Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Senin, 29 Desember 2014

Waktu Sulit, Kesalahan atau Resiko

Dua hari yang lalu, aku mengikuti tes psikotes di salah satu Rumah Sakit yang ada di Makassar. Dalam salah satu tes tersebut kita diminta untuk menceritakan apa yang pernah kita alami sebelumnya dari dua pilihan pertanyaan itu. Kita diminta untuk memilih salah satunya, apakah bercerita mengenai kesalahan terbesar dalam bekerja atau apakah resiko terbesar dalam bekerja dan bagaimana hasilnya ? . Saat itu, aku tidak tahu harus bercerita apa didalamnya. Akupun tak tahu apakah tes ini adalah kali kedua yang kujawab atau baru kali ini berhadapan dengan tes pertanyaan semacam itu. Tapi aku merasa bahwa itu adalah yang kali kedua aku diminta untuk bercerita mengenai kesalahan dan resiko dalam menghadapi tes tersebut. Seingatku dalam tes kemarin,  aku memilih poin kedua yaitu resiko terbesar yang pernah kualami dalam bekerja. Sebelumnya, aku belum pernah benar-benar bekerja dalam mengerjakan sesuatu dengan mengalami kesalahan (salah: banyak) dan menghadapi resiko terbesar didunia kerja karena aku memang belum mempunyai pekerjaan ataupun pengalaman kerja yang harus benar-benar kuceritakan. Jadi, aku tidak tahu bercerita apa dan bagaimana dengan menguraikan bahasa hati dan pikiranku yang tidak sinkron saat itu. Aku hanya bercerita mengenai tugas akhirku sebagai mahasiswa semasa kuliah dulu yang harus ku jelajahi salah satu Rumah Sakit di Makassar untuk mendapatkan hasil rekam medis pasien dengan membayar Rp. 100. 000,- , naik turun tangga dan mengelilingi kampus dan fakultas menemui Pembimbing I dan II mengenai judul dan apa yang harus kulakukan sebagai anak bimbingannya yang kemudian menyempurnakan sebuah judul menjadi sebuah proposal sebelum mempresentasikan di Seminar Proposal. Proposalku pun sudah jadi yang sebelumnya telah disetujui oleh Pembimbingku dan telah kupersiapkan berbagai senjata untuk berhadapan dengan berbagai penguji. Tapi, sebelum itu aku diminta untuk mengganti judul dan memulai dari awal karena Pembimbingku menginginkan tempat penelitianku harus di Puskesmas, bukan di Rumah Sakit. Otomatis, aku harus mengganti judul skripsiku dan kembali menjelajahi salah satu Puskesmas di daerahku untuk mengambil rekam medis pasien yang sungguh sangat rumit orang-orang yang kutemui disana. Memulai dari awal lagi adalah pekerjaan terberatku jikalau aku sedang dikejar waktu. Yah, saat itu aku sedang mengejar waktu ujian seminar proposal. Jikalau tidak berada dalam waktu itu, maka di semester depan baru aku bisa ikut ujian skripsi dan wisuda sedangkan teman-temanku yang lain telah menuju proses itu. Ingin berontak dengan waktu yang minim saat itu. Ingin menyalahkan orang tapi aku sadar bahwa ini sepenuhnya adalah kesalahanku sendiri, bukan siapa-siapa. Dan apa yang kuceritakan diatas kertas jawaban psikotes itu sangatlah bertele-tele dan bahasanya kurang sinkron untuk mencukupkan dalam 18 baris karena saat itu sedang mengejar waktu dan cerita diharuskan maksimal 18 baris dan boleh lebih dari itu.
            Sepulang dari tempat tes tersebut, aku selalu terpikirkan bahwa apa yang kuceritakan itu benar-benar tidak sinkron dengan pertanyaan dan jawaban yang kuberikan, berbeda jauh dengan apa yang kuceritakan disini. Bahkan disaat cuci piring dan mencuci pakaian, aku terpikirkan hal itu, melamun dan kemudian mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku tentang apa yang seharusnya kuceritakan diatas kertas jawaban itu. Iya, pikiranku itu baru benar-benar sinkron dengan hatiku apabila aku sedang mencuci piring, mencuci pakaian, menjelang tidur malam dan sehabis sholat sambil melamun, menghirup udara dan menghela nafas (itulah waktu-waktu keramatku untuk berpikir panjang. Hehehe). Mungkin lagi, lagi dan lagi aku tidak lulus dalam tes psikotes karena aku memang tidak begitu kuat dengan tes yang semacam itu meskipun seberapapun aku belajar dan berusaha menyelesaikannya sendiri (mudah-mudahan aku lulus. Aamiin).

            Flashback zaman SMA, aku dan teman-temanku duduk berkumpul bercerita mengenai apa cita-cita kami kedepannya setelah lulus. Sebelumnya, aku tidak pernah terpikirkan aku akan jadi apa dengan cita-cita seperti apa. Karena setiap kali ditanya oleh guru dan mengisi biodata yang menanyakan tentang cita-cita, kujawab saja bahwa cita-citaku adalah menjadi guru. Aku tidak yakin dengan jawabanku itu, apakah itu benar-benar keinginanku atau hanya sebagai formalitas diatas kertas saja. Sebab, aku seringkali berpikir bahwa dalam keluargaku, tante, om, sepupu dan kakakku sudah banyak menjadi guru, aku harus berbeda dengan mereka, tapi aku tidak tahu cita-cita seperti apa karena pengetahuan dan pergaulanku dizaman SMA sangat minim dan kolot meskipun aku sering mendapat prestasi dalam hal teori. Hingga teman-temanku pun menceritakan apa yang menjadi cita-cita mereka. Kebanyakan yang memilih cita-cita menjadi seorang perawat. Aku tidak begitu tahu mengenai seperti apa itu perawat, penggambaranku minim tapi yang kutahu bahwa perawat adalah orang yang bekerja dibidang kesehatan. Berdasar dengan cerita teman-temanku, akupun tertarik dengan bidang itu dan selulus dari dunia SMA, akupun mendaftar di berbagai Perguruan Tinggi dan mengikuti berbagai seleksi untuk melulusi diri belajar mengenai bidang keperawatan. Akupun lulus di Perguruan Tinggi swasta di Maros yang kemudian mengikuti ospek sebagai mahasiswa baru. Pada saat pengospekan, aku juga dinyatakan lulus di Perguruan Tinggi Negeri yaitu universitas ternama yang ada di Makassar, Universitas Hasanuddin. Akupun mengundurkan diri di Akademi Keperawatan dan memilih Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai labuhan terakhirku didunia pendidikan. Itupun, itu saran dari kakakku bahwa selain ternama, pembayaran SPP-nya juga murah. Lagipula, kebutuhan ekonomi kami juga minim, mana sanggup aku membayar SPP di Akademi Keperawatan. Namun, di Unhas aku tidak berada dibidang keperawatan melainkan di bidang ilmu kesehatan masyarakat karena yang menjadi pilihan pertamaku sewaktu mendaftar di Perguruan Tinggi tersebut adalah ilmu kesehatan masyarakat (pilihan kedua, ilmu keperawatan dan pilihan ketiga, MIPA) dan aku lulus dibidang itu meskipun aku tidak tahu mengenai ilmu kesehatan masyarakat dan seperti apa kedepannya. Pada saat itu, aku tidak peduli apa itu kesehatan masyarakat, yang penting adalah keperawatan dan ilmu kesehatan masyarakat sama-sama berada di bidang kesehatan dan aku tidak ingin membebani terlalu banyak pada orang tua dan kakakku mengenai SPP-nya yang Alhamdulillah selama perkuliahan cukup membantu keuanganku karena setiap 3 bulan aku mendapat beasiswa. Sekalipun, aku mengkhawatirkan perkataan orang-orang bahwa lowongan kerja untuk lulusan kesehatan masyarakat itu minim. Akan tetapi aku lebih mengkhawatirkan dengan jilbab yang ku kenakan jikalau akau memasuki dunia kerja yang tidak membolehkan memakai jilbab syar'i. Meskipun begitu, itulah bagian dari keindahannya yang menjadi tantangan untuk diriku dan mempertahankan apa yang menjadi prinsipku.

            Melalui berbagai proses perkuliahan sebagai mahasiswa di Kampus Merah, aku lulus dengan menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada pertengahan Tahun 2013, 3 tahun 8 bulan. Kini, aku sedang dalam pencarian masa depan yang sungguh betapa sulit dan rumit meraihnya dalam dunia kerja. Teringat nasehat dan keinginan ibuku bahwa sebaiknya aku menjadi seorang guru, tapi saat itu aku bersikeras menjelajahi pengetahuan dunia kesehatan. Teringat juga, keluhan dari sahabatku tiga hari yang lalu saat kubantu memeriksa lembar jawaban siswanya dengan mengatakan bahwa dia ingin berhenti jadi seorang guru, menjadi guru itu sulit dan ribet mengurusi nilai-nilai siswa. Mendengar keluhannya itu, aku terdiam sejenak dan mengatakan padanya bahwa memang begitu adanya dalam dunia kerja, sulit dan mudah (tambahan: benar dan salah, baik dan buruk) selalu beriringan, tergantung dari diri kita sendiri bagaimana memaksimalkan dan meminimalisirnya, yang akupun sendiri ingin berada dalam posisinya menjadi seorang guru dan sebaliknya dia juga ingin berada dalam posisiku tapi dia tak menyesali itu dengan perjalanan hidupnya yang sekarang. Jika mengingat itu, terkadang aku menangisi pilihanku sendiri, menangisi segala kekuranganku. Aku sempat berpikir bahwa apa yang menjadi pilihanku hanyalah sekedar ikut-ikutan saja dengan berdasar pada cerita dan cita-cita teman-teman SMA-ku dulu atau memang keinginan dari hatiku. Entahlah, aku tak mau berlama-lama berada dalam zona pemikiran seperti itu karena pasti ujung-ujungnya akan menyudutkan diriku dan membuat tak berdaya.
            Mungkin inilah bagian dari kesalahan (salah: dosa) terbesarku sekaligus resiko terbesar dalam hidupku yang harus kulalui dengan berjalan dan berlari mencapai tujuan yang benar-benar ingin kucapai yaitu salah satu utamanya adalah membuat bangga dan membahagiakan orang tua.

Bagaimana hasilnya ?
            Sampai saat ini, aku belum bisa memastikannya. Sebab, aku masih berproses menapaki lika-liku kehidupan dan hanya Allah sebaik-baik penolong dan pelindung yang menjadi satu-satu-Nya tempat curahan terbaikku. Baik atau buruk bagiku, aku bertawakkal pada Allah atas apa yang Dia tetapkan dan takdirkan pada diriku dengan berharap Allah memberikan yang terbaik untuk diriku. Karena seberapapun ku bermimpi, mimpi tetaplah mimpi yang jika ku terbangun dari mimpi dengan kehidupan yang kujalani sekarang tetaplah nyata.

            Jika aku bisa memutar waktu, akan kuperbaiki kesalahanku dan melakukan apa yang tidak bisa kulakukan dulu. Tapi mustahil memutar waktu, meskipun begitu, dimasa ini aku ingin tetap melakukan yang terbaik dalam hidupku dan menjadi manusia yang memberi manfaat (“sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”. (HR. Bukhari Muslim)), melakukan apa yang harus kulakukan, mewujudkan apa yang ingin kuwujudkan, dan memperbaiki apa yang menjadi kesalahanku. Ini hanya masalah waktu. Semoga di hari esok, bulan dan tahun akan segera lebih baik dari hari kemarin yang bukan hanya sekedar mimpi dan bukan sekedar kata-kata. Aamiin. “Think big, feel strong, and pray hard for deep heart, never stop dream”.


“Assalamu ‘Alaikum, pemeriksa jawaban psikotesku. Inilah jawabanku yang selengkapnya. Anda bisa menilaiku dari tulisanku ini”.

Jumat, 21 November 2014

November Wish



Bismillah…
Kembali bertemu November. Dan November pun tinggal separuh. Ku biarkan tahun-tahun berjalan menggerus ingatanku. Selapis-selapis harapan, impian, keinginan dan kebutuhan menipis dibenakku. Namun, tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak.

Entah, tapi aku seperti menemukan diriku sendiri saat sedang bergumul dengan duniaku. Menikmati dunia ini, seperti menemukan diriku yang hilang dan ditenggelamkan oleh waktu. Meski terkadang aku hendak mengutuk dan mengeluh apa yang tersaji di hadapanku. Berupa ritual aneh yang harus aku lakukan untuk merayakan semuanya sendiri. Mengapa sendiri ? Entahlah. Sebab aku masih sukar mengerti dengan keadaan yang takdirkan padaku. Terkadang aku masih kerap merasa sendiri atau sepi dalam keramaian. Seperti ada sesuatu hal yang hilang, atau banyak hal yang lenyap dan membuatku terpekur. Malangnya, aku masih saja mau bersahabat dengan semua keadaan ini. Jujur aku jengah. Di satu waktu yang membuatku geram pada duniaku. Banyak hal yang tak begitu menyenangkan dihadapkan padaku, meski sering kali aku menyabarkan diri yang kumiliki dengan bangun untuk rutinitas harian yang tak berubah dan mengubah duniaku. Namun, terjadwal rapi untuk selalu kukerjakan seperti hari-hari sebelumnya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Lagi, usai sholat subuh dengan menyelesaikan beberapa lembar ayat Al-Qur’an. Pagi-pagi sekali, aku berhadapan dengan setumpuk piring, sekeranjang cucian, dan menyapu halaman rumah serta terkadang beberapa bisnis kecil-kecilan yang mencukupi waktu luangku. Dalam rutinitas yang kukerjakan terkadang disela waktu dan disudut ruang membuat air mataku menetes yang membuat aku malu dan begitu kasihan dengan kedua orang tuaku. Sebab, aku masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mencukupi kebutuhan keluargaku. Karena persyaratan dunia kerja yang begitu menyulitkan untuk menempati beberapa lowongan yang menjadi rebutan ribuan orang. Lagi, aku termasuk orang yang gagal meraihnya. Qadarallah. Sungguh, aku bosan dan jengah dengan lakon yang menoton saat angan tiada henti menciptakan keinginan tapi hampa. Kegagalan yang berperan seakan menertawakan kebodohan gelagat jiwa yang terus melenggang, mengejar waktu tapi semu. Tapi setidaknya, aku sudah berusaha dan cukup kuserahkan pada-Nya. Tatkala sepi mengajarkan pada sebuah ketegaran dan kedewasaan yang menyingkapkan kebahagiaan dan kelukaan dengan memilah antara mengarungi jalan bersama atau melewati hari dengan sendiri. Waktupun silih berganti, akupun masih disini berkilah dengan keadaan. Lalu aku harus apa ?. Perjalanan ini harus ku lanjutkan meski cahaya jauh didepan mata. Allah, aku telah melangkah dengan tegap. Izinkan aku melewati waktu mengais mimpi. Karena ada keluarga, teman dekat dan saudara yang tak pernah lari dariku ingin kubahagiakan.

Di November ini. Semoga tak ada alasan untuk menenggelamkan diri lagi di tahun ini. Aku benar-benar ingin kembali. Kembali menggeluti dunia yang membuatku merasa berarti dalam memaknai diri. Alhamdulillah atas segala kemudahan dan nikmat yang diberikan oleh Allah. Meski situasi dan kondisi masih bentrok dengan berbagai kesulitan, tapi tetap optimis bahwa semua adalah yang terbaik dari Allah. Karena segala cerita telah tersistematis dalam skenario-Nya. Berusaha untuk selalu husnudzhon pada setiap ketetapan Allah, pada waktunya semua akan indah dan jauh lebih baik dari apa yang direncanakan. Never Stop Dream. Selamat pagi hari lahir :)

Senin, 17 November 2014

Sepucuk Surat Untuk Sahabat



Seorang sahabat pernah mengirimkan sebuah pesan yang penuh makna. Isi pesan itu adalah: "Sahabat, dengarkanlah sejenak.. Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala .. "Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia, Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami," Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")

 
Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena Mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat." Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku, "Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu." Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu Tentang Allah ta'ala ..Agar aku dapat besamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya.. Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu.. Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu.. Amiin... 

(Cuplikan kajian Ustadz Badru Salam Lc, -hafidzahullah-) Qultu: Terima kasih sahabat.... Semoga Allah mengumpulkan kita didalam Firdaus-Nya.... Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

Sabtu, 27 September 2014

Banyak Kerinduan Saat Hendak Melupakan


Rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja
Benarkah... sedang hilang ?
Benarkah... sedang ditelan dunia ?
Benarkah.......???
Atau ... !!!
Kisah sebuah perjalanan panjang kerinduan

Kamis, 24 Juli 2014

Kini, Ramadhanku Dipenghujung Senja

Sahabat....
Tak lama lagi kita akan berpisah dengan ramadhan..
Laksana bahtera, kini ia perlahan mulai mengangkat jangkarnya dan bersiap untuk berlayar..
11 bulan lamanya dia akan berlayar...
Untuk kemudian berlabuh di hati-hati orang-orang yang beriman..
Ibarat sang surya, perlahan ia mulai tenggelam bersama megah merah di ujung ufuk..
Yang jelas ia masih disini...
Dia belum berlayar ataupun tenggelam..
Untukmu yang selama ini telah mengisi hari-harinya dengan beragam kebaikan, maka sempurnakan amalmu disisa waktu yang ada.
Namun bila sebaliknya, maka perbaikilah amalanmu sebelum ia pergi berlalu...
Ingat.... amalan itu dinilai pada akhirnya.

"Berbuat baiklah disisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu . Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu."

Sekali lagi....
Senja belum berlalu...
Jangkar bahtera juga belum lagi terangkat...
Apa yang kau tunggu...
Bergegaslah...
Lepaskanlah kepergian tamu yang mulia ini dengan amalan terbaik..
Agar imanmu bersemi sepanjang tahun...
Hingga ia kembali dan melabuhkan hikmahnya pada hatimu ditahun yang akan datang...
Sungguh kerugian yang besar bila ramadhan berlalu dan kita tidak termasuk hamba yang diampuni.
Rasulullaah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Celakalah seseorang yang bila namaku disebut disisinya namun ia tidak membaca shalawat untukku,
Celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadhan kemudian meninggalkannya namun ia belum diampuni.
Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya telah menginjak usia lanjut lalu tidak menyebabkannya masuk surga.”
(HR. at-Tirmidzi & Ahmad)

Saudaraku....

Iedul fitri tinggal menghitung hari lagi
Jadilah pemenang disisa waktu yang ada..
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari dan selainnya)

Ibarat lomba... Semua boleh masuk babak penyisihan...
Namun tak semua boleh masuk babak final..

Maka jadilah finalis-finalis ramadhan disaat yang lain mulai berguguran...

Bangkitlah saudaraku....
Hari sudah senja....

Sabtu, 19 Juli 2014

Ingatlah Kebaikannya

“Mata keridhaan, buta terhadap segala aib, tetapi mata kebencian, menampakkan segala keburukan” (Sa’id Hawwa, Al Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus)

Rasanya tak kan ada yang menyangkal bahwa persahabatan itu sangat indah. Betapa tidak, sungguh menyenangkan sekali mempunyai seseorang untuk melewatkan hari-hari, berbagi cerita, serta merasakan suka dan duka bersama-sama. Begitu hebatnya persahabatan ini, hingga seseorang bisa menganggap sahabatnya seperti saudara kandung sendiri, bahkan juga dapat melebihi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa keindahan hidup ini belumlah lengkap tanpa kehadiran sahabat.

Tetapi kadangkala…

Persahabatan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena sang sahabat melakukan hal-hal yang tidak kita suka. Kadang kita merasa, sang soulmate mulai menjauh dan lebih memilih berteman akrab dengan orang lain entah karena alasan apa. Kecewa, marah, dan perasaan merasa diabaikan bercampur aduk menjadi satu. Pepatah “habis manis sepah dibuang” tiba-tiba saja dirasa sesuai dengan keadaan kita.

Kenangan lama tentang sang sahabat tak jarang datang kembali ke benak ini. Akan tetapi yang muncul hanyalah ingatan tentang sisi buruknya saja. Kebencian lalu menuntun kita untuk meneliti kekurangannya satu persatu. Kesalahannya di masa lampau mulai menari-nari di panggung pikiran. Berbagai prasangka yang tak beralasan pun perlahan-lahan menyeruak dan membelenggu akal sehat.

Begitulah. Sahabat yang pada awalnya kita sayangi berubah menjadi orang yang paling ingin kita hindari. Kita menjadi malas berbicara dengannya. Tak ada lagi keinginan untuk menelponnya barang beberapa menit saja. Kita pun tak berkehendak menyapanya lewat sms atau e-mail. Ya, dengan ungkapan lain, kita menjadi alergi dengan keberadaannya, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan biarkan kebencian kita bertahta, wahai kawan!

Memang, kita hanyalah manusia biasa. Adalah hal yang wajar jika kebencian terbit ketika kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai kehendak hati. Tapi ingatlah, tak sedikitpun kita diperintahkan untuk memelihara kebencian. Tidak oleh Allah, tidak oleh para nabi dan rasul-Nya, tidak juga oleh para pecinta-Nya yang sejati. Tak ada satupun. Kebencian adalah bagian dari amarah. Dan bukankah Rasulullah telah berulangkali mewasiatkan supaya ummatnya tidak marah?

Berpikir jernihlah, wahai saudara!

Manusia diciptakan tak hanya dengan kelebihan, tapi juga kekurangan dan kelemahan. Sangatlah tidak mungkin kita menemukan orang yang segala perilakunya sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Maka janganlah membencinya apalagi memutuskan hubungan silaturahim dengannya.

Untuk mengusir rasa benci, mengapa kita tidak mengingat sisi yang baik saja darinya? Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang amanah. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu menepati janji. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu berkata jujur. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dialah pendengar yang baik. Mungkin saja, dia mempunyai kebaikan yang tidak ditemukan pada sahabat kita yang lain… Sekarang, kita hanya perlu membimbing pikiran kita untuk mencari kebaikan-kebaikannya itu.

Masih ada noktah hitam yang menodai hati?

Janganlah biarkan pikiran buruk yang berkuasa. Ingat saja kenangan indah yang lain. Ketika kita merenda hari-hari bersamanya. Ketika kita melakukan banyak hal yang menggembirakan dengannya. Sungguh tiada guna mengingat kenangan yang kurang menyenangkan karena bisa saja timbul prasangka dan pikiran buruk terhadapnya. Dikarenakan itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu, jangan mencari-cari dan mematai-matai kesalahan orang lain, jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain, dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
Masih ada berkas-berkas kebencian yang menyusup di relung hati?

Ayolah, coba ingat yang baik-baik dari dirinya. Tentu ada! Jikalau dia memang bersalah, serahkan saja pada yang Maha Adil. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan membencinya? Bukankah kebencian hanya akan menyuburkan amarah dan perlahan-lahan akan mengotori jiwa? Maka dengarkanlah firman Allah,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)
Dan mengapa kita mesti terpaku dengan “karena nilai setitik, rusaklah susu sebelanga”? Bukankah kita bisa memindahkannya ke belanga yang lebih besar lalu menambahkan lebih banyak susu untuk memperkecil kadar nila dalam campuran itu?

Kemudian, tak ada ruginya untuk menengok sejenak apa yang ada dalam hati kita sekarang. Apa yang menjadi pendorong sewaktu kita menjalin persahabatan dengan orang lain? Adakah kita yakin bahwa kita mengharapkan pujian, penghormatan, ataupun semacam bentuk balasan dari sahabat itu? Sekali lagi, astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan. Buanglah jauh-jauh niat-niat seperti itu. Percayalah, kekecewaan itu muncul karena kita menghadirkan tujuan-tujuan selain-Nya. Sejatinya, tidak ada balasan yang lebih baik selain yang diberikan-Nya. Dan betapa rendahnya kita jika mengharap balasan selain dari-Nya. Maka bersahabatlah karena Allah. Jalinlah hubungan persahabatan jika itu membuat kita makin dekat dengan-Nya. Seandainya kelakuan sang sahabat tidak sesuai dengan harapan, kita akan bisa mengerti bahwa dia hanya seorang ciptaan Allah yang pasti jauh dari kesempurnaan.

Teman, masih ada kebencian yang seadang bersemai?

Tidak usah merusak kebahagiaan kita dengan hal-hal yang buruk. Pikirkan saja sesuatu yang membuat iman kita tidak luntur dan suasana hati menjadi lebih tenang. Dengan begitu, insyaAllah kita akan tetap berada dalam kondisi emosi yang stabil. Maka Alfred Adler, seorang psikiater pun berkata, “Di antara keistimewaan yang paling indah pada manusia adalah kemampuannya mengubah negatif menjadi positif.”

Lalu, mengapa kita tidak mencoba?

Allahu a’lam bish-showab,

Sumber : Klik

Senin, 14 Juli 2014

Dimas Anggara (Ost. DDS) - Cinta Bukan Drama Versi Acoustic

 Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh
Hai #RifaLovers #DimskiLovers #DDSlovers #PringerLovers #LeleLovers #BammiLovers
Kita berjumpa lagi... disini, di my blog. :)

Pernah saya katakan bahwa Diam-Diam Suka adalah satu-satunya sinetron yang membuat saya menjadi korban sinetron. Entah, karena hal apa yang membuat saya tertarik dengannya. Seolah saya tersihir oleh senyum manis dari Pemeran Utamanya yaitu Dimas Anggara dan Febby Rastanty (Blink). Itupun, saya baru mengenal mereka di sinetron ini. Saya merasa alur ceritanya lebih fresh, meskipun kebanyakan ada scene-scene yang tidak saya sukai dan tidak sesuai dengan pemikiran saya. Namun, entah karena apa pula saya tetap bertahan menontonnya dan seakan-akan tidak mau ketinggalan satu episode pun :)
Banyak hal juga yang saya temui di Fanpage resmi DDS, meskipun saya tidak menggunakan akun resmi saya. Namun, banyak postingan dan komentar fans-fans idola mereka yang memberikan banyak pelajaran terhadap saya. Begitupun dengan sinetron DDS ini yang banyak pula memberikan pembelajaran dari pemeran utamanya.  Ambil positifnya, buang negatifnya. :)

Ah, saya tidak mau berlama-lama hanya karena hal ini sebab keterbatasan waktu untuk meluapkan segala pesan dan kesan menonton sinetron ini. Cukup dalam hati saya yang menilai. Disini, saya hanya ingin berbagi link sebuah lagu yang sudah saya jadikan dalam bentuk MP3 dari Rekaman Dimas Anggara (Prince Charming-Ost.DDS) - Cinta Bukan Drama Versi Acoustic Episode 231 :)
Berikut linknya :

Sekian dan Terima Kasih atas segala bentuk pertemanan dalam satu ikatan fans sinetron Diam-Diam Suka. terutama buat #RifaLover :D

Rabu, 09 Juli 2014

Ramadhan : Menangisnya Hati


astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzim

seperti malam-malam sebelumnya, usai sholat sunnah sholat isya adalah agenda penyampaian panitia amaliah ramadhan mengenai keuangan masjid dan penyampaian siapa yang akan menjadi mubalig ceramah ramadhan malam ini yang biasanya aku menunggu dengan membaca ayat-ayat Allah 2-3 lembar sebelum ceramah dimulai. Namun, kali ini ku sengaja diriku untuk tidak membawa Al-Qur'an ke Masjid di dua malam ini. Seperti sebagian jama'ah lainnya, Aku hanya duduk terdiam diatas sajadah merah dan menunggu penyampaian dari mereka, siapa yang akan menjadi mubalig malam ini dan judul ceramah apa yang akan dibawakannya berdasar pada tugas agenda ramadhan adik-adik SD terutama yang diberikan oleh adikku untuk sekedar membantunya menangkap isi ceramah sesuai judul. Telinga kanan dan kiriku mulai kupertajam yang kini mulai berkurang pendengarannya sementara buku dan pulpen sudah ada dalam genggaman tangan kananku untuk siap-siap mencatat hal-hal yang akan tersampaikan malam ini. Namun, ternyata malam ini tak ada penyampaian dari mereka yang tiba-tiba aku dan mungkin yang lainnya  terkagetkan oleh suara yang tidak asing lagi bagiku dari mikrofon yang tidak lain itu adalah suara Om-ku yang berdiri diatas mimbar sebagai Ustadz yang pada hakikatnya merupakan bagian dari jadwalnya untuk membawakan hikmah Ramadhan. Begitu lantang, begitu tegas, dan begitu bersemangatnya menyampaikan agenda hari ini. Yah, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014 adalah agenda bersejarah di tahun ini bagi Warga Indonesia memilih capres dan cawapres yang layak menjadi pemimpin Indonesia ke-7. Namun, hal ini bukanlah yang akan dibahas layaknya pengamat politik yang lagi gencar-gencarnya saat ini. Kita hanya difokuskan mendengar dan merenung sesuai judul "Iman". Ah, penyampaian kata-katanya yang lagi-lagi berhasil membawa diriku ke alam bawah sadarku hingga aku kembali terisak bercucurkan air mata dengan menjerit dan menangisnya hati mendengar kembali saudara(i)ku di Palestina.

Begitu banyak nikmat Tuhanku tapi aku sedikit bersyukur (Astaghfirullah). 
Dulu sampai saat ini, aku masih bisa menikmati masa kanak-kanak hingga dewasaku di Negara ini dengan tenang dan amat nyaman sementara disana sudah banyak yang bergelar syahid tanpa sempat menikmati masa indahnya kanak-kanak di Negara mereka sendiri #Gaza. Satu hari sebelum pesta demokrasi di Indonesia, Selasa, 8 Juli 2014 Gaza SIAGA 1, menjadi GAWAT DARURAT. Detik ini, bertambah korban 4 tewas. Detik ke detik korban tewas dan luka-luka kian bertambah. Dua masjid tak luput dari roket israel, masjid terletak di Abasan Gaza selatan, dua masjid tersebut rata dengan tanah. Pejuang Palestina, tidak pernah meminta menghentikan perang ini, pejuang palestina tetap melanjutkan perang dengan israel. Roket dari Gaza sudah menjangkau ibu kota israel tel aviv dan askelon, ashdood dan askol. #Allahu Akbar

Pejuang Palestina, tidak akan mengangkat bendera putih, tidak akan menyerah. Darah dan nyawa warga Palestina, harus di bayar dengan darah dan nyawa pula oleh Israel Laknatullah. #Allahu Akbar

Ah, Gaza.. Mendengarmu saja sudah terbayang keadaanmu disana seolah kita dekat. Namun, akan kutunggu 'Kun Faya Kun-Nya' hingga kakiku telah terjejak di atas tanahmu. Tunggu! Tunggulah aku, meski do'aku masih menuju Arsy'-Nya. Tapi, ratusan juta do'a-do'a umat muslim dari belahan dunia akan menjadi kekuatan terbesar untuk siapapun yang melawan saudara-saudara palestine. Gaza, kau tak sendiri. Ada aku, ada kami, dan ada mereka. Kami tengah menunggu do'a menjelma nyata dan kita bertatap wajah dalam ukhuwah Islamiyah yang indah.

***
Aku semakin terisak ditengah keramaian jama'ah tarawih hingga banyak yang menoleh padaku dan mungkin aku dilihat oleh ibu. Tapi, aku tidak peduli pandangan orang-orang disekitarku. Hatiku hanya terus menangis, kita masih bisa makan sahur dengan aman tanpa bombardir, mereka ? Untuk makan sahurpun harus berjuang dengan menikmati Ramadhan mereka melawan Israel hingga bergelar syahid. Shalat mereka menjadi 6 waktu karena setiap harinya harus menyolati Jenazah.

Kembali aku tersadarkan oleh kata-kata mubaliq yang membuatku semakin terisak yang diam-diam menutupi mukaku dalam mukena yang kupakai. Yah, dosa. Kata ini tak lepas dariku bahkan pada setiap orang. Begitu banyak dosa yang kuperbuat. Namun, Allah masih mempertemukanku dengan Ramadhan dengan harapan Allah menggantikan hatiku dengan hati yang baru, hati yang bersih dan ingatan yang bersih pula tanpa noda sedikitpun. Sedangkan, aku masih berada dalam kemarau dosa dan malas di tengah hujan rahmat-Nya. Begitu banyak perintah-Nya yang kulanggar, begitu banyak hati yang telah kusakiti, teman, sahabat dan orang tuaku, serta begitu banyak dosa yang selalu menghadirkan nafsu dan keduniaan yang entah berapa kali dosa dan nista itu kuulangi. Kemana lagi pandangan mata hati harus kulayangkan kalau bukan pada-Nya. Adakah seluruh kata penyesalanku masih berguna sedang seluruh pori -pori jiwaku hitam jelaga nista ? #astaghfirullah

Dosa-dosaku pun pasti sudah menumpuk seperti gunung sedangkan amalanku mungkin hanya selembar kapas yang kapan saja dapat terhempas angin. Sulit rasanya memejamkan mata jika terbayang-bayangi oleh perbuatanku yang begitu banyak, tak bisa kuhitung lagi sudah berapa banyak kesalahan itu. Berat kepala ini memikirkannya, perih hati ini merasakannya.  Aku gundah dan resah karena dosa. Lalu, aku bisa apa ? Aku hanya bisa berdo'a memohon ampun dan bertaubat pada Allah dengan terus melakukan perbaikan diri dengan hati yang tersisa dan kuperjuangkan menjadikan pribadi yang lebih baik "be a good muslimah".

***
30 menit telah berlalu, ceramah pun selesai yang begitu menggugah nurani. Terlihat di jam dinding menandakan pukul 20.33 WITA dan sholat tarwih pun disegerakan. Namun, dalam sholat aku tetap saja terisak dengan menarik ulur ingus yang ada dihidungku. Mataku pun juga masih berkaca-kaca hingga tetanggakupun bertanya yang kebetulan aku berdekatan dengannya "apakah kamu sedang flu ?". Aku hanya menggelengkan kepala, sebab kutahu suaraku akan parau sehabis menangis hebat secara diam-diam. Inilah malam indah yang menjadi bagian dari perenungan di  Ramadhan ini yang semoga Allah mempertemukanku kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin

Sabtu, 05 Juli 2014

Kucingku Comel Kucingku Sayang



Alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat tgl, 29 Mei 2014 dengan 4 bersaudara - 2 putih - 1 putih hitam - 1 hitam coklat muda

Inilah hasil jepret-jepret kucing-kucing comelku yang tertangkap oleh kamera 0.3 MegaPixel :) cukup tak jelas bukan ? Hehehe. Aku memiliki seekor kucing berjenis kelamin betina tanpa kuberi nama sebab, aku lebih menyukainya bila tak punya nama.  Kucingku punya banyak anak yang entah benih dari siapa :D sebab, banyak kali kucing jantan di sekitar rumahku yang menghampirinya karena hanya dia seekor kucing betina yang ada. Aku mengenalnya sejak tahun lalu memasuki pintu rumahku mencari sesuap nasi dan seekor ikan dengan mondar mandir mengambil makanan yang tersisa walau beberapa kali mengambil makanan yang tersimpan tanpa ada yang tahu. Awalnya, aku merasa jijik dengannya setiap kali mengampiri kakiku yang kujulurkan disaat aku duduk dikursi. Namun, lama-lama aku Sudah terbiasa dengannya kemudian mengajaknya main dan bercanda sehingga diapun sudah mengenaliku setiap kali kupanggil dengan siulan kecil kemudian menghampiriku mengeluskan-eluskan tubuhnya dikakiku dan bermain. Lucunya, layaknya seorang anak, aku sering kali meninabobokan dia dan dia pun tertidur yang bahkan sering kali ku berikan terapi kandungan selama dia hamil. :D Sudah beberapa kali dia hamil dan sebagian anaknya sudah tumbuh dewasa kemudian meninggalkan ibunya (kasihan), tapi ketika dia melahirkan dibulan mei  sebagian anaknya dibuang oleh ibu karena merasa jijik. Padahal kan lucu sangat. Sedihnya, ketika dia mendapati seekor anaknya dari 4 bersaudara yang baru beberapa hari dilahirkan meninggal dikolong tempat tidur ibuku dan aku baru tahu saat jenazahnya berbau busuk yang membuat kami muntah-muntah (iiiuuhh) Tapi, dua saudaranya dibuang di pohon bambu dan satunya lagi masih bertahan dan tumbuh menjadi anak kucing yang comel sangat dengan jenis kelamin jantan berbulu putih kombinasi hitam. Hehehe... Yang sampai saat ini, aku masih bermain dengan kucingku yang comel.