Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Sabtu, 18 Agustus 2012

Cinta Tak Berjudul

Cinta memang sesuatu yang belum bisa saya mengerti, datang dengan tiba-tiba tanpa bersuara dan perginya pun secepat kilat tanpa di ketahui, lenyap tanpa bekas, bahkan seringkali terganti dengan lawan dari cinta itu sendiri... yaitu benci. Dan seringkali muncul kekhawatiran dalam diri. Jangan-jangan cinta itu hanyalah kedok dari sesuatu yang lain atau mungkin berasal dari dunia lain yang selalu ingin mengumbar dan ingin dinikmati.
Entah harus ku mulai dari mana ketika hati harus berbicara tentang cinta. Terlalu banyak hal yang harus dijelaskan, dari A sampai Z, dari 0 sampai tak terhingga. Sangat sulit didefenisikan. Kalau sekedar mendeklamasikan, tentunya saya akan menjawab dengan lantang bahwa cintaku hanya untuk Allah, Rasulullah, Para sahabat, orang tua, teman… dan seterusnya dan…seterusnya…Tapi mengapa …hati selalu saja lalai akan cinta pada Rabb-Nya… selalu memakai topeng  bahwa diri ini lebih mencintai diri sendiri, lebih mencintai ego.
Karena hati ini lebih mengutamakan nikmatnya pujian, nikmatnya materi, nikmatnya penghargaan, nikmatnya harga diri. Sedangkan aku masih melayang diantara hitam-putih, kebaikan-keburukan,pujian-makian, panas-dingin, hujan-kemarau, benar-salah, senang-susah. Dan itu relatif. Cinta tetaplah cinta yang merupakan anugerah dari Allah.
Bahkan ketika berbicara tentang cinta kepada lawan jenis. Sepertinya aku perlu men-scan kembali perasaanku. Kepada siapa sebenarnya cintaku ? dan ketika itu datang, seringkali kubentengi diri untuk tetap menjaga hati dan hanya mencintai dalam diam. Yah, hanya diam dan tak perlu di umbar. Ku bentengi diri dan ku kokohkan hati dengan pondasi batu keimanan. Meskipun terkadang lupa dengan komitmenku untuk mencintai dalam diam, mencintai setelah halal, menikah tanpa pacaran, jomblo sampai halal de,el,el. Dan tak dapat ku pungkiri  bahwa aku pun jatuh cinta dengan segala jenis rasa yang merobohkan hati dan pikiranku. Gelisahku datang memburu saat wajah itu menghilang dari hari-hariku. Kusadari itu, ia begitu menyita perhatianku. Kadang pula terlalu sombong kukatakan bahwa aku akan membagi cintaku dengan sebaik-baiknya. Mencintai-Nya sekaligus mencintai seseorang di hatiku. Namun ternyata aku hanya bisa berkata, tak mampu membuktikannya.
Banyak episode kehidupan yang berlalu lalang di depan mata yang identik dengan namanya “pacaran” bukan pada waktunya, bukan setelah pernikahan. Yang kini bertitelkan Adam, telah merobek dan merusak hatiku untuk menjadi benci dan sudah mati rasa saat sesekali ku pandangi dan ku simak bagaimana gambaran laki-laki masa kini yang selalu mengutamakan kekayaan, , keturunan, dan terutama kecantikan. Tapi itu pun relatf dan tak ada pada diriku.  Hingga tak jarang ku merenung dan berfikir panjang-panjang sampai habis jam pun berlalu bahwa siapa yang akan memilihku dengan sosokku ini ? Yang tak cantik, tak kaya, dan tak punya keturunan berdarah biru dan sebagainya yang sesekali ku tatap pada cermin dengan membandingkan diantara wajah-wajah cantik bidadari dunia.
Sesedih apapun ku menyadari itu dan selalu saja ku katakan pada diri, "Hmmm, suatu saat pasti ada juga yang akan memilihku, mecintai kekuranganku dan tak melihat kelebihanku, Menerima apa aku apa adanya bukan aku ada apanya. Mencintai Rabb-Nya dan Rasul-Nya. Sosok seseorang yang benar-benar menghantarkan aku pada cinta Rabb-Nya. Lalu apa yang harus ku lakukan selain hanya dengan sabar, ikhlas dan ikhtiar untuk berusaha menjadikan diri lebih baik selama masa penantian dan berjumpa dengannya di indahnya alam cinta dan nikmatnya pacaran setelah pernikahan. Sebab, aku malu. Malu pada Allah, malu pada sosok seseorang yang kelak Allah menakdirkan untukku dan malu dengan diriku sendiri,  pernah tercemari oleh cinta yang belum halal.
Dan yang sekarang, sosok seseorang yang ku rindukan itu telah ada. Bahkan telah siap lahir batin menjadikan cinta itu nyata. Seseorang yang dikirim Allah atas do’a dan harapan yang ku urai dalam setiap sujud panjangku. Seseorang yang ku kenal selama 2 tahun dari orang yang lebih dulu ku kenal. Tapi, hatiku belum mantap untuk mencintai bahkan masih ragu. Jika kembali ku lihat dengan diriku ini. Merasa tak  pantaslah yang sangat jauh dari pandanganku. Tak pernah ku lihat dan entah bagaimana sosok aslinya. Seberapapun ku mengatakan tidak. Dia tetap pada komitmen sebelumnya dan tak mau melanggar. Dia tetap pada satu tujuan. Tetap pada satu wanita hingga aku bimbang dan menjadi galau tingkat tinggi. Diakah cinta yang tertulis di Lauhul Mahfuz ? Diakah cinta yang benar-benar ku rindukan dan ku inginkan ? Diakah yang benar-benar tercipta untukku ? Diakah cinta yang benar-benar telah ditetapkan oleh Allah ? Sepertinya aku benar-benar perlu men-scan perasaanku tentang apa sebenarnya cinta yang berusaha menyusun kepingan makna dari kata itu sendiri. Hanya dengan kesaksian Allah, Rasulullah dan Para malaikatnya yang akan mewadahi kemana sebenarnya cinta ini berlabuh dan kepada siapa cinta ini bersanding pada sosok Adam yang ku rindukan. Penantian adalah ujian yang akan menjadikanku menjadi pribadi yang lebih siap ketika diamanahkan oleh Allah untuk berumahtangga. Menanti adalah kesempatan, memanfaatkan fase ini dengan  tetap senantiasa meluruskan niat, menjaga komitmen, memperbaiki kualitas diri, meningkatkan kepahaman, dan memantapkan kembali beragam persiapan dalam menggenapkan setengah dien.
Sungguh Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya ““Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An Nuur: 26)
"Ya Allah, aku sungguh memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat menghantarkan aku pada cinta-Mu." (HR Tirmidzi)
Aamiin

Tidak ada komentar: