Awalnya aku hanya menganggap ini
hal yang biasa terjadi setelah kesenjangan ukhuwah. Bermula dari awal, membuat
pondasi dari keimanan, menyusun dengan kepercayaan, membangun dengan keikhlasan
dan menyempurnakannya dengan senyuman. Tapi hal itu, tidaklah berarti apabila
tak disertai dengan kebersamaan dari hati yang tulus.
Mereka bilang kita ini sahabat.
Kamu bilang kita ini sahabat.
Aku bilang kita ini sahabat.
Tapi, kita sahabat hanyalah
sekedar kata.
Dari sekian waktu yang memisahkan
kita , aku ingin kembali menjamah kisah yang pernah kita rajut menjadi kenangan
indah, seindah kata “arti sahabat yang sangat dan paling berarti” yang kemudian
menciptakan kebersamaan yang baru.
Tapi, kemungkinan tidak dengan
dirimu. Aku menilai itu dari tanda seru didahimu agar aku tak perlu tahu
tentang dirimu. Yang selalu kamu katakan “Cukup Aku dan Allah Yang Tahu” bahkan
apabila aku menanyakan tentang keadaanmu dari status-status yang kau buat, kamu
menjawabnya “tidak ada apa-apa”. Dirimu yang tak lagi terbuka denganku seolah-olah
kita tak saling mengenal yang dulunya kita selalu berbagi cerita mengharu biru,
bahagia dan sedih, secuil apapun itu. Tapi, karena ketakutan dan kekhawatiranmu
yang menganggapku seperti yang kamu fikirkan membuat kita berbeda ruang berbagi
cerita. Mungkin aku berada dalam deretan terpanjang di agenda penulisan
diarimu. Terkadang secara tidak sengaja pun kita bertemu atas do’a-do’a rindu
yang mengudara tersampaikan lewat waktu yang begitu singkat dan itu semua
adalah takdir Allah.
Aku tahu hal ini tak mudah bagimu
untuk menciptakan dan menjadikannya kisah baru diantara kita. Namun, inilah
bagian dari kisah baru kita. Meskipun tak seperti pengharapan, karena menjaga
hati satu sama lain dan memilih banyak diam dibanding berbagi satu sama lain.
Dirimu lebih nyaman berada didunia maya dengan orang-orang baru yang kamu kenal
dan bahkan kamu mengatakan mereka lebih menyenangkan dibanding mereka yang
nyata. Tidakkah kamu tahu, aku khawatir dengan dirimu yang begitu banyak cerita
hidupmu yang kau pendam sendiri dengan sisa-sisa kekuatan yang sedang kau
perjuangkan. Aku ingin memberimu senyuman, bahagia disaat suka dan dukamu
dengan sebisaku mungkin. Tapi, aku mundur dan menyerah sebelum ku mendekati dan
membantu menyembuhkan hatimu yang berduka dari masa yang telah berlalu cukup
lama dimana aku berada dibagian cerita itu. Masih ingatkah, aku pernah
mengatakan dan menawarkanmu agar kita saling terbuka seperti dulu. Tapi,
sepertinya kamu tak mengharapkan kehadiranku. Apatah lagi dengan facebook
barumu yang kau buat tahun lalu dan meng-SMS orang-orang yang menjadi
langgananmu. Tanpaku, itu semua karena ketakutan dan kekhawatiranmu terhadapku yang
menjudge “imitasi”.
Jika kita adalah sahabat. Lalu,
dimanakah seharusnya kata sahabat diletakkan ?. Bagaimana seharusnya kata
sahabat diartikan ?. Namun, apapun alasan yang kau miliki. Aku hanya berusaha
merekatkan dan mengandeng tanganmu kembali. Seindah kita dimasa lalu.
NB : Jika kamu mendapati dan
membaca sebagian kecil dari catatanku. Semoga dirimu selalu berada dalam
penjagaan-Nya. Jagalah kesehatanmu baik-baik terutama kesehatan jantungmu.
Meskipun, aku tak pernah tahu hal ini darimu lebih lanjut. Jangan banyak begadang
dengan pesanan bisnismu itu. Semoga sukses dunia akhirat dengan menjadi indah
dimata-Nya.
