Sewaktu
kecil, semasa umurku masih duduk dibangku SD. Aku mengenal rupanya namun aku tak
tahu siapa dirinya. Sebab, kami berbeda sekolah yang tepatnya dibelakang
sekolahku, satu wilayah dua sekolah. Aku sedikit ingat, semenjak di kelas 6 SD,
kelaskuku dan kelasnya yang berbeda sekolah saling bermusuhan yang entah
bermula dari mana. Yang kutahu kami saling bersaing dan menantang. Bersaing
dalam perlombaan yang tak mau kalah terutama formasi baris berbaris untuk 17
Agustusan. Meskipun, kami begitu banyak peserta selain dari sekolah kami.
Menantang, dalam permainan setiap kali jam istirahat. Di daerah kami, permainan
ini dinamakan "asing-asing"
hingga yang tak disangka terjadi perkelahian hebat. Aku tidak tahu
menahu sebabnya apa, yang pastinya aku juga terlibat didalamnya dan tanpa tahu
siapa orangnya yang ku tonjok bagian perutnya karena disaat itu bagaikan perang
dunia ke-tiga (Astaghfirullah, masa jahiliyahku yang begitu miris). Masa-masa
kami itu masih labil, dimana kami hidup secara berkelompok-kelompok. Ramlah,
Nuraeda, Rahmiati, Mariati, Marwah yang dari daerah Ujung Bulo adalah
sekelompok teman kelasku yang paling agresif dalam persaingan, permainan dan
pertengkaran. Nur Madya, Nurhana, Muliati, Suriati, Hariani, Rosdiana, dan
Sukmawati dari daerah Kaemba Jaya termasuk diriku hanyalah sibuk dimana kami
berada dimasa perkembangan menuju remaja awal yang pertama kali mengenal yang
namanya cinta terhadap lawan jenis. Hehehe, Alhamdulillah, aku masih ingat
nama-nama teman SD-ku.
Aku
tidak begitu ingat, sahabatku ini yang memiliki nama lengkap St Aminah sudah
ada dalam masa-masa yang kami alami atau tidak (hanya dia yang tahu). Setahuku,
Aminah adalah orang pindahan dan masuk di sekolah kami sejak kelas 6 SD.
Aminah, salah satu anak yang pintar di kelas kami. Dengan bakatnya yang jago
menggambar yang dia tunjukkan disaat itulah kami berlomba-lomba ingin mengenali
lebih dekat tentangnya. Salah satu kebiasaannya yang kutandai pada saat itu
adalah dia selalu menggosok-gosok hidungnya, hehehe. Aku dan dia tidak begitu
dekat yang hingga dimasa SMP kelas 2 yang entah karena apa dan atas inisiatif
apa kami perlahan-lahan menjadi dekat, seingatku dalam hal prestasi belajar dia
menasehatiku agar aku tak dibodoh-bodohi memberikan jawaban ulanganku terhadap
teman dudukku sendiri. Katanya, itu bermula sejak kelas 3, akulah salah satu
yang berminat dibanding teman dekatnya yang tak mau menemaninya untuk buang air
besar di rumahnya ka’ Irma disaat jam belajar sedang berlangsung. Ah, entahlah,
aku tak tahu menahu dan tak menyangka saja karena hal ini bisa menjadi awal
keakraban kami. Namun, dalam hal ini aku tidak bercerita banyak tentang dia
tapi aku senang mengenalnya.
***
Memasuki
masa SMP, kami berada dalam 1 sekolah tapi berbeda kelas sampai kami menduduki
bangku kelas 3. Sampai saat ini aku belum mengenal baik dirinya. Yang kutahu
dari teman-teman yang mengenalnya, dia adalah gadis yang sedikit tomboy dan
juga memiliki sekelompok geng didalam kelasnya.
***
Memasuki
masa SMA, secara ketidaksengajaan yang lagi-lagi kami berada dalam satu sekolah
tapi satu kelas. Namun, saat menduduki kelas 2-3, kami berbeda kelas lagi. Aku
IPA 1 dan dia IPA 2. Diawali persaingan dalam prestasi belajar karena ingin
lebih menonjol dan terlihat pintar
didalam kelas, berbagai kegiatan membuatku mengenal baik dirinya yang sedikit
bermalas-malasan belajar. Dikelas 2, Allah menurunkan hidayah-Nya padanya yang
begitu masya Allah hingga semangat keingintahuannya membuatnya giat dan semakin
giat belajar yang akhirnya dikenali oleh para guru-guru di sekolah sebab
keaktifannya didalam kelas yang berbeda sewaktu kelas 1. Bukan hanya semangat
tapi dalam hal berpakaian pun terubah. Jilbab yang kemarinnya kecil yang hanya
menutupi sampai leher yang ber-merk-an “al-fajri” menjadi menutupi dada yang sedangkan
aku masih dengan style yang terkadang itu-itu saja yang sering diperingatkan
oleh tante agar jilbabku lebih menutupi dada dan alhamdulillah, semenjak kelas
3 jilbabku pun menutupi dada dan aku dipanggil dengan gelar “muslimah” oleh
teman-teman sekelasku. Dia menganggapku pintar sehingga diapun mengajakku untuk
belajar bersama. Padahal, IQku masih dibawah rata-rata dan dialah yang
sebenarnya pintar. Hanya dia tak menyadarinya. Berawal dari belajar bersama,
diapun sering datang ke rumahku berbagi ilmu dan bertanya tentang hal yang tak
diketahuinya membuat kami semakin akrab. Sejak beberapa hari ini, sebelum
kulanjutkan ceritaku tentangnya, dia mengaku padaku, "aku mendekatimu
karena kamu pintar agar aku bisa banyak mengambil manfaat darimu". Yah,
sebelum dia berkata seperti itu. Aku sudah mengetahui dan menyadari lebih dulu
diawal mendekatiku. Namun, selama itu kebaikan yang diambil dariku bukanlah
keburukan kepribadianku, tidaklah mengapa bagiku. Diapun berkata, "tapi
lama-kelamaan aku merasa nyaman menjalin ikatan pertemanan denganmu. Sederhana
namun membekas. Semoga dalam ikatan ini tak ada hambatan yang membuat kita jauh
satu sama lain.Aamiin", "Aamiin Ya Rabb". Itu katanya sambil
menyetir motor sepulang dari menghadiri walimah salah satu teman SMA diwaktu
senja.
***
Dimasa
perkuliahan, kami terpisah. Sebab, kami mengambil jurusan yang berbeda dan
perguruan tinggi yang berbeda pula. Jarang berkomunikasi dan bertemu adalah
rindu yang sederhana. Namun, apabila dia punya waktu luang, dia tak lupa berkunjung
ke rumahku menanyakan kabar dan berbagi cerita bersama ibuku dan adikku
wahdaniah mengenai keadaan kita masing-masing. Meskipun, rumah kami berada
dalam satu desa yang tak begitu jauh tapi aku tak sesering dia saling
mengunjugi satu sama lain. Adalah nikmat syukur yang teramat indah ketika Allah
menghidayahkan kami merasakan manisnya iman didalam majelis-majelis ilmu yang
sama-sama kami tempuh selama kuliah. Adalah sebuah keirihatian ketika dia lebih
dulu memakai hijab yang menutup seluruh tubuh dengan pemahaman dari tarbiyahnya
disatu nama lembaga yang ber-ahlussunnah wal jama'ah, berbeda tempat yang sama-sama kami tempuh dan dengan
kemantapan hatinya dia mengabaikan kata orang-orang terhadap perubahan dirinya
dibanding diriku yang masih ada sedikit kegentaran hati ketika memakai hijab secara syar'i tapi Alhamdulillah, aku PD alias percaya bahwa inilah syariat Allah sesuai surah Al-Ahzab : 59. Sungguh, masya Allah yang membuatku
kagum secara diam-diam padanya. Supel, sederhana, pintar, cerewet dan selalu berusaha
lebih baik adalah kepribadiannya yang selama ini telah kukenal dan kini bukan
lagi sekedar teman belajar, teman jalan, dan teman cerita tapi teman yang lebih
indah dari itu. Hardianti, itulah namanya.
![]() |
| Ini Salah Satu Potretnya Saat Festival Anak Sholeh di Masjid Al-Markas Maros :) |

