.Tapi, aku tak menyesal, sebab itu adalah awal perjuanganku untuk tidak membencinya dan tanpa ada rasa apapun. Seperti halnya daun yang tak pernah membenci angin. Sabar dan ikhlas

Dengan perjuanganku sampai saat ini, harapanku hanyalah agar dia tak hadir dimanapun ku memandang agar mudah terlupakan dan seolah tak terjadi apapun dalam hidupku. Dan di semester akhirku ini. Semoga selanjutnya, aku tidak dipertemukan lagi dengannya dalam bentuk apapun. Jika aku bertemu dengannya dalam ruang dan waktu yang berbeda, maka itu adalah takdir dan bukan inginku. Allah lah yang lebih mengetahui dan menentukan. Cukup sampai disini saja. Di Kampus Ungu. Seseorang ................................................

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan".