Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Sabtu, 19 Juli 2014

Ingatlah Kebaikannya

“Mata keridhaan, buta terhadap segala aib, tetapi mata kebencian, menampakkan segala keburukan” (Sa’id Hawwa, Al Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus)

Rasanya tak kan ada yang menyangkal bahwa persahabatan itu sangat indah. Betapa tidak, sungguh menyenangkan sekali mempunyai seseorang untuk melewatkan hari-hari, berbagi cerita, serta merasakan suka dan duka bersama-sama. Begitu hebatnya persahabatan ini, hingga seseorang bisa menganggap sahabatnya seperti saudara kandung sendiri, bahkan juga dapat melebihi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa keindahan hidup ini belumlah lengkap tanpa kehadiran sahabat.

Tetapi kadangkala…

Persahabatan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena sang sahabat melakukan hal-hal yang tidak kita suka. Kadang kita merasa, sang soulmate mulai menjauh dan lebih memilih berteman akrab dengan orang lain entah karena alasan apa. Kecewa, marah, dan perasaan merasa diabaikan bercampur aduk menjadi satu. Pepatah “habis manis sepah dibuang” tiba-tiba saja dirasa sesuai dengan keadaan kita.

Kenangan lama tentang sang sahabat tak jarang datang kembali ke benak ini. Akan tetapi yang muncul hanyalah ingatan tentang sisi buruknya saja. Kebencian lalu menuntun kita untuk meneliti kekurangannya satu persatu. Kesalahannya di masa lampau mulai menari-nari di panggung pikiran. Berbagai prasangka yang tak beralasan pun perlahan-lahan menyeruak dan membelenggu akal sehat.

Begitulah. Sahabat yang pada awalnya kita sayangi berubah menjadi orang yang paling ingin kita hindari. Kita menjadi malas berbicara dengannya. Tak ada lagi keinginan untuk menelponnya barang beberapa menit saja. Kita pun tak berkehendak menyapanya lewat sms atau e-mail. Ya, dengan ungkapan lain, kita menjadi alergi dengan keberadaannya, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan biarkan kebencian kita bertahta, wahai kawan!

Memang, kita hanyalah manusia biasa. Adalah hal yang wajar jika kebencian terbit ketika kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai kehendak hati. Tapi ingatlah, tak sedikitpun kita diperintahkan untuk memelihara kebencian. Tidak oleh Allah, tidak oleh para nabi dan rasul-Nya, tidak juga oleh para pecinta-Nya yang sejati. Tak ada satupun. Kebencian adalah bagian dari amarah. Dan bukankah Rasulullah telah berulangkali mewasiatkan supaya ummatnya tidak marah?

Berpikir jernihlah, wahai saudara!

Manusia diciptakan tak hanya dengan kelebihan, tapi juga kekurangan dan kelemahan. Sangatlah tidak mungkin kita menemukan orang yang segala perilakunya sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Maka janganlah membencinya apalagi memutuskan hubungan silaturahim dengannya.

Untuk mengusir rasa benci, mengapa kita tidak mengingat sisi yang baik saja darinya? Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang amanah. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu menepati janji. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu berkata jujur. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dialah pendengar yang baik. Mungkin saja, dia mempunyai kebaikan yang tidak ditemukan pada sahabat kita yang lain… Sekarang, kita hanya perlu membimbing pikiran kita untuk mencari kebaikan-kebaikannya itu.

Masih ada noktah hitam yang menodai hati?

Janganlah biarkan pikiran buruk yang berkuasa. Ingat saja kenangan indah yang lain. Ketika kita merenda hari-hari bersamanya. Ketika kita melakukan banyak hal yang menggembirakan dengannya. Sungguh tiada guna mengingat kenangan yang kurang menyenangkan karena bisa saja timbul prasangka dan pikiran buruk terhadapnya. Dikarenakan itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu, jangan mencari-cari dan mematai-matai kesalahan orang lain, jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain, dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
Masih ada berkas-berkas kebencian yang menyusup di relung hati?

Ayolah, coba ingat yang baik-baik dari dirinya. Tentu ada! Jikalau dia memang bersalah, serahkan saja pada yang Maha Adil. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan membencinya? Bukankah kebencian hanya akan menyuburkan amarah dan perlahan-lahan akan mengotori jiwa? Maka dengarkanlah firman Allah,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)
Dan mengapa kita mesti terpaku dengan “karena nilai setitik, rusaklah susu sebelanga”? Bukankah kita bisa memindahkannya ke belanga yang lebih besar lalu menambahkan lebih banyak susu untuk memperkecil kadar nila dalam campuran itu?

Kemudian, tak ada ruginya untuk menengok sejenak apa yang ada dalam hati kita sekarang. Apa yang menjadi pendorong sewaktu kita menjalin persahabatan dengan orang lain? Adakah kita yakin bahwa kita mengharapkan pujian, penghormatan, ataupun semacam bentuk balasan dari sahabat itu? Sekali lagi, astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan. Buanglah jauh-jauh niat-niat seperti itu. Percayalah, kekecewaan itu muncul karena kita menghadirkan tujuan-tujuan selain-Nya. Sejatinya, tidak ada balasan yang lebih baik selain yang diberikan-Nya. Dan betapa rendahnya kita jika mengharap balasan selain dari-Nya. Maka bersahabatlah karena Allah. Jalinlah hubungan persahabatan jika itu membuat kita makin dekat dengan-Nya. Seandainya kelakuan sang sahabat tidak sesuai dengan harapan, kita akan bisa mengerti bahwa dia hanya seorang ciptaan Allah yang pasti jauh dari kesempurnaan.

Teman, masih ada kebencian yang seadang bersemai?

Tidak usah merusak kebahagiaan kita dengan hal-hal yang buruk. Pikirkan saja sesuatu yang membuat iman kita tidak luntur dan suasana hati menjadi lebih tenang. Dengan begitu, insyaAllah kita akan tetap berada dalam kondisi emosi yang stabil. Maka Alfred Adler, seorang psikiater pun berkata, “Di antara keistimewaan yang paling indah pada manusia adalah kemampuannya mengubah negatif menjadi positif.”

Lalu, mengapa kita tidak mencoba?

Allahu a’lam bish-showab,

Sumber : Klik

Senin, 14 Juli 2014

Dimas Anggara (Ost. DDS) - Cinta Bukan Drama Versi Acoustic

 Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh
Hai #RifaLovers #DimskiLovers #DDSlovers #PringerLovers #LeleLovers #BammiLovers
Kita berjumpa lagi... disini, di my blog. :)

Pernah saya katakan bahwa Diam-Diam Suka adalah satu-satunya sinetron yang membuat saya menjadi korban sinetron. Entah, karena hal apa yang membuat saya tertarik dengannya. Seolah saya tersihir oleh senyum manis dari Pemeran Utamanya yaitu Dimas Anggara dan Febby Rastanty (Blink). Itupun, saya baru mengenal mereka di sinetron ini. Saya merasa alur ceritanya lebih fresh, meskipun kebanyakan ada scene-scene yang tidak saya sukai dan tidak sesuai dengan pemikiran saya. Namun, entah karena apa pula saya tetap bertahan menontonnya dan seakan-akan tidak mau ketinggalan satu episode pun :)
Banyak hal juga yang saya temui di Fanpage resmi DDS, meskipun saya tidak menggunakan akun resmi saya. Namun, banyak postingan dan komentar fans-fans idola mereka yang memberikan banyak pelajaran terhadap saya. Begitupun dengan sinetron DDS ini yang banyak pula memberikan pembelajaran dari pemeran utamanya.  Ambil positifnya, buang negatifnya. :)

Ah, saya tidak mau berlama-lama hanya karena hal ini sebab keterbatasan waktu untuk meluapkan segala pesan dan kesan menonton sinetron ini. Cukup dalam hati saya yang menilai. Disini, saya hanya ingin berbagi link sebuah lagu yang sudah saya jadikan dalam bentuk MP3 dari Rekaman Dimas Anggara (Prince Charming-Ost.DDS) - Cinta Bukan Drama Versi Acoustic Episode 231 :)
Berikut linknya :

Sekian dan Terima Kasih atas segala bentuk pertemanan dalam satu ikatan fans sinetron Diam-Diam Suka. terutama buat #RifaLover :D

Rabu, 09 Juli 2014

Ramadhan : Menangisnya Hati


astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzim

seperti malam-malam sebelumnya, usai sholat sunnah sholat isya adalah agenda penyampaian panitia amaliah ramadhan mengenai keuangan masjid dan penyampaian siapa yang akan menjadi mubalig ceramah ramadhan malam ini yang biasanya aku menunggu dengan membaca ayat-ayat Allah 2-3 lembar sebelum ceramah dimulai. Namun, kali ini ku sengaja diriku untuk tidak membawa Al-Qur'an ke Masjid di dua malam ini. Seperti sebagian jama'ah lainnya, Aku hanya duduk terdiam diatas sajadah merah dan menunggu penyampaian dari mereka, siapa yang akan menjadi mubalig malam ini dan judul ceramah apa yang akan dibawakannya berdasar pada tugas agenda ramadhan adik-adik SD terutama yang diberikan oleh adikku untuk sekedar membantunya menangkap isi ceramah sesuai judul. Telinga kanan dan kiriku mulai kupertajam yang kini mulai berkurang pendengarannya sementara buku dan pulpen sudah ada dalam genggaman tangan kananku untuk siap-siap mencatat hal-hal yang akan tersampaikan malam ini. Namun, ternyata malam ini tak ada penyampaian dari mereka yang tiba-tiba aku dan mungkin yang lainnya  terkagetkan oleh suara yang tidak asing lagi bagiku dari mikrofon yang tidak lain itu adalah suara Om-ku yang berdiri diatas mimbar sebagai Ustadz yang pada hakikatnya merupakan bagian dari jadwalnya untuk membawakan hikmah Ramadhan. Begitu lantang, begitu tegas, dan begitu bersemangatnya menyampaikan agenda hari ini. Yah, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014 adalah agenda bersejarah di tahun ini bagi Warga Indonesia memilih capres dan cawapres yang layak menjadi pemimpin Indonesia ke-7. Namun, hal ini bukanlah yang akan dibahas layaknya pengamat politik yang lagi gencar-gencarnya saat ini. Kita hanya difokuskan mendengar dan merenung sesuai judul "Iman". Ah, penyampaian kata-katanya yang lagi-lagi berhasil membawa diriku ke alam bawah sadarku hingga aku kembali terisak bercucurkan air mata dengan menjerit dan menangisnya hati mendengar kembali saudara(i)ku di Palestina.

Begitu banyak nikmat Tuhanku tapi aku sedikit bersyukur (Astaghfirullah). 
Dulu sampai saat ini, aku masih bisa menikmati masa kanak-kanak hingga dewasaku di Negara ini dengan tenang dan amat nyaman sementara disana sudah banyak yang bergelar syahid tanpa sempat menikmati masa indahnya kanak-kanak di Negara mereka sendiri #Gaza. Satu hari sebelum pesta demokrasi di Indonesia, Selasa, 8 Juli 2014 Gaza SIAGA 1, menjadi GAWAT DARURAT. Detik ini, bertambah korban 4 tewas. Detik ke detik korban tewas dan luka-luka kian bertambah. Dua masjid tak luput dari roket israel, masjid terletak di Abasan Gaza selatan, dua masjid tersebut rata dengan tanah. Pejuang Palestina, tidak pernah meminta menghentikan perang ini, pejuang palestina tetap melanjutkan perang dengan israel. Roket dari Gaza sudah menjangkau ibu kota israel tel aviv dan askelon, ashdood dan askol. #Allahu Akbar

Pejuang Palestina, tidak akan mengangkat bendera putih, tidak akan menyerah. Darah dan nyawa warga Palestina, harus di bayar dengan darah dan nyawa pula oleh Israel Laknatullah. #Allahu Akbar

Ah, Gaza.. Mendengarmu saja sudah terbayang keadaanmu disana seolah kita dekat. Namun, akan kutunggu 'Kun Faya Kun-Nya' hingga kakiku telah terjejak di atas tanahmu. Tunggu! Tunggulah aku, meski do'aku masih menuju Arsy'-Nya. Tapi, ratusan juta do'a-do'a umat muslim dari belahan dunia akan menjadi kekuatan terbesar untuk siapapun yang melawan saudara-saudara palestine. Gaza, kau tak sendiri. Ada aku, ada kami, dan ada mereka. Kami tengah menunggu do'a menjelma nyata dan kita bertatap wajah dalam ukhuwah Islamiyah yang indah.

***
Aku semakin terisak ditengah keramaian jama'ah tarawih hingga banyak yang menoleh padaku dan mungkin aku dilihat oleh ibu. Tapi, aku tidak peduli pandangan orang-orang disekitarku. Hatiku hanya terus menangis, kita masih bisa makan sahur dengan aman tanpa bombardir, mereka ? Untuk makan sahurpun harus berjuang dengan menikmati Ramadhan mereka melawan Israel hingga bergelar syahid. Shalat mereka menjadi 6 waktu karena setiap harinya harus menyolati Jenazah.

Kembali aku tersadarkan oleh kata-kata mubaliq yang membuatku semakin terisak yang diam-diam menutupi mukaku dalam mukena yang kupakai. Yah, dosa. Kata ini tak lepas dariku bahkan pada setiap orang. Begitu banyak dosa yang kuperbuat. Namun, Allah masih mempertemukanku dengan Ramadhan dengan harapan Allah menggantikan hatiku dengan hati yang baru, hati yang bersih dan ingatan yang bersih pula tanpa noda sedikitpun. Sedangkan, aku masih berada dalam kemarau dosa dan malas di tengah hujan rahmat-Nya. Begitu banyak perintah-Nya yang kulanggar, begitu banyak hati yang telah kusakiti, teman, sahabat dan orang tuaku, serta begitu banyak dosa yang selalu menghadirkan nafsu dan keduniaan yang entah berapa kali dosa dan nista itu kuulangi. Kemana lagi pandangan mata hati harus kulayangkan kalau bukan pada-Nya. Adakah seluruh kata penyesalanku masih berguna sedang seluruh pori -pori jiwaku hitam jelaga nista ? #astaghfirullah

Dosa-dosaku pun pasti sudah menumpuk seperti gunung sedangkan amalanku mungkin hanya selembar kapas yang kapan saja dapat terhempas angin. Sulit rasanya memejamkan mata jika terbayang-bayangi oleh perbuatanku yang begitu banyak, tak bisa kuhitung lagi sudah berapa banyak kesalahan itu. Berat kepala ini memikirkannya, perih hati ini merasakannya.  Aku gundah dan resah karena dosa. Lalu, aku bisa apa ? Aku hanya bisa berdo'a memohon ampun dan bertaubat pada Allah dengan terus melakukan perbaikan diri dengan hati yang tersisa dan kuperjuangkan menjadikan pribadi yang lebih baik "be a good muslimah".

***
30 menit telah berlalu, ceramah pun selesai yang begitu menggugah nurani. Terlihat di jam dinding menandakan pukul 20.33 WITA dan sholat tarwih pun disegerakan. Namun, dalam sholat aku tetap saja terisak dengan menarik ulur ingus yang ada dihidungku. Mataku pun juga masih berkaca-kaca hingga tetanggakupun bertanya yang kebetulan aku berdekatan dengannya "apakah kamu sedang flu ?". Aku hanya menggelengkan kepala, sebab kutahu suaraku akan parau sehabis menangis hebat secara diam-diam. Inilah malam indah yang menjadi bagian dari perenungan di  Ramadhan ini yang semoga Allah mempertemukanku kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin

Sabtu, 05 Juli 2014

Kucingku Comel Kucingku Sayang



Alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat tgl, 29 Mei 2014 dengan 4 bersaudara - 2 putih - 1 putih hitam - 1 hitam coklat muda

Inilah hasil jepret-jepret kucing-kucing comelku yang tertangkap oleh kamera 0.3 MegaPixel :) cukup tak jelas bukan ? Hehehe. Aku memiliki seekor kucing berjenis kelamin betina tanpa kuberi nama sebab, aku lebih menyukainya bila tak punya nama.  Kucingku punya banyak anak yang entah benih dari siapa :D sebab, banyak kali kucing jantan di sekitar rumahku yang menghampirinya karena hanya dia seekor kucing betina yang ada. Aku mengenalnya sejak tahun lalu memasuki pintu rumahku mencari sesuap nasi dan seekor ikan dengan mondar mandir mengambil makanan yang tersisa walau beberapa kali mengambil makanan yang tersimpan tanpa ada yang tahu. Awalnya, aku merasa jijik dengannya setiap kali mengampiri kakiku yang kujulurkan disaat aku duduk dikursi. Namun, lama-lama aku Sudah terbiasa dengannya kemudian mengajaknya main dan bercanda sehingga diapun sudah mengenaliku setiap kali kupanggil dengan siulan kecil kemudian menghampiriku mengeluskan-eluskan tubuhnya dikakiku dan bermain. Lucunya, layaknya seorang anak, aku sering kali meninabobokan dia dan dia pun tertidur yang bahkan sering kali ku berikan terapi kandungan selama dia hamil. :D Sudah beberapa kali dia hamil dan sebagian anaknya sudah tumbuh dewasa kemudian meninggalkan ibunya (kasihan), tapi ketika dia melahirkan dibulan mei  sebagian anaknya dibuang oleh ibu karena merasa jijik. Padahal kan lucu sangat. Sedihnya, ketika dia mendapati seekor anaknya dari 4 bersaudara yang baru beberapa hari dilahirkan meninggal dikolong tempat tidur ibuku dan aku baru tahu saat jenazahnya berbau busuk yang membuat kami muntah-muntah (iiiuuhh) Tapi, dua saudaranya dibuang di pohon bambu dan satunya lagi masih bertahan dan tumbuh menjadi anak kucing yang comel sangat dengan jenis kelamin jantan berbulu putih kombinasi hitam. Hehehe... Yang sampai saat ini, aku masih bermain dengan kucingku yang comel.