Pada zaman Aisyah, di tanah Arab belum ada sekolah-sekolah
seperti sekarang. Sebab itu banyak orang tidak pandai menulis atau membaca.
Pandai menulis atau membaca adalah suatu keistimewaan. Islam menganjurkan
setiap orang untuk belajar menulis dan membaca. Dengan berkembangnya Islam,
berkembang pulalah kepandaiana tulis-baca. Nabi sendiri menggiatkan ummatnya
belajar membaca dan menulis.
Aisyah sendiri belajar membaca. Dia belajar membaca Al Quran
dari ayahnya sendiri. Hafshah juga belajar tulis dan baca. Untuk mengembangkan
pelajaran tulis baca, Nabi mengerahkan para tawanan dari perang Badar. Seorang
tawanan bisa mendapat kemerdekaannya kembali, setelah dapat mengajar sepuluh
orang Muslimm, sampai pandai menulis dan membaca.
Abu Bakar pada dasarnya seorang yang pandai bicara. Dia ahli
pidato. Dia juga ahli dalam ilmu ranji atau asal usul nenek moyang. Kepandaian
Abu Bakar ini, banyak sedikitnya juga turun kepada anaknya Aisyah. Kepandaian
membaca Al Quran memberi pengaruh kepada pribadi Aisyah, terutama dalam hal
sopan santun dan budi pekerti. Islam mengutamakan budi pekerti dan akhlak
mulia. Tinggi rendahnya derajat seseorang ditentukan oleh pengabdiannya kepada
Allah.
Keajaiban besar dalam kemajuan sejarah yang dibawa oleh
Rasulullah saw ialah perobahan besar-besaran dalam pribadi berjuta-juta
manusia. Pendidikan Aisyah yang lebih tinggi terletah dalam asuhan Rasulullah
saw. Sedangkan Rasulullah saw adalah seorang guru terbesar dalam sejarah
kemanusiaan. Aisyah dididik denga suatu cita-cita tertentu. Nabi membentuk
pribadi dan jiwa Aisyah sebagai wanita setia, yang bertaqwa kepada Allah, dan
wanita yang akan menerangkan ajaran Islam kepada wanita-wanita lain.
Dengan hasrat yang menakjubkan, Aisyah menunjukkan seluruh
bakatnya untuk menyempurnakan pendidikannya. Setiap kebajikan manusia, terdapat
penyempurnaannya dalam pribadi Muhammad saw. Aisyah tertarik dan tenggelam
dalam pribadi mulia yang tidak ada bandingannya itu. Ini adalah suatu
kesempatan baik. Dan kesempatan ini, menjadi satu kebahagiaan yang diberikan
kepadanya. Dia mengambil kesempatan ini, dan mempergunakan sebaik-baiknya untuk
menyempurnakan pendidikannya, menjadi wanita luhur dan bertaqwa.
Pikiran Aisyah selalu penuh dengan pelbagai masalah baru.
Masalah baru ini dapat dipecahkannya dengan mengajukanpertanyaan-pertanyaan
kepada Nabi. Salah satu pintu kamarnya berhadapan dengan masjid. Jika
Rasulullah saw bertabligh menyampaikan ajarannya dalam masjid, Aisyah duduk di
muka pintunya, mengikuti kuliah Nabi itu. Dia mendengarkannya dengan seksama.
Setiap perkataan Rasulullah saw dimintainya dan dianalisanya. Dengan mengikuti
kuliah-kuliah yang tidak resmi ini, Aisyah menjadi seorang wanita yang sangat
alim dan pandai. Dia menjadi murid Rasulullah saw yang mempunyai pengetahuan
yang luas dan pengertian yang mendalam.
Dalam ilmu Al Quran dan hadits sedikit sekali sahabat yang bisa
menyamai Aisyah. Semangat Aisyah untuk menyelidiki sesuatu masalah, memberikan
sumber ilmu yang tetap kepada Islam. Pertanyaan-pertanyaannya kepada Anbi
memberikan keterangan atau perbagai masalah yang rumit-rumit, terutama masalah
kewanitaan.
Salah satu conton di antaranya, Al Quran menyatakan bahwa
berperang di jalan Allah adalah suatu kewajiban bagi setiap orang Muslim. Atas
masalah ini suatu hati Aisyah mengajukan pertanyaan kepada Rasululllah saw,
Wahai Rasulullah, wajibkan bagi seorang wanita untuk pergi ke medan perang
seperti laki-laki?
Rasulullah
menjawab, Tidak, naik haji sudah cukup bagi mereka.
Pertanyaan
Aisyah ini telah memberikan pengetahuan penting, yakni pengecualian kepada
wanita terhadap hukum jihad yang dikemukakan dalam Al Quran.
Suatu
hari Aisyah bertanya pula, Ya Rasulullah, perlukah persetujuannya seorang
wanita itu sebelum dia dikawinkan?
Rasulullah
menjawab, Anak perawan diberi tahu dan wanita janda dimintai persetujuannya.
Nabi melanjutka, Diamnya mereka berarti persetujuan.
Kata-kata
Rasulullah saw ini menjadi suatu ketentuan hukum baru. Jika orang diam saja
terhadap suatu masalah yang diajukan kepadanya, dia dianggap menyetujui masalah
itu.
Pada
suatu hari Rasulullah berkata, Allah menyukai orang yang suka menemuiNya, dan
tidak menyukai orang yang tidak suka menemuiNya.
Atas
masalah yang sulit ini Aisyah menyatakan, Ya Rasulullah, tetapi tidak ada orang
yang suka mati. Ya, itupun benar. Kata Rasulullah saw. Tetapi menurut
pendirianku, masalahnya adalah sebagai berikut. Jika seoragn telah sadar akan
kemurahan hati Allah, dan tahu bahwa Allah pengampun, penyayang dan mempunyai surga,
dia akan mulai mencintai Allah di atas segala kecintaannya. Allah pun akan
mencintainya pula. Tetapi, jika seseorang mendengar bahwa ada azab yang pedih
disediakan untuknya, dia akan takut berhadapan dengan Allah. Allah pun tidak
suka kepadanya.
Pada suatu hari, Rasulullah saw menerangkan. Ikutilah jalan
tengah. Usahakan untuk membawa rakyat lebih dekat kepadamu. Katakan kepada
mereka, bahwa mereka akan masuk surga, tidak hanya semata-mata atas pahala yang
dibuatnya saja, tetapi juga atas karunia Allah. Pernyataan Nabi ini terasa aneh
bagi Aisyah. Sebai itu dia mengajukan pertanyaan, Berlaku jugakan hal ini
terhadap diri Tuan?
Rasulullah menjawab, Ya, hal ini berlaku juga terhadap diriku.
Aku juga harus berdoa untuk mendapatkan kasih sayang dan pengampunan Allah.
Suatu
kali Aisyah berkata mengenai madunya Syafiayah. Wah, dia itu perempuan cebol.
Mendengar ini Rasulullah saw menegur Aisyah, Hai Aisyah, kau mengatakan
sesuatuayng bisa membusukkan air laut.
Maafkan
daku, Ya Rasulullah, Aku hanya mengatakan suatu kenyataan.
Suatu hari ada barang Aisyah dicuri orang. Karena marahnya,
Aisyah menyumpah-nyumpah orang yang mencuri itu. Mendengar Aisyah menyumpahi
pencuri, Rasulullah saw berkata, Aisyah, janganlah kamu mengambil alih dosa
pencuri itu dengan menyumpahinya.
Aisyah mendapat pendidikan akhlak seperti ini, siang dan malam.
Aisyah hidup di bawah pengawasan guru terbesar di dunia ini, dalam waktu 9
tahun. Sebab itulah Aisyah menjadi seorang alim, saleh dan bertaqwa.
Aisyah adalah satu-satunya wanita yang masih gadis, ketika
dikawini Rasulullah saw. Istri-istri beliau yang lain semuanya janda, sebab itu
mereka telah pernah mendapat pengajaran dari suaminya terdahulu. Tetapi Aisyah
memasuki rumah tangga Rasulullah denga jiwa yang putih bersih laksana secarik
kertas baru. Dia punya pikiran yang mudah patuh. Perbedaan ini sangat penting.
Kepribadian Rasulullah saw yang menarik itu, cukup mempunyai tenaga untuk
membentuk hati dan rohani seseorang. Hati dan rohani Aisyah mendapat
pembentukan menurut irama ajaran Nabi. Hasil yang memuaskan ini mendapat pujian
istimewa dari Rasulullah saw. Rasulullah saw juga percaya, bahwa Aisyah akan
memainkan peranan penting dalam perjuaannya Islam sesudah beliau wafat.
Demikian semoga tulisan ini memberi hikmah betapa pentingnya
pendidikan bagi seorang muslimah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar