Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Apa
kabarmu ? Lama tak mendengar kabarmu beberapa bulan ini. Hanya sekedar ingin
tahu, aku membuka profil facebookmu atas kekhawatiranku terhadap perasaanmu.
Namun, tampaknya kau baik-baik saja dan bahagia dengan keadaanmu yang sekarang.
Kulihat dari status-statusmu dan kiriman dinding dari seseorang yang tampaknya
kau mempunyai seseorang yang baru dalam hidupmu dan akan segera menjadikannya
halal. Hal itu tidak membuatku ada rasa sakit, kaget, menyesal, ataupun kecewa.
Karena keyakinanku atas keputusan Allah adalah yang terbaik.
Hmm,
teringat tentang kita dimasa jahiliyahku.
Aku
mengenalmu lewat sahabat setiaku yang dia sendiri tak tahu bagaimana bentuk dan
rupamu. Yah, lebih tepatnya hanya kenalan lewat telepon sejak kelas 3 SMA aku, kau dan sahabatku.
Katanya, kau itu alim, baik, bijaksana dan selalu memberi kata-kata mutiara
islami. Aku pun tertarik untuk mengenalmu, kita saling memberi kata-kata
mutiara islami, bertukar pikiran tentang ilmu agama dan mengajariku tentang
syariat islam. Karena terlalu sering hingga timbul perasaan diantara kita. Aku
tahu tentang semua rasamu dari sahabatku setelah tak ada kabar tentangku yang
sejujurnya, aku menyukaimu hingga aku lebih memilih untuk hilang dari
kehidupanmu karena aku merasa tak pantas dan tak perlu ku umbar perasaanku. Kau
kelinglungan dan bertanya-tanya pada sahabatku yang diapun tak tahu kabar dan
keberadaanku. Saat ku tahu itu, aku pun tak tahu harus memberikan jawaban apa.
Kaupun meyakiniku dengan komitmenmu yang kuat atas janji yang akan kau
hadiahkan padaku di masa depan. Sebuah ikatan di pelabuhan cinta dan berbahagia
atas Ridho-Nya. Katamu, kau akan tetap menungguku sampai aku menyelasaikan masa
studiku di Perguruan Tinggi. Aku menerimamu tapi sebenarnya, aku tak tahu, apakah perasaanku
benar-benar menyukaimu atau hanya sekedar perasaan yang melintas dihatiku.
Di
masa perkuliahan yang ku jalani, aku mengenal Tarbiyah, dimana aku lebih
mempelajari dan mendalami ajaran islam. Aku pun mengetahui batas-batas terhadap
orang yang bukan mahram dan ternyata yang selama ini ku jalani dan ku
ketahui adalah salah. Memang nyatanya kita tidak pacaran tapi cara kita yang
salah dalam menempatkan rasa dan berada di luar syariat. Kau yang lebih tahu,
tapi kau tak berada di koridor itu. Meskipun, kita hanya mengenal satu sama
lain lewat telepon. Aku pun mengurangi komunikasi diantara kita dengan tak
mengangkat teleponmu dan membalas SMSmu. Hingga lambat laun, perasaanku
berkurang. Ada keraguan dan ketidakjelasan dengan perasaanku. Kaupun
bertanya-tanya dan aku memberikan jawaban yang seharusnya kita berada di
koridor syariat. Tapi, tampaknya kau benar-benar tak menjaganya apa yang sudah
ku beritahukan padamu. Nyatanya, kau menjadi orang yang tak sabaran dan selalu
saja ingin mengetahui kabarku dan apa yang sedang kulakukan. Aku pun tak
menanggapi pertanyaan-pertanyaanmu dan aku tetap pada diamku, bersikap seolah
tak tahu yang selain itu HPku rusak dan kartuku terblokir selama 8 bulan sehingga kau tak bisa
menghubungiku sampai kau telah menemukan belahan jiwa yang sekarang ini. Aku
sendiri tidak mengerti dengan perasaanku, aku mengagumimu, mengagumi
kesederhanaanmu, namun selain rasa itu aku tidak memiliki rasa yang lain. Aku
tidak berani mencintaimu, karena aku takut rasa cinta itu akan menghancurkan
pondasi keimananku. Aku takut rasa cinta itu akan membuatku melanggar larangan
Allah dengan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam. Aku
mengagumimu, namun aku tidak pernah merindukanmu. Aku pernah berharap
mendapatkan seorang suami yang shaleh dan memiliki kesederhanaan sepertimu, tapi aku tak
pernah menuntutmu untuk menungguku sampai aku menyelasaikan masa studiku.
Entahlah,
rasanya aku tidak berhak menyuruhmu menunggu, sedangkan aku tidak mampu
berjanji bahwa aku tak akan mengecewakan penantian panjangmu. Mungkin mudah
saja bagi kita untuk berjanji, namun jika Ketetapan-Nya tak mengizinkan janji kita
terpenuhi, kita tak akan punya daya untuk memenuhi Janji-Janji kita. Selama
ini aku diam karena aku takut berharap padamu dan memberikan harapan besar
padamu, karena aku takut dikecewakan dan mengecewakan. Aku takut harapanku
hancur berkeping-keping jika ternyata sebelum tiba waktunya,kau telah bertemu
dengan jodohmu. Yah, ternyata bukan aku, maka aku lebih memilih berharap dalam
do'aku. Jika memang kau di takdirkan berjodoh denganku, aku yakin akan ada
jalan dari Allah yang lebih diridhai dari pada mengikat rasa dan asa ini dengan
komitmen sebuah hubungan. Jika hari ini aku berharap padamu, aku akan tersiksa
rindu, aku akan tersiksa oleh rasa takut kehilanganmu. Aku akan tersiksa rasa
kecewa atas kenyataan yang kau jalani saat ini. Andai saja pacaran itu tidak
haram, aku mau menjadi pacarmu dan memintamu menungguku sampai waktunya tiba,
namun aku mengetahui apa yang tidak dibenarkan dalam agama kita. Aku lebih
memilih sebuah ikatan yang diberkahi dibandingkan kebersamaan yang menyalahi
aturan. Oleh karena itu, aku tetap berharap dalam do’aku. Dia lah Yang Maha
tahu siapa yang terbaik untukku.
Inilah
ungkapan hatiku untukmu, yang jika catatan ini sampai padamu, semoga engkau
mengerti dan memaafkan ku karena sekian lama diam dan menjauhimu.
“Baarokallahu
Laka Wa baaroka ‘Alaika Wajama’a Baynakumaa Fii Khair”
“Semoga Allah memberkatimu dan memberikan berkah atas kamu serta menyatukan
kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar