Dua hari yang lalu, aku mengikuti tes psikotes di salah satu Rumah
Sakit yang ada di Makassar. Dalam salah satu tes tersebut kita diminta
untuk menceritakan apa yang pernah kita alami sebelumnya dari dua
pilihan pertanyaan itu. Kita diminta untuk memilih salah satunya, apakah
bercerita mengenai kesalahan terbesar dalam bekerja atau apakah resiko
terbesar dalam bekerja dan bagaimana hasilnya ? . Saat itu, aku tidak
tahu harus bercerita apa didalamnya. Akupun tak tahu apakah tes ini
adalah kali kedua yang kujawab atau baru kali ini berhadapan dengan tes
pertanyaan semacam itu. Tapi aku merasa bahwa itu adalah yang kali kedua
aku diminta untuk bercerita mengenai kesalahan dan resiko dalam
menghadapi tes tersebut. Seingatku dalam tes kemarin, aku memilih poin
kedua yaitu resiko terbesar yang pernah kualami dalam bekerja.
Sebelumnya, aku belum pernah benar-benar bekerja dalam mengerjakan
sesuatu dengan mengalami kesalahan (salah: banyak) dan menghadapi resiko
terbesar didunia kerja karena aku memang belum mempunyai pekerjaan
ataupun pengalaman kerja yang harus benar-benar kuceritakan. Jadi, aku
tidak tahu bercerita apa dan bagaimana dengan menguraikan bahasa hati
dan pikiranku yang tidak sinkron saat itu. Aku hanya bercerita mengenai
tugas akhirku sebagai mahasiswa semasa kuliah dulu yang harus ku
jelajahi salah satu Rumah Sakit di Makassar untuk mendapatkan hasil
rekam medis pasien dengan membayar Rp. 100. 000,- , naik turun tangga
dan mengelilingi kampus dan fakultas menemui Pembimbing I dan II
mengenai judul dan apa yang harus kulakukan sebagai anak bimbingannya
yang kemudian menyempurnakan sebuah judul menjadi sebuah proposal
sebelum mempresentasikan di Seminar Proposal. Proposalku pun sudah jadi
yang sebelumnya telah disetujui oleh Pembimbingku dan telah kupersiapkan
berbagai senjata untuk berhadapan dengan berbagai penguji. Tapi,
sebelum itu aku diminta untuk mengganti judul dan memulai dari awal
karena Pembimbingku menginginkan tempat penelitianku harus di Puskesmas,
bukan di Rumah Sakit. Otomatis, aku harus mengganti judul skripsiku dan
kembali menjelajahi salah satu Puskesmas di daerahku untuk mengambil
rekam medis pasien yang sungguh sangat rumit orang-orang yang kutemui
disana. Memulai dari awal lagi adalah pekerjaan terberatku jikalau aku
sedang dikejar waktu. Yah, saat itu aku sedang mengejar waktu ujian
seminar proposal. Jikalau tidak berada dalam waktu itu, maka di semester
depan baru aku bisa ikut ujian skripsi dan wisuda sedangkan
teman-temanku yang lain telah menuju proses itu. Ingin berontak dengan
waktu yang minim saat itu. Ingin menyalahkan orang tapi aku sadar bahwa
ini sepenuhnya adalah kesalahanku sendiri, bukan siapa-siapa. Dan apa
yang kuceritakan diatas kertas jawaban psikotes itu sangatlah
bertele-tele dan bahasanya kurang sinkron untuk mencukupkan dalam 18
baris karena saat itu sedang mengejar waktu dan cerita diharuskan
maksimal 18 baris dan boleh lebih dari itu.
Sepulang
dari tempat tes tersebut, aku selalu terpikirkan bahwa apa yang
kuceritakan itu benar-benar tidak sinkron dengan pertanyaan dan jawaban
yang kuberikan, berbeda jauh dengan apa yang kuceritakan disini. Bahkan
disaat cuci piring dan mencuci pakaian, aku terpikirkan hal itu, melamun
dan kemudian mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku tentang apa
yang seharusnya kuceritakan diatas kertas jawaban itu. Iya, pikiranku
itu baru benar-benar sinkron dengan hatiku apabila aku sedang mencuci
piring, mencuci pakaian, menjelang tidur malam dan sehabis sholat sambil
melamun, menghirup udara dan menghela nafas (itulah waktu-waktu
keramatku untuk berpikir panjang. Hehehe). Mungkin lagi, lagi dan lagi
aku tidak lulus dalam tes psikotes karena aku memang tidak begitu kuat
dengan tes yang semacam itu meskipun seberapapun aku belajar dan
berusaha menyelesaikannya sendiri (mudah-mudahan aku lulus. Aamiin).
Flashback
zaman SMA, aku dan teman-temanku duduk berkumpul bercerita mengenai apa
cita-cita kami kedepannya setelah lulus. Sebelumnya, aku tidak pernah
terpikirkan aku akan jadi apa dengan cita-cita seperti apa. Karena
setiap kali ditanya oleh guru dan mengisi biodata yang menanyakan
tentang cita-cita, kujawab saja bahwa cita-citaku adalah menjadi guru.
Aku tidak yakin dengan jawabanku itu, apakah itu benar-benar keinginanku
atau hanya sebagai formalitas diatas kertas saja. Sebab, aku seringkali
berpikir bahwa dalam keluargaku, tante, om, sepupu dan kakakku sudah
banyak menjadi guru, aku harus berbeda dengan mereka, tapi aku tidak
tahu cita-cita seperti apa karena pengetahuan dan pergaulanku dizaman
SMA sangat minim dan kolot meskipun aku sering mendapat prestasi dalam
hal teori. Hingga teman-temanku pun menceritakan apa yang menjadi
cita-cita mereka. Kebanyakan yang memilih cita-cita menjadi seorang
perawat. Aku tidak begitu tahu mengenai seperti apa itu perawat,
penggambaranku minim tapi yang kutahu bahwa perawat adalah orang yang
bekerja dibidang kesehatan. Berdasar dengan cerita teman-temanku, akupun
tertarik dengan bidang itu dan selulus dari dunia SMA, akupun mendaftar
di berbagai Perguruan Tinggi dan mengikuti berbagai seleksi untuk
melulusi diri belajar mengenai bidang keperawatan. Akupun lulus di
Perguruan Tinggi swasta di Maros yang kemudian mengikuti ospek sebagai
mahasiswa baru. Pada saat pengospekan, aku juga dinyatakan lulus di
Perguruan Tinggi Negeri yaitu universitas ternama yang ada di Makassar,
Universitas Hasanuddin. Akupun mengundurkan diri di Akademi Keperawatan
dan memilih Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai labuhan terakhirku
didunia pendidikan. Itupun, itu saran dari kakakku bahwa selain ternama,
pembayaran SPP-nya juga murah. Lagipula, kebutuhan ekonomi kami juga
minim, mana sanggup aku membayar SPP di Akademi Keperawatan. Namun, di
Unhas aku tidak berada dibidang keperawatan melainkan di bidang ilmu
kesehatan masyarakat karena yang menjadi pilihan pertamaku sewaktu
mendaftar di Perguruan Tinggi tersebut adalah ilmu kesehatan masyarakat
(pilihan kedua, ilmu keperawatan dan pilihan ketiga, MIPA) dan aku lulus
dibidang itu meskipun aku tidak tahu mengenai ilmu kesehatan masyarakat
dan seperti apa kedepannya. Pada saat itu, aku tidak peduli apa itu
kesehatan masyarakat, yang penting adalah keperawatan dan ilmu kesehatan
masyarakat sama-sama berada di bidang kesehatan dan aku tidak ingin
membebani terlalu banyak pada orang tua dan kakakku mengenai SPP-nya
yang Alhamdulillah selama perkuliahan cukup membantu keuanganku karena
setiap 3 bulan aku mendapat beasiswa. Sekalipun, aku mengkhawatirkan
perkataan orang-orang bahwa lowongan kerja untuk lulusan kesehatan
masyarakat itu minim. Akan tetapi aku lebih mengkhawatirkan dengan
jilbab yang ku kenakan jikalau akau memasuki dunia kerja yang tidak
membolehkan memakai jilbab syar'i. Meskipun begitu, itulah bagian dari
keindahannya yang menjadi tantangan untuk diriku dan mempertahankan apa
yang menjadi prinsipku.
Melalui berbagai proses
perkuliahan sebagai mahasiswa di Kampus Merah, aku lulus dengan
menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada pertengahan Tahun
2013, 3 tahun 8 bulan. Kini, aku sedang dalam pencarian masa depan yang
sungguh betapa sulit dan rumit meraihnya dalam dunia kerja. Teringat
nasehat dan keinginan ibuku bahwa sebaiknya aku menjadi seorang guru,
tapi saat itu aku bersikeras menjelajahi pengetahuan dunia kesehatan.
Teringat juga, keluhan dari sahabatku tiga hari yang lalu saat kubantu
memeriksa lembar jawaban siswanya dengan mengatakan bahwa dia ingin
berhenti jadi seorang guru, menjadi guru itu sulit dan ribet mengurusi
nilai-nilai siswa. Mendengar keluhannya itu, aku terdiam sejenak dan
mengatakan padanya bahwa memang begitu adanya dalam dunia kerja, sulit
dan mudah (tambahan: benar dan salah, baik dan buruk) selalu beriringan,
tergantung dari diri kita sendiri bagaimana memaksimalkan dan
meminimalisirnya, yang akupun sendiri ingin berada dalam posisinya
menjadi seorang guru dan sebaliknya dia juga ingin berada dalam posisiku
tapi dia tak menyesali itu dengan perjalanan hidupnya yang sekarang.
Jika mengingat itu, terkadang aku menangisi pilihanku sendiri, menangisi
segala kekuranganku. Aku sempat berpikir bahwa apa yang menjadi
pilihanku hanyalah sekedar ikut-ikutan saja dengan berdasar pada cerita
dan cita-cita teman-teman SMA-ku dulu atau memang keinginan dari hatiku.
Entahlah, aku tak mau berlama-lama berada dalam zona pemikiran seperti
itu karena pasti ujung-ujungnya akan menyudutkan diriku dan membuat tak
berdaya.
Mungkin inilah bagian dari kesalahan (salah:
dosa) terbesarku sekaligus resiko terbesar dalam hidupku yang harus
kulalui dengan berjalan dan berlari mencapai tujuan yang benar-benar
ingin kucapai yaitu salah satu utamanya adalah membuat bangga dan
membahagiakan orang tua.
Bagaimana hasilnya ?
Sampai saat ini, aku belum bisa memastikannya. Sebab, aku masih
berproses menapaki lika-liku kehidupan dan hanya Allah sebaik-baik
penolong dan pelindung yang menjadi satu-satu-Nya tempat curahan
terbaikku. Baik atau buruk bagiku, aku bertawakkal pada Allah atas apa
yang Dia tetapkan dan takdirkan pada diriku dengan berharap Allah
memberikan yang terbaik untuk diriku. Karena seberapapun ku bermimpi,
mimpi tetaplah mimpi yang jika ku terbangun dari mimpi dengan kehidupan
yang kujalani sekarang tetaplah nyata.
Jika aku bisa
memutar waktu, akan kuperbaiki kesalahanku dan melakukan apa yang tidak
bisa kulakukan dulu. Tapi mustahil memutar waktu, meskipun begitu,
dimasa ini aku ingin tetap melakukan yang terbaik dalam hidupku dan
menjadi manusia yang memberi manfaat (“sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”. (HR. Bukhari Muslim)),
melakukan apa yang harus kulakukan, mewujudkan apa yang ingin
kuwujudkan, dan memperbaiki apa yang menjadi kesalahanku. Ini hanya
masalah waktu. Semoga di hari esok, bulan dan tahun akan segera lebih
baik dari hari kemarin yang bukan hanya sekedar mimpi dan bukan sekedar
kata-kata. Aamiin. “Think big, feel strong, and pray hard for deep heart, never stop dream”.
“Assalamu ‘Alaikum,
pemeriksa jawaban psikotesku. Inilah jawabanku yang selengkapnya. Anda bisa
menilaiku dari tulisanku ini”.









_%E5%89%AF%E6%9C%AC.jpg)

