Entah karena apa yang terjanggal dipikirku dari bulan-bulan sebelumnya yang sampai saat ini masih memilih diam tanpa banyak kata dan menuangkannya di catatan diam ponselku beberapa pekan yang lalu.
Kaki yang berpijak
ditanah basah, tetiba mengering. Aku tidak mengerti musim macam apa yang
membuatnya seperti ini. Hijau yang telah dijadikannya abu tak terasa lagi
keindahannya. Kutelusuri semua penjuru namun tak jua kutemui apa dan kenapa ?
Semudahnya saja melepas ikatan, genggaman harapan dan impian yang telah diraih
susah payah lalu pergi tiada berita. Ikatan macam apa ini ?, tanyaku.
Dirimu tak lagi
dahulu. Beda. Sangat Beda. Teramat sangat beda. Jalan yang dirimu tempuh itu
semakin baik, semakin mengenal Allah dan aku bangga akan hal itu tapi tak lagi
mengingat sama sekali sosok diriku, siapa aku bagimu. Tanggapanku yang dulunya dirimu
kata diatas angkot dalam pertemuan tak disengaja dan yang sesingkat-singkatnya
“maaf, saya tidak sering sapaki di dunia maya” jawab diriku “tidak mengapa saya
juga tidak sering OL”, hanya itulah diriku ucap sebab diriku tahu pasti bentuk
alasannya, dirimu tentu tahu alam maya bukanlah suatu penghalang untuk kita.
Kutahu segala ingatan dan
mengingat-ingatnya membuatmu luka. Sedikit kuingat, surat kaleng yang berisi
kata-kata kejudesanku tanpa berfikir-fikir membuatmu luka yang teramat nyeri
dan kusadari itu bahwa diriku melakukan kesalahan yang fatal. Dirimu merasa
bahwa dirimulah yang teramat luka tanpa tahu diriku pun teramat luka atas
kata-kata judesmu pula yang sedikit kutahu dirimu menjudge diriku mengimitasi
yang sepenuhnya disalahkan pada diriku, yah tumpahkan saja. Namun, Allah Maha Baik. Tanpa ku minta
sekalipun Allah membuatku lebih banyak lupa kesakitan dari sekian kata-kata itu dulu
daripada banyak mengingat dan diriku tak ingin memaksa mengingatnya, menyelami
ingatan dan berlarut-larut didalamnya. Diriku pun hanya meminta sepotong hati
yang baru. Sebab, diriku tak ingin menghilangkan dan terlupa sisa-sisa kenangan
indah yang kita punya yang sebagian besar telah terlupa dan walau diriku tahu
kenangan indah dihati ini perlahan-lahan akan dihapus oleh ingatan dan oleh
dirimu. Tak seperti dulu, bukannya kita saling menguatkan dan saling memahami,
malah saling melemahkan dan saling menyalahkan hanya karena menemukan hal-hal
kecil yang sama kemudian dibesar-besarkan. Bila kutanya, adakah dirimu juga
imitasi hal-hal tertentu terhadap diriku ataupun orang lain tanpa diriku
ataupun mereka marah bila terdapat kesamaan atau misalnya dirimu menemukan
sebuah kesamaan dirimu dengan orang lain yang memiliki segala unsur kesamaan yang sama halnya dirimu menjudgeku
imitasi, apakah dirimu akan menuduhnya dia mengimitasi dari dirimu ?. Hal ini tak pernah pun ku tanya padamu dan
diriku cukup diam dengan ini dengan hatiku yang sekarang, dan cukup dirimu yang tahu jawabnya. Tak mengapalah
bagi diriku bila itu adalah sebuah kebaikan yang dirimu dapat didiriku untuk
dirimu. Bukankah kesamaan kebaikan yang disengaja dan tak disengaja adalah
berkah ? Bukannya menggali dan mencari-cari kesalahan,
melainkan menutupi sekecil apapun aib saudara (i) kita dan menasehatinya.
OK baiklah, diriku
bukanlah tipe pemaksa untuk menjadikannya kembali hijau kita. Diriku hanya
mempertahankan sekeping hati rindu buatmu yang telah kutitipkan dan kutebarkan
dengan do'a-do’a pada-Nya. Yakinku, jika rindumu merindukanku, kita pasti bertemu
di suatu jalan. Sekalipun rindu terlalu lama bagiku, sekalipun rindu tak
tersampaikan, sekalipun rindu mematikan setengah ingatan dan hati.
Diriku hanyalah mempertahankan
apa yang baik dalam pandanganku dan apa yang baik dalam pandangan agamaku. Itulah
dirimu untuk menjadikannya indah di ruang hijau yang kita impikan. Bagiku dalam
ukhuwah tak ada yang pergi dari hati, tak ada yang hilang dari sebuah kenangan
dan tak ada kata trauma untuk kebaikan mengembalikan ukhuwah kita. Dirimu pasti
tahu maksud apa yang kukata. Sebab, tak terlalu mudah tuk sekedar kubahasakan
dengan hati. Diriku hanya meraba dinding ruang hijau seberapa dirimu lupa
diriku tiada tanya. Sudah diriku kata, alam maya bukanlah suatu penghalang
kita. Diriku hanya diam memperhatikan keaktifan dirimu diduniamu yang sekarang bersama orang-orang
yang telah mengenalmu. Lebih memilih menyapa orang yang jauh dibanding orang
yang lebih dulu dirimu kenal. Lebih merindukan mereka yang diriku pun tak tahu
hatimu merindu sepertiku atau tidak. Entahlah, yang diriku tahu, ruangmu dan ruangku
bukanlah kita.
Terasa
beda, sangat beda, teramat sangat beda.
Terlalu
gengsi bercerita kita yang bahkan kini
tertutup untuk sekedar tahu menahu. Dirimu tak lagi sesering atau tidak sama
sekali menanyaiku dan hanya berbagi sekedar info. Diriku yang pernah mengirim
kata hadits dilayar hp-mu dengan perlahan-lahan mengembalikan ruang hijau itu
tapi hanyalah berbalas terima kasih tanpa dirimu tak ingin tahu diriku yang
merindui dirimu. Beberapa hari yang lalu pun dirimu mengirimiku pesan maaf lahir batin diawal ramadhan, hanya sekedar itu dan pada momen itu. Diriku tahu, dirimu sedang dalam diam tapi jika diam...tandanya dirimu sudah tidak peduli lagi. Dirikupun mengakui bahwa maluku dan gengsiku juga terkadang
diatas batas normal untuk sekedar bertanya beritamu semisal, "Hei, sahabat ?, Sibukkah ? Masihkah dirimu merindukanku ?" bahkan diriku sesekali menunggu kedatangan dirimu dengan tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. Mungkin tanyamu, mengapa
diriku selalu kutuliskan dan kukata hal yang sama ? Karena disaat kerinduanku
memuncak tentang cinta karena Allah, diriku lebih memilih mengenang masa lalu indah saat bersama kita. Dirikupun
tak ingin termasuk orang-orang yang dicap oleh Allah yang tidak menunaikan hak
terhadap sahabatnya.
“Tidak ada seorang jua pun yang
bersahabat dengan orang lain walaupun hanya satu saat sahaja, kecuali ia akan
ditanyai pada hari kiamat nanti tentang hak persahabatanya, apakah ia telah
menunaikan padanya hak Allah atau tidak.” (Sabda Rasulullah)
Diriku pula memilih
dirimu… sebab, Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah
berkata :
“Secara
umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat
berikut: orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik,
bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”
Ukhti,
dirimu terlalu indah untuk kuhilangkan dalam sebuah kenangan. Diriku hanya
cukup diam menanti dirimu siapa aku bagimu dan kembali di ruang hijau kita dulu
yang tak lagi terasa beda dalam ukhuwah yang bermakna, kini ataupun nanti.
Meskipun, diriku bukanlah deretan orang-orang yang berarti dan dilupa dirimu
kini, itu tak membuatku lemah. Apapun bentuk ketidakpedulianmu menemukan
sebagian catatan-catatanku disini, tak mengapalah diriku. Sebab, bagiku
memaafkan kesalahan adalah bagian dari melupakan tanpa memutuskan silaturahmi
dan tanpa berinkubasi. Bukan pada katamu "Memaafkan tidak harus melupakan
atau putus silaturahmi.. Tapi adakalanya lebih baik jika kita ber-inkubasi di
alam kita masing-masing". Maaf, kata-kata ini ku kutip dari twittermu beberapa bulan lalu.
Yah, walau dirimu
diriku ada sedikit berbeda kata, diriku menghargai keputusanmu. Jika dirimu kata
adalah baiknya tanpa kata KITA, katakanlah. Dimasa depan nanti, dirimu diriku
akan berhadap-hadapan diatas dipan-dipan yang sama-sama dirindui yaitu di ruang
hijau yang setiap orang kata adalah surga (semoga Allah mempertemukan dirimu
diriku), aku yakin itu. Untuk segala perlakuan dan perkataan ada banyak alasan
yang tersirat yang telah kupahami dari dirimu bahwa itu adalah jenis
keterpaksaan. Mungkin, kenangan KITA itu haruslah terbuang. Satu-satunya
pemberianmu yang kumiliki hanyalah secarik foto yang tersimpan dan terjaga
dalam album. Yah, hanya itu darimu yang ku punya meskipun ingatanku sudah tak cukup kuat untuk mengingat kenangan
indah dirimu dan diriku di waktu itu, maka jika dirimu benar-benar berminat tanpa
ada gengsi dan keterpakasaan merapatkan jari-jari yang dulu terikat dalam
ukhuwah yang indah, kembalilah. Ingatkan diriku dibagian kenangan mana diriku
terlupa dan kapan terakhir kali diriku dirimu benar-benar bersama tanpa jeda.
Terlupa adalah bagian dari ikhlasku dan mengingat dirimu adalah sahabatku
bagian dari yang tak termatikan dihatiku. Meskipun masa lalu, tidak akan
pernah menang, karena ia selalu ada di belakang. Jika dirimu mau, marilah
menuju masa depan bersama KITA. Segala do'a terbaik untukmu ukhti Aminah.
Semoga Allah selalu
menjagamu dimana penjagaanku tidak sampai kepadamu dikala dirimu bersuka lara
dan bersuka ria. Jaga kesehatanmu baik-baik terutama detak jantungmu, jangan
lupa makan, jangan terlalu sibuk dengan orderanmu, jangan begadang, dan
perbanyak mengingat Allah. Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan yang tercapai
menjadikan dirimu lebih baik dan indah. Aamiin :).
Diriku hanya bisa
berucap lewat beberapa kata yang saat ini dirimu telah temukan sedikit catatan
diamku disini. Sebab, tak memuat memori ingatanku yang mungkin suatu saat nanti
dirimu atau diriku akan mengingatkan diriku kembali yang tak mampu ucap semua
kata dari cerita hati dan terlupa dengan ingatan. Maaf, bila dirimu membaca
catatan diamku yang tak benar dan tak sesuai hati dariku. Tegur, nasehati dan katakan
padaku jika diriku salah karena persahabatan bukanlah drama :)