Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Rabu, 23 November 2016

Katakanlah, Aku Pandai Menyembunyikan Perasaan

Sampai saat ini, aku masih dengan perasaanku yang sama. Hanya saja kau tak tahu. Seperti hujan yang menumbuhkan kembali tanam-tanam pada lapang yang sempat gersang. Seperti hujan yang berkali-kali merasa sakit tapi tetap jatuh sejatuh-jatuhnya. Barangkali, kau sudah ditenggelamkan oleh perasaanku yang dalam tanpa sempat kuselamatkan lagi. Entah, mantra macam apa yang kau guna. Aku tahu persis bagaimana kau, melihatnya dan dari omongan orang lain tentangmu membuat enggan menyapa dengan suasana hatimu yang lagi meracau. Pernah sekali, kudapati dan tanpa sengaja kudengar kata-kata ketusmu. Terkadang pula kau senyum jika suasana hatimu lagi baik. Kau aneh. Aku menyukai segala keunikan yang ada padamu. Itulah mengapa kau tak bisa lepas dari pandanganku. Terasa misterius bagiku. Ingin tahu bagaimana kau. Semakin penasaranku menambah semakin tumbuh kau dihatiku. Mungkin kau terlalu mempesona dan aku terlalu biasa. Aku biasa-biasa dan diam-diam saja.

Bagiku, kita adalah ketidakmungkinan, itulah aku diam. Tapi bagi Allah kemungkinan, bisa jadi, itulah aku melangitkanmu dalam sujud tengah-tengah malamku. Beberapa kali, kau lebih sering hadir dalam mimpiku, dalam tulisan-tulisanku, kata hatiku, dan tentu saja dalam diamku. Kadang kita juga bertemu secara tak sengaja. Di jalan setapak misalnya. Bersama menikmati lampu-lampu kota tapi kita hanya menikmatinya sendiri-sendiri. Sering kehilangan kata-kata. Tegang dan diam saja.

Katakanlah, aku terlalu pandai menyembunyikan segala halnya tentang perasaan. Sendiri saja. Dulu, kesan awalnya kita pernah terlibat dalam sebuah perbincangan malam itu disebuah Klinik. Kau mengawali tapi maaf aku mengabaikanmu. Aku menjaga diri, menjaga hatiku. Takutnya terlalu dalam aku jatuh sejatuh-jatuhnya padamu. Grogi, tak tahu mesti bagaimana berinteraksi dengan seorang laki-laki. Lebih tepatnya aku yang pemalu.

Kadang pandanganku meluas mencari sesosok dirimu. Melihatmu dari kejauhan lalu kau mendekat. Aku pura-pura saja tak melihat, tak peduli. Kau berlalu tanpa kata dan aku terpukau tanpa sapa.

Meski terkadang ada setitik gumpalan kecemburuan, membuat dada sesak, tenggorokan tercekat dengan sesosok perempuan yang sudah tertawan dimatamu.
Aku pun kerap kali merapal mengikhlaskan untuk hati yang kau tautkan pada hati perempuan itu. Karenanya, aku melihat senyum yang merona diwajahmu. Dan akupun harus merelakanmu berkali-kali untuk bahagiamu. Menjauh dan berusaha menghindar pada garis waktu yang tak disengaja kita diketemukan. Siapa aku ? Aku bukan siapa-siapa. Tidak istimewa.

Tapi, kupikir aku akan baik-baik saja. Nyatanya, getir terasa melepas senyum dengan kepura-puraanku bahagia. Ada semacam perih dalam hatiku yang membuat mataku dipaksa berair. Aku bisa apa ?. Aku bisa diam saja. Kau selalu menjadi alasanku untuk pergi agar intensitas rasaku juga ikut berkurang. Tapi, mengapa kau juga menjadi alasanku untuk tetap disini ? Seperti ada yang menahan kakiku untuk melangkah pergi. Sampai saat ini, aku masih disini dengan rasaku yang tersembunyi.

Ah, kita hanyalah sama-sama makhluk asing yang berbatas jarak dan ruang waktu. Tak mampu memandang lekat, tak bisa menggenggam erat, hatimu beku, hatiku kalut, kau misteri dan aku kabut. Katakanlah, aku hebat menyembunyikannya dengan diam. Segalanya tentangmu. Karena yang kurasa terkadang yang dilakukan dengan diam itu lebih tulus. Meski, aku tak suka dengan kehadiran rasa ini. Akupun juga tak ingin berharap banyak. Terlalu menyedihkan. Aku lebih memilih diam dengan melangitkanmu dalam do'a-do'aku. Aku belajar berkali-kali mengikhlaskan, membiarkanmu pergi dengan cinta lain. Aku selalu menyiapkan diri dengan segala hal yang akan kulihat dan kudengar. Dan do'a yang sering kurapalkan. Semoga kau dapati dalam sujudmu. Anggap saja, matamu mataku tak pernah ada titik temu sampai kita dipertemukan pada titik rindu. Katakanlah, aku pandai menyembunyikan perasaan.

Rabu, 23 November 2016
@Maros