Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Selasa, 24 Desember 2013

Terharu Baca Ini - Sehati


"mengapa belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa aku kaubahagiakan
meskipun kau telah banyak berusaha
meskipun aku
juga telah keras berusaha?
mengapa belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa mungkin karena itu?
karena kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?
dalam sebuah film, pernah aku dengar,
“kau tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya? atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
.... gagal?
lalu apa yang harus kita lakukan?
apa sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?
apa harus begini hidup kita, bu?
bukankah tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku, hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu mengapa kau masih menangis?
mengapa aku masih menangis?
mengapa kita terus saja menangis?
apakah di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru?
apakah kita lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?
***
ah, bu! mari berhenti menangis dan coba menjawab setidaknya satu saja pertanyaan. siapa tahu itu bisa sedikit menghibur perasaan."

By : Azure Azalea

Kamis, 05 Desember 2013

Diam Lebih Baik - Part II (Tere Liye)

"Jika ada yang marah-marah, menjelek-jelekkan kita, maka cara terbaik menanggapinya adalah diam. Biarkan saja. Semakin banyak orang yang menjelekkan kita bicara buruk, maka semakin membuka keburukannya sendiri. Terus sibukkan diri, memperbaiki diri, terus berkarya, terus produktif. Bangun tembok dari orang-orang seperti ini. Abaikan, lupakan. Besok lusa, lihat saja siapa yang terus melesat maju, siapa yang masih sibuk berdiri di tempat  sama dan masih menjelek-jelekkan orang lain"
-Tere Liye-

Sebuah kutipan yang sangat super sekali....!!!! Meskipun, kutipan ini sudah basi tapi aku menyukainya, sangat mengena dan mengetuk hatiku yang pernah dihadapkan sebuah kata-kata yang sungguh manis tapi pahit (prasangka buruk-difitnah-ditelanjangi di jejaring sosial) yang sempat aku ingin mengubur diri dan menghilang dari dunia. Sabarku masih panjang meski itu terasa sulit mempertahankan sebuah kesabaran yang akhirnya hatiku menciut dan ada sedikit penyesalan karena bangkit dari diamku. Astaghfirullah..................................(The Confession) :'(
Alhamdulillah, Allah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung, Allah Maha Baik... karena aku masih tersadar dengan kata-kataku. "Maafkan aku yang pernah ku lukai hatinya. Meskipun memaafkan tak selamanya menghapus luka. Aku tahu rasamu".
 
Yah, diam lebih baik dan dimanapun kita mendapati sebuah kata yang tak mengenakkan hati, baik itu dalam hal persahabatan, pertemanan, rumah tangga, pekerjaan dan sebagainya, maka diamlah dan teruslah menjadi pribadi yang lebih baik. :)

Minggu, 10 November 2013

Dahulukan Prasangka Baik


Jika saudara atau temanmu berbuat kesalahan maka carikanlah keringanan/alasan positif untuknya (udzur) jangan dahulukan prasangka negatif.

-------
Ibnu Mazin berkata: “Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.”

Abu Qilabah 'Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata: “Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang tidak kau sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu, jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, 'Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui.”

Hamdun Al-Qashshar berkata: “Jika salah seorang dari saudaramu (yang menurut pendapatmu) melakukan kesalahan, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima (mendapatkan) satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela.”

(Adabul ‘Isyrah, hal 19).

Dari Yunus bin 'Abdil A'la, beliau berkata: "Aku mendengar Asy-Syafi'i (rahimahullah) berkata:

'Wahai Yunus, terlalu tertutup dari banyak orang akan mengakibatkan permusuhan, sedangkan terlalu bertoleransi dengan banyak orang mengakibatkan datangnya teman-teman yang tidak baik, maka jadilah engkau berada di antara keduanya'."

(Jawaahiru Shifatish Shafwah, edisi Indonesia: Teladan Hidup Orang-Orang Pilihan, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor)

Dari Raja' bin Haiwah, diriwayatkan bahwa ia berkata:

"Barang siapa hanya bersahabat dengan orang yang (menurutnya) tidak bercela, akan sedikit sahabat yang dimilikinya. Barang siapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari sahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Dan barang siapa yang mencela sahabatnya atas setiap dosa yang dilakukannya (dilakukan oleh sahabatnya), (maka ia) akan banyak memiliki musuh."

[Siyar A'lam an-Nubala (4/557-558). Lihat di buku Sudah Salafikah Akhlak Anda?, Pustaka At-Tibyan, Solo; dan juga di buku Belajar Etika Dari Generasi Salaf, Darul Haq, Jakarta, yang diterjemahkan dari judul aslinya Aina Nahnu Min Akhlaq as-Salaf]

Sebagian penyair berkata: Engkau menghendaki seorang teman yang tidak ada aibnya Maka apakah ada kayu gaharu yang mengeluarkan bau wangi tanpa asap??

(Silsilah Al-Huda wan Nuur no. 32)

Sumber : Klik