Bismillah…
Kembali bertemu November. Dan
November pun tinggal separuh. Ku biarkan tahun-tahun berjalan menggerus
ingatanku. Selapis-selapis harapan, impian, keinginan dan kebutuhan menipis
dibenakku. Namun, tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak.
Entah, tapi aku seperti menemukan
diriku sendiri saat sedang bergumul dengan duniaku. Menikmati dunia ini,
seperti menemukan diriku yang hilang dan ditenggelamkan oleh waktu. Meski
terkadang aku hendak mengutuk dan mengeluh apa yang tersaji di hadapanku. Berupa
ritual aneh yang harus aku lakukan untuk merayakan semuanya sendiri. Mengapa
sendiri ? Entahlah. Sebab aku masih sukar mengerti dengan keadaan yang
takdirkan padaku. Terkadang aku masih kerap merasa sendiri atau sepi dalam
keramaian. Seperti ada sesuatu hal yang hilang, atau banyak hal yang lenyap dan
membuatku terpekur. Malangnya, aku masih saja mau bersahabat dengan semua
keadaan ini. Jujur aku jengah. Di satu waktu yang membuatku geram pada duniaku.
Banyak hal yang tak begitu menyenangkan dihadapkan padaku, meski sering kali
aku menyabarkan diri yang kumiliki dengan bangun untuk rutinitas harian yang
tak berubah dan mengubah duniaku. Namun, terjadwal rapi untuk selalu kukerjakan
seperti hari-hari sebelumnya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Lagi, usai
sholat subuh dengan menyelesaikan beberapa lembar ayat Al-Qur’an. Pagi-pagi
sekali, aku berhadapan dengan setumpuk piring, sekeranjang cucian, dan menyapu
halaman rumah serta terkadang beberapa bisnis kecil-kecilan yang mencukupi
waktu luangku. Dalam rutinitas yang kukerjakan terkadang disela waktu dan
disudut ruang membuat air mataku menetes yang membuat aku malu dan begitu
kasihan dengan kedua orang tuaku. Sebab, aku masih belum mendapatkan pekerjaan
yang layak untuk mencukupi kebutuhan keluargaku. Karena persyaratan dunia kerja
yang begitu menyulitkan untuk menempati beberapa lowongan yang menjadi rebutan
ribuan orang. Lagi, aku termasuk orang yang gagal meraihnya. Qadarallah. Sungguh, aku bosan
dan jengah dengan lakon yang menoton saat angan tiada henti menciptakan
keinginan tapi hampa. Kegagalan yang berperan seakan menertawakan kebodohan
gelagat jiwa yang terus melenggang, mengejar waktu tapi semu. Tapi setidaknya,
aku sudah berusaha dan cukup kuserahkan pada-Nya. Tatkala sepi mengajarkan pada
sebuah ketegaran dan kedewasaan yang menyingkapkan kebahagiaan dan kelukaan
dengan memilah antara mengarungi jalan bersama atau melewati hari dengan
sendiri. Waktupun silih berganti, akupun masih disini berkilah dengan keadaan.
Lalu aku harus apa ?. Perjalanan ini harus ku lanjutkan meski cahaya jauh
didepan mata. Allah, aku telah melangkah dengan tegap. Izinkan aku melewati
waktu mengais mimpi. Karena ada keluarga, teman dekat dan saudara yang tak
pernah lari dariku ingin kubahagiakan.
Di November ini. Semoga tak ada
alasan untuk menenggelamkan diri lagi di tahun ini. Aku benar-benar ingin
kembali. Kembali menggeluti dunia yang membuatku merasa berarti dalam memaknai
diri. Alhamdulillah atas segala kemudahan dan nikmat yang diberikan oleh Allah.
Meski situasi dan kondisi masih bentrok dengan berbagai kesulitan, tapi tetap
optimis bahwa semua adalah yang terbaik dari Allah. Karena segala cerita telah
tersistematis dalam skenario-Nya. Berusaha untuk selalu husnudzhon pada setiap
ketetapan Allah, pada waktunya semua akan indah dan jauh lebih baik dari apa
yang direncanakan. Never Stop Dream. Selamat pagi hari lahir :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar