Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Senin, 30 Desember 2013

Ruang Rasa Yang (Tak) Utuh



Lama aku memandangi layar notebook hijauku
Berfikir dan memutar bolak-balik otakku
Bingung,
Aku menekan tombol huruf A
Ada begitu banyak kata yang belum mampu ku rangkai
Sementara abjad tertata rapi didepan mataku
Ku ketik satu kalimat “aku….bla…bla….bla….” Back space
Ah, aku tidak tahu
Entah harus ku mulai dari mana mengeja perasaanku
Agar aku bisa menerjemahkannya
Merenung,
Aku menutup mata, menjamah dan meraba hatiku
Ada begitu banyak rasa
Dalam ruang dimana aku terjebak oleh perasaanku
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Seperti warna yang tidak hanya sebatas hitam ataupun putih
Seperti pelangi yang tak lagi jingga
Seperti embun menggelayut di ujung dedaunan
Hingga aku menemukan ruang dimana ku terkubur oleh dunia
Seperti awan yang tak lagi putih
Seperti gurung yang lagi tandus
Seperti kulit yang hitam legam
Seperti kaca yang tak lagi utuh
Menangis,
Aku terisak, menyesal, dan mengecam hatiku yang tersadar
Membunuh bayangan hitam yang mengikutiku
Perbuatanku buruk
Menodai ruang rasaku sendiri
Hingga kudapati tak lagi utuh
Astaghfirullah…!!!
Tuannya, Sang Penguasa seluruh hamba ! 
Kemurahan-Mu, wahai pemelihara ‘Arasy, tentu lebih utama.

Oleh : Mujahidah

Selasa, 24 Desember 2013

Terharu Baca Ini - Sehati


"mengapa belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa aku kaubahagiakan
meskipun kau telah banyak berusaha
meskipun aku
juga telah keras berusaha?
mengapa belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa mungkin karena itu?
karena kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?
dalam sebuah film, pernah aku dengar,
“kau tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya? atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
.... gagal?
lalu apa yang harus kita lakukan?
apa sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?
apa harus begini hidup kita, bu?
bukankah tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku, hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu mengapa kau masih menangis?
mengapa aku masih menangis?
mengapa kita terus saja menangis?
apakah di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru?
apakah kita lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?
***
ah, bu! mari berhenti menangis dan coba menjawab setidaknya satu saja pertanyaan. siapa tahu itu bisa sedikit menghibur perasaan."

By : Azure Azalea

Kamis, 05 Desember 2013

Diam Lebih Baik - Part II (Tere Liye)

"Jika ada yang marah-marah, menjelek-jelekkan kita, maka cara terbaik menanggapinya adalah diam. Biarkan saja. Semakin banyak orang yang menjelekkan kita bicara buruk, maka semakin membuka keburukannya sendiri. Terus sibukkan diri, memperbaiki diri, terus berkarya, terus produktif. Bangun tembok dari orang-orang seperti ini. Abaikan, lupakan. Besok lusa, lihat saja siapa yang terus melesat maju, siapa yang masih sibuk berdiri di tempat  sama dan masih menjelek-jelekkan orang lain"
-Tere Liye-

Sebuah kutipan yang sangat super sekali....!!!! Meskipun, kutipan ini sudah basi tapi aku menyukainya, sangat mengena dan mengetuk hatiku yang pernah dihadapkan sebuah kata-kata yang sungguh manis tapi pahit (prasangka buruk-difitnah-ditelanjangi di jejaring sosial) yang sempat aku ingin mengubur diri dan menghilang dari dunia. Sabarku masih panjang meski itu terasa sulit mempertahankan sebuah kesabaran yang akhirnya hatiku menciut dan ada sedikit penyesalan karena bangkit dari diamku. Astaghfirullah..................................(The Confession) :'(
Alhamdulillah, Allah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung, Allah Maha Baik... karena aku masih tersadar dengan kata-kataku. "Maafkan aku yang pernah ku lukai hatinya. Meskipun memaafkan tak selamanya menghapus luka. Aku tahu rasamu".
 
Yah, diam lebih baik dan dimanapun kita mendapati sebuah kata yang tak mengenakkan hati, baik itu dalam hal persahabatan, pertemanan, rumah tangga, pekerjaan dan sebagainya, maka diamlah dan teruslah menjadi pribadi yang lebih baik. :)