Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Senin, 29 Desember 2014

Waktu Sulit, Kesalahan atau Resiko

Dua hari yang lalu, aku mengikuti tes psikotes di salah satu Rumah Sakit yang ada di Makassar. Dalam salah satu tes tersebut kita diminta untuk menceritakan apa yang pernah kita alami sebelumnya dari dua pilihan pertanyaan itu. Kita diminta untuk memilih salah satunya, apakah bercerita mengenai kesalahan terbesar dalam bekerja atau apakah resiko terbesar dalam bekerja dan bagaimana hasilnya ? . Saat itu, aku tidak tahu harus bercerita apa didalamnya. Akupun tak tahu apakah tes ini adalah kali kedua yang kujawab atau baru kali ini berhadapan dengan tes pertanyaan semacam itu. Tapi aku merasa bahwa itu adalah yang kali kedua aku diminta untuk bercerita mengenai kesalahan dan resiko dalam menghadapi tes tersebut. Seingatku dalam tes kemarin,  aku memilih poin kedua yaitu resiko terbesar yang pernah kualami dalam bekerja. Sebelumnya, aku belum pernah benar-benar bekerja dalam mengerjakan sesuatu dengan mengalami kesalahan (salah: banyak) dan menghadapi resiko terbesar didunia kerja karena aku memang belum mempunyai pekerjaan ataupun pengalaman kerja yang harus benar-benar kuceritakan. Jadi, aku tidak tahu bercerita apa dan bagaimana dengan menguraikan bahasa hati dan pikiranku yang tidak sinkron saat itu. Aku hanya bercerita mengenai tugas akhirku sebagai mahasiswa semasa kuliah dulu yang harus ku jelajahi salah satu Rumah Sakit di Makassar untuk mendapatkan hasil rekam medis pasien dengan membayar Rp. 100. 000,- , naik turun tangga dan mengelilingi kampus dan fakultas menemui Pembimbing I dan II mengenai judul dan apa yang harus kulakukan sebagai anak bimbingannya yang kemudian menyempurnakan sebuah judul menjadi sebuah proposal sebelum mempresentasikan di Seminar Proposal. Proposalku pun sudah jadi yang sebelumnya telah disetujui oleh Pembimbingku dan telah kupersiapkan berbagai senjata untuk berhadapan dengan berbagai penguji. Tapi, sebelum itu aku diminta untuk mengganti judul dan memulai dari awal karena Pembimbingku menginginkan tempat penelitianku harus di Puskesmas, bukan di Rumah Sakit. Otomatis, aku harus mengganti judul skripsiku dan kembali menjelajahi salah satu Puskesmas di daerahku untuk mengambil rekam medis pasien yang sungguh sangat rumit orang-orang yang kutemui disana. Memulai dari awal lagi adalah pekerjaan terberatku jikalau aku sedang dikejar waktu. Yah, saat itu aku sedang mengejar waktu ujian seminar proposal. Jikalau tidak berada dalam waktu itu, maka di semester depan baru aku bisa ikut ujian skripsi dan wisuda sedangkan teman-temanku yang lain telah menuju proses itu. Ingin berontak dengan waktu yang minim saat itu. Ingin menyalahkan orang tapi aku sadar bahwa ini sepenuhnya adalah kesalahanku sendiri, bukan siapa-siapa. Dan apa yang kuceritakan diatas kertas jawaban psikotes itu sangatlah bertele-tele dan bahasanya kurang sinkron untuk mencukupkan dalam 18 baris karena saat itu sedang mengejar waktu dan cerita diharuskan maksimal 18 baris dan boleh lebih dari itu.
            Sepulang dari tempat tes tersebut, aku selalu terpikirkan bahwa apa yang kuceritakan itu benar-benar tidak sinkron dengan pertanyaan dan jawaban yang kuberikan, berbeda jauh dengan apa yang kuceritakan disini. Bahkan disaat cuci piring dan mencuci pakaian, aku terpikirkan hal itu, melamun dan kemudian mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku tentang apa yang seharusnya kuceritakan diatas kertas jawaban itu. Iya, pikiranku itu baru benar-benar sinkron dengan hatiku apabila aku sedang mencuci piring, mencuci pakaian, menjelang tidur malam dan sehabis sholat sambil melamun, menghirup udara dan menghela nafas (itulah waktu-waktu keramatku untuk berpikir panjang. Hehehe). Mungkin lagi, lagi dan lagi aku tidak lulus dalam tes psikotes karena aku memang tidak begitu kuat dengan tes yang semacam itu meskipun seberapapun aku belajar dan berusaha menyelesaikannya sendiri (mudah-mudahan aku lulus. Aamiin).

            Flashback zaman SMA, aku dan teman-temanku duduk berkumpul bercerita mengenai apa cita-cita kami kedepannya setelah lulus. Sebelumnya, aku tidak pernah terpikirkan aku akan jadi apa dengan cita-cita seperti apa. Karena setiap kali ditanya oleh guru dan mengisi biodata yang menanyakan tentang cita-cita, kujawab saja bahwa cita-citaku adalah menjadi guru. Aku tidak yakin dengan jawabanku itu, apakah itu benar-benar keinginanku atau hanya sebagai formalitas diatas kertas saja. Sebab, aku seringkali berpikir bahwa dalam keluargaku, tante, om, sepupu dan kakakku sudah banyak menjadi guru, aku harus berbeda dengan mereka, tapi aku tidak tahu cita-cita seperti apa karena pengetahuan dan pergaulanku dizaman SMA sangat minim dan kolot meskipun aku sering mendapat prestasi dalam hal teori. Hingga teman-temanku pun menceritakan apa yang menjadi cita-cita mereka. Kebanyakan yang memilih cita-cita menjadi seorang perawat. Aku tidak begitu tahu mengenai seperti apa itu perawat, penggambaranku minim tapi yang kutahu bahwa perawat adalah orang yang bekerja dibidang kesehatan. Berdasar dengan cerita teman-temanku, akupun tertarik dengan bidang itu dan selulus dari dunia SMA, akupun mendaftar di berbagai Perguruan Tinggi dan mengikuti berbagai seleksi untuk melulusi diri belajar mengenai bidang keperawatan. Akupun lulus di Perguruan Tinggi swasta di Maros yang kemudian mengikuti ospek sebagai mahasiswa baru. Pada saat pengospekan, aku juga dinyatakan lulus di Perguruan Tinggi Negeri yaitu universitas ternama yang ada di Makassar, Universitas Hasanuddin. Akupun mengundurkan diri di Akademi Keperawatan dan memilih Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai labuhan terakhirku didunia pendidikan. Itupun, itu saran dari kakakku bahwa selain ternama, pembayaran SPP-nya juga murah. Lagipula, kebutuhan ekonomi kami juga minim, mana sanggup aku membayar SPP di Akademi Keperawatan. Namun, di Unhas aku tidak berada dibidang keperawatan melainkan di bidang ilmu kesehatan masyarakat karena yang menjadi pilihan pertamaku sewaktu mendaftar di Perguruan Tinggi tersebut adalah ilmu kesehatan masyarakat (pilihan kedua, ilmu keperawatan dan pilihan ketiga, MIPA) dan aku lulus dibidang itu meskipun aku tidak tahu mengenai ilmu kesehatan masyarakat dan seperti apa kedepannya. Pada saat itu, aku tidak peduli apa itu kesehatan masyarakat, yang penting adalah keperawatan dan ilmu kesehatan masyarakat sama-sama berada di bidang kesehatan dan aku tidak ingin membebani terlalu banyak pada orang tua dan kakakku mengenai SPP-nya yang Alhamdulillah selama perkuliahan cukup membantu keuanganku karena setiap 3 bulan aku mendapat beasiswa. Sekalipun, aku mengkhawatirkan perkataan orang-orang bahwa lowongan kerja untuk lulusan kesehatan masyarakat itu minim. Akan tetapi aku lebih mengkhawatirkan dengan jilbab yang ku kenakan jikalau akau memasuki dunia kerja yang tidak membolehkan memakai jilbab syar'i. Meskipun begitu, itulah bagian dari keindahannya yang menjadi tantangan untuk diriku dan mempertahankan apa yang menjadi prinsipku.

            Melalui berbagai proses perkuliahan sebagai mahasiswa di Kampus Merah, aku lulus dengan menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada pertengahan Tahun 2013, 3 tahun 8 bulan. Kini, aku sedang dalam pencarian masa depan yang sungguh betapa sulit dan rumit meraihnya dalam dunia kerja. Teringat nasehat dan keinginan ibuku bahwa sebaiknya aku menjadi seorang guru, tapi saat itu aku bersikeras menjelajahi pengetahuan dunia kesehatan. Teringat juga, keluhan dari sahabatku tiga hari yang lalu saat kubantu memeriksa lembar jawaban siswanya dengan mengatakan bahwa dia ingin berhenti jadi seorang guru, menjadi guru itu sulit dan ribet mengurusi nilai-nilai siswa. Mendengar keluhannya itu, aku terdiam sejenak dan mengatakan padanya bahwa memang begitu adanya dalam dunia kerja, sulit dan mudah (tambahan: benar dan salah, baik dan buruk) selalu beriringan, tergantung dari diri kita sendiri bagaimana memaksimalkan dan meminimalisirnya, yang akupun sendiri ingin berada dalam posisinya menjadi seorang guru dan sebaliknya dia juga ingin berada dalam posisiku tapi dia tak menyesali itu dengan perjalanan hidupnya yang sekarang. Jika mengingat itu, terkadang aku menangisi pilihanku sendiri, menangisi segala kekuranganku. Aku sempat berpikir bahwa apa yang menjadi pilihanku hanyalah sekedar ikut-ikutan saja dengan berdasar pada cerita dan cita-cita teman-teman SMA-ku dulu atau memang keinginan dari hatiku. Entahlah, aku tak mau berlama-lama berada dalam zona pemikiran seperti itu karena pasti ujung-ujungnya akan menyudutkan diriku dan membuat tak berdaya.
            Mungkin inilah bagian dari kesalahan (salah: dosa) terbesarku sekaligus resiko terbesar dalam hidupku yang harus kulalui dengan berjalan dan berlari mencapai tujuan yang benar-benar ingin kucapai yaitu salah satu utamanya adalah membuat bangga dan membahagiakan orang tua.

Bagaimana hasilnya ?
            Sampai saat ini, aku belum bisa memastikannya. Sebab, aku masih berproses menapaki lika-liku kehidupan dan hanya Allah sebaik-baik penolong dan pelindung yang menjadi satu-satu-Nya tempat curahan terbaikku. Baik atau buruk bagiku, aku bertawakkal pada Allah atas apa yang Dia tetapkan dan takdirkan pada diriku dengan berharap Allah memberikan yang terbaik untuk diriku. Karena seberapapun ku bermimpi, mimpi tetaplah mimpi yang jika ku terbangun dari mimpi dengan kehidupan yang kujalani sekarang tetaplah nyata.

            Jika aku bisa memutar waktu, akan kuperbaiki kesalahanku dan melakukan apa yang tidak bisa kulakukan dulu. Tapi mustahil memutar waktu, meskipun begitu, dimasa ini aku ingin tetap melakukan yang terbaik dalam hidupku dan menjadi manusia yang memberi manfaat (“sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”. (HR. Bukhari Muslim)), melakukan apa yang harus kulakukan, mewujudkan apa yang ingin kuwujudkan, dan memperbaiki apa yang menjadi kesalahanku. Ini hanya masalah waktu. Semoga di hari esok, bulan dan tahun akan segera lebih baik dari hari kemarin yang bukan hanya sekedar mimpi dan bukan sekedar kata-kata. Aamiin. “Think big, feel strong, and pray hard for deep heart, never stop dream”.


“Assalamu ‘Alaikum, pemeriksa jawaban psikotesku. Inilah jawabanku yang selengkapnya. Anda bisa menilaiku dari tulisanku ini”.

Tidak ada komentar: