Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Kamis, 06 Februari 2014

Tisa TS - My Lucky Charm (Ost. Diam - Diam Suka)

Bismillah
Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh :)

Bagi DDS Lovers yang ingin download lagu Mba Tisa TS dengan judul My Lucky Charm bisa mendownloadnya melalui link dalam bentuk MP3 yang telah saya buat Klik Disini . Selamat mendownload. :)

Senin, 13 Januari 2014

Dimas Anggara (Dafa) - Sehari Tanpa Kamu

Bismillah
Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Bagaimana harimu sobat DDS Lovers ?
Alhamdulillah, semoga selalu berada dalam penjagaan-Nya.
Disini saya ingin berbagi salah satu lagu dari Dimas Anggara yang berperan sebagai Dafa dalam sinetron SCTV Diam-Diam Suka karena saya juga salah satu dari penyuka DDS yang tayang setiap hari pukul 18.15 WIB. Tentunya, kita tak ingin terlewatkan satu episode bukan ? Karena ceritanya yang dikemas secara menarik+komedi. Meskipun, ada sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang tak menyukai sinetron ini dengan alasan tidak mendidik. Yah, kita sebagai pengguna elektronik modern ini, kita diwajibkan mengambil positif dan membuang hal yang negatif dari berbagai sinetron bukan ? Sebenarnya, saya tak begitu menyukai sinetron. Namun, pada episode awal DDS ditayangkan membuat saya tertarik untuk menyaksikan bagaimana jalan ceritanya yang selanjutnya. Well To The Well Well Well, sebagai kaum Low To The Geng dan kaum Red To The Carpet, sobat DDS Lovers bisa mendownload salah satu lagu dari Dimas Anggara yang berjudul Sehari Tanpa Kamu  melalui link 4shared yang telah saya buat Klik Disini 

Pingky Swear Kitty Swear Banana Cherry Strawberry Swear...
Oppsi Whoppsi
Salam 5 jari Yes.... :)

Senin, 30 Desember 2013

Ruang Rasa Yang (Tak) Utuh



Lama aku memandangi layar notebook hijauku
Berfikir dan memutar bolak-balik otakku
Bingung,
Aku menekan tombol huruf A
Ada begitu banyak kata yang belum mampu ku rangkai
Sementara abjad tertata rapi didepan mataku
Ku ketik satu kalimat “aku….bla…bla….bla….” Back space
Ah, aku tidak tahu
Entah harus ku mulai dari mana mengeja perasaanku
Agar aku bisa menerjemahkannya
Merenung,
Aku menutup mata, menjamah dan meraba hatiku
Ada begitu banyak rasa
Dalam ruang dimana aku terjebak oleh perasaanku
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Seperti warna yang tidak hanya sebatas hitam ataupun putih
Seperti pelangi yang tak lagi jingga
Seperti embun menggelayut di ujung dedaunan
Hingga aku menemukan ruang dimana ku terkubur oleh dunia
Seperti awan yang tak lagi putih
Seperti gurung yang lagi tandus
Seperti kulit yang hitam legam
Seperti kaca yang tak lagi utuh
Menangis,
Aku terisak, menyesal, dan mengecam hatiku yang tersadar
Membunuh bayangan hitam yang mengikutiku
Perbuatanku buruk
Menodai ruang rasaku sendiri
Hingga kudapati tak lagi utuh
Astaghfirullah…!!!
Tuannya, Sang Penguasa seluruh hamba ! 
Kemurahan-Mu, wahai pemelihara ‘Arasy, tentu lebih utama.

Oleh : Mujahidah

Selasa, 24 Desember 2013

Terharu Baca Ini - Sehati


"mengapa belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa aku kaubahagiakan
meskipun kau telah banyak berusaha
meskipun aku
juga telah keras berusaha?
mengapa belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa mungkin karena itu?
karena kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?
dalam sebuah film, pernah aku dengar,
“kau tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya? atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
.... gagal?
lalu apa yang harus kita lakukan?
apa sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?
apa harus begini hidup kita, bu?
bukankah tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku, hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu mengapa kau masih menangis?
mengapa aku masih menangis?
mengapa kita terus saja menangis?
apakah di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru?
apakah kita lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?
***
ah, bu! mari berhenti menangis dan coba menjawab setidaknya satu saja pertanyaan. siapa tahu itu bisa sedikit menghibur perasaan."

By : Azure Azalea