Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Kamis, 13 Juni 2013

AKK'ers '09


Baris I dari Kiri ke Kanan :
           Muh. Wiranto, Jamaluddin Thalib, Rachmadani Hamid, Adnan Yoesfar, Indri Limbong Allo, Asrori Muhofi, Yuyun Arya Sulni, Kiki Miranti Sareong, Hersi Magang, Muh. Irfan
Baris II dari Kiri ke Kanan :
         Berlianty Tangalayuk, Yuristi Windabata, Halimah Jahid, Neniastriyema L, Mujahidah, Nur Inayah Rauf, Umrah Hardianti, Steffi Barmo, Herwindiyanata
Baris III dari Kiri ke Kanan :
            Fajriah Anggraeni, Yusnita Maani, Khadijah Maulindah, Asmiyati, Nike Andriani, Arfiani, A. Yulyandhika, Irma Suryati
Dibalik Layar :
              Nurul Fitria Gamayanti, Maulidayanti, Surniati, Lohafri Tanan, Siti Nurrifqah Halil, Satriani, Nurhayni, Muh. Fauzar, Nur Inayah Ismaniar, Noviana Sampeluna, Imam Suratno dll :)

Klik : Indah Dibatas Akhir ^^

Lokasi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Minggu, 09 Juni 2013

Surat Dariku : Aku, Kau dan Berbagai Alasanku



Assalamu’alaikum Wr.Wb

Apa kabarmu ? Lama tak mendengar kabarmu beberapa bulan ini. Hanya sekedar ingin tahu, aku membuka profil facebookmu atas kekhawatiranku terhadap perasaanmu. Namun, tampaknya kau baik-baik saja dan bahagia dengan keadaanmu yang sekarang. Kulihat dari status-statusmu dan kiriman dinding dari seseorang yang tampaknya kau mempunyai seseorang yang baru dalam hidupmu dan akan segera menjadikannya halal. Hal itu tidak membuatku ada rasa sakit, kaget, menyesal, ataupun kecewa. Karena keyakinanku atas keputusan Allah adalah yang terbaik. 

Hmm, teringat tentang kita dimasa jahiliyahku.
Aku mengenalmu lewat sahabat setiaku yang dia sendiri tak tahu bagaimana bentuk dan rupamu. Yah, lebih tepatnya hanya kenalan lewat telepon sejak kelas 3 SMA aku, kau dan sahabatku. Katanya, kau itu alim, baik, bijaksana dan selalu memberi kata-kata mutiara islami. Aku pun tertarik untuk mengenalmu, kita saling memberi kata-kata mutiara islami, bertukar pikiran tentang ilmu agama dan mengajariku tentang syariat islam. Karena terlalu sering hingga timbul perasaan diantara kita. Aku tahu tentang semua rasamu dari sahabatku setelah tak ada kabar tentangku yang sejujurnya, aku menyukaimu hingga aku lebih memilih untuk hilang dari kehidupanmu karena aku merasa tak pantas dan tak perlu ku umbar perasaanku. Kau kelinglungan dan bertanya-tanya pada sahabatku yang diapun tak tahu kabar dan keberadaanku. Saat ku tahu itu, aku pun tak tahu harus memberikan jawaban apa. Kaupun meyakiniku dengan komitmenmu yang kuat atas janji yang akan kau hadiahkan padaku di masa depan. Sebuah ikatan di pelabuhan cinta dan berbahagia atas Ridho-Nya. Katamu, kau akan tetap menungguku sampai aku menyelasaikan masa studiku di Perguruan Tinggi. Aku menerimamu tapi sebenarnya, aku tak tahu, apakah perasaanku benar-benar menyukaimu atau hanya sekedar perasaan yang melintas dihatiku.

Di masa perkuliahan yang ku jalani, aku mengenal Tarbiyah, dimana aku lebih mempelajari dan mendalami ajaran islam. Aku pun mengetahui batas-batas terhadap orang yang bukan mahram dan  ternyata yang selama ini ku jalani dan ku ketahui adalah salah. Memang nyatanya kita tidak pacaran tapi cara kita yang salah dalam menempatkan rasa dan berada di luar syariat. Kau yang lebih tahu, tapi kau tak berada di koridor itu. Meskipun, kita hanya mengenal satu sama lain lewat telepon. Aku pun mengurangi komunikasi diantara kita dengan tak mengangkat teleponmu dan membalas SMSmu. Hingga lambat laun, perasaanku berkurang. Ada keraguan dan ketidakjelasan dengan perasaanku. Kaupun bertanya-tanya dan aku memberikan jawaban yang seharusnya kita berada di koridor syariat. Tapi, tampaknya kau benar-benar tak menjaganya apa yang sudah ku beritahukan padamu. Nyatanya, kau menjadi orang yang tak sabaran dan selalu saja ingin mengetahui kabarku dan apa yang sedang kulakukan. Aku pun tak menanggapi pertanyaan-pertanyaanmu dan aku tetap pada diamku, bersikap seolah tak tahu yang selain itu HPku rusak dan kartuku terblokir selama 8 bulan sehingga kau tak bisa menghubungiku sampai kau telah menemukan belahan jiwa yang sekarang ini. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku, aku mengagumimu, mengagumi kesederhanaanmu, namun selain rasa itu aku tidak memiliki rasa yang lain. Aku tidak berani mencintaimu, karena aku takut rasa cinta itu akan menghancurkan pondasi keimananku. Aku takut rasa cinta itu akan membuatku melanggar larangan Allah dengan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam. Aku mengagumimu, namun aku tidak pernah merindukanmu. Aku pernah berharap mendapatkan seorang suami yang shaleh dan memiliki kesederhanaan sepertimu, tapi aku tak pernah menuntutmu untuk menungguku sampai aku menyelasaikan masa studiku.  

Entahlah, rasanya aku tidak berhak menyuruhmu menunggu, sedangkan aku tidak mampu berjanji bahwa aku tak akan mengecewakan penantian panjangmu. Mungkin mudah saja bagi kita untuk berjanji, namun jika Ketetapan-Nya tak mengizinkan janji kita terpenuhi, kita tak akan punya daya untuk memenuhi Janji-Janji kita. Selama ini aku diam karena aku takut berharap padamu dan memberikan harapan besar padamu, karena aku takut dikecewakan dan mengecewakan. Aku takut harapanku hancur berkeping-keping jika ternyata sebelum tiba waktunya,kau telah bertemu dengan jodohmu. Yah, ternyata bukan aku, maka aku lebih memilih berharap dalam do'aku. Jika memang kau di takdirkan berjodoh denganku, aku yakin akan ada jalan dari Allah yang lebih diridhai dari pada mengikat rasa dan asa ini dengan komitmen sebuah hubungan. Jika hari ini aku berharap padamu, aku akan tersiksa rindu, aku akan tersiksa oleh rasa takut kehilanganmu. Aku akan tersiksa rasa kecewa atas kenyataan yang kau jalani saat ini. Andai saja pacaran itu tidak haram, aku mau menjadi pacarmu dan memintamu menungguku sampai waktunya tiba, namun aku mengetahui apa yang tidak dibenarkan dalam agama kita. Aku lebih memilih sebuah ikatan yang diberkahi dibandingkan kebersamaan yang menyalahi aturan. Oleh karena itu, aku tetap berharap dalam do’aku. Dia lah Yang Maha tahu siapa yang terbaik untukku.

Inilah ungkapan hatiku untukmu, yang jika catatan ini sampai padamu, semoga engkau mengerti dan memaafkan ku karena sekian lama diam dan menjauhimu.

“Baarokallahu Laka Wa baaroka ‘Alaika Wajama’a Baynakumaa Fii Khair”
“Semoga Allah memberkatimu dan memberikan berkah atas kamu serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Selasa, 04 Juni 2013

Perempuan Yang Bernama Azure Azalea



Sebelumnya, aku tak mengenal perempuan yang bernama Azure Azalea. Yang ku tahu, seingatku dulu dia yang mengaddku dalam situs facebook sebelum akun facebook baruku. Aku yang suka memilih-milih pertemanan di Facebook, aku terlebih dahulu melihat profilnya sebelum ku konfirmasi pertemananku dengannya. Yah, mungkin karena kebanyakan mempunyai teman yang sama dan berada di Fakultas yang sama. Tanpa berlama-lama aku mengkonfirmasinya. Seperti biasanya, aku hanya membuka beranda facebookku.

Setiap kali dia memposting status-statusnya di jejaring sosial itu. Aku sering melihat postingannya yang membuatku tertarik untuk membacanya. Rangkaian kata-katanya begitu indah, padat  dan mudah dicerna. Hingga aku tertarik untuk mencari tahu tentangnya. Siapa Azure Azalea dan benarkah nama aslinya Azure Azalea ? Anak FLPkah ? Azure Azalea artinya apa ? Akhirnya, kudapati. Nama aslinya Rafiqah Ulfa Masbah, anak FLP (Forum Lingkar Pena) dan arti dari nama Azure Azalea sekaligus blognya. Sepertinya, aku berusaha keras mencari tahu tentangnya yang sebenarnya mudah.

Nama yang menurutku berala-ala Jepang itu.  Aku mengenalnya lewat sulaman kata-kata yang berhasil diolahnya melalui ide-idenya yang segar. Aku mengenalnya lewat kalimat-kalimat sederhananya yang penuh makna. Yah, aku mengenalnya lewat kata yang menggambarkan perangainya dan penilaianku langsung merujuk ke angka delapan.

Hingga pada suatu ketika aku berjalan di koridor kampus dan seperti pada foto yang kulihat di Facebook dari kejauhan aku melihat sosoknya yang berjalan dengan anggunnya sesuai penilaianku lewat tulisan-tulisan di blognya. Ah, aku tak begitu ingat berada pada situasi apa saat itu. Tapi, seingatku dia yang lebih dulu menyapaku. “Apakah aku dikenalnya ? Hmm, sepertinya iya yang tidak lain adalah seniornya.”, gumamku dalam hati.

Pada pertemuan yang beberapa kali terjadi dan tanpa rencana terkadang yang kulakukan hanyalah melemparnya dengan senyum. Dengan kepribadianku, aku malu-malu, benar-benar malu menyapanya lebih dulu yang bahkan menurut perasaanku tak pernah. Selain, Darwis Tere Liye, Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, Salim A. Fillah, Helvi Tiana Rosa, Habiburrahman El- Shirazi, Ahmad Fuadi, dan Andrea Hirata. Aku juga mengaguminya secara diam-diam dengan gaya menulisnya, gaya bahasanya dan prestasi-prestasi kepenulisan yang dimilikinya. Yah, aku melihat namanya tercantum pada sampul buku di sebuah foto yang ditagnya saat itu. Aku menyukai tulisan-tulisannya dan sampai saat ini aku hanya mengenalnya lewat kata. Perempuan yang bernama Azure Azalea ^^

Minggu, 02 Juni 2013

Haruskah Yang (Selalu) Cantik ?

Hmm, cantik.
Apakah jodoh itu hanya milik seseorang yang cantik ? 
Apakah kata cantik yang selalu di pandang elegan, manis, putih, imut, lembut dan tanpa cacat ?
Apakah dengan cantik akan memperbaiki keturunan ?
Apakah kata cantik akan selalu masuk dalam pencarian kata terpopuler?

Apakah yang tak cantik akan selalu menjadi kata yang mengerikan dan menjadi bahan ejekan ?
Apakah yang tak cantik akan selalu dihindari dan dipandang sinis ?

Yah, Setiap orang telah ditakdirkan dan dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Hanya saja, fenomena yang paling sering ku temui dalam dunia yang terlalu indah ini adalah kecantikan tanpa cacat dan yang tak cantik selalu berada di antrian yang paling terakhir hingga aku tak bisa menyamakan kata cantik dengan tak cantik. Selalu saja yang didahulukan cantik yang dijadikan tolak ukur fisiknya.

Pada dasarnya, memang orang yang bernama laki-laki ingin dan selalu mencari seseorang yang bernama perempuan itu cantik yang bahkan tak jarang orang yang sangat alim dan kurang gantengpun menginginkan perempuan yang cantik. Begitupun, sebaliknya yang diinginkan perempuan. Meskipun dalam sabda Rasulullah SAW, pilihlah wanita karena agamanya, sebab kecantikan, harta dan keturunan akan cepat sirna, maka beruntunglah mereka yang mendapatkan perempuan yang cantik dan baik akhlaknya (agamanya). Tapi, ada baiknya juga menjadi perempuan yang tak cantik, jika kecantikan hanya menjadi sumber suatu dosa, dimana hanya akan meninggalkan bayangan dalam pelupuk mata seorang laki-laki yang tak bisa menjaga pandangannya, meninggalkan rasa dihatinya yang membelokkan dan menggugurkan niat ikhlasnya pada seorang laki-laki yang tak bisa menjaga hatinya. Yang menjadi pertanyaanku, adakah laki-laki (ikhwa) yang melihat perempuan dengan kelebihannya tanpa melihat kekurangan fisiknya ? Bukannya, tak mensyukuri atas pemberian Allah, hanya saja inilah gugatan-gugatan perempuan yang berada di antrian paling terakhir yang sedang menunggu jodohnya dibatas penantian kepada orang yang bernama laki-laki yang lebih memilih yang cantik. Yah, dialah sekuntum mawar yang tersisa.

Hmm, meskipun tak cantik. Mudah-mudahan selalu menambah kesyukuran pada Allah, melatih kesabaran dan keikhlasan atas segala cobaan hidup dengan tidak menambah kerutan di wajah. 
“Segala puji hanya milik Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau memberiku rupa yang baik maka jadikanlah padaku akhlaq yang baik”.