"mengapa
belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa
aku kaubahagiakan
meskipun
kau telah banyak berusaha
meskipun
aku
juga
telah keras berusaha?
mengapa
belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah
sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu
banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus
menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita
malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa
mungkin karena itu?
karena
kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?
dalam
sebuah film, pernah aku dengar,
“kau
tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak
menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya?
atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
....
gagal?
lalu
apa yang harus kita lakukan?
apa
sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus
kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?
apa
harus begini hidup kita, bu?
bukankah
tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku,
hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun
dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu
mengapa kau masih menangis?
mengapa
aku masih menangis?
mengapa
kita terus saja menangis?
apakah
di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum
karena terlalu terburu-buru?
apakah kita
lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?
***
By : Azure Azalea
1 komentar:
buu..assalamu alaikum
Posting Komentar