Rasa sesaknya susah sekali hilang. Tadinya, air mata itu rasanya begitu
mendesak ingin keluar, tapi saya tidak bisa membiarkan itu. Baik, dengan
seuntai senyum saat itu saya hanya menawari diri untuk membantu meringankan
kelelahanmu untuk tidak bepergian di dua sekolah tapi jawabnya malah kata lain
yang tidak layak lagi diucap dan kudengar kesekian kalinya. Saya hanya tidak
menyangka. Harusnya, kata itu tidak terucap lagi. Tapi, sayangnya, kamu
terlanjut mengucapkan sederet kata yang dalam sepersekian detik membuat saya
terus ingin menangis dan mengingat kata-kata lalu yang sama.. Apakah saya
sebegitu menyebalkan dan memalukan sampai kamu harus berkata demikian? sehingga
begitu tega kamu membunuh perlahan-lahan cinta dan sayang dari rahimmu.
Malu...malu karena memilikiku sedangkan saya bukanlah pelaku dosa yang
menelanjangi diri dan masih banyak bentuk lain yang lebih buruk dari saya, maka
sadarlah dan bersyukurlah. Beberapa hari mendiamimu dan melihat mataku memerah
dan terus bercucur kamu minta maaf, mengaku salah, dan menjelaskan yang kamu
kata bahwa itu hanya dirimu cela-cela. Saya memaafkan kamu, kamu tidak salah
dan ini bukan salah siapapun, dan saya pun maklum kalau kamu lepas kendali
berucap karena lelah dan saya tidak paham situasi. Saya pun sadar dan kamu
harus sadar bahwa beginilah adanya bentukku dari Sang Penciptaku Penciptamu. Yah,
kali ini saya tidak bisa membuktikan apa-apa tapi lihat nanti, lihat nanti
bahwa Penciptaku akan memberikan jenis makhluk yang indah lagi sholeh. Saya
diam bukan berarti saya marah dan membenci. Sebab, saya tidak bisa semudah itu
melupakan sesuatu yang sangat mengena dan bukan berarti yang kamu ucapkan itu
bohong, mungkin saja itu benar, sebagai bentuk akumulasi kemaluan kamu memiki anak
perempuan sepertiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar