Terkadang tak ingin ku
bahas. Terkadang tak ingin ku jelaskan. Terkadang tak ingin ku bagi. Tapi tak
mungkin hati ini menampung semua rasa dan hanyut dalam kegalauan. Tak terhitung
sudah berapa kali ini terjadi. Jatuh dan membuatku merasa kecil di dunia.
Kecewa dan membuatku berhenti untuk percaya orang lain. Difitnah dikhianati dan
membuatku pesimis untuk hidup. Tak sedikit kata yang ku rangkum
dalam hariku. Tak sedikit air mata yang menetes dalam kisahku. Tak sedikit
kecewa yang ku urai dalam hatiku. Ada banyak dan entah berapa banyak. Terlalu
banyak kesaksian mata ini membaca hati dari pujian kebohongan, senyum tak
ikhlas dan sorotan mata yang sinis. Kenyataan itu telah meluapkan air mata.
Dan masih ku
pertahankan diriku untuk berada diantara mereka. Berusaha untuk tak goyah dan
berusaha bertahan dalam guncangan hidup walau sesekali ingin dihancurkan dan
dilenyapkan. Entah itu sahabat atau lawan. Tapi aku masih tetap saja diam
dan bersikap tenang meski seringkali ingin memberontak dan menghilang,
meski seringkali tersenyum ke sana kemari dengan suka ria. Tapi aku hanyalah
makhluk biasa yang terlalu lembut menerima hantaman baja yang akhirnya luluh
juga dalam balutan air mata. Nyatanya,
aku tidak selalu tegar, aku tidak selalu kuat, aku tidak selalu
bersemangat,aku tidak selalu tersenyum. Aku hanya tidak menunjukkan
betapa rapuhnya aku kepada mereka yang tidak peduli padaku dan menenggelamkanku dalam lautan kegalauan ini.
Sempat ku bereskan dan
kurangkai indah tapi tetap saja merasa tak sanggup dengan kehebohan dunia yang
tak menginginkanku dan kemudian menyeretku untuk segera pergi. Banyak cerita yang terserak yang tak
sempat tertulis oleh pena. Masih, masih seperti kemarin. Aku melihat dari dua
sisi perbedaan. Aku dan mereka. Aku tak seperti mereka. Selalu ku tanya pada
hati, adakah hati-hati yang mengerti ? adakah hati-hati yang memahami ? Aah,
akupun tak mengerti dan memahami diriku sendiri. Aku masih mencari arah
dalam titian waktu yang tak bisa ku tebak. Bagai lilin kecil tanpa nyala
api yang menyusuri jalan sepi dan entah sampai kapan dan dimana akan berhenti.
Yang terkadang di sepanjang perjalananku hadir sosok malaikat yang
baik hati dan tidak sombong menerangi jalanku dan mengulurkan tangan namun kembali menjatuhkanku, menghina dan merendahkanku .
Pernah kurasakan sakit yang sangat, pernah ku terluka hebat. Jika ku teringat, luka
itu belum sembuh benar, masih merah dan nanar, kembali basah dan tak mengering.
Ku coba berpaling dan diam namun semua terasa mengganggu. Membuatku merasakan
apa yang tak semestinya ku rasakan. Hingga ku memilih untuk berjalan sendiri.
Sendiri untuk menyepi tanpa mereka yang selalu saja merasa diikuti, menggugat
dan diganggu ketenangannya , yang akan membuatku hanyut dan terperangkap dalam
gumpalan kasak-kusuk yang tak nyata. Meskipun dengan kesendirian dan kesepian
ini, membuatku lemah dan hanya Allah yang ada dan kumiliki ketika
benar-benar ku sendiri. Adakalanya
sendiri itu indah, karena ada Allah yang sebaik-baik penolong dan sebaik-baik
pelindung.
“Bersendirian itu lebih baik daripada
berteman duduk dengan orang jahat. Berteman dengan orang sholih itu lebih baik
daripada bersendirian.” (HR. al-Hakim
dan Baihaqi).
Terima kasih kepada orang yang menyakiti karena telah menguji kesabaranku dan mengajarkanku ketabahan.
Terima kasih kepada orang yang menyakiti karena telah menguji kesabaranku dan mengajarkanku ketabahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar