Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Minggu, 23 September 2012

Rahasia Wudhu



 Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... 

Pernahkah terpikir mengapa kita mengambil wudhu sedemikian rupa? .. 
Pernahkah terpikir segala hikmah yang kita peroleh dalam menghayati Islam? .. 
Pernahkah terpikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam? ...
Berikut ini adalah hikmah yang dapat kita peroleh dari wudhu seperti yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam bukunya "Ihya Ulumuddin". Mudah-mudahan Allah SWT selalu mencucurkan rahmat-Nya.
Banyak di antara kita yang tidak sadar akan hakikat bahwa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmah tersendiri.
1.     Ketika berkumur, berniatlah dengan, "Ya Allah ampunilah dosa mulut dan lidahku ini.
Penjelasan: Sehari-hari kita bercakap-cakap mengenai benda-benda yang tak berfaidah

2.    Ketika membasuh muka, berniatlah dengan, "Ya Allah,putihkanlah mukaku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan mukaku ini".
Penjelasan: Muka para ahli surga putih berseri-seri.

3.    Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah dengan, "Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku di tangan kananku ini"
Penjelasan: Hisab-hisab ahli surga diberikan di tangan kanannya.

4.    Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah dengan, "Ya Allah, janganlah Kauberikan hisab-hisabku di tangan kiriku ini".
Penjelasan: Hisab-hisab ahli neraka diberikan di tangan kirinya.

5.     Ketika membasuh kepala, berniatlah dengan, "Ya Allah, lindungilah aku dari terik matahari di Padang Ma'syar dengan Arasy-Mu"
Penjelasan: Panas di Padang Masyar seperti matahari sejengkal di atas kepala.

6.    Ketika membasuh telinga, berniatlah dengan, "Ya Allah,ampunilah dosa telingaku ini"
Penjelasan: Sehari-hari kita mendengar orang mengumpat, memfitnah, dan mendengar lagu-lagu berunsur maksiat.

7.     Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah dengan, "Ya Allah, permudahlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
Penjelasan : Ahli surga melintasi titian dengan mudah sekali.

8.     Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah dengan, "Ya Allah, bawalah aku pergi ke masjid-masjid, surau-surau, dan bukan tempat-tempat maksiat"
Penjelasan : Qadha' dan qadar kita berada di tangan Allah.

Pernahkah terpikir mengapa kita mengambil wudhu sedemikian rupa? ..
Pernahkah terpikir segala hikmah yang kita peroleh dalam menghayati Islam? ..
Pernahkah terpikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam? ...

Bersyukurlah dan bertaubat selalu duhai sahabatku ...
Insya Allah Bermanfaat dan Penuh Kebarokahan Dari Allah ....

Aamiin :)

Sabtu, 22 September 2012

Wahai Saudara(i)ku

Wahai saudaraku !
Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi hidup dengan bersuka ria.
Aku heran pada orang yang yakin akan kubur, namun ia tertawa tebahak – bahak.
Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani hidupnya dengan bersantai – santai.
Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia menggandrunginya.
Aku heran pada intelektual, tapi bodoh dalam soal moral.
Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.
Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain, sementara ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia juga memilki cacat pada dirinya.
Aku heran pada orang yang yakin bahwa Allah subhanahu wata’ala senantiasa mengawasi segala perilakunya tapi ia berbuat maksiat dan kezoliman.
Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu diminta pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya, tapi berharap belas kasihan orang lain.
Sungguh...tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wata’ala ... dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya.
Wahai saudaraku !
Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Allah Yang Maha Pemurah mendatangkan rezeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memujiNya. Dengan pemberian yang sedikit, engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau juga tidak pernah merasa puas.
Wahai saudaraku !
Setiap hari Allah datangkan rezeki untukmu, sementara setiap malam malaikat datang kepadaNya dengan membawa catatan amalan burukmu. Engkau makan dengan lahap rezeki dariNya, namun engkau tidak segan – segan pula berbuat kezoliman dan kemaksiatan kepadaNya. Allah kabulkan jika engkau memohon kepadaNya. KebaikanNya tak putus – putus mengalir untukmu. Namun sebaliknya, catatan kejelekanmu sampai kepadaKu tiada henti.
Allah-lah pelindung terbaik untukmu. Sedangkan engkau hamba terjelek bagiNya. Engkau raup segala apa yang diberikanNya untukmu. Dia juga menutupi kejelekan yang telah engkau perbuat secara terang – terangan.
Allah sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikit pun tak penah merasa malu kepadaNya. Engkau melupakanNya dan mengingat orang lain.
Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepada Rabb semesta alam engkau merasa aman – aman saja.
Pada manusia engkau takut dimarahi, tetapi pada murkaNya engkau tak peduli.
Wahai saudaraku fillah, bersujud dan bertaubatlah kepada Allah serta tangisilah dosa – dosa yang selama ini kita kumpulkan...
Lihatlah betapa banyaknya dosa dan kelalaian yang telah kita perbuat selama ini.
Ya Allah,
Kami bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surgaMu, namun Kami juga tak mampu menanggung pedihnya siksa nerakaMu, berilah hambaMu ini ampunan, dan hapuskanlah dosa - dosa Kami, sesungguhnya hanya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Agung.
Ya Allah,
Umur Kami berkurang setiap saat, sementara dosa – dosa Kami terus bertambah bagaikan buih di lautan,
masih adakah jalan bagi Kami untuk menerima ampunan dan hidayahMu ?
Ya Allah,
HambaMu yang penuh maksiat dan kezoliman ini bersimpuh dihadapanMu mengakui dosa – dosa dan kelalaiannya serta memohon ampunanMu, Ya Allah...
Namun, bila Engkau campakkan kami,
kepada siapa lagi jiwa yang hina lagi kotor ini memohon ?

Selasa, 18 September 2012

Cermin Diri


Tatkala kudatangi sebuah cermin.  Tampak sesosok yang sangat lama kukenal dan sering kulihat. Namun aneh,sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat. Tatkala kutatap wajah,hatiku bertanya, Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya dan bersinar indah di surga sana? Ataukah wajah ini yang akan hangus legam di neraka jahanam. Tatkala kutatap mata,nanar hatiku bertanya, Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan… Menatap Allah,menatap Rasulullah,menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang terbeliak,melotot, menganga, terburai menatap neraka jahanam… Akankah mata penuh maksiat ini yang akan menyelamatkan?
            Wahai mata,apa gerangan yang kau  tatap selama ini? Tatkala kutatap mulut,apakah mulut ini yang kelak akan mendesah penuh kerinduan,mengucap laa ilaaha ilallah saat malaikat maut datang menjemput? Ataukan menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur,dengan lengking jeritan pilu yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengar. Ataukah mulut ini menjadi pemakan buah zaqun jahanam…yang getir penghangus,penghancur setiap usus. Apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai mulut yang malang? Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan? Berapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata yang manis semanis madu yang palsu yang engkau ucapkan untuk menipu? Betapa jarang engkau jujur.  Betapa langkanya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu. Tatkala kutatap tubuhku, Apakah tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya…?  Bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur, mendidih di dalam lahar membara jahanam,terpasung tanpa ampun,derita yang tak pernah berakhir.
 Wahai tubuh,berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzolimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa banyak hak-hak yang engkau rampas?
 Ketika kutatap hai tubuh. Seperti apa gerangan isi hatimu. Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu. Atau sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu. Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok ? Apakah hatimu seindah penampilanmu ? Ataukah sebusuk kotoran-kotoranmu ?
Betapa beda…betapa beda…apa yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi…  Aku telah tertipu, aku tertipu oleh topeng. Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah topeng belaka. Betapa pujian yang terhambur hanyalah memuji topeng. Betapa yang indah ternyata hanyalah topeng… Sedangkan aku…hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus.
            Aku tertipu, aku malu ya Allah.
Allah…selamatkan aku…Amin ya Rabbal’alamin.

 (Abdullah Gymnastiar)

Selasa, 11 September 2012

Selembar Bulu Mata


Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.

"Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu." "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yang memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yg mendengarkan." Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, "Saya yang merayu." Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meremas." Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika ketahuan." "Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu, ucap malaikat.
Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi." "Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka .
Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan." Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke syurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni syurga:
"Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk syurga kereana pertolongan selembar bulu mata."