Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Rabu, 02 Juli 2014

Menjadilah Indah, Maka Semuanya Akan Terlihat Indah

"I believe, Allah know what's best for me. And I know, Allah will always give the best for my life"

Hadapilah persoalan demi persoalan. Tak boleh lari dari kenyataan, karena lari sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Tegarlah, hadapi dengan baik, tak boleh menyerah dan tak boleh kalah. Sekalipun mereka ingin menjatuhkanmu, meremehkanmu, yang bahkan tidak peduli denganmu dan merasa hebat dengan dirinya. Jadikanlah itibar dari setiap kejadian adalah cermin pribadimu. Tak boleh gentar dengan kekurangan dan kesalahan yang terjadi. Yang terpenting, bertekadlah sekuat tenaga untuk memperbaikinya. Allah tak pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Meskipun nasi telah menjadi bubur, maka yang harus kamu lakukan adalah mencari ayam, cakweh, kacang polong, kecap, seledri, bawang goreng, dan sambal agar bubur ayam spesial tetap dapat kau nikmati. Ikhtiar yang disertai niat yang sempurna itulah tugasmu, perkara apapun yang terjadi serahkanlah sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Yang Terbaik Bagimu. Nikmatilah apa adanya. Raihlah keridhoan Allah. Menangkan impian dan cita-cita akhiratmu.

Selasa, 01 Juli 2014

Beda. Sangat beda. Teramat Sangat Beda



Entah karena apa yang terjanggal dipikirku dari bulan-bulan sebelumnya yang sampai saat ini masih memilih diam tanpa banyak kata dan menuangkannya di catatan diam ponselku beberapa pekan yang lalu. 

Kaki yang berpijak ditanah basah, tetiba mengering. Aku tidak mengerti musim macam apa yang membuatnya seperti ini. Hijau yang telah dijadikannya abu tak terasa lagi keindahannya. Kutelusuri semua penjuru namun tak jua kutemui apa dan kenapa ? Semudahnya saja melepas ikatan, genggaman harapan dan impian yang telah diraih susah payah lalu pergi tiada berita. Ikatan macam apa ini ?, tanyaku.

Dirimu tak lagi dahulu. Beda. Sangat Beda. Teramat sangat beda. Jalan yang dirimu tempuh itu semakin baik, semakin mengenal Allah dan aku bangga akan hal itu tapi tak lagi mengingat sama sekali sosok diriku, siapa aku bagimu. Tanggapanku yang dulunya dirimu kata diatas angkot dalam pertemuan tak disengaja dan yang sesingkat-singkatnya “maaf, saya tidak sering sapaki di dunia maya” jawab diriku “tidak mengapa saya juga tidak sering OL”, hanya itulah diriku ucap sebab diriku tahu pasti bentuk alasannya, dirimu tentu tahu alam maya bukanlah suatu penghalang untuk kita.

Kutahu segala ingatan dan mengingat-ingatnya membuatmu luka. Sedikit kuingat, surat kaleng yang berisi kata-kata kejudesanku tanpa berfikir-fikir membuatmu luka yang teramat nyeri dan kusadari itu bahwa diriku melakukan kesalahan yang fatal. Dirimu merasa bahwa dirimulah yang teramat luka tanpa tahu diriku pun teramat luka atas kata-kata judesmu pula yang sedikit kutahu dirimu menjudge diriku mengimitasi yang sepenuhnya disalahkan pada diriku, yah tumpahkan saja. Namun, Allah Maha Baik. Tanpa ku minta sekalipun Allah membuatku lebih banyak lupa kesakitan dari sekian kata-kata itu dulu daripada banyak mengingat dan diriku tak ingin memaksa mengingatnya, menyelami ingatan dan berlarut-larut didalamnya. Diriku pun hanya meminta sepotong hati yang baru. Sebab, diriku tak ingin menghilangkan dan terlupa sisa-sisa kenangan indah yang kita punya yang sebagian besar telah terlupa dan walau diriku tahu kenangan indah dihati ini perlahan-lahan akan dihapus oleh ingatan dan oleh dirimu. Tak seperti dulu, bukannya kita saling menguatkan dan saling memahami, malah saling melemahkan dan saling menyalahkan hanya karena menemukan hal-hal kecil yang sama kemudian dibesar-besarkan. Bila kutanya, adakah dirimu juga imitasi hal-hal tertentu terhadap diriku ataupun orang lain tanpa diriku ataupun mereka marah bila terdapat kesamaan atau misalnya dirimu menemukan sebuah kesamaan dirimu dengan orang lain yang memiliki segala unsur kesamaan yang sama halnya dirimu menjudgeku imitasi, apakah dirimu akan menuduhnya dia mengimitasi dari dirimu ?. Hal ini tak pernah pun ku tanya padamu dan diriku cukup diam dengan ini dengan hatiku yang sekarang, dan cukup dirimu yang tahu jawabnya. Tak mengapalah bagi diriku bila itu adalah sebuah kebaikan yang dirimu dapat didiriku untuk dirimu. Bukankah kesamaan kebaikan yang disengaja dan tak disengaja adalah berkah ? Bukannya menggali dan mencari-cari kesalahan, melainkan menutupi sekecil apapun aib saudara (i) kita dan menasehatinya.

OK baiklah, diriku bukanlah tipe pemaksa untuk menjadikannya kembali hijau kita. Diriku hanya mempertahankan sekeping hati rindu buatmu yang telah kutitipkan dan kutebarkan dengan do'a-do’a pada-Nya. Yakinku, jika rindumu merindukanku, kita pasti bertemu di suatu jalan. Sekalipun rindu terlalu lama bagiku, sekalipun rindu tak tersampaikan, sekalipun rindu mematikan setengah ingatan dan hati.

Diriku hanyalah mempertahankan apa yang baik dalam pandanganku dan apa yang baik dalam pandangan agamaku. Itulah dirimu untuk menjadikannya indah di ruang hijau yang kita impikan. Bagiku dalam ukhuwah tak ada yang pergi dari hati, tak ada yang hilang dari sebuah kenangan dan tak ada kata trauma untuk kebaikan mengembalikan ukhuwah kita. Dirimu pasti tahu maksud apa yang kukata. Sebab, tak terlalu mudah tuk sekedar kubahasakan dengan hati. Diriku hanya meraba dinding ruang hijau seberapa dirimu lupa diriku tiada tanya. Sudah diriku kata, alam maya bukanlah suatu penghalang kita. Diriku hanya diam memperhatikan keaktifan dirimu  diduniamu yang sekarang bersama orang-orang yang telah mengenalmu. Lebih memilih menyapa orang yang jauh dibanding orang yang lebih dulu dirimu kenal. Lebih merindukan mereka yang diriku pun tak tahu hatimu merindu sepertiku atau tidak. Entahlah, yang diriku tahu, ruangmu dan ruangku bukanlah kita.

Terasa beda, sangat beda, teramat sangat beda. 
Terlalu gengsi  bercerita kita yang bahkan kini tertutup untuk sekedar tahu menahu. Dirimu tak lagi sesering atau tidak sama sekali menanyaiku dan hanya berbagi sekedar info. Diriku yang pernah mengirim kata hadits dilayar hp-mu dengan perlahan-lahan mengembalikan ruang hijau itu tapi hanyalah berbalas terima kasih tanpa dirimu tak ingin tahu diriku yang merindui dirimu. Beberapa hari yang lalu pun dirimu mengirimiku pesan maaf lahir batin diawal ramadhan, hanya sekedar itu dan pada momen itu. Diriku tahu, dirimu sedang dalam diam tapi jika diam...tandanya dirimu sudah tidak peduli lagi. Dirikupun mengakui bahwa maluku dan gengsiku juga terkadang diatas batas normal untuk sekedar bertanya beritamu semisal, "Hei, sahabat ?, Sibukkah ? Masihkah dirimu merindukanku ?" bahkan diriku sesekali menunggu kedatangan dirimu dengan tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. Mungkin tanyamu, mengapa diriku selalu kutuliskan dan kukata hal yang sama ? Karena disaat kerinduanku memuncak tentang cinta karena Allah, diriku lebih memilih mengenang masa lalu indah saat bersama kita. Dirikupun tak ingin termasuk orang-orang yang dicap oleh Allah yang tidak menunaikan hak terhadap sahabatnya.

“Tidak ada seorang jua pun yang bersahabat dengan orang lain walaupun hanya satu saat sahaja, kecuali ia akan ditanyai pada hari kiamat nanti tentang hak persahabatanya, apakah ia telah menunaikan padanya hak Allah atau tidak.” (Sabda Rasulullah)

Diriku pula memilih dirimu… sebab, Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :
“Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”

Ukhti, dirimu terlalu indah untuk kuhilangkan dalam sebuah kenangan. Diriku hanya cukup diam menanti dirimu siapa aku bagimu dan kembali di ruang hijau kita dulu yang tak lagi terasa beda dalam ukhuwah yang bermakna, kini ataupun nanti. Meskipun, diriku bukanlah deretan orang-orang yang berarti dan dilupa dirimu kini, itu tak membuatku lemah. Apapun bentuk ketidakpedulianmu menemukan sebagian catatan-catatanku disini, tak mengapalah diriku. Sebab, bagiku memaafkan kesalahan adalah bagian dari melupakan tanpa memutuskan silaturahmi dan tanpa berinkubasi. Bukan pada katamu "Memaafkan tidak harus melupakan atau putus silaturahmi.. Tapi adakalanya lebih baik jika kita ber-inkubasi di alam kita masing-masing". Maaf, kata-kata ini ku kutip dari twittermu beberapa bulan lalu. 

Yah, walau dirimu diriku ada sedikit berbeda kata, diriku menghargai keputusanmu. Jika dirimu kata adalah baiknya tanpa kata KITA, katakanlah. Dimasa depan nanti, dirimu diriku akan berhadap-hadapan diatas dipan-dipan yang sama-sama dirindui yaitu di ruang hijau yang setiap orang kata adalah surga (semoga Allah mempertemukan dirimu diriku), aku yakin itu. Untuk segala perlakuan dan perkataan ada banyak alasan yang tersirat yang telah kupahami dari dirimu bahwa itu adalah jenis keterpaksaan. Mungkin, kenangan KITA itu haruslah terbuang. Satu-satunya pemberianmu yang kumiliki hanyalah secarik foto yang tersimpan dan terjaga dalam album. Yah, hanya itu darimu yang ku punya meskipun ingatanku sudah tak cukup kuat untuk mengingat kenangan indah dirimu dan diriku di waktu itu, maka jika dirimu benar-benar berminat tanpa ada gengsi dan keterpakasaan merapatkan jari-jari yang dulu terikat dalam ukhuwah yang indah, kembalilah. Ingatkan diriku dibagian kenangan mana diriku terlupa dan kapan terakhir kali diriku dirimu benar-benar bersama tanpa jeda. Terlupa adalah bagian dari ikhlasku dan mengingat dirimu adalah sahabatku bagian dari yang tak termatikan dihatiku. Meskipun masa lalu, tidak akan pernah menang, karena ia selalu ada di belakang. Jika dirimu mau, marilah menuju masa depan bersama KITA. Segala do'a terbaik untukmu ukhti Aminah.

Semoga Allah selalu menjagamu dimana penjagaanku tidak sampai kepadamu dikala dirimu bersuka lara dan bersuka ria. Jaga kesehatanmu baik-baik terutama detak jantungmu, jangan lupa makan, jangan terlalu sibuk dengan orderanmu, jangan begadang, dan perbanyak mengingat Allah. Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan yang tercapai menjadikan dirimu lebih baik dan indah. Aamiin :).
Diriku hanya bisa berucap lewat beberapa kata yang saat ini dirimu telah temukan sedikit catatan diamku disini. Sebab, tak memuat memori ingatanku yang mungkin suatu saat nanti dirimu atau diriku akan mengingatkan diriku kembali yang tak mampu ucap semua kata dari cerita hati dan terlupa dengan ingatan. Maaf, bila dirimu membaca catatan diamku yang tak benar dan tak sesuai hati dariku. Tegur, nasehati dan katakan padaku jika diriku salah karena persahabatan bukanlah drama :)

Senin, 30 Juni 2014

Dia Temanku Sekaligus Sahabatku



Sewaktu kecil, semasa umurku masih duduk dibangku SD. Aku mengenal rupanya namun aku tak tahu siapa dirinya. Sebab, kami berbeda sekolah yang tepatnya dibelakang sekolahku, satu wilayah dua sekolah. Aku sedikit ingat, semenjak di kelas 6 SD, kelaskuku dan kelasnya yang berbeda sekolah saling bermusuhan yang entah bermula dari mana. Yang kutahu kami saling bersaing dan menantang. Bersaing dalam perlombaan yang tak mau kalah terutama formasi baris berbaris untuk 17 Agustusan. Meskipun, kami begitu banyak peserta selain dari sekolah kami. Menantang, dalam permainan setiap kali jam istirahat. Di daerah kami, permainan ini dinamakan "asing-asing"  hingga yang tak disangka terjadi perkelahian hebat. Aku tidak tahu menahu sebabnya apa, yang pastinya aku juga terlibat didalamnya dan tanpa tahu siapa orangnya yang ku tonjok bagian perutnya karena disaat itu bagaikan perang dunia ke-tiga (Astaghfirullah, masa jahiliyahku yang begitu miris). Masa-masa kami itu masih labil, dimana kami hidup secara berkelompok-kelompok. Ramlah, Nuraeda, Rahmiati, Mariati, Marwah yang dari daerah Ujung Bulo adalah sekelompok teman kelasku yang paling agresif dalam persaingan, permainan dan pertengkaran. Nur Madya, Nurhana, Muliati, Suriati, Hariani, Rosdiana, dan Sukmawati dari daerah Kaemba Jaya termasuk diriku hanyalah sibuk dimana kami berada dimasa perkembangan menuju remaja awal yang pertama kali mengenal yang namanya cinta terhadap lawan jenis. Hehehe, Alhamdulillah, aku masih ingat nama-nama teman SD-ku.

Aku tidak begitu ingat, sahabatku ini yang memiliki nama lengkap St Aminah sudah ada dalam masa-masa yang kami alami atau tidak (hanya dia yang tahu). Setahuku, Aminah adalah orang pindahan dan masuk di sekolah kami sejak kelas 6 SD. Aminah, salah satu anak yang pintar di kelas kami. Dengan bakatnya yang jago menggambar yang dia tunjukkan disaat itulah kami berlomba-lomba ingin mengenali lebih dekat tentangnya. Salah satu kebiasaannya yang kutandai pada saat itu adalah dia selalu menggosok-gosok hidungnya, hehehe. Aku dan dia tidak begitu dekat yang hingga dimasa SMP kelas 2 yang entah karena apa dan atas inisiatif apa kami perlahan-lahan menjadi dekat, seingatku dalam hal prestasi belajar dia menasehatiku agar aku tak dibodoh-bodohi memberikan jawaban ulanganku terhadap teman dudukku sendiri. Katanya, itu bermula sejak kelas 3, akulah salah satu yang berminat dibanding teman dekatnya yang tak mau menemaninya untuk buang air besar di rumahnya ka’ Irma disaat jam belajar sedang berlangsung. Ah, entahlah, aku tak tahu menahu dan tak menyangka saja karena hal ini bisa menjadi awal keakraban kami. Namun, dalam hal ini aku tidak bercerita banyak tentang dia tapi aku senang mengenalnya.

***
Memasuki masa SMP, kami berada dalam 1 sekolah tapi berbeda kelas sampai kami menduduki bangku kelas 3. Sampai saat ini aku belum mengenal baik dirinya. Yang kutahu dari teman-teman yang mengenalnya, dia adalah gadis yang sedikit tomboy dan juga memiliki sekelompok geng didalam kelasnya.

***
Memasuki masa SMA, secara ketidaksengajaan yang lagi-lagi kami berada dalam satu sekolah tapi satu kelas. Namun, saat menduduki kelas 2-3, kami berbeda kelas lagi. Aku IPA 1 dan dia IPA 2. Diawali persaingan dalam prestasi belajar karena ingin lebih menonjol  dan terlihat pintar didalam kelas, berbagai kegiatan membuatku mengenal baik dirinya yang sedikit bermalas-malasan belajar. Dikelas 2, Allah menurunkan hidayah-Nya padanya yang begitu masya Allah hingga semangat keingintahuannya membuatnya giat dan semakin giat belajar yang akhirnya dikenali oleh para guru-guru di sekolah sebab keaktifannya didalam kelas yang berbeda sewaktu kelas 1. Bukan hanya semangat tapi dalam hal berpakaian pun terubah. Jilbab yang kemarinnya kecil yang hanya menutupi sampai leher yang ber-merk-an “al-fajri” menjadi menutupi dada yang sedangkan aku masih dengan style yang terkadang itu-itu saja yang sering diperingatkan oleh tante agar jilbabku lebih menutupi dada dan alhamdulillah, semenjak kelas 3 jilbabku pun menutupi dada dan aku dipanggil dengan gelar “muslimah” oleh teman-teman sekelasku. Dia menganggapku pintar sehingga diapun mengajakku untuk belajar bersama. Padahal, IQku masih dibawah rata-rata dan dialah yang sebenarnya pintar. Hanya dia tak menyadarinya. Berawal dari belajar bersama, diapun sering datang ke rumahku berbagi ilmu dan bertanya tentang hal yang tak diketahuinya membuat kami semakin akrab. Sejak beberapa hari ini, sebelum kulanjutkan ceritaku tentangnya, dia mengaku padaku, "aku mendekatimu karena kamu pintar agar aku bisa banyak mengambil manfaat darimu". Yah, sebelum dia berkata seperti itu. Aku sudah mengetahui dan menyadari lebih dulu diawal mendekatiku. Namun, selama itu kebaikan yang diambil dariku bukanlah keburukan kepribadianku, tidaklah mengapa bagiku. Diapun berkata, "tapi lama-kelamaan aku merasa nyaman menjalin ikatan pertemanan denganmu. Sederhana namun membekas. Semoga dalam ikatan ini tak ada hambatan yang membuat kita jauh satu sama lain.Aamiin", "Aamiin Ya Rabb". Itu katanya sambil menyetir motor sepulang dari menghadiri walimah salah satu teman SMA diwaktu senja.

***
Dimasa perkuliahan, kami terpisah. Sebab, kami mengambil jurusan yang berbeda dan perguruan tinggi yang berbeda pula. Jarang berkomunikasi dan bertemu adalah rindu yang sederhana. Namun, apabila dia punya waktu luang, dia tak lupa berkunjung ke rumahku menanyakan kabar dan berbagi cerita bersama ibuku dan adikku wahdaniah mengenai keadaan kita masing-masing. Meskipun, rumah kami berada dalam satu desa yang tak begitu jauh tapi aku tak sesering dia saling mengunjugi satu sama lain. Adalah nikmat syukur yang teramat indah ketika Allah menghidayahkan kami merasakan manisnya iman didalam majelis-majelis ilmu yang sama-sama kami tempuh selama kuliah. Adalah sebuah keirihatian ketika dia lebih dulu memakai hijab yang menutup seluruh tubuh dengan pemahaman dari tarbiyahnya disatu nama lembaga yang ber-ahlussunnah wal jama'ah, berbeda tempat yang sama-sama kami tempuh dan dengan kemantapan hatinya dia mengabaikan kata orang-orang terhadap perubahan dirinya dibanding diriku yang masih ada sedikit kegentaran hati ketika memakai hijab secara syar'i tapi Alhamdulillah, aku PD alias percaya bahwa inilah syariat Allah sesuai surah Al-Ahzab : 59. Sungguh, masya Allah yang membuatku kagum secara diam-diam padanya. Supel, sederhana, pintar, cerewet dan selalu berusaha lebih baik adalah kepribadiannya yang selama ini telah kukenal dan kini bukan lagi sekedar teman belajar, teman jalan, dan teman cerita tapi teman yang lebih indah dari itu. Hardianti, itulah namanya.

Ini Salah Satu Potretnya Saat Festival Anak Sholeh di Masjid Al-Markas Maros :)

Minggu, 29 Juni 2014

Cela Yang Memalukan




Rasa sesaknya susah sekali hilang. Tadinya, air mata itu rasanya begitu mendesak ingin keluar, tapi saya tidak bisa membiarkan itu. Baik, dengan seuntai senyum saat itu saya hanya menawari diri untuk membantu meringankan kelelahanmu untuk tidak bepergian di dua sekolah tapi jawabnya malah kata lain yang tidak layak lagi diucap dan kudengar kesekian kalinya. Saya hanya tidak menyangka. Harusnya, kata itu tidak terucap lagi. Tapi, sayangnya, kamu terlanjut mengucapkan sederet kata yang dalam sepersekian detik membuat saya terus ingin menangis dan mengingat kata-kata lalu yang sama.. Apakah saya sebegitu menyebalkan dan memalukan sampai kamu harus berkata demikian? sehingga begitu tega kamu membunuh perlahan-lahan cinta dan sayang dari rahimmu. Malu...malu karena memilikiku sedangkan saya bukanlah pelaku dosa yang menelanjangi diri dan masih banyak bentuk lain yang lebih buruk dari saya, maka sadarlah dan bersyukurlah. Beberapa hari mendiamimu dan melihat mataku memerah dan terus bercucur kamu minta maaf, mengaku salah, dan menjelaskan yang kamu kata bahwa itu hanya dirimu cela-cela. Saya memaafkan kamu, kamu tidak salah dan ini bukan salah siapapun, dan saya pun maklum kalau kamu lepas kendali berucap karena lelah dan saya tidak paham situasi. Saya pun sadar dan kamu harus sadar bahwa beginilah adanya bentukku dari Sang Penciptaku Penciptamu. Yah, kali ini saya tidak bisa membuktikan apa-apa tapi lihat nanti, lihat nanti bahwa Penciptaku akan memberikan jenis makhluk yang indah lagi sholeh. Saya diam bukan berarti saya marah dan membenci. Sebab, saya tidak bisa semudah itu melupakan sesuatu yang sangat mengena dan bukan berarti yang kamu ucapkan itu bohong, mungkin saja itu benar, sebagai bentuk akumulasi kemaluan kamu memiki anak perempuan sepertiku.