Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Senin, 19 Agustus 2013

Sahabat Seperti Apakah Kita ?


Sahabat seperti apakah kita ?. Tak jarang aku mempertanyakan tentang kita dalam sebuah hubungan yang sudah terlalu lama kita jalin. Lama, telah lama menapaki jalan yang kita tempuh bersama yang terkadang kita menemui jalan yang lumayan tajam dan terjal, tanjakan dan tikungan yang menukik dan menjadi pertikaian hebat diantara kita sebab jalan kita yang selalu sama, berbeda dan salah arah. Salah paham, salah pengertian, salah penjelasan, dan salah petunjuk hingga membuat kita tersesat dalam kesendirian.

Hampir satu setengah tahun lamanya yang entah topik permasalahan apa yang membuat kita tersesat dan renggang dalam keingintahuanku terhadap arah penjelasan yang tak pernah kau jelaskan saat ku minta. Yah, aku salah. Salah menjadi sahabat yang baik untukmu. Sebab, terlalu banyak air mata yang telah kau tumpahkan yang selama ini kau bendung atas diriku. Kau muak denganku, Kau tak tahan denganku. Kau jijik denganku. Lantas aku harus apa ? Salahkupun kau rabunkan tanpa arti yang kau jelaskan. Kita hanya memilih diam meminum air mata nanah dan darah sendiri, membiarkan waktu meredakan amarah dan kembali menyatukan jari-jari tangan kita dalam dekapan ukhuwah. Sahabat seperti apakah kita ?

Dengan kediaman dan kesabaran kita menunggu waktu, Allah sangat bijak mengambil keputusan terhadap kita. Dialah sebaik-baik pembuat keputusan Maha Pengasih Maha Penyayang. Baru kemarin aku menulis kerinduanku (Rindu Hijaumu, Hijau Kita), kini Dia membuat kita kembali tersenyum melihat dunia dan kembali menapaki jalan yang telah membuat kita salah arah lewat do'a-do'a kerinduan yang kita sampaikan pada-Nya. Tangis bahagia, kedewasaan telah mendewasakan kita yang telah sekian lama dan terasa berabad-abad tanpa jalan yang kita lalui bersama. Aku melihat, kau telah jauh lebih baik dari apa yang ku kira. Meskipun bagiku jalan yang kita tempuh membuatku kaku berjalan dan berbicara terasa hambar seperti kita baru saling kenal mengenal. Kita tak bersahabat seperti dulu. Lantas aku harus apa ? Aku melihat, kau lebih menyenangi orang-orang baru disekitarmu, bahagia dengan mereka, banyak candamu dengan mereka, memilih bepergian dengan mereka ketimbang ketika ku minta dirimu untuk datang ke rumahku tapi itu adalah hakmu dan aku tak dapat memaksamu, maka akupun memilih berlaku biasa-biasa saja terhadapmu tapi kau tetaplah istimewa. Cemburu, yah aku cemburu dan takut mengganggu kesenanganmu dengan mereka. Sahabat seperti apakah kita ? Kita hanya yang bahkan terlalu sering mengirim pesan facebook dengan simbol senyum saja. Tapi, itu cukup bagiku. Meskipun, dalam keinginan, kita dapat kembali menapaki jalan dengan senyum, canda, tawa dan tangis yang tak pernah usai tentang kita. 

Sahabat seperti apakah kita ? Jawablah, jika kau menemukan sepenggalan kata-kata hatiku di ruang ini. Sebab, kebanyakan yang kubaca sahabat diibaratkan berlian yang sangat berharga dan jarang dimiliki, ibarat cermin yang menggambarkan diri kita, ibarat mentari yang menyinari, ibarat hujan yang menyirami tanah gersang dan tandus, ibarat pelangi yang selalu memberi warna, ibarat bintang yang memberi cahaya dalam kegelapan dan aku tak tahu seperti apa kita. Tapi, bukan berarti kita ingin diibaratkan, hanya saja aku ingin mengatakan bahwa dirimu adalah sahabat yang terbaik dari yang terbaik dan tiada upayaku untuk melupakan tentang kita. Jazakillah Khairan Katsira, ukhti. Ahabbakalladzii Ahabbataniilah

Kamis, 18 Juli 2013

Ummu Kultsum Binti ‘Ali Bin Abu Thalib


Jika ada wanita yang dikelilingi ahli surga, Ummu Kultsum binti Ali bin Abu Thaliblah orangnya. Dia adalah cucu Rasulullah saw. Ayahnya termasuk assabiqunal awwalun (pemeluk agama Islam yang pertama). Ibunya adalah pemimpin wanita di surga, yakni putri Rasulullah saw, Fathimah ra. Sedang dua saudaranya, Hasan dan Husein adalah penghulu ahli surga.

Keutamaan Ummu Kultsum sebagai wanita mulia keturunan Rasulullah, menarik hati Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai khalifah. Meski demikian, Ali sebagai ayah dari Ummu Kultsum tidak serta merta mengiyakan keinginan Umar tersebut. Saat Umar mengkhitbah Ummu Kultsum, Ali bertanya,” Apa yang kamu inginkan darinya?” Umar menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebabku dan nasabku sendiri'.” 

Menurut riwayat Abu Umar bin Abdul Barr, Umar berkata kepada Ali, “Nikahkanlah aku dengan Ummu Kultsum, karena aku melihat kemuliaan-kemuliaan pada dirinya yang tak terdapat pada orang lain.” Lalu Ali menjawab, “Aku telah menyerahkannya kepadamu jika kamu meridhainya dan aku telah menikahkanmu dengannya.”

Umar menikahi Ummu Kultsum dengan mahar sebesar 40 ribu dirham (senilai dengan 64 miliar untuk ukuran saat ini) sebagai bentuk penghormatan padanya. Mereka dikaruniai 2 anak, Zaid dan Ruqayyah.

Sebagai pendamping Amirul Mukminin, Ummu Kultsum senantiasa mendukung suaminya dalam mengayomi masyarakat. Dan salah satu peristiwa penting dialami Ummu Kultsum menjelang wafatnya Umar.

Pada malam itu, sebagaimana biasa Umar melakukan ronda mengelilingi wilayahnya. Untuk memantau keadaan masyarakat, kalau-kalau ada orang yang kelaparan atau membutuhkan pertolongan. 

Di pinggir kota Madinah, Umar bertemu dengan seorang Badui yang tengah gelisah di depan sebuah kemah. Dari dalam kemah terdengar rintihan seorang wanita. Bergegas Umar mendatangi Badui tersebut dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Awalnya Badui itu menolak menjawab, namun karena Umar terus mendesak akhirnya Badui itu berkata bahwa istrinya sedang kesakitan karena mau melahirkan sementara tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Umar bergegas meninggalkan Badui itu dan pulang ke rumahnya. Ia menemui Ummu Kultsum dan berkata,” Apakah kamu ingin mendapat pahala yang Allah akan limpahkan kepadamu?” Ummu Kultsum menjawab dengan antusias, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?” Lalu Umar menjelaskan kondisi keluarga Badui yang baru ditemuinya sekaligus mengajak Ummu Kultsum untuk membantu persalinan wanita istri Badui tersebut. Ummu Kultsum bergegas menyiapkan peralatan untuk persalinan bayi dan Umar memanggul gandum serta membawa minyak samin. 

Sesampainya di sana, Ummu Kultsum bergegas masuk ke dalam kemah dan menolong wanita Badui melahirkan bayinya. Sementara itu Umar bergegas memasak makanan di luar kemah. Ketika bayi telah kahir, Ummu Kultsum secara spontan berseru dari dalam kemah: "Wahai Amirul Mukminin, sampaikan kepada temanmu itu bahwa ia dikaruniai anak laki-laki." Orang Badui dan istrinya pun kaget, tidak menyangka bahwa orang yang memasak untuk mereka adalah Amirul Mukminin. 

Sepeninggal Umar, Ummu Kultsum menikah dengan sepupunya 'Aun bin Ja'far bin Abi Thalib sampai wafatnya ‘Aun, lalu ia menikah lagi dengan saudara dari 'Aun bin Ja'far, yaitu Muhammad bin Ja'far bin Abi Thalib. Setelah wafatnya suami ketiga ini, Ummu Kultsum pun menikah lagi dengan saudara dari dua suaminya ini yaitu 'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib hingga Ummu Kultsum wafat.