Cinta
memang sesuatu yang belum bisa saya mengerti, datang dengan tiba-tiba tanpa
bersuara dan perginya
pun secepat kilat tanpa di ketahui, lenyap tanpa bekas, bahkan
seringkali terganti dengan lawan dari cinta itu sendiri... yaitu benci. Dan seringkali muncul
kekhawatiran dalam diri. Jangan-jangan cinta itu hanyalah kedok dari sesuatu
yang lain atau mungkin berasal dari dunia lain yang selalu ingin mengumbar dan
ingin dinikmati.
Entah harus ku mulai dari mana
ketika hati harus berbicara tentang cinta. Terlalu banyak hal yang harus
dijelaskan, dari A sampai Z, dari 0 sampai tak terhingga. Sangat sulit
didefenisikan. Kalau sekedar mendeklamasikan, tentunya saya akan menjawab
dengan lantang bahwa cintaku hanya untuk Allah, Rasulullah, Para sahabat, orang
tua, teman… dan seterusnya dan…seterusnya…Tapi mengapa …hati selalu saja lalai akan
cinta pada Rabb-Nya… selalu memakai topeng
bahwa diri ini lebih mencintai diri sendiri, lebih mencintai ego.
Karena hati ini lebih mengutamakan
nikmatnya pujian, nikmatnya materi, nikmatnya penghargaan, nikmatnya harga diri.
Sedangkan aku masih melayang diantara hitam-putih,
kebaikan-keburukan,pujian-makian, panas-dingin, hujan-kemarau, benar-salah,
senang-susah. Dan itu relatif. Cinta tetaplah cinta yang merupakan
anugerah dari Allah.
Bahkan ketika berbicara tentang
cinta kepada lawan jenis. Sepertinya aku perlu men-scan kembali perasaanku. Kepada
siapa sebenarnya cintaku ? dan ketika itu datang, seringkali kubentengi diri
untuk tetap menjaga hati dan hanya mencintai dalam diam. Yah, hanya diam dan
tak perlu di umbar. Ku bentengi diri dan ku kokohkan hati dengan pondasi batu
keimanan. Meskipun terkadang lupa dengan komitmenku untuk mencintai dalam diam, mencintai setelah halal, menikah tanpa pacaran, jomblo sampai halal de,el,el. Dan tak dapat ku pungkiri bahwa aku pun jatuh cinta dengan segala jenis
rasa yang merobohkan hati dan pikiranku. Gelisahku datang memburu saat wajah
itu menghilang dari hari-hariku. Kusadari itu, ia begitu menyita perhatianku. Kadang
pula terlalu sombong kukatakan bahwa aku akan membagi cintaku dengan
sebaik-baiknya. Mencintai-Nya sekaligus mencintai seseorang di hatiku. Namun
ternyata aku hanya bisa berkata, tak mampu membuktikannya.
Banyak episode kehidupan yang
berlalu lalang di depan mata yang identik dengan namanya “pacaran” bukan pada
waktunya, bukan setelah pernikahan. Yang kini bertitelkan Adam, telah merobek
dan merusak hatiku untuk menjadi benci dan sudah mati rasa saat sesekali ku
pandangi dan ku simak bagaimana gambaran laki-laki masa kini yang selalu mengutamakan
kekayaan, , keturunan, dan terutama kecantikan. Tapi itu pun relatf dan tak
ada pada diriku. Hingga tak jarang ku merenung
dan berfikir panjang-panjang sampai habis jam pun berlalu bahwa siapa yang akan
memilihku dengan sosokku ini ? Yang tak cantik, tak kaya, dan tak punya keturunan
berdarah biru dan sebagainya yang sesekali ku tatap pada cermin dengan membandingkan diantara
wajah-wajah cantik bidadari dunia.
Sesedih apapun ku menyadari
itu dan selalu saja ku katakan pada
diri, "Hmmm, suatu saat pasti ada juga yang akan memilihku, mecintai
kekuranganku dan tak melihat kelebihanku, Menerima apa aku apa adanya bukan aku
ada apanya. Mencintai Rabb-Nya dan Rasul-Nya. Sosok seseorang yang benar-benar
menghantarkan aku pada cinta Rabb-Nya. Lalu apa yang harus ku lakukan selain hanya
dengan sabar, ikhlas dan ikhtiar untuk berusaha menjadikan diri lebih baik
selama masa penantian dan berjumpa dengannya di indahnya alam cinta dan nikmatnya pacaran
setelah pernikahan. Sebab, aku malu. Malu pada Allah, malu pada sosok seseorang
yang kelak Allah menakdirkan untukku dan malu dengan diriku sendiri, pernah tercemari oleh cinta yang belum halal.
Dan yang sekarang, sosok
seseorang yang ku rindukan itu telah ada. Bahkan telah siap lahir batin
menjadikan cinta itu nyata. Seseorang yang dikirim Allah atas do’a dan harapan yang ku urai
dalam setiap sujud panjangku. Seseorang yang ku kenal selama 2 tahun dari orang
yang lebih dulu ku kenal. Tapi, hatiku belum mantap untuk mencintai bahkan
masih ragu. Jika kembali ku lihat dengan diriku ini. Merasa tak pantaslah yang sangat jauh dari pandanganku. Tak
pernah ku lihat dan entah bagaimana sosok aslinya. Seberapapun ku mengatakan
tidak. Dia tetap pada komitmen sebelumnya dan tak mau melanggar. Dia tetap pada satu tujuan. Tetap
pada satu wanita hingga aku bimbang dan menjadi galau tingkat tinggi. Diakah
cinta yang tertulis di Lauhul Mahfuz ? Diakah cinta yang benar-benar ku
rindukan dan ku inginkan ? Diakah yang benar-benar tercipta untukku ? Diakah
cinta yang benar-benar telah ditetapkan oleh Allah ? Sepertinya aku benar-benar
perlu men-scan perasaanku tentang apa sebenarnya cinta yang berusaha menyusun kepingan
makna dari kata itu sendiri. Hanya dengan kesaksian Allah, Rasulullah dan Para malaikatnya
yang akan mewadahi kemana sebenarnya cinta ini berlabuh dan kepada siapa cinta
ini bersanding pada sosok Adam yang ku rindukan. Penantian adalah ujian yang
akan menjadikanku menjadi pribadi yang lebih siap ketika diamanahkan oleh Allah untuk berumahtangga.
Menanti adalah kesempatan, memanfaatkan fase ini dengan tetap senantiasa
meluruskan niat, menjaga komitmen, memperbaiki kualitas diri, meningkatkan
kepahaman, dan memantapkan kembali beragam persiapan dalam menggenapkan
setengah dien.
Sungguh Maha Benar Allah dengan
segala Firman-Nya ““Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An Nuur: 26)
"Ya Allah, aku sungguh
memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat
menghantarkan aku pada cinta-Mu." (HR Tirmidzi)
Aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar