Sumber :Klik
Sabtu, 21 September 2013
Senin, 19 Agustus 2013
Sahabat Seperti Apakah Kita ?
Sahabat seperti apakah kita ?. Tak jarang aku mempertanyakan tentang kita dalam sebuah hubungan yang sudah terlalu lama kita jalin. Lama, telah lama menapaki jalan yang kita tempuh bersama yang terkadang kita menemui jalan yang lumayan tajam dan terjal, tanjakan dan tikungan yang menukik dan menjadi pertikaian hebat diantara kita sebab jalan kita yang selalu sama, berbeda dan salah arah. Salah paham, salah pengertian, salah penjelasan, dan salah petunjuk hingga membuat kita tersesat dalam kesendirian.
Hampir satu setengah tahun lamanya yang entah topik permasalahan apa yang membuat kita tersesat dan renggang dalam keingintahuanku terhadap arah penjelasan yang tak pernah kau jelaskan saat ku minta. Yah, aku salah. Salah menjadi sahabat yang baik untukmu. Sebab, terlalu banyak air mata yang telah kau tumpahkan yang selama ini kau bendung atas diriku. Kau muak denganku, Kau tak tahan denganku. Kau jijik denganku. Lantas aku harus apa ? Salahkupun kau rabunkan tanpa arti yang kau jelaskan. Kita hanya memilih diam meminum air mata nanah dan darah sendiri, membiarkan waktu meredakan amarah dan kembali menyatukan jari-jari tangan kita dalam dekapan ukhuwah. Sahabat seperti apakah kita ?
Dengan kediaman dan kesabaran kita menunggu waktu, Allah sangat bijak mengambil keputusan terhadap kita. Dialah sebaik-baik pembuat keputusan Maha Pengasih Maha Penyayang. Baru kemarin aku menulis kerinduanku (Rindu Hijaumu, Hijau Kita), kini Dia membuat kita kembali tersenyum melihat dunia dan kembali menapaki jalan yang telah membuat kita salah arah lewat do'a-do'a kerinduan yang kita sampaikan pada-Nya. Tangis bahagia, kedewasaan telah mendewasakan kita yang telah sekian lama dan terasa berabad-abad tanpa jalan yang kita lalui bersama. Aku melihat, kau telah jauh lebih baik dari apa yang ku kira. Meskipun bagiku jalan yang kita tempuh membuatku kaku berjalan dan berbicara terasa hambar seperti kita baru saling kenal mengenal. Kita tak bersahabat seperti dulu. Lantas aku harus apa ? Aku melihat, kau lebih menyenangi orang-orang baru disekitarmu, bahagia dengan mereka, banyak candamu dengan mereka, memilih bepergian dengan mereka ketimbang ketika ku minta dirimu untuk datang ke rumahku tapi itu adalah hakmu dan aku tak dapat memaksamu, maka akupun memilih berlaku biasa-biasa saja terhadapmu tapi kau tetaplah istimewa. Cemburu, yah aku cemburu dan takut mengganggu kesenanganmu dengan mereka. Sahabat seperti apakah kita ? Kita hanya yang bahkan terlalu sering mengirim pesan facebook dengan simbol senyum saja. Tapi, itu cukup bagiku. Meskipun, dalam keinginan, kita dapat kembali menapaki jalan dengan senyum, canda, tawa dan tangis yang tak pernah usai tentang kita.
Sahabat seperti apakah kita ? Jawablah, jika kau menemukan sepenggalan kata-kata hatiku di ruang ini. Sebab, kebanyakan yang kubaca sahabat diibaratkan berlian yang sangat
berharga dan jarang dimiliki, ibarat cermin yang menggambarkan diri
kita, ibarat mentari yang menyinari, ibarat hujan yang menyirami tanah
gersang dan tandus, ibarat pelangi yang selalu memberi warna, ibarat
bintang yang memberi cahaya dalam kegelapan dan aku tak tahu seperti
apa kita. Tapi, bukan berarti kita ingin diibaratkan, hanya saja aku
ingin mengatakan bahwa dirimu adalah sahabat yang terbaik dari yang
terbaik dan tiada upayaku untuk melupakan tentang kita. Jazakillah Khairan Katsira, ukhti. Ahabbakalladzii Ahabbataniilah
Kamis, 18 Juli 2013
Ummu Kultsum Binti ‘Ali Bin Abu Thalib
Jika ada wanita yang dikelilingi
ahli surga, Ummu Kultsum binti Ali bin Abu Thaliblah orangnya. Dia adalah cucu
Rasulullah saw. Ayahnya termasuk assabiqunal awwalun (pemeluk agama
Islam yang pertama). Ibunya adalah pemimpin wanita di surga, yakni putri
Rasulullah saw, Fathimah ra. Sedang dua saudaranya, Hasan dan Husein adalah
penghulu ahli surga.
Keutamaan Ummu Kultsum sebagai
wanita mulia keturunan Rasulullah, menarik hati Umar bin Khattab yang saat itu
menjabat sebagai khalifah. Meski demikian, Ali sebagai ayah dari Ummu Kultsum
tidak serta merta mengiyakan keinginan Umar tersebut. Saat Umar mengkhitbah
Ummu Kultsum, Ali bertanya,” Apa yang kamu inginkan darinya?” Umar menjawab,
“Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Semua sebab dan nasab
akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebabku dan nasabku sendiri'.”
Menurut riwayat Abu Umar bin Abdul
Barr, Umar berkata kepada Ali, “Nikahkanlah aku dengan Ummu Kultsum, karena aku
melihat kemuliaan-kemuliaan pada dirinya yang tak terdapat pada orang lain.”
Lalu Ali menjawab, “Aku telah menyerahkannya kepadamu jika kamu meridhainya dan
aku telah menikahkanmu dengannya.”
Umar menikahi Ummu Kultsum dengan
mahar sebesar 40 ribu dirham (senilai dengan 64 miliar untuk ukuran saat ini)
sebagai bentuk penghormatan padanya. Mereka dikaruniai 2 anak, Zaid dan
Ruqayyah.
Sebagai pendamping Amirul Mukminin,
Ummu Kultsum senantiasa mendukung suaminya dalam mengayomi masyarakat. Dan
salah satu peristiwa penting dialami Ummu Kultsum menjelang wafatnya Umar.
Pada malam itu, sebagaimana biasa
Umar melakukan ronda mengelilingi wilayahnya. Untuk memantau keadaan
masyarakat, kalau-kalau ada orang yang kelaparan atau membutuhkan pertolongan.
Di pinggir kota Madinah, Umar
bertemu dengan seorang Badui yang tengah gelisah di depan sebuah kemah. Dari
dalam kemah terdengar rintihan seorang wanita. Bergegas Umar mendatangi Badui
tersebut dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Awalnya Badui itu menolak
menjawab, namun karena Umar terus mendesak akhirnya Badui itu berkata bahwa
istrinya sedang kesakitan karena mau melahirkan sementara tidak ada seorang pun
yang menolongnya.
Umar bergegas meninggalkan Badui itu
dan pulang ke rumahnya. Ia menemui Ummu Kultsum dan berkata,” Apakah kamu ingin
mendapat pahala yang Allah akan limpahkan kepadamu?” Ummu Kultsum menjawab
dengan antusias, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?” Lalu Umar
menjelaskan kondisi keluarga Badui yang baru ditemuinya sekaligus mengajak Ummu
Kultsum untuk membantu persalinan wanita istri Badui tersebut. Ummu Kultsum
bergegas menyiapkan peralatan untuk persalinan bayi dan Umar memanggul gandum
serta membawa minyak samin.
Sesampainya di sana, Ummu Kultsum
bergegas masuk ke dalam kemah dan menolong wanita Badui melahirkan bayinya.
Sementara itu Umar bergegas memasak makanan di luar kemah. Ketika bayi telah
kahir, Ummu Kultsum secara spontan berseru dari dalam kemah: "Wahai Amirul
Mukminin, sampaikan kepada temanmu itu bahwa ia dikaruniai anak
laki-laki." Orang Badui dan istrinya pun kaget, tidak menyangka bahwa
orang yang memasak untuk mereka adalah Amirul Mukminin.
Sepeninggal Umar, Ummu Kultsum
menikah dengan sepupunya 'Aun bin Ja'far bin Abi Thalib sampai wafatnya ‘Aun,
lalu ia menikah lagi dengan saudara dari 'Aun bin Ja'far, yaitu Muhammad bin
Ja'far bin Abi Thalib. Setelah wafatnya suami ketiga ini, Ummu Kultsum pun
menikah lagi dengan saudara dari dua suaminya ini yaitu 'Abdullah bin Ja'far
bin Abi Thalib hingga Ummu Kultsum wafat.
Selasa, 09 Juli 2013
Diam Lebih Baik
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
memberi komentar..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
persetujuan..
tapi..
Biarlah DIAM kita mereka faham artinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum
maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..
karena..
DIAM kita mungkin disalah artikan..
DIAM kita mungkin mengundang
prasangkaan..
DIAM kita mungkin tidak membawa maksud
apa2..
DIAM kita mungkin tak berarti..
maka..
jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
seharusnya kita DIAM..
namun seandainya DIAM kita bukanlah
sesuatu yang bijak..
berkatalah sehingga mereka DIAM..
Langganan:
Postingan (Atom)









