Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Kamis, 24 Juli 2014

Kini, Ramadhanku Dipenghujung Senja

Sahabat....
Tak lama lagi kita akan berpisah dengan ramadhan..
Laksana bahtera, kini ia perlahan mulai mengangkat jangkarnya dan bersiap untuk berlayar..
11 bulan lamanya dia akan berlayar...
Untuk kemudian berlabuh di hati-hati orang-orang yang beriman..
Ibarat sang surya, perlahan ia mulai tenggelam bersama megah merah di ujung ufuk..
Yang jelas ia masih disini...
Dia belum berlayar ataupun tenggelam..
Untukmu yang selama ini telah mengisi hari-harinya dengan beragam kebaikan, maka sempurnakan amalmu disisa waktu yang ada.
Namun bila sebaliknya, maka perbaikilah amalanmu sebelum ia pergi berlalu...
Ingat.... amalan itu dinilai pada akhirnya.

"Berbuat baiklah disisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu . Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu."

Sekali lagi....
Senja belum berlalu...
Jangkar bahtera juga belum lagi terangkat...
Apa yang kau tunggu...
Bergegaslah...
Lepaskanlah kepergian tamu yang mulia ini dengan amalan terbaik..
Agar imanmu bersemi sepanjang tahun...
Hingga ia kembali dan melabuhkan hikmahnya pada hatimu ditahun yang akan datang...
Sungguh kerugian yang besar bila ramadhan berlalu dan kita tidak termasuk hamba yang diampuni.
Rasulullaah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Celakalah seseorang yang bila namaku disebut disisinya namun ia tidak membaca shalawat untukku,
Celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadhan kemudian meninggalkannya namun ia belum diampuni.
Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya telah menginjak usia lanjut lalu tidak menyebabkannya masuk surga.”
(HR. at-Tirmidzi & Ahmad)

Saudaraku....

Iedul fitri tinggal menghitung hari lagi
Jadilah pemenang disisa waktu yang ada..
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari dan selainnya)

Ibarat lomba... Semua boleh masuk babak penyisihan...
Namun tak semua boleh masuk babak final..

Maka jadilah finalis-finalis ramadhan disaat yang lain mulai berguguran...

Bangkitlah saudaraku....
Hari sudah senja....

Sabtu, 19 Juli 2014

Ingatlah Kebaikannya

“Mata keridhaan, buta terhadap segala aib, tetapi mata kebencian, menampakkan segala keburukan” (Sa’id Hawwa, Al Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus)

Rasanya tak kan ada yang menyangkal bahwa persahabatan itu sangat indah. Betapa tidak, sungguh menyenangkan sekali mempunyai seseorang untuk melewatkan hari-hari, berbagi cerita, serta merasakan suka dan duka bersama-sama. Begitu hebatnya persahabatan ini, hingga seseorang bisa menganggap sahabatnya seperti saudara kandung sendiri, bahkan juga dapat melebihi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa keindahan hidup ini belumlah lengkap tanpa kehadiran sahabat.

Tetapi kadangkala…

Persahabatan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena sang sahabat melakukan hal-hal yang tidak kita suka. Kadang kita merasa, sang soulmate mulai menjauh dan lebih memilih berteman akrab dengan orang lain entah karena alasan apa. Kecewa, marah, dan perasaan merasa diabaikan bercampur aduk menjadi satu. Pepatah “habis manis sepah dibuang” tiba-tiba saja dirasa sesuai dengan keadaan kita.

Kenangan lama tentang sang sahabat tak jarang datang kembali ke benak ini. Akan tetapi yang muncul hanyalah ingatan tentang sisi buruknya saja. Kebencian lalu menuntun kita untuk meneliti kekurangannya satu persatu. Kesalahannya di masa lampau mulai menari-nari di panggung pikiran. Berbagai prasangka yang tak beralasan pun perlahan-lahan menyeruak dan membelenggu akal sehat.

Begitulah. Sahabat yang pada awalnya kita sayangi berubah menjadi orang yang paling ingin kita hindari. Kita menjadi malas berbicara dengannya. Tak ada lagi keinginan untuk menelponnya barang beberapa menit saja. Kita pun tak berkehendak menyapanya lewat sms atau e-mail. Ya, dengan ungkapan lain, kita menjadi alergi dengan keberadaannya, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan biarkan kebencian kita bertahta, wahai kawan!

Memang, kita hanyalah manusia biasa. Adalah hal yang wajar jika kebencian terbit ketika kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai kehendak hati. Tapi ingatlah, tak sedikitpun kita diperintahkan untuk memelihara kebencian. Tidak oleh Allah, tidak oleh para nabi dan rasul-Nya, tidak juga oleh para pecinta-Nya yang sejati. Tak ada satupun. Kebencian adalah bagian dari amarah. Dan bukankah Rasulullah telah berulangkali mewasiatkan supaya ummatnya tidak marah?

Berpikir jernihlah, wahai saudara!

Manusia diciptakan tak hanya dengan kelebihan, tapi juga kekurangan dan kelemahan. Sangatlah tidak mungkin kita menemukan orang yang segala perilakunya sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Maka janganlah membencinya apalagi memutuskan hubungan silaturahim dengannya.

Untuk mengusir rasa benci, mengapa kita tidak mengingat sisi yang baik saja darinya? Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang amanah. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu menepati janji. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu berkata jujur. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dialah pendengar yang baik. Mungkin saja, dia mempunyai kebaikan yang tidak ditemukan pada sahabat kita yang lain… Sekarang, kita hanya perlu membimbing pikiran kita untuk mencari kebaikan-kebaikannya itu.

Masih ada noktah hitam yang menodai hati?

Janganlah biarkan pikiran buruk yang berkuasa. Ingat saja kenangan indah yang lain. Ketika kita merenda hari-hari bersamanya. Ketika kita melakukan banyak hal yang menggembirakan dengannya. Sungguh tiada guna mengingat kenangan yang kurang menyenangkan karena bisa saja timbul prasangka dan pikiran buruk terhadapnya. Dikarenakan itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu, jangan mencari-cari dan mematai-matai kesalahan orang lain, jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain, dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
Masih ada berkas-berkas kebencian yang menyusup di relung hati?

Ayolah, coba ingat yang baik-baik dari dirinya. Tentu ada! Jikalau dia memang bersalah, serahkan saja pada yang Maha Adil. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan membencinya? Bukankah kebencian hanya akan menyuburkan amarah dan perlahan-lahan akan mengotori jiwa? Maka dengarkanlah firman Allah,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)
Dan mengapa kita mesti terpaku dengan “karena nilai setitik, rusaklah susu sebelanga”? Bukankah kita bisa memindahkannya ke belanga yang lebih besar lalu menambahkan lebih banyak susu untuk memperkecil kadar nila dalam campuran itu?

Kemudian, tak ada ruginya untuk menengok sejenak apa yang ada dalam hati kita sekarang. Apa yang menjadi pendorong sewaktu kita menjalin persahabatan dengan orang lain? Adakah kita yakin bahwa kita mengharapkan pujian, penghormatan, ataupun semacam bentuk balasan dari sahabat itu? Sekali lagi, astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan. Buanglah jauh-jauh niat-niat seperti itu. Percayalah, kekecewaan itu muncul karena kita menghadirkan tujuan-tujuan selain-Nya. Sejatinya, tidak ada balasan yang lebih baik selain yang diberikan-Nya. Dan betapa rendahnya kita jika mengharap balasan selain dari-Nya. Maka bersahabatlah karena Allah. Jalinlah hubungan persahabatan jika itu membuat kita makin dekat dengan-Nya. Seandainya kelakuan sang sahabat tidak sesuai dengan harapan, kita akan bisa mengerti bahwa dia hanya seorang ciptaan Allah yang pasti jauh dari kesempurnaan.

Teman, masih ada kebencian yang seadang bersemai?

Tidak usah merusak kebahagiaan kita dengan hal-hal yang buruk. Pikirkan saja sesuatu yang membuat iman kita tidak luntur dan suasana hati menjadi lebih tenang. Dengan begitu, insyaAllah kita akan tetap berada dalam kondisi emosi yang stabil. Maka Alfred Adler, seorang psikiater pun berkata, “Di antara keistimewaan yang paling indah pada manusia adalah kemampuannya mengubah negatif menjadi positif.”

Lalu, mengapa kita tidak mencoba?

Allahu a’lam bish-showab,

Sumber : Klik

Senin, 14 Juli 2014

Dimas Anggara (Ost. DDS) - Cinta Bukan Drama Versi Acoustic

 Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh
Hai #RifaLovers #DimskiLovers #DDSlovers #PringerLovers #LeleLovers #BammiLovers
Kita berjumpa lagi... disini, di my blog. :)

Pernah saya katakan bahwa Diam-Diam Suka adalah satu-satunya sinetron yang membuat saya menjadi korban sinetron. Entah, karena hal apa yang membuat saya tertarik dengannya. Seolah saya tersihir oleh senyum manis dari Pemeran Utamanya yaitu Dimas Anggara dan Febby Rastanty (Blink). Itupun, saya baru mengenal mereka di sinetron ini. Saya merasa alur ceritanya lebih fresh, meskipun kebanyakan ada scene-scene yang tidak saya sukai dan tidak sesuai dengan pemikiran saya. Namun, entah karena apa pula saya tetap bertahan menontonnya dan seakan-akan tidak mau ketinggalan satu episode pun :)
Banyak hal juga yang saya temui di Fanpage resmi DDS, meskipun saya tidak menggunakan akun resmi saya. Namun, banyak postingan dan komentar fans-fans idola mereka yang memberikan banyak pelajaran terhadap saya. Begitupun dengan sinetron DDS ini yang banyak pula memberikan pembelajaran dari pemeran utamanya.  Ambil positifnya, buang negatifnya. :)

Ah, saya tidak mau berlama-lama hanya karena hal ini sebab keterbatasan waktu untuk meluapkan segala pesan dan kesan menonton sinetron ini. Cukup dalam hati saya yang menilai. Disini, saya hanya ingin berbagi link sebuah lagu yang sudah saya jadikan dalam bentuk MP3 dari Rekaman Dimas Anggara (Prince Charming-Ost.DDS) - Cinta Bukan Drama Versi Acoustic Episode 231 :)
Berikut linknya :

Sekian dan Terima Kasih atas segala bentuk pertemanan dalam satu ikatan fans sinetron Diam-Diam Suka. terutama buat #RifaLover :D

Rabu, 09 Juli 2014

Ramadhan : Menangisnya Hati


astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzim
astaghfirullahaal'adzim

seperti malam-malam sebelumnya, usai sholat sunnah sholat isya adalah agenda penyampaian panitia amaliah ramadhan mengenai keuangan masjid dan penyampaian siapa yang akan menjadi mubalig ceramah ramadhan malam ini yang biasanya aku menunggu dengan membaca ayat-ayat Allah 2-3 lembar sebelum ceramah dimulai. Namun, kali ini ku sengaja diriku untuk tidak membawa Al-Qur'an ke Masjid di dua malam ini. Seperti sebagian jama'ah lainnya, Aku hanya duduk terdiam diatas sajadah merah dan menunggu penyampaian dari mereka, siapa yang akan menjadi mubalig malam ini dan judul ceramah apa yang akan dibawakannya berdasar pada tugas agenda ramadhan adik-adik SD terutama yang diberikan oleh adikku untuk sekedar membantunya menangkap isi ceramah sesuai judul. Telinga kanan dan kiriku mulai kupertajam yang kini mulai berkurang pendengarannya sementara buku dan pulpen sudah ada dalam genggaman tangan kananku untuk siap-siap mencatat hal-hal yang akan tersampaikan malam ini. Namun, ternyata malam ini tak ada penyampaian dari mereka yang tiba-tiba aku dan mungkin yang lainnya  terkagetkan oleh suara yang tidak asing lagi bagiku dari mikrofon yang tidak lain itu adalah suara Om-ku yang berdiri diatas mimbar sebagai Ustadz yang pada hakikatnya merupakan bagian dari jadwalnya untuk membawakan hikmah Ramadhan. Begitu lantang, begitu tegas, dan begitu bersemangatnya menyampaikan agenda hari ini. Yah, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014 adalah agenda bersejarah di tahun ini bagi Warga Indonesia memilih capres dan cawapres yang layak menjadi pemimpin Indonesia ke-7. Namun, hal ini bukanlah yang akan dibahas layaknya pengamat politik yang lagi gencar-gencarnya saat ini. Kita hanya difokuskan mendengar dan merenung sesuai judul "Iman". Ah, penyampaian kata-katanya yang lagi-lagi berhasil membawa diriku ke alam bawah sadarku hingga aku kembali terisak bercucurkan air mata dengan menjerit dan menangisnya hati mendengar kembali saudara(i)ku di Palestina.

Begitu banyak nikmat Tuhanku tapi aku sedikit bersyukur (Astaghfirullah). 
Dulu sampai saat ini, aku masih bisa menikmati masa kanak-kanak hingga dewasaku di Negara ini dengan tenang dan amat nyaman sementara disana sudah banyak yang bergelar syahid tanpa sempat menikmati masa indahnya kanak-kanak di Negara mereka sendiri #Gaza. Satu hari sebelum pesta demokrasi di Indonesia, Selasa, 8 Juli 2014 Gaza SIAGA 1, menjadi GAWAT DARURAT. Detik ini, bertambah korban 4 tewas. Detik ke detik korban tewas dan luka-luka kian bertambah. Dua masjid tak luput dari roket israel, masjid terletak di Abasan Gaza selatan, dua masjid tersebut rata dengan tanah. Pejuang Palestina, tidak pernah meminta menghentikan perang ini, pejuang palestina tetap melanjutkan perang dengan israel. Roket dari Gaza sudah menjangkau ibu kota israel tel aviv dan askelon, ashdood dan askol. #Allahu Akbar

Pejuang Palestina, tidak akan mengangkat bendera putih, tidak akan menyerah. Darah dan nyawa warga Palestina, harus di bayar dengan darah dan nyawa pula oleh Israel Laknatullah. #Allahu Akbar

Ah, Gaza.. Mendengarmu saja sudah terbayang keadaanmu disana seolah kita dekat. Namun, akan kutunggu 'Kun Faya Kun-Nya' hingga kakiku telah terjejak di atas tanahmu. Tunggu! Tunggulah aku, meski do'aku masih menuju Arsy'-Nya. Tapi, ratusan juta do'a-do'a umat muslim dari belahan dunia akan menjadi kekuatan terbesar untuk siapapun yang melawan saudara-saudara palestine. Gaza, kau tak sendiri. Ada aku, ada kami, dan ada mereka. Kami tengah menunggu do'a menjelma nyata dan kita bertatap wajah dalam ukhuwah Islamiyah yang indah.

***
Aku semakin terisak ditengah keramaian jama'ah tarawih hingga banyak yang menoleh padaku dan mungkin aku dilihat oleh ibu. Tapi, aku tidak peduli pandangan orang-orang disekitarku. Hatiku hanya terus menangis, kita masih bisa makan sahur dengan aman tanpa bombardir, mereka ? Untuk makan sahurpun harus berjuang dengan menikmati Ramadhan mereka melawan Israel hingga bergelar syahid. Shalat mereka menjadi 6 waktu karena setiap harinya harus menyolati Jenazah.

Kembali aku tersadarkan oleh kata-kata mubaliq yang membuatku semakin terisak yang diam-diam menutupi mukaku dalam mukena yang kupakai. Yah, dosa. Kata ini tak lepas dariku bahkan pada setiap orang. Begitu banyak dosa yang kuperbuat. Namun, Allah masih mempertemukanku dengan Ramadhan dengan harapan Allah menggantikan hatiku dengan hati yang baru, hati yang bersih dan ingatan yang bersih pula tanpa noda sedikitpun. Sedangkan, aku masih berada dalam kemarau dosa dan malas di tengah hujan rahmat-Nya. Begitu banyak perintah-Nya yang kulanggar, begitu banyak hati yang telah kusakiti, teman, sahabat dan orang tuaku, serta begitu banyak dosa yang selalu menghadirkan nafsu dan keduniaan yang entah berapa kali dosa dan nista itu kuulangi. Kemana lagi pandangan mata hati harus kulayangkan kalau bukan pada-Nya. Adakah seluruh kata penyesalanku masih berguna sedang seluruh pori -pori jiwaku hitam jelaga nista ? #astaghfirullah

Dosa-dosaku pun pasti sudah menumpuk seperti gunung sedangkan amalanku mungkin hanya selembar kapas yang kapan saja dapat terhempas angin. Sulit rasanya memejamkan mata jika terbayang-bayangi oleh perbuatanku yang begitu banyak, tak bisa kuhitung lagi sudah berapa banyak kesalahan itu. Berat kepala ini memikirkannya, perih hati ini merasakannya.  Aku gundah dan resah karena dosa. Lalu, aku bisa apa ? Aku hanya bisa berdo'a memohon ampun dan bertaubat pada Allah dengan terus melakukan perbaikan diri dengan hati yang tersisa dan kuperjuangkan menjadikan pribadi yang lebih baik "be a good muslimah".

***
30 menit telah berlalu, ceramah pun selesai yang begitu menggugah nurani. Terlihat di jam dinding menandakan pukul 20.33 WITA dan sholat tarwih pun disegerakan. Namun, dalam sholat aku tetap saja terisak dengan menarik ulur ingus yang ada dihidungku. Mataku pun juga masih berkaca-kaca hingga tetanggakupun bertanya yang kebetulan aku berdekatan dengannya "apakah kamu sedang flu ?". Aku hanya menggelengkan kepala, sebab kutahu suaraku akan parau sehabis menangis hebat secara diam-diam. Inilah malam indah yang menjadi bagian dari perenungan di  Ramadhan ini yang semoga Allah mempertemukanku kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin

Sabtu, 05 Juli 2014

Kucingku Comel Kucingku Sayang



Alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat tgl, 29 Mei 2014 dengan 4 bersaudara - 2 putih - 1 putih hitam - 1 hitam coklat muda

Inilah hasil jepret-jepret kucing-kucing comelku yang tertangkap oleh kamera 0.3 MegaPixel :) cukup tak jelas bukan ? Hehehe. Aku memiliki seekor kucing berjenis kelamin betina tanpa kuberi nama sebab, aku lebih menyukainya bila tak punya nama.  Kucingku punya banyak anak yang entah benih dari siapa :D sebab, banyak kali kucing jantan di sekitar rumahku yang menghampirinya karena hanya dia seekor kucing betina yang ada. Aku mengenalnya sejak tahun lalu memasuki pintu rumahku mencari sesuap nasi dan seekor ikan dengan mondar mandir mengambil makanan yang tersisa walau beberapa kali mengambil makanan yang tersimpan tanpa ada yang tahu. Awalnya, aku merasa jijik dengannya setiap kali mengampiri kakiku yang kujulurkan disaat aku duduk dikursi. Namun, lama-lama aku Sudah terbiasa dengannya kemudian mengajaknya main dan bercanda sehingga diapun sudah mengenaliku setiap kali kupanggil dengan siulan kecil kemudian menghampiriku mengeluskan-eluskan tubuhnya dikakiku dan bermain. Lucunya, layaknya seorang anak, aku sering kali meninabobokan dia dan dia pun tertidur yang bahkan sering kali ku berikan terapi kandungan selama dia hamil. :D Sudah beberapa kali dia hamil dan sebagian anaknya sudah tumbuh dewasa kemudian meninggalkan ibunya (kasihan), tapi ketika dia melahirkan dibulan mei  sebagian anaknya dibuang oleh ibu karena merasa jijik. Padahal kan lucu sangat. Sedihnya, ketika dia mendapati seekor anaknya dari 4 bersaudara yang baru beberapa hari dilahirkan meninggal dikolong tempat tidur ibuku dan aku baru tahu saat jenazahnya berbau busuk yang membuat kami muntah-muntah (iiiuuhh) Tapi, dua saudaranya dibuang di pohon bambu dan satunya lagi masih bertahan dan tumbuh menjadi anak kucing yang comel sangat dengan jenis kelamin jantan berbulu putih kombinasi hitam. Hehehe... Yang sampai saat ini, aku masih bermain dengan kucingku yang comel.


Kamis, 03 Juli 2014

Lagi...Untuk Sebuah Maaf

Aku menemukannya diantara catatan diamku yang lama untuk sebuah maaf yang tak pernah lelah

Bismillah...


Mari bercermin sejenak pada sebuah telaga bening bernama Hati..
Semoga kedalamannya memberi satu peluang bahwa masih ada ruang untuk sekedar membuka harapan pada sebuah kata maaf..
Semoga telaga itu tak keruh penuh dgn prasangka,curiga dan kemarahan...
Catatan ini saya buat untuk mewakili hati, bila selama bersahabat saya salah
Karena tak ingin memberikan celah bernama kemarahan untuk berkuasa...
Mari beri sedikit momen untuk jiwa melihat lebih dalam dengannya kita bisa pahami bahwa hangatnya kata maaf akan menurunkan kekecewaan agar ukhuwah kita kembali terjalin dengan baik.



"Maka sesuatu yg diberikan kepadamu ,itu adalah kenikmatan hidup di dunia dan yang ada pada sisi Allah, lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf dan( bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan tuhannya dan mendirikan shalat,sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antar mereka " (Qs.Asy-Syuura 36-40)

Persaudaraan itu sesuatu yg indah.
Rasa bahagia dlm jiwa itu menjelma bila kita di kasihi dan mengasihi.
Itu memang fitrah penciptaan manusia. Suka bila dirinya disayangi. Gembira bila dirinya dicintai. Nikmat persaudaraan itu sendiri adalah kasih dan cinta.
Tanpa keduanya,kita tidak akan menikmati kemanisan dalam nikmat ukhuwah.
Manisnya lebih terasa bila kita yg memberi ukhuwah atas iman.
Jiwa akan terasa lebih bahagia apabila ukhuwah yang terjalin adalah atas dasar iman  kepada Allah.
Ia bukanlah satu hubungan yang biasa. Tetapi ia dibina atas kekuatan iman yang mendominasi jiwa.
Akhirnya melahirkan natijah yang hebat.

Maros, 17 Januari 2012

Rabu, 02 Juli 2014

Menjadilah Indah, Maka Semuanya Akan Terlihat Indah

"I believe, Allah know what's best for me. And I know, Allah will always give the best for my life"

Hadapilah persoalan demi persoalan. Tak boleh lari dari kenyataan, karena lari sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Tegarlah, hadapi dengan baik, tak boleh menyerah dan tak boleh kalah. Sekalipun mereka ingin menjatuhkanmu, meremehkanmu, yang bahkan tidak peduli denganmu dan merasa hebat dengan dirinya. Jadikanlah itibar dari setiap kejadian adalah cermin pribadimu. Tak boleh gentar dengan kekurangan dan kesalahan yang terjadi. Yang terpenting, bertekadlah sekuat tenaga untuk memperbaikinya. Allah tak pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Meskipun nasi telah menjadi bubur, maka yang harus kamu lakukan adalah mencari ayam, cakweh, kacang polong, kecap, seledri, bawang goreng, dan sambal agar bubur ayam spesial tetap dapat kau nikmati. Ikhtiar yang disertai niat yang sempurna itulah tugasmu, perkara apapun yang terjadi serahkanlah sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Yang Terbaik Bagimu. Nikmatilah apa adanya. Raihlah keridhoan Allah. Menangkan impian dan cita-cita akhiratmu.

Selasa, 01 Juli 2014

Beda. Sangat beda. Teramat Sangat Beda



Entah karena apa yang terjanggal dipikirku dari bulan-bulan sebelumnya yang sampai saat ini masih memilih diam tanpa banyak kata dan menuangkannya di catatan diam ponselku beberapa pekan yang lalu. 

Kaki yang berpijak ditanah basah, tetiba mengering. Aku tidak mengerti musim macam apa yang membuatnya seperti ini. Hijau yang telah dijadikannya abu tak terasa lagi keindahannya. Kutelusuri semua penjuru namun tak jua kutemui apa dan kenapa ? Semudahnya saja melepas ikatan, genggaman harapan dan impian yang telah diraih susah payah lalu pergi tiada berita. Ikatan macam apa ini ?, tanyaku.

Dirimu tak lagi dahulu. Beda. Sangat Beda. Teramat sangat beda. Jalan yang dirimu tempuh itu semakin baik, semakin mengenal Allah dan aku bangga akan hal itu tapi tak lagi mengingat sama sekali sosok diriku, siapa aku bagimu. Tanggapanku yang dulunya dirimu kata diatas angkot dalam pertemuan tak disengaja dan yang sesingkat-singkatnya “maaf, saya tidak sering sapaki di dunia maya” jawab diriku “tidak mengapa saya juga tidak sering OL”, hanya itulah diriku ucap sebab diriku tahu pasti bentuk alasannya, dirimu tentu tahu alam maya bukanlah suatu penghalang untuk kita.

Kutahu segala ingatan dan mengingat-ingatnya membuatmu luka. Sedikit kuingat, surat kaleng yang berisi kata-kata kejudesanku tanpa berfikir-fikir membuatmu luka yang teramat nyeri dan kusadari itu bahwa diriku melakukan kesalahan yang fatal. Dirimu merasa bahwa dirimulah yang teramat luka tanpa tahu diriku pun teramat luka atas kata-kata judesmu pula yang sedikit kutahu dirimu menjudge diriku mengimitasi yang sepenuhnya disalahkan pada diriku, yah tumpahkan saja. Namun, Allah Maha Baik. Tanpa ku minta sekalipun Allah membuatku lebih banyak lupa kesakitan dari sekian kata-kata itu dulu daripada banyak mengingat dan diriku tak ingin memaksa mengingatnya, menyelami ingatan dan berlarut-larut didalamnya. Diriku pun hanya meminta sepotong hati yang baru. Sebab, diriku tak ingin menghilangkan dan terlupa sisa-sisa kenangan indah yang kita punya yang sebagian besar telah terlupa dan walau diriku tahu kenangan indah dihati ini perlahan-lahan akan dihapus oleh ingatan dan oleh dirimu. Tak seperti dulu, bukannya kita saling menguatkan dan saling memahami, malah saling melemahkan dan saling menyalahkan hanya karena menemukan hal-hal kecil yang sama kemudian dibesar-besarkan. Bila kutanya, adakah dirimu juga imitasi hal-hal tertentu terhadap diriku ataupun orang lain tanpa diriku ataupun mereka marah bila terdapat kesamaan atau misalnya dirimu menemukan sebuah kesamaan dirimu dengan orang lain yang memiliki segala unsur kesamaan yang sama halnya dirimu menjudgeku imitasi, apakah dirimu akan menuduhnya dia mengimitasi dari dirimu ?. Hal ini tak pernah pun ku tanya padamu dan diriku cukup diam dengan ini dengan hatiku yang sekarang, dan cukup dirimu yang tahu jawabnya. Tak mengapalah bagi diriku bila itu adalah sebuah kebaikan yang dirimu dapat didiriku untuk dirimu. Bukankah kesamaan kebaikan yang disengaja dan tak disengaja adalah berkah ? Bukannya menggali dan mencari-cari kesalahan, melainkan menutupi sekecil apapun aib saudara (i) kita dan menasehatinya.

OK baiklah, diriku bukanlah tipe pemaksa untuk menjadikannya kembali hijau kita. Diriku hanya mempertahankan sekeping hati rindu buatmu yang telah kutitipkan dan kutebarkan dengan do'a-do’a pada-Nya. Yakinku, jika rindumu merindukanku, kita pasti bertemu di suatu jalan. Sekalipun rindu terlalu lama bagiku, sekalipun rindu tak tersampaikan, sekalipun rindu mematikan setengah ingatan dan hati.

Diriku hanyalah mempertahankan apa yang baik dalam pandanganku dan apa yang baik dalam pandangan agamaku. Itulah dirimu untuk menjadikannya indah di ruang hijau yang kita impikan. Bagiku dalam ukhuwah tak ada yang pergi dari hati, tak ada yang hilang dari sebuah kenangan dan tak ada kata trauma untuk kebaikan mengembalikan ukhuwah kita. Dirimu pasti tahu maksud apa yang kukata. Sebab, tak terlalu mudah tuk sekedar kubahasakan dengan hati. Diriku hanya meraba dinding ruang hijau seberapa dirimu lupa diriku tiada tanya. Sudah diriku kata, alam maya bukanlah suatu penghalang kita. Diriku hanya diam memperhatikan keaktifan dirimu  diduniamu yang sekarang bersama orang-orang yang telah mengenalmu. Lebih memilih menyapa orang yang jauh dibanding orang yang lebih dulu dirimu kenal. Lebih merindukan mereka yang diriku pun tak tahu hatimu merindu sepertiku atau tidak. Entahlah, yang diriku tahu, ruangmu dan ruangku bukanlah kita.

Terasa beda, sangat beda, teramat sangat beda. 
Terlalu gengsi  bercerita kita yang bahkan kini tertutup untuk sekedar tahu menahu. Dirimu tak lagi sesering atau tidak sama sekali menanyaiku dan hanya berbagi sekedar info. Diriku yang pernah mengirim kata hadits dilayar hp-mu dengan perlahan-lahan mengembalikan ruang hijau itu tapi hanyalah berbalas terima kasih tanpa dirimu tak ingin tahu diriku yang merindui dirimu. Beberapa hari yang lalu pun dirimu mengirimiku pesan maaf lahir batin diawal ramadhan, hanya sekedar itu dan pada momen itu. Diriku tahu, dirimu sedang dalam diam tapi jika diam...tandanya dirimu sudah tidak peduli lagi. Dirikupun mengakui bahwa maluku dan gengsiku juga terkadang diatas batas normal untuk sekedar bertanya beritamu semisal, "Hei, sahabat ?, Sibukkah ? Masihkah dirimu merindukanku ?" bahkan diriku sesekali menunggu kedatangan dirimu dengan tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. Mungkin tanyamu, mengapa diriku selalu kutuliskan dan kukata hal yang sama ? Karena disaat kerinduanku memuncak tentang cinta karena Allah, diriku lebih memilih mengenang masa lalu indah saat bersama kita. Dirikupun tak ingin termasuk orang-orang yang dicap oleh Allah yang tidak menunaikan hak terhadap sahabatnya.

“Tidak ada seorang jua pun yang bersahabat dengan orang lain walaupun hanya satu saat sahaja, kecuali ia akan ditanyai pada hari kiamat nanti tentang hak persahabatanya, apakah ia telah menunaikan padanya hak Allah atau tidak.” (Sabda Rasulullah)

Diriku pula memilih dirimu… sebab, Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :
Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia

Ukhti, dirimu terlalu indah untuk kuhilangkan dalam sebuah kenangan. Diriku hanya cukup diam menanti dirimu siapa aku bagimu dan kembali di ruang hijau kita dulu yang tak lagi terasa beda dalam ukhuwah yang bermakna, kini ataupun nanti. Meskipun, diriku bukanlah deretan orang-orang yang berarti dan dilupa dirimu kini, itu tak membuatku lemah. Apapun bentuk ketidakpedulianmu menemukan sebagian catatan-catatanku disini, tak mengapalah diriku. Sebab, bagiku memaafkan kesalahan adalah bagian dari melupakan tanpa memutuskan silaturahmi dan tanpa berinkubasi. Bukan pada katamu "Memaafkan tidak harus melupakan atau putus silaturahmi.. Tapi adakalanya lebih baik jika kita ber-inkubasi di alam kita masing-masing". Maaf, kata-kata ini ku kutip dari twittermu beberapa bulan lalu. 

Yah, walau dirimu diriku ada sedikit berbeda kata, diriku menghargai keputusanmu. Jika dirimu kata adalah baiknya tanpa kata KITA, katakanlah. Dimasa depan nanti, dirimu diriku akan berhadap-hadapan diatas dipan-dipan yang sama-sama dirindui yaitu di ruang hijau yang setiap orang kata adalah surga (semoga Allah mempertemukan dirimu diriku), aku yakin itu. Untuk segala perlakuan dan perkataan ada banyak alasan yang tersirat yang telah kupahami dari dirimu bahwa itu adalah jenis keterpaksaan. Mungkin, kenangan KITA itu haruslah terbuang. Satu-satunya pemberianmu yang kumiliki hanyalah secarik foto yang tersimpan dan terjaga dalam album. Yah, hanya itu darimu yang ku punya meskipun ingatanku sudah tak cukup kuat untuk mengingat kenangan indah dirimu dan diriku di waktu itu, maka jika dirimu benar-benar berminat tanpa ada gengsi dan keterpakasaan merapatkan jari-jari yang dulu terikat dalam ukhuwah yang indah, kembalilah. Ingatkan diriku dibagian kenangan mana diriku terlupa dan kapan terakhir kali diriku dirimu benar-benar bersama tanpa jeda. Terlupa adalah bagian dari ikhlasku dan mengingat dirimu adalah sahabatku bagian dari yang tak termatikan dihatiku. Meskipun masa lalu, tidak akan pernah menang, karena ia selalu ada di belakang. Jika dirimu mau, marilah menuju masa depan bersama KITA. Segala do'a terbaik untukmu ukhti Aminah.

Semoga Allah selalu menjagamu dimana penjagaanku tidak sampai kepadamu dikala dirimu bersuka lara dan bersuka ria. Jaga kesehatanmu baik-baik terutama detak jantungmu, jangan lupa makan, jangan terlalu sibuk dengan orderanmu, jangan begadang, dan perbanyak mengingat Allah. Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan yang tercapai menjadikan dirimu lebih baik dan indah. Aamiin :).
Diriku hanya bisa berucap lewat beberapa kata yang saat ini dirimu telah temukan sedikit catatan diamku disini. Sebab, tak memuat memori ingatanku yang mungkin suatu saat nanti dirimu atau diriku akan mengingatkan diriku kembali yang tak mampu ucap semua kata dari cerita hati dan terlupa dengan ingatan. Maaf, bila dirimu membaca catatan diamku yang tak benar dan tak sesuai hati dariku. Tegur, nasehati dan katakan padaku jika diriku salah karena persahabatan bukanlah drama :)