Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Minggu, 08 Januari 2017

Sebaiknya Ku Pergi (Juga)

Terlalu...
Kukatakan lagi semuanya serba terlalu
Terlalu keterlaluan
Hingga memaksaku memutar otak atas semua ini.

Terlalu banyak bahan pertimbangan yang harus lolos dalam penghayatanku saat ini.

Entah harus ku mulai dari mana
Sebab kata demi kata terasa sulit untuk aku ungkap

Terkadang aku kehabisan kata-kata untuk menumpahkan seluruh beban hatiku.

Apa yang salah sebenarnya ?
Kenapa selalu disalahkan ?
Kenapa tidak ada yang mengerti ?
Kenapa harus pergi ?
Kenapa ada kenapa ?

Sepanjang malam ini, aku terpikirkan tentang aku dan kalian.

Rasanya baru kemarin kita bertemu, saling kenal, kemudian menjadi akrab.

Rasanya baru kemarin mewarnai kebersamaan kita disini dalam cerita yang mengharu biru dan tanpa sempat kita abadikan dan harus kehilangan semua tanpa aba-aba.

Dunia yang seharusnya dinikmati justru menjadi penyebab perpisahan kita. Terombang-ambing oleh peristiwa, pikiran dan perasaan.

Dan kalian benar-benar pergi
Meninggalkanku sendirian diantara mirisnya kehidupan disini

Kalian benar-benar pergi
Bersama kepingan hati yang menurutmu hancur padahal kau tak tahu betapa rapuhnya aku

Kalian benar-benar pergi
Membuat hatiku terbelit tanda tanya mengapa ?

Yah, sisa-sisa episode kemarin masih terasa hangat.
Aku tahu hal ini tak mudah. Sebab hatiku pun merasakan ngilu dari sebuah kejadian yang terulang, berkali-kali yang tergugat oleh nurani, menguras emosi dan pikiran. Dituntut tapi tak ada sedikitpun pengertian dan penyelesaian. Sebuah kejadian tersadis saja, alur ceritanya ditenggelamkan. Seolah-olah kita adalah tameng yang kapan saja siap dibunuh oleh kata-kata yang tak semestinya dilontarkan.

Tinggal diriku yang masih bertahan untuk berada diantara mereka walau pada hakekatnya aku tak sanggup.
Bagiku ini pahit.
Kurasa, aku juga harus pergi.

Rabu, 23 November 2016

Katakanlah, Aku Pandai Menyembunyikan Perasaan

Sampai saat ini, aku masih dengan perasaanku yang sama. Hanya saja kau tak tahu. Seperti hujan yang menumbuhkan kembali tanam-tanam pada lapang yang sempat gersang. Seperti hujan yang berkali-kali merasa sakit tapi tetap jatuh sejatuh-jatuhnya. Barangkali, kau sudah ditenggelamkan oleh perasaanku yang dalam tanpa sempat kuselamatkan lagi. Entah, mantra macam apa yang kau guna. Aku tahu persis bagaimana kau, melihatnya dan dari omongan orang lain tentangmu membuat enggan menyapa dengan suasana hatimu yang lagi meracau. Pernah sekali, kudapati dan tanpa sengaja kudengar kata-kata ketusmu. Terkadang pula kau senyum jika suasana hatimu lagi baik. Kau aneh. Aku menyukai segala keunikan yang ada padamu. Itulah mengapa kau tak bisa lepas dari pandanganku. Terasa misterius bagiku. Ingin tahu bagaimana kau. Semakin penasaranku menambah semakin tumbuh kau dihatiku. Mungkin kau terlalu mempesona dan aku terlalu biasa. Aku biasa-biasa dan diam-diam saja.

Bagiku, kita adalah ketidakmungkinan, itulah aku diam. Tapi bagi Allah kemungkinan, bisa jadi, itulah aku melangitkanmu dalam sujud tengah-tengah malamku. Beberapa kali, kau lebih sering hadir dalam mimpiku, dalam tulisan-tulisanku, kata hatiku, dan tentu saja dalam diamku. Kadang kita juga bertemu secara tak sengaja. Di jalan setapak misalnya. Bersama menikmati lampu-lampu kota tapi kita hanya menikmatinya sendiri-sendiri. Sering kehilangan kata-kata. Tegang dan diam saja.

Katakanlah, aku terlalu pandai menyembunyikan segala halnya tentang perasaan. Sendiri saja. Dulu, kesan awalnya kita pernah terlibat dalam sebuah perbincangan malam itu disebuah Klinik. Kau mengawali tapi maaf aku mengabaikanmu. Aku menjaga diri, menjaga hatiku. Takutnya terlalu dalam aku jatuh sejatuh-jatuhnya padamu. Grogi, tak tahu mesti bagaimana berinteraksi dengan seorang laki-laki. Lebih tepatnya aku yang pemalu.

Kadang pandanganku meluas mencari sesosok dirimu. Melihatmu dari kejauhan lalu kau mendekat. Aku pura-pura saja tak melihat, tak peduli. Kau berlalu tanpa kata dan aku terpukau tanpa sapa.

Meski terkadang ada setitik gumpalan kecemburuan, membuat dada sesak, tenggorokan tercekat dengan sesosok perempuan yang sudah tertawan dimatamu.
Aku pun kerap kali merapal mengikhlaskan untuk hati yang kau tautkan pada hati perempuan itu. Karenanya, aku melihat senyum yang merona diwajahmu. Dan akupun harus merelakanmu berkali-kali untuk bahagiamu. Menjauh dan berusaha menghindar pada garis waktu yang tak disengaja kita diketemukan. Siapa aku ? Aku bukan siapa-siapa. Tidak istimewa.

Tapi, kupikir aku akan baik-baik saja. Nyatanya, getir terasa melepas senyum dengan kepura-puraanku bahagia. Ada semacam perih dalam hatiku yang membuat mataku dipaksa berair. Aku bisa apa ?. Aku bisa diam saja. Kau selalu menjadi alasanku untuk pergi agar intensitas rasaku juga ikut berkurang. Tapi, mengapa kau juga menjadi alasanku untuk tetap disini ? Seperti ada yang menahan kakiku untuk melangkah pergi. Sampai saat ini, aku masih disini dengan rasaku yang tersembunyi.

Ah, kita hanyalah sama-sama makhluk asing yang berbatas jarak dan ruang waktu. Tak mampu memandang lekat, tak bisa menggenggam erat, hatimu beku, hatiku kalut, kau misteri dan aku kabut. Katakanlah, aku hebat menyembunyikannya dengan diam. Segalanya tentangmu. Karena yang kurasa terkadang yang dilakukan dengan diam itu lebih tulus. Meski, aku tak suka dengan kehadiran rasa ini. Akupun juga tak ingin berharap banyak. Terlalu menyedihkan. Aku lebih memilih diam dengan melangitkanmu dalam do'a-do'aku. Aku belajar berkali-kali mengikhlaskan, membiarkanmu pergi dengan cinta lain. Aku selalu menyiapkan diri dengan segala hal yang akan kulihat dan kudengar. Dan do'a yang sering kurapalkan. Semoga kau dapati dalam sujudmu. Anggap saja, matamu mataku tak pernah ada titik temu sampai kita dipertemukan pada titik rindu. Katakanlah, aku pandai menyembunyikan perasaan.

Rabu, 23 November 2016
@Maros

Senin, 08 Juni 2015

Berasal Dari Orang Yang Sama

Beberapa pekan yang lalu, aku dikejutkan sebuah kabar dari teman dekat, teman jalan yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Sebuah kabar yang membuat hatiku terperanjat kaget, goyah dan dan kakiku tak mampu berdiri ditempatku berpijak. Saat itu, seusai sholat isya dia hendak menahanku untuk pulang. Dia mengajakku duduk di pelataran Masjid dengan menikmati malam dan memandangi terangnya bulan sya'ban. Semua santri telah pulang dan hanya kami berdua. Ada sesuatu hal yang ingin dia katakan padaku dan sudah lama dia ingin mengatakannya. Ku pikir dia akan mengatakan hal yang sama tentang apa yang menjadi keluhannya selama ini. Tapi tidak...ini sebuah kabar yang mengekstrak hati. Sebuah kabar yang sangat tak disangka olehku hingga menjadi buah pembicaraan panjang dimalam itu dan pulang membawa getar sepotong hati. Yah, sebuah kabar gembira tapi membuat kami saling tidak mengenakkan hati.
Just why, berasal dari orang yang sama ?
Iya, kami sama-sama mempertanyakannya hal itu yang bisa jadi menjadi faktor kesenjangan ukhuwah kami.
Mengapa berasal dari orang yang sama ? Kujawab, inilah bagian dari pertemuan takdir kita dan inilah jawaban atas do'amu dan do'a orang itu. Dia memilihmu.
Just why ?
Berasal dari orang sama...
Orang yang sebelumnya dan tanpa sengaja menjadi tumpanganku sewaktu penelitian di Puskesmas dua tahun yang lalu.
Orang yang sebelumnya bertanya-tanya tentangku.
Orang yang ingin mengajukan lamaran untukku.
Yah, sebuah pengajuan-lamaran.
Saat pengajuan itu, aku hanya diberi sedikit waktu untuk menyetujuinya atau tidak dan yang kutahu dua pekan kedepannya adalah moment sakral yang telah ditentukan dari pihak keluarga orang itu agar bisa menyamakan waktu dengan adik perempuannya yang juga akan menunaikan setengah diennya. Dan dua pekan itu adalah waktu yang singkat bagiku untuk ingin berta'aruf dengannya dan bisa benar-benar menyiapkan diri. Tapi dikarenakan waktu yang sangat mepet, pengajuan itu tertolak secara sepihak oleh tanteku tanpa menanyakan keputusanku yang sebenarnya. Dengan penolakan secara sepihak itu, orang itu pun tak jadi menikah karena orang itu tak menemukan calon dengan waktu yang semepet itu. Hingga kini dia telah menemukan labuhan terakhir dalam pencariannya dibeberapa bulan ini yang tak lain adalah sahabatku sendiri.
Yang langsung terpikirkan olehku yang membuat aku terperanjat kaget adalah bagaimana keadaan persahabatan kami nantinya ? Bagaimana dengan pertemuanku di hari nikah sahabatku sendiri ? Haruskah aku menyembunyikan diri dibalik layar agar tak timbul ketercanggungan diantara kami bertiga ? Sedangkan, aku dan sahabatku sudah sama-sama tahu bahwa dia orang yang sama yang pernah kuceritakan sebelumnya padanya dan kini kembali menjadi trending topik dalam pembahasan kami kali ini yang sudah lama terkubur. Apa yang kurasa, juga dirasakan oleh sahabatku itu. Bagaimana mungkin ?
Hmmm...bagaimana dan apapun itu.
Aku harus menghadapi keadaan itu dan bersikap seperti biasanya seolah-olah tak mengenal dan tak terjadi apa-apa. Keep calm down, mujahidah.
kini, aku turut bahagia
Bahagia karena sahabatku akan menunaikan setengah diennya.
Bahagia karena orang itu telah menemukan waktu dan orang yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Bahagia karena mereka.
Alhamdulillah,
Adalah kejutan yang luar biasa dimalam itu.
Adalah sebuah kabar dari-Nya atas jawaban do'a-do'a mereka.
Adalah bahagia sahabatku bahagiaku juga.
Alhamdulillah...alhamdulillah...alhamdulillah...
Segala do'a terbaik untuk kalian. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin
***hehehe...sesuatu yang tak terduga oleh keadaan dikarenakan takdir. Cerita ini hanya fiktif belaka... 😄

Rabu, 04 Februari 2015

Februari, Januari Masih Sama


Februari, aku menyapamu... apa yang ingin kukatakan padamu masih seperti yang sudah kukatakan pada januari. Kau pasti sudah mengerti.

Februari, Iya, aku masih memandangi langit yang sama. Langit-langit kamarku yang dibawahnya itulah tempatku bermimpi dan tak berubah sama sekali, sedetik ataupun semenit. Meskipun, aku membuka mata dan terbangun... kenyataan tetap tak berlaku untukku tapi aku masih bisa bersabar menunggu keberlakuannya padaku.

Februari, bantu aku menemukan maret, april, mei, juni, juli, agustus, september, november dan desember yang indah agar aku bisa memenuhi dan menunjukkannya pada januari mendatang. Bisakah kau ?

Senin, 19 Januari 2015

(Lagi) Padamu Januari

 
 
Januari, aku datang padamu (lagi), sepertinya aku sedang tidak baik-baik saja (lagi). Beberapa hari yang lalu, aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan padaku. Iya, kesempatan itu tepat didepan mataku. Aku tak berpikir panjang. Aku hanya memikirkan resiko yang ditimpakan padaku nanti hingga aku memutuskan hal yang salah. Aku teringat Firma-Nya, boleh jadi, apa yang tidak kusukai padahal baik bagiku dan apa yang kusukai padahal buruk bagiku. Yah, itulah kesempatan yang datang padaku. Kali ini, aku tak akan menyia-nyiakannya (lagi). Tapi, aku takut jika kesempatan itu membuatku jauh dari-Nya. Itu lebih menyedihkan dan menyakitkan.

Januari, bantu aku bersabar (lagi) menunggu kesempatan itu datang (lagi) dan dapat meraihnya dengan senyum dan tangis kebahagiaan yang akan kutunjukkan padamu. Tolonglah !!! Besok adalah kesempatan itu... do'akanku agar kesempatan itu datang padaku yang membuatku semakin dekat pada-Nya.

Senin, 12 Januari 2015

Hello, Januari


Januari, kita bertemu lagi. Aku tidak tahu bahkan lupa bahwa sudah berapa hari aku melaluimu. Aku takut jika aku mengingat dan mulai menghitung tanggalmu, bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja ?

Januari, kau tahu bahwa aku sudah lama melalui masa sulit itu. Aku bahkan melaluimu lagi tanpa hasil yang kujanjikan dan ku tunjukkan padamu yang lagi aku tersungkur malu karenamu. Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja ?.

Januari, banyak kataku yang ingin kusampaikan padamu tapi apa mungkin kau akan bisa memahaminya setelah kutumpah ruahkan segalanya padamu ?. Bisakah kau mengerti bahasa hati dan pikiranku yang bahkan aku juga tak mengerti apa itu. Terlalu sesak dan membuat kalut. Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja ?

Januari, aku sudah mencoba dengan sekuat tenaga. Aku mencoba semua yang aku bisa tapi, hingga sekarang. Semuanya sama saja. Nihil. Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja ?.

Januari, seberapapun keinginanku untuk mengutukmu tapi aku bingung dan tak tahu kata-kata apa yang pantas untukmu agar kau tak mengembalikanku dan mengulangi masa sulit itu. Serasa ingin menghentikan waktu.

Januari, apa aku terlihat sangat menyedihkan ? Iya, Ku pikir begitu, aku melihatnya dari orang-orang yang tersenyum padaku. Aku khawatir terhadap orang-orang disekitarku yang menaruh harapan besar padaku kemudian menanyakan, menyudutkan dan menggugat lagi hal sama yang tak bisa kujawab dan kukatakan kebenarannya. Itu sangat menyedihkan.

Januari, aku terlambat mengetahui dunia apa yang akan aku hadapi nantinya dan sekarang rasa sakit telah memberikan jawabannya. Aku tetap menganggap ruang ini adalah ruang hijau tapi nyatanya yang terlihat hanyalah abu-abu, bukan ruang hijau yang seperti kuharapkan.

Januari, apakah kau tahu khayalan lebih baik daripada kenyataan ?. Iya, aku berkali-kali melaluinya. Kita berpikir betapa senangnya, jika akhirnya bisa bertemu seseorang tapi saat kau benar-benar bertemu dengan orang itu, mereka tidak seperti apa yang kau harapkan. Semakin kau mengenalinya, akan semakin sulit dan menyakitkan. Seperti itulah gambaran masa depan.

Januari, aku butuh seseorang yang meyakinkanku dan memperlihatkanku masa depan yang indah seperti dikhayalku bahwa nyata memang indah. Aku butuh kekuatan yang dapat mengembalikan kekuatanku bahwa aku baik-baik saja. Tapi kupikir itu tidak mungkin, karena orang-orang itu telah pergi sebelum aku meminta  untuk tetap didekatku.

Januari, aku sedang memberanikan diri mengumpulkan cakraku sendiri untuk baik-baik saja tapi nyatanya ketika aku melihat keluar rasa-rasanya aku hanya ingin menjadi gadis yang berada dibalik pintu seperti dalam drama korea Flower Boy Next Door. Iya, sepertinya drama korea selalu memberikanku nasehat dibalik ceritanya dibanding orang-orang yang berada disekitarku dengan melihat iba. Tapi, aku tak ingin seperti gadis itu yang bertahun-tahun melihat keindahan dunia lewat televisi saja. Aku ingin segera melihat, meraih dan merasakannya dengan usahaku sendiri.

Januari, Sebelumnya, maafkan aku yang mengabaikanmu diawal tahun. Jika kita bertemu lagi. Mungkinkah aku sudah baik-baik saja ? Apakah mungkin aku bisa memenuhi janjiku dan menunjukkan padamu dengan senyum keberhasilan ?

Senin, 29 Desember 2014

Waktu Sulit, Kesalahan atau Resiko

Dua hari yang lalu, aku mengikuti tes psikotes di salah satu Rumah Sakit yang ada di Makassar. Dalam salah satu tes tersebut kita diminta untuk menceritakan apa yang pernah kita alami sebelumnya dari dua pilihan pertanyaan itu. Kita diminta untuk memilih salah satunya, apakah bercerita mengenai kesalahan terbesar dalam bekerja atau apakah resiko terbesar dalam bekerja dan bagaimana hasilnya ? . Saat itu, aku tidak tahu harus bercerita apa didalamnya. Akupun tak tahu apakah tes ini adalah kali kedua yang kujawab atau baru kali ini berhadapan dengan tes pertanyaan semacam itu. Tapi aku merasa bahwa itu adalah yang kali kedua aku diminta untuk bercerita mengenai kesalahan dan resiko dalam menghadapi tes tersebut. Seingatku dalam tes kemarin,  aku memilih poin kedua yaitu resiko terbesar yang pernah kualami dalam bekerja. Sebelumnya, aku belum pernah benar-benar bekerja dalam mengerjakan sesuatu dengan mengalami kesalahan (salah: banyak) dan menghadapi resiko terbesar didunia kerja karena aku memang belum mempunyai pekerjaan ataupun pengalaman kerja yang harus benar-benar kuceritakan. Jadi, aku tidak tahu bercerita apa dan bagaimana dengan menguraikan bahasa hati dan pikiranku yang tidak sinkron saat itu. Aku hanya bercerita mengenai tugas akhirku sebagai mahasiswa semasa kuliah dulu yang harus ku jelajahi salah satu Rumah Sakit di Makassar untuk mendapatkan hasil rekam medis pasien dengan membayar Rp. 100. 000,- , naik turun tangga dan mengelilingi kampus dan fakultas menemui Pembimbing I dan II mengenai judul dan apa yang harus kulakukan sebagai anak bimbingannya yang kemudian menyempurnakan sebuah judul menjadi sebuah proposal sebelum mempresentasikan di Seminar Proposal. Proposalku pun sudah jadi yang sebelumnya telah disetujui oleh Pembimbingku dan telah kupersiapkan berbagai senjata untuk berhadapan dengan berbagai penguji. Tapi, sebelum itu aku diminta untuk mengganti judul dan memulai dari awal karena Pembimbingku menginginkan tempat penelitianku harus di Puskesmas, bukan di Rumah Sakit. Otomatis, aku harus mengganti judul skripsiku dan kembali menjelajahi salah satu Puskesmas di daerahku untuk mengambil rekam medis pasien yang sungguh sangat rumit orang-orang yang kutemui disana. Memulai dari awal lagi adalah pekerjaan terberatku jikalau aku sedang dikejar waktu. Yah, saat itu aku sedang mengejar waktu ujian seminar proposal. Jikalau tidak berada dalam waktu itu, maka di semester depan baru aku bisa ikut ujian skripsi dan wisuda sedangkan teman-temanku yang lain telah menuju proses itu. Ingin berontak dengan waktu yang minim saat itu. Ingin menyalahkan orang tapi aku sadar bahwa ini sepenuhnya adalah kesalahanku sendiri, bukan siapa-siapa. Dan apa yang kuceritakan diatas kertas jawaban psikotes itu sangatlah bertele-tele dan bahasanya kurang sinkron untuk mencukupkan dalam 18 baris karena saat itu sedang mengejar waktu dan cerita diharuskan maksimal 18 baris dan boleh lebih dari itu.
            Sepulang dari tempat tes tersebut, aku selalu terpikirkan bahwa apa yang kuceritakan itu benar-benar tidak sinkron dengan pertanyaan dan jawaban yang kuberikan, berbeda jauh dengan apa yang kuceritakan disini. Bahkan disaat cuci piring dan mencuci pakaian, aku terpikirkan hal itu, melamun dan kemudian mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku tentang apa yang seharusnya kuceritakan diatas kertas jawaban itu. Iya, pikiranku itu baru benar-benar sinkron dengan hatiku apabila aku sedang mencuci piring, mencuci pakaian, menjelang tidur malam dan sehabis sholat sambil melamun, menghirup udara dan menghela nafas (itulah waktu-waktu keramatku untuk berpikir panjang. Hehehe). Mungkin lagi, lagi dan lagi aku tidak lulus dalam tes psikotes karena aku memang tidak begitu kuat dengan tes yang semacam itu meskipun seberapapun aku belajar dan berusaha menyelesaikannya sendiri (mudah-mudahan aku lulus. Aamiin).

            Flashback zaman SMA, aku dan teman-temanku duduk berkumpul bercerita mengenai apa cita-cita kami kedepannya setelah lulus. Sebelumnya, aku tidak pernah terpikirkan aku akan jadi apa dengan cita-cita seperti apa. Karena setiap kali ditanya oleh guru dan mengisi biodata yang menanyakan tentang cita-cita, kujawab saja bahwa cita-citaku adalah menjadi guru. Aku tidak yakin dengan jawabanku itu, apakah itu benar-benar keinginanku atau hanya sebagai formalitas diatas kertas saja. Sebab, aku seringkali berpikir bahwa dalam keluargaku, tante, om, sepupu dan kakakku sudah banyak menjadi guru, aku harus berbeda dengan mereka, tapi aku tidak tahu cita-cita seperti apa karena pengetahuan dan pergaulanku dizaman SMA sangat minim dan kolot meskipun aku sering mendapat prestasi dalam hal teori. Hingga teman-temanku pun menceritakan apa yang menjadi cita-cita mereka. Kebanyakan yang memilih cita-cita menjadi seorang perawat. Aku tidak begitu tahu mengenai seperti apa itu perawat, penggambaranku minim tapi yang kutahu bahwa perawat adalah orang yang bekerja dibidang kesehatan. Berdasar dengan cerita teman-temanku, akupun tertarik dengan bidang itu dan selulus dari dunia SMA, akupun mendaftar di berbagai Perguruan Tinggi dan mengikuti berbagai seleksi untuk melulusi diri belajar mengenai bidang keperawatan. Akupun lulus di Perguruan Tinggi swasta di Maros yang kemudian mengikuti ospek sebagai mahasiswa baru. Pada saat pengospekan, aku juga dinyatakan lulus di Perguruan Tinggi Negeri yaitu universitas ternama yang ada di Makassar, Universitas Hasanuddin. Akupun mengundurkan diri di Akademi Keperawatan dan memilih Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai labuhan terakhirku didunia pendidikan. Itupun, itu saran dari kakakku bahwa selain ternama, pembayaran SPP-nya juga murah. Lagipula, kebutuhan ekonomi kami juga minim, mana sanggup aku membayar SPP di Akademi Keperawatan. Namun, di Unhas aku tidak berada dibidang keperawatan melainkan di bidang ilmu kesehatan masyarakat karena yang menjadi pilihan pertamaku sewaktu mendaftar di Perguruan Tinggi tersebut adalah ilmu kesehatan masyarakat (pilihan kedua, ilmu keperawatan dan pilihan ketiga, MIPA) dan aku lulus dibidang itu meskipun aku tidak tahu mengenai ilmu kesehatan masyarakat dan seperti apa kedepannya. Pada saat itu, aku tidak peduli apa itu kesehatan masyarakat, yang penting adalah keperawatan dan ilmu kesehatan masyarakat sama-sama berada di bidang kesehatan dan aku tidak ingin membebani terlalu banyak pada orang tua dan kakakku mengenai SPP-nya yang Alhamdulillah selama perkuliahan cukup membantu keuanganku karena setiap 3 bulan aku mendapat beasiswa. Sekalipun, aku mengkhawatirkan perkataan orang-orang bahwa lowongan kerja untuk lulusan kesehatan masyarakat itu minim. Akan tetapi aku lebih mengkhawatirkan dengan jilbab yang ku kenakan jikalau akau memasuki dunia kerja yang tidak membolehkan memakai jilbab syar'i. Meskipun begitu, itulah bagian dari keindahannya yang menjadi tantangan untuk diriku dan mempertahankan apa yang menjadi prinsipku.

            Melalui berbagai proses perkuliahan sebagai mahasiswa di Kampus Merah, aku lulus dengan menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada pertengahan Tahun 2013, 3 tahun 8 bulan. Kini, aku sedang dalam pencarian masa depan yang sungguh betapa sulit dan rumit meraihnya dalam dunia kerja. Teringat nasehat dan keinginan ibuku bahwa sebaiknya aku menjadi seorang guru, tapi saat itu aku bersikeras menjelajahi pengetahuan dunia kesehatan. Teringat juga, keluhan dari sahabatku tiga hari yang lalu saat kubantu memeriksa lembar jawaban siswanya dengan mengatakan bahwa dia ingin berhenti jadi seorang guru, menjadi guru itu sulit dan ribet mengurusi nilai-nilai siswa. Mendengar keluhannya itu, aku terdiam sejenak dan mengatakan padanya bahwa memang begitu adanya dalam dunia kerja, sulit dan mudah (tambahan: benar dan salah, baik dan buruk) selalu beriringan, tergantung dari diri kita sendiri bagaimana memaksimalkan dan meminimalisirnya, yang akupun sendiri ingin berada dalam posisinya menjadi seorang guru dan sebaliknya dia juga ingin berada dalam posisiku tapi dia tak menyesali itu dengan perjalanan hidupnya yang sekarang. Jika mengingat itu, terkadang aku menangisi pilihanku sendiri, menangisi segala kekuranganku. Aku sempat berpikir bahwa apa yang menjadi pilihanku hanyalah sekedar ikut-ikutan saja dengan berdasar pada cerita dan cita-cita teman-teman SMA-ku dulu atau memang keinginan dari hatiku. Entahlah, aku tak mau berlama-lama berada dalam zona pemikiran seperti itu karena pasti ujung-ujungnya akan menyudutkan diriku dan membuat tak berdaya.
            Mungkin inilah bagian dari kesalahan (salah: dosa) terbesarku sekaligus resiko terbesar dalam hidupku yang harus kulalui dengan berjalan dan berlari mencapai tujuan yang benar-benar ingin kucapai yaitu salah satu utamanya adalah membuat bangga dan membahagiakan orang tua.

Bagaimana hasilnya ?
            Sampai saat ini, aku belum bisa memastikannya. Sebab, aku masih berproses menapaki lika-liku kehidupan dan hanya Allah sebaik-baik penolong dan pelindung yang menjadi satu-satu-Nya tempat curahan terbaikku. Baik atau buruk bagiku, aku bertawakkal pada Allah atas apa yang Dia tetapkan dan takdirkan pada diriku dengan berharap Allah memberikan yang terbaik untuk diriku. Karena seberapapun ku bermimpi, mimpi tetaplah mimpi yang jika ku terbangun dari mimpi dengan kehidupan yang kujalani sekarang tetaplah nyata.

            Jika aku bisa memutar waktu, akan kuperbaiki kesalahanku dan melakukan apa yang tidak bisa kulakukan dulu. Tapi mustahil memutar waktu, meskipun begitu, dimasa ini aku ingin tetap melakukan yang terbaik dalam hidupku dan menjadi manusia yang memberi manfaat (“sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”. (HR. Bukhari Muslim)), melakukan apa yang harus kulakukan, mewujudkan apa yang ingin kuwujudkan, dan memperbaiki apa yang menjadi kesalahanku. Ini hanya masalah waktu. Semoga di hari esok, bulan dan tahun akan segera lebih baik dari hari kemarin yang bukan hanya sekedar mimpi dan bukan sekedar kata-kata. Aamiin. “Think big, feel strong, and pray hard for deep heart, never stop dream”.


“Assalamu ‘Alaikum, pemeriksa jawaban psikotesku. Inilah jawabanku yang selengkapnya. Anda bisa menilaiku dari tulisanku ini”.

Jumat, 21 November 2014

November Wish



Bismillah…
Kembali bertemu November. Dan November pun tinggal separuh. Ku biarkan tahun-tahun berjalan menggerus ingatanku. Selapis-selapis harapan, impian, keinginan dan kebutuhan menipis dibenakku. Namun, tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak.

Entah, tapi aku seperti menemukan diriku sendiri saat sedang bergumul dengan duniaku. Menikmati dunia ini, seperti menemukan diriku yang hilang dan ditenggelamkan oleh waktu. Meski terkadang aku hendak mengutuk dan mengeluh apa yang tersaji di hadapanku. Berupa ritual aneh yang harus aku lakukan untuk merayakan semuanya sendiri. Mengapa sendiri ? Entahlah. Sebab aku masih sukar mengerti dengan keadaan yang takdirkan padaku. Terkadang aku masih kerap merasa sendiri atau sepi dalam keramaian. Seperti ada sesuatu hal yang hilang, atau banyak hal yang lenyap dan membuatku terpekur. Malangnya, aku masih saja mau bersahabat dengan semua keadaan ini. Jujur aku jengah. Di satu waktu yang membuatku geram pada duniaku. Banyak hal yang tak begitu menyenangkan dihadapkan padaku, meski sering kali aku menyabarkan diri yang kumiliki dengan bangun untuk rutinitas harian yang tak berubah dan mengubah duniaku. Namun, terjadwal rapi untuk selalu kukerjakan seperti hari-hari sebelumnya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Lagi, usai sholat subuh dengan menyelesaikan beberapa lembar ayat Al-Qur’an. Pagi-pagi sekali, aku berhadapan dengan setumpuk piring, sekeranjang cucian, dan menyapu halaman rumah serta terkadang beberapa bisnis kecil-kecilan yang mencukupi waktu luangku. Dalam rutinitas yang kukerjakan terkadang disela waktu dan disudut ruang membuat air mataku menetes yang membuat aku malu dan begitu kasihan dengan kedua orang tuaku. Sebab, aku masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mencukupi kebutuhan keluargaku. Karena persyaratan dunia kerja yang begitu menyulitkan untuk menempati beberapa lowongan yang menjadi rebutan ribuan orang. Lagi, aku termasuk orang yang gagal meraihnya. Qadarallah. Sungguh, aku bosan dan jengah dengan lakon yang menoton saat angan tiada henti menciptakan keinginan tapi hampa. Kegagalan yang berperan seakan menertawakan kebodohan gelagat jiwa yang terus melenggang, mengejar waktu tapi semu. Tapi setidaknya, aku sudah berusaha dan cukup kuserahkan pada-Nya. Tatkala sepi mengajarkan pada sebuah ketegaran dan kedewasaan yang menyingkapkan kebahagiaan dan kelukaan dengan memilah antara mengarungi jalan bersama atau melewati hari dengan sendiri. Waktupun silih berganti, akupun masih disini berkilah dengan keadaan. Lalu aku harus apa ?. Perjalanan ini harus ku lanjutkan meski cahaya jauh didepan mata. Allah, aku telah melangkah dengan tegap. Izinkan aku melewati waktu mengais mimpi. Karena ada keluarga, teman dekat dan saudara yang tak pernah lari dariku ingin kubahagiakan.

Di November ini. Semoga tak ada alasan untuk menenggelamkan diri lagi di tahun ini. Aku benar-benar ingin kembali. Kembali menggeluti dunia yang membuatku merasa berarti dalam memaknai diri. Alhamdulillah atas segala kemudahan dan nikmat yang diberikan oleh Allah. Meski situasi dan kondisi masih bentrok dengan berbagai kesulitan, tapi tetap optimis bahwa semua adalah yang terbaik dari Allah. Karena segala cerita telah tersistematis dalam skenario-Nya. Berusaha untuk selalu husnudzhon pada setiap ketetapan Allah, pada waktunya semua akan indah dan jauh lebih baik dari apa yang direncanakan. Never Stop Dream. Selamat pagi hari lahir :)

Senin, 17 November 2014

Sepucuk Surat Untuk Sahabat



Seorang sahabat pernah mengirimkan sebuah pesan yang penuh makna. Isi pesan itu adalah: "Sahabat, dengarkanlah sejenak.. Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala .. "Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia, Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami," Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")

 
Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena Mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat." Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku, "Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu." Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu Tentang Allah ta'ala ..Agar aku dapat besamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya.. Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu.. Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu.. Amiin... 

(Cuplikan kajian Ustadz Badru Salam Lc, -hafidzahullah-) Qultu: Terima kasih sahabat.... Semoga Allah mengumpulkan kita didalam Firdaus-Nya.... Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

Sabtu, 27 September 2014

Banyak Kerinduan Saat Hendak Melupakan


Rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja
Benarkah... sedang hilang ?
Benarkah... sedang ditelan dunia ?
Benarkah.......???
Atau ... !!!
Kisah sebuah perjalanan panjang kerinduan

Kamis, 24 Juli 2014

Kini, Ramadhanku Dipenghujung Senja

Sahabat....
Tak lama lagi kita akan berpisah dengan ramadhan..
Laksana bahtera, kini ia perlahan mulai mengangkat jangkarnya dan bersiap untuk berlayar..
11 bulan lamanya dia akan berlayar...
Untuk kemudian berlabuh di hati-hati orang-orang yang beriman..
Ibarat sang surya, perlahan ia mulai tenggelam bersama megah merah di ujung ufuk..
Yang jelas ia masih disini...
Dia belum berlayar ataupun tenggelam..
Untukmu yang selama ini telah mengisi hari-harinya dengan beragam kebaikan, maka sempurnakan amalmu disisa waktu yang ada.
Namun bila sebaliknya, maka perbaikilah amalanmu sebelum ia pergi berlalu...
Ingat.... amalan itu dinilai pada akhirnya.

"Berbuat baiklah disisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu . Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu."

Sekali lagi....
Senja belum berlalu...
Jangkar bahtera juga belum lagi terangkat...
Apa yang kau tunggu...
Bergegaslah...
Lepaskanlah kepergian tamu yang mulia ini dengan amalan terbaik..
Agar imanmu bersemi sepanjang tahun...
Hingga ia kembali dan melabuhkan hikmahnya pada hatimu ditahun yang akan datang...
Sungguh kerugian yang besar bila ramadhan berlalu dan kita tidak termasuk hamba yang diampuni.
Rasulullaah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Celakalah seseorang yang bila namaku disebut disisinya namun ia tidak membaca shalawat untukku,
Celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadhan kemudian meninggalkannya namun ia belum diampuni.
Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya telah menginjak usia lanjut lalu tidak menyebabkannya masuk surga.”
(HR. at-Tirmidzi & Ahmad)

Saudaraku....

Iedul fitri tinggal menghitung hari lagi
Jadilah pemenang disisa waktu yang ada..
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari dan selainnya)

Ibarat lomba... Semua boleh masuk babak penyisihan...
Namun tak semua boleh masuk babak final..

Maka jadilah finalis-finalis ramadhan disaat yang lain mulai berguguran...

Bangkitlah saudaraku....
Hari sudah senja....

Sabtu, 19 Juli 2014

Ingatlah Kebaikannya

“Mata keridhaan, buta terhadap segala aib, tetapi mata kebencian, menampakkan segala keburukan” (Sa’id Hawwa, Al Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus)

Rasanya tak kan ada yang menyangkal bahwa persahabatan itu sangat indah. Betapa tidak, sungguh menyenangkan sekali mempunyai seseorang untuk melewatkan hari-hari, berbagi cerita, serta merasakan suka dan duka bersama-sama. Begitu hebatnya persahabatan ini, hingga seseorang bisa menganggap sahabatnya seperti saudara kandung sendiri, bahkan juga dapat melebihi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa keindahan hidup ini belumlah lengkap tanpa kehadiran sahabat.

Tetapi kadangkala…

Persahabatan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena sang sahabat melakukan hal-hal yang tidak kita suka. Kadang kita merasa, sang soulmate mulai menjauh dan lebih memilih berteman akrab dengan orang lain entah karena alasan apa. Kecewa, marah, dan perasaan merasa diabaikan bercampur aduk menjadi satu. Pepatah “habis manis sepah dibuang” tiba-tiba saja dirasa sesuai dengan keadaan kita.

Kenangan lama tentang sang sahabat tak jarang datang kembali ke benak ini. Akan tetapi yang muncul hanyalah ingatan tentang sisi buruknya saja. Kebencian lalu menuntun kita untuk meneliti kekurangannya satu persatu. Kesalahannya di masa lampau mulai menari-nari di panggung pikiran. Berbagai prasangka yang tak beralasan pun perlahan-lahan menyeruak dan membelenggu akal sehat.

Begitulah. Sahabat yang pada awalnya kita sayangi berubah menjadi orang yang paling ingin kita hindari. Kita menjadi malas berbicara dengannya. Tak ada lagi keinginan untuk menelponnya barang beberapa menit saja. Kita pun tak berkehendak menyapanya lewat sms atau e-mail. Ya, dengan ungkapan lain, kita menjadi alergi dengan keberadaannya, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan biarkan kebencian kita bertahta, wahai kawan!

Memang, kita hanyalah manusia biasa. Adalah hal yang wajar jika kebencian terbit ketika kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai kehendak hati. Tapi ingatlah, tak sedikitpun kita diperintahkan untuk memelihara kebencian. Tidak oleh Allah, tidak oleh para nabi dan rasul-Nya, tidak juga oleh para pecinta-Nya yang sejati. Tak ada satupun. Kebencian adalah bagian dari amarah. Dan bukankah Rasulullah telah berulangkali mewasiatkan supaya ummatnya tidak marah?

Berpikir jernihlah, wahai saudara!

Manusia diciptakan tak hanya dengan kelebihan, tapi juga kekurangan dan kelemahan. Sangatlah tidak mungkin kita menemukan orang yang segala perilakunya sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Maka janganlah membencinya apalagi memutuskan hubungan silaturahim dengannya.

Untuk mengusir rasa benci, mengapa kita tidak mengingat sisi yang baik saja darinya? Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang amanah. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu menepati janji. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu berkata jujur. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dialah pendengar yang baik. Mungkin saja, dia mempunyai kebaikan yang tidak ditemukan pada sahabat kita yang lain… Sekarang, kita hanya perlu membimbing pikiran kita untuk mencari kebaikan-kebaikannya itu.

Masih ada noktah hitam yang menodai hati?

Janganlah biarkan pikiran buruk yang berkuasa. Ingat saja kenangan indah yang lain. Ketika kita merenda hari-hari bersamanya. Ketika kita melakukan banyak hal yang menggembirakan dengannya. Sungguh tiada guna mengingat kenangan yang kurang menyenangkan karena bisa saja timbul prasangka dan pikiran buruk terhadapnya. Dikarenakan itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu, jangan mencari-cari dan mematai-matai kesalahan orang lain, jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain, dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
Masih ada berkas-berkas kebencian yang menyusup di relung hati?

Ayolah, coba ingat yang baik-baik dari dirinya. Tentu ada! Jikalau dia memang bersalah, serahkan saja pada yang Maha Adil. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan membencinya? Bukankah kebencian hanya akan menyuburkan amarah dan perlahan-lahan akan mengotori jiwa? Maka dengarkanlah firman Allah,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)
Dan mengapa kita mesti terpaku dengan “karena nilai setitik, rusaklah susu sebelanga”? Bukankah kita bisa memindahkannya ke belanga yang lebih besar lalu menambahkan lebih banyak susu untuk memperkecil kadar nila dalam campuran itu?

Kemudian, tak ada ruginya untuk menengok sejenak apa yang ada dalam hati kita sekarang. Apa yang menjadi pendorong sewaktu kita menjalin persahabatan dengan orang lain? Adakah kita yakin bahwa kita mengharapkan pujian, penghormatan, ataupun semacam bentuk balasan dari sahabat itu? Sekali lagi, astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan. Buanglah jauh-jauh niat-niat seperti itu. Percayalah, kekecewaan itu muncul karena kita menghadirkan tujuan-tujuan selain-Nya. Sejatinya, tidak ada balasan yang lebih baik selain yang diberikan-Nya. Dan betapa rendahnya kita jika mengharap balasan selain dari-Nya. Maka bersahabatlah karena Allah. Jalinlah hubungan persahabatan jika itu membuat kita makin dekat dengan-Nya. Seandainya kelakuan sang sahabat tidak sesuai dengan harapan, kita akan bisa mengerti bahwa dia hanya seorang ciptaan Allah yang pasti jauh dari kesempurnaan.

Teman, masih ada kebencian yang seadang bersemai?

Tidak usah merusak kebahagiaan kita dengan hal-hal yang buruk. Pikirkan saja sesuatu yang membuat iman kita tidak luntur dan suasana hati menjadi lebih tenang. Dengan begitu, insyaAllah kita akan tetap berada dalam kondisi emosi yang stabil. Maka Alfred Adler, seorang psikiater pun berkata, “Di antara keistimewaan yang paling indah pada manusia adalah kemampuannya mengubah negatif menjadi positif.”

Lalu, mengapa kita tidak mencoba?

Allahu a’lam bish-showab,

Sumber : Klik