Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Senin, 20 Mei 2013

Surat PHP (Putus Hubungan Pacaran)


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ba’da tahmid dan shalawat…
Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.
Maaf Akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.

Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang lamunanku yang selalu membayang-kan wajahmu. Ia bisa marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.

Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. Insya Allah, Dia punya rencana indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantu-mu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.

Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.
Maaf akhi. Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, Insya Allah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

Demikianlah isi surat yang dihadiahkan oleh Salim A. Fillah untuk kita yang saya kutip dari bukunya yang berjudul ”Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”.
Semoga bermanfaat bagi kita ya … Insya Allah

Minggu, 19 Mei 2013

Benciku Bukanlah Cinta



Awalnya, ku rasa hatiku baik-baik saja, yang masih polos dan manis tanpa ingin tahu dari orang lain dan bertanya 5 W + 1 H. Cukup dengan diriku saja yang akan tahu melalui prosesku.

Yah, dengan diriku, aku mengenalnya yang awalnya hanya berpapasan melalui satu ruang ke ruang yang lain dan itu terjadi beberapa kali hingga sampai saat ini ku sebutnya seseorang. Awal semester yang ku tempuh, aku memasuki ruangan yang menjadi zona nyamannya, disapa dan menyapa setiap orang ia temui yang dipandangnya menarik kemudian menjadi akrab. Pada hari berikutnya, aku kembali memasuki zona nyamannya itu, saat itu aku berada disamping ruang kecilnya yang tersekat dengan ruangku karena tempat lainnya sudah di penuhi oleh orang-orang yang juga berkepentingan dan yang tersisa hanyalah tempat di sampingnya. Aku masih ingat, dirinya kelimpungan mencari sebuah pulpen diatas mejanya namun tak ia dapati. Aku yang sibuk dengan layar di hadapanku dan belajar sendiri mengakses dunia yang tak terlampaui batas itu, tiba-tiba aku terkagetkan dengan suara kecilnya meminta sebuah pulpen untuk ia pinjam dariku. So, langsung ku sodorkan saja pulpen padanya yang berada ditanganku. Selanjutnya, berlalulah aku dan dia. Aku tak begitu ingat, apakah ia berterima kasih padaku atau tidak. tapi, yang jelas aku tak berharap dia berterima kasih padaku.

Hingga beberapa hari, aku yang awalnya adalah tipe orang yang malas kenalan, malas menyapa dan tak ingin tahu siapa, kini mulai tertarik ingin mengenalnya dan kemudian mencari tahu siapa setelah beberapa papasan terjadi dan tak terencana itu.

Aku beranggapan tentang dirinya bahwa dia bijaksana, murah senyum, baik, tidak sombong dan taat agama. Tapi,`semuanya sirna, setelah satu hal yang dia lakukan bukan pada waktu dan tempatnya. Dan saat itu juga, aku telah memfonis dirinya bahwa dia sama dengan yang lainnya. Aku tak menyalahkannya sepenuhnya, karena gadis manisnya yang duduk di sudut jendela pada saat itu sedang memasang wajah cemberut dan dia menghampiri menggodanya. Yah, hal itulah yang tak ku suka darinya dan membuatku mulai benci. Karena memang aku tak suka melihat hal seperti itu. Pada papasan berikutnya yang ditentukan oleh-Nya, aku merasa baik-baik saja dan mengganggapnya kejadian yang kemarin hal yang biasa terjadi dalam sebuah hubungan. Memang terkadang perempuan jabe-jabe, (dimanja-manja) karena  ingin di perhatikan oleh si lelaki.

Hanya saja, yang ku rasa dalam hatiku ada hal yang berbeda, tak seperti biasanya, berdebar kencang dan terasa sesak.. Aku berharap itu bukanlah cinta. Aku berusaha meminimalisir perasaan-perasaan yang hadir dalam diriku. Dan entah mengapa, semakin hari terasa sesak dengan tingkah yang dibuatnya dan membuatku terkesima akan dirinya yang terkadang pula sangat menjengkelkan dan menyebalkan. Aku sibuk sendiri dengan perasaanku tanpa ada yang tahu selain-Nya. Hanya aku dan Allah yang tahu. Dianya pun tak menyadari bahwa ada seseorang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Aku telah tanpa sadar mengikuti jejak-jejak yang dibuatnya, dari jam berapa ia datang, sedang apa, sibuk apa, dengan siapa dan pulang jam berapa hingga aku telah jauh mengikutinya. Aku benar-benar bodoh saat itu. Aku tahu bahwa ia telah memiliki gadis manis dan itu adalah seniorku. Namun, hatiku tetap tertuju padanya. Hingga sampai aku benar-benar lelah dengan perasaanku. Di semester 4, aku mulai membenci dirinya dengan segala hal yang tak ku suka darinya. Sebenarnya, aku juga tak tahu perasaan apa yang ku miliki saat itu, jatuh cinta ataukah bukan. Yang ku tahu, jatuh itu sakit, maka lebih baik bangun cinta. Bukankah begitu ? ^_^

Dengan beberapa pertemuan singkat dan tak terencanakan itu, aku  membencinya yang terkadang aku berbalik arah ketika ku lihat dari arah berlawanan berjalan dengan pesonanya. Dengan do'a dan harapan, dalam setiap pandanganku dan dimanapun ku memandang ia tak hadir dengan gayanya yang sok mempesona itu. Tapi, Allah selalu membuat episode-episode pertemuanku dengannya dan hanya menambah dosa. Astaghfirullah... Manusia boleh berencana tapi Allah lah yang menentukan.

Betapapun, aku tak menyukai dan membencinya. Aku mencoba untuk tidak membencinya dan bersikap seperti biasanya dengan menganggap bahwa ia tak pernah hadir dalam hidupku dan ia hanyalah bagian dari waktu yang menggangguku. Saat itu, aku membeli sebotol air minum Aqua pada warung kecil yang berada di pojok kelas yang tanpa ku tahu ia tepat berada di belakangku. Aku berbalik terkejut dan hatiku berdebar. Aku menenangkan hatiku dan mencoba membuat simpul senyum untuknya saat ia menyapa seorang bocah kecil, anak si pemilik warung itu. Namun, dia terheran-heran dengan diriku yang tersenyum padanya. Aku malu dengan diriku sendiri dan menjadi orang bodoh dihadapannya. Serasa ingin menyembunyikan mukaku darinya.Tapi, aku tak menyesal, sebab itu adalah awal perjuanganku untuk tidak membencinya dan tanpa ada rasa apapun. Seperti halnya daun yang tak pernah membenci angin. Sabar dan ikhlas

Dengan perjuanganku sampai saat ini, harapanku hanyalah agar dia tak hadir dimanapun ku memandang agar mudah terlupakan dan seolah tak terjadi apapun dalam hidupku. Dan di semester akhirku ini. Semoga selanjutnya, aku tidak dipertemukan lagi dengannya dalam bentuk apapun. Jika aku bertemu dengannya dalam ruang dan waktu yang berbeda, maka itu adalah takdir dan bukan inginku. Allah lah yang lebih mengetahui dan menentukan. Cukup sampai disini saja. Di Kampus Ungu. Seseorang ................................................

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan".

Senin, 08 April 2013

CV (Curriculum Vitae)


"CV (curriculum vitae) terbaik adalah 'nama' kita sendiri.

Bukan mendaftar riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, bukan pula daftar penghargaan, award, seminar, dan sebagainya.

Saat nama kita disebutkan, orang langsung paham siapa yang dimaksud. Tidak perlu penjelasan apapun.
Lantas bagaimana 'nama' kita bisa menjelaskan semuanya? Itulah pentingnya membangun reputasi, produktif, terus menerus, konsisten menunjukkan integritas, kejujuran dan hal-hal positif lainnya. Itu tidak bisa ditipu-tipu, tidak bisa dibangun dalam semalam, apalagi hanya dari kalimat-kalimat indah yang keluar dari kita. Selamat membangun CV masing-masing.

--Tere Liye--