Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Minggu, 09 Juni 2013

Surat Dariku : Aku, Kau dan Berbagai Alasanku



Assalamu’alaikum Wr.Wb

Apa kabarmu ? Lama tak mendengar kabarmu beberapa bulan ini. Hanya sekedar ingin tahu, aku membuka profil facebookmu atas kekhawatiranku terhadap perasaanmu. Namun, tampaknya kau baik-baik saja dan bahagia dengan keadaanmu yang sekarang. Kulihat dari status-statusmu dan kiriman dinding dari seseorang yang tampaknya kau mempunyai seseorang yang baru dalam hidupmu dan akan segera menjadikannya halal. Hal itu tidak membuatku ada rasa sakit, kaget, menyesal, ataupun kecewa. Karena keyakinanku atas keputusan Allah adalah yang terbaik. 

Hmm, teringat tentang kita dimasa jahiliyahku.
Aku mengenalmu lewat sahabat setiaku yang dia sendiri tak tahu bagaimana bentuk dan rupamu. Yah, lebih tepatnya hanya kenalan lewat telepon sejak kelas 3 SMA aku, kau dan sahabatku. Katanya, kau itu alim, baik, bijaksana dan selalu memberi kata-kata mutiara islami. Aku pun tertarik untuk mengenalmu, kita saling memberi kata-kata mutiara islami, bertukar pikiran tentang ilmu agama dan mengajariku tentang syariat islam. Karena terlalu sering hingga timbul perasaan diantara kita. Aku tahu tentang semua rasamu dari sahabatku setelah tak ada kabar tentangku yang sejujurnya, aku menyukaimu hingga aku lebih memilih untuk hilang dari kehidupanmu karena aku merasa tak pantas dan tak perlu ku umbar perasaanku. Kau kelinglungan dan bertanya-tanya pada sahabatku yang diapun tak tahu kabar dan keberadaanku. Saat ku tahu itu, aku pun tak tahu harus memberikan jawaban apa. Kaupun meyakiniku dengan komitmenmu yang kuat atas janji yang akan kau hadiahkan padaku di masa depan. Sebuah ikatan di pelabuhan cinta dan berbahagia atas Ridho-Nya. Katamu, kau akan tetap menungguku sampai aku menyelasaikan masa studiku di Perguruan Tinggi. Aku menerimamu tapi sebenarnya, aku tak tahu, apakah perasaanku benar-benar menyukaimu atau hanya sekedar perasaan yang melintas dihatiku.

Di masa perkuliahan yang ku jalani, aku mengenal Tarbiyah, dimana aku lebih mempelajari dan mendalami ajaran islam. Aku pun mengetahui batas-batas terhadap orang yang bukan mahram dan  ternyata yang selama ini ku jalani dan ku ketahui adalah salah. Memang nyatanya kita tidak pacaran tapi cara kita yang salah dalam menempatkan rasa dan berada di luar syariat. Kau yang lebih tahu, tapi kau tak berada di koridor itu. Meskipun, kita hanya mengenal satu sama lain lewat telepon. Aku pun mengurangi komunikasi diantara kita dengan tak mengangkat teleponmu dan membalas SMSmu. Hingga lambat laun, perasaanku berkurang. Ada keraguan dan ketidakjelasan dengan perasaanku. Kaupun bertanya-tanya dan aku memberikan jawaban yang seharusnya kita berada di koridor syariat. Tapi, tampaknya kau benar-benar tak menjaganya apa yang sudah ku beritahukan padamu. Nyatanya, kau menjadi orang yang tak sabaran dan selalu saja ingin mengetahui kabarku dan apa yang sedang kulakukan. Aku pun tak menanggapi pertanyaan-pertanyaanmu dan aku tetap pada diamku, bersikap seolah tak tahu yang selain itu HPku rusak dan kartuku terblokir selama 8 bulan sehingga kau tak bisa menghubungiku sampai kau telah menemukan belahan jiwa yang sekarang ini. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku, aku mengagumimu, mengagumi kesederhanaanmu, namun selain rasa itu aku tidak memiliki rasa yang lain. Aku tidak berani mencintaimu, karena aku takut rasa cinta itu akan menghancurkan pondasi keimananku. Aku takut rasa cinta itu akan membuatku melanggar larangan Allah dengan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam. Aku mengagumimu, namun aku tidak pernah merindukanmu. Aku pernah berharap mendapatkan seorang suami yang shaleh dan memiliki kesederhanaan sepertimu, tapi aku tak pernah menuntutmu untuk menungguku sampai aku menyelasaikan masa studiku.  

Entahlah, rasanya aku tidak berhak menyuruhmu menunggu, sedangkan aku tidak mampu berjanji bahwa aku tak akan mengecewakan penantian panjangmu. Mungkin mudah saja bagi kita untuk berjanji, namun jika Ketetapan-Nya tak mengizinkan janji kita terpenuhi, kita tak akan punya daya untuk memenuhi Janji-Janji kita. Selama ini aku diam karena aku takut berharap padamu dan memberikan harapan besar padamu, karena aku takut dikecewakan dan mengecewakan. Aku takut harapanku hancur berkeping-keping jika ternyata sebelum tiba waktunya,kau telah bertemu dengan jodohmu. Yah, ternyata bukan aku, maka aku lebih memilih berharap dalam do'aku. Jika memang kau di takdirkan berjodoh denganku, aku yakin akan ada jalan dari Allah yang lebih diridhai dari pada mengikat rasa dan asa ini dengan komitmen sebuah hubungan. Jika hari ini aku berharap padamu, aku akan tersiksa rindu, aku akan tersiksa oleh rasa takut kehilanganmu. Aku akan tersiksa rasa kecewa atas kenyataan yang kau jalani saat ini. Andai saja pacaran itu tidak haram, aku mau menjadi pacarmu dan memintamu menungguku sampai waktunya tiba, namun aku mengetahui apa yang tidak dibenarkan dalam agama kita. Aku lebih memilih sebuah ikatan yang diberkahi dibandingkan kebersamaan yang menyalahi aturan. Oleh karena itu, aku tetap berharap dalam do’aku. Dia lah Yang Maha tahu siapa yang terbaik untukku.

Inilah ungkapan hatiku untukmu, yang jika catatan ini sampai padamu, semoga engkau mengerti dan memaafkan ku karena sekian lama diam dan menjauhimu.

“Baarokallahu Laka Wa baaroka ‘Alaika Wajama’a Baynakumaa Fii Khair”
“Semoga Allah memberkatimu dan memberikan berkah atas kamu serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Tidak ada komentar: