Januari, kita bertemu lagi. Aku tidak tahu bahkan
lupa bahwa sudah berapa hari aku melaluimu. Aku takut jika aku mengingat dan
mulai menghitung tanggalmu, bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja ?
Januari, kau tahu bahwa aku sudah lama melalui masa
sulit itu. Aku bahkan melaluimu lagi tanpa hasil yang kujanjikan dan ku
tunjukkan padamu yang lagi aku tersungkur malu karenamu. Bagaimana mungkin aku
bisa baik-baik saja ?.
Januari, banyak kataku yang ingin kusampaikan padamu
tapi apa mungkin kau akan bisa memahaminya setelah kutumpah ruahkan segalanya
padamu ?. Bisakah kau mengerti bahasa hati dan pikiranku yang bahkan aku juga
tak mengerti apa itu. Terlalu sesak dan membuat kalut. Bagaimana mungkin aku
bisa baik-baik saja ?
Januari, aku sudah mencoba dengan sekuat tenaga. Aku mencoba
semua yang aku bisa tapi, hingga sekarang. Semuanya sama saja. Nihil. Bagaimana
mungkin aku bisa baik-baik saja ?.
Januari, seberapapun keinginanku untuk mengutukmu
tapi aku bingung dan tak tahu kata-kata apa yang pantas untukmu agar kau tak
mengembalikanku dan mengulangi masa sulit itu. Serasa ingin menghentikan waktu.
Januari, apa aku terlihat sangat
menyedihkan ? Iya, Ku pikir begitu, aku melihatnya dari orang-orang yang
tersenyum padaku. Aku khawatir terhadap orang-orang disekitarku yang menaruh
harapan besar padaku kemudian menanyakan, menyudutkan dan menggugat lagi hal sama yang tak bisa kujawab dan
kukatakan kebenarannya. Itu sangat menyedihkan.
Januari, aku terlambat mengetahui
dunia apa yang akan aku hadapi nantinya dan sekarang rasa sakit telah
memberikan jawabannya. Aku tetap menganggap ruang ini adalah ruang hijau tapi
nyatanya yang terlihat hanyalah abu-abu, bukan ruang hijau yang seperti
kuharapkan.
Januari, apakah kau tahu khayalan lebih baik daripada
kenyataan ?. Iya, aku berkali-kali melaluinya. Kita berpikir betapa senangnya,
jika akhirnya bisa bertemu seseorang tapi saat kau benar-benar bertemu dengan
orang itu, mereka tidak seperti apa yang kau harapkan. Semakin kau
mengenalinya, akan semakin sulit dan menyakitkan. Seperti itulah gambaran masa
depan.
Januari, aku butuh seseorang yang
meyakinkanku dan memperlihatkanku masa depan yang indah seperti dikhayalku
bahwa nyata memang indah. Aku butuh kekuatan yang dapat mengembalikan
kekuatanku bahwa aku baik-baik saja. Tapi kupikir itu tidak mungkin, karena
orang-orang itu telah pergi sebelum aku meminta
untuk tetap didekatku.
Januari, aku sedang memberanikan
diri mengumpulkan cakraku sendiri untuk baik-baik saja tapi nyatanya ketika aku
melihat keluar rasa-rasanya aku hanya ingin menjadi gadis yang berada dibalik
pintu seperti dalam drama korea Flower
Boy Next Door. Iya, sepertinya drama korea selalu memberikanku nasehat
dibalik ceritanya dibanding orang-orang yang berada disekitarku dengan melihat
iba. Tapi, aku tak ingin seperti gadis itu yang bertahun-tahun melihat
keindahan dunia lewat televisi saja. Aku ingin segera melihat, meraih dan merasakannya
dengan usahaku sendiri.
Januari, Sebelumnya, maafkan aku yang mengabaikanmu diawal tahun. Jika kita bertemu lagi. Mungkinkah aku sudah
baik-baik saja ? Apakah mungkin aku bisa memenuhi janjiku dan menunjukkan padamu dengan senyum keberhasilan ?