Assalamu 'Alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh,Welcome to My Blog and Enjoy this Blog (✿◠‿◠)"menjadilah indah, maka semuanya akan terlihat indah"

Senin, 30 Desember 2013

Ruang Rasa Yang (Tak) Utuh



Lama aku memandangi layar notebook hijauku
Berfikir dan memutar bolak-balik otakku
Bingung,
Aku menekan tombol huruf A
Ada begitu banyak kata yang belum mampu ku rangkai
Sementara abjad tertata rapi didepan mataku
Ku ketik satu kalimat “aku….bla…bla….bla….” Back space
Ah, aku tidak tahu
Entah harus ku mulai dari mana mengeja perasaanku
Agar aku bisa menerjemahkannya
Merenung,
Aku menutup mata, menjamah dan meraba hatiku
Ada begitu banyak rasa
Dalam ruang dimana aku terjebak oleh perasaanku
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Seperti warna yang tidak hanya sebatas hitam ataupun putih
Seperti pelangi yang tak lagi jingga
Seperti embun menggelayut di ujung dedaunan
Hingga aku menemukan ruang dimana ku terkubur oleh dunia
Seperti awan yang tak lagi putih
Seperti gurung yang lagi tandus
Seperti kulit yang hitam legam
Seperti kaca yang tak lagi utuh
Menangis,
Aku terisak, menyesal, dan mengecam hatiku yang tersadar
Membunuh bayangan hitam yang mengikutiku
Perbuatanku buruk
Menodai ruang rasaku sendiri
Hingga kudapati tak lagi utuh
Astaghfirullah…!!!
Tuannya, Sang Penguasa seluruh hamba ! 
Kemurahan-Mu, wahai pemelihara ‘Arasy, tentu lebih utama.

Oleh : Mujahidah

Selasa, 24 Desember 2013

Terharu Baca Ini - Sehati


"mengapa belum bisa kau kubahagiakan, bu?
mengapa
belum bisa aku kaubahagiakan
meskipun kau telah banyak berusaha
meskipun aku
juga telah keras berusaha?
mengapa belum juga bisa kita saling membahagiakan?
apakah sebelum kelahiran kita masing-masing—jauh di kehidupan sebelumnya—kita pernah terlalu banyak saling melukai? atau apa justru kelewat penuh bahagia hingga harus menanggung dukanya saat ini, hingga begini?
atau
karena kita malah terlalu berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain?
apa mungkin karena itu?
karena kita akhirnya lupa untuk merasakan bahagia itu sendiri?
dalam sebuah film, pernah aku dengar,
“kau tak akan bisa membahagiakan seseorang, jika kau sendiri tidak bahagia.”
sejak menonton itu, aku lalu coba membahagiakan diriku, bu. apa kau sudah mencobanya? atau mungkinkah telah kau coba lebih dulu dari aku lantas
.... gagal?
lalu apa yang harus kita lakukan?
apa sampai mati akan terus kulihat matamu berkaca,
akan terus kaulihat pipiku basah—layak sekarang—tanpa bisa melakukan apa-apa,
bahkan sekadar
berpelukan?
apa harus begini hidup kita, bu?
bukankah tak bisa disalahkan takdir? berkali-kali diulang penceramah, dicatat buku-buku, hingga anak bayi sekalipun telah pandai melafalkan teori itu; tak seorang pun dilahirkan untuk dibuat menderita!
lalu mengapa kau masih menangis?
mengapa aku masih menangis?
mengapa kita terus saja menangis?
apakah di rahimmu dulu, apakah di rahim ibumu dulu, kita pernah meninggalkan senyum karena terlalu terburu-buru?
apakah kita lahir terlalu percaya diri bahwa hidup akan sangat pandai melawak?
***
ah, bu! mari berhenti menangis dan coba menjawab setidaknya satu saja pertanyaan. siapa tahu itu bisa sedikit menghibur perasaan."

By : Azure Azalea

Kamis, 05 Desember 2013

Diam Lebih Baik - Part II (Tere Liye)

"Jika ada yang marah-marah, menjelek-jelekkan kita, maka cara terbaik menanggapinya adalah diam. Biarkan saja. Semakin banyak orang yang menjelekkan kita bicara buruk, maka semakin membuka keburukannya sendiri. Terus sibukkan diri, memperbaiki diri, terus berkarya, terus produktif. Bangun tembok dari orang-orang seperti ini. Abaikan, lupakan. Besok lusa, lihat saja siapa yang terus melesat maju, siapa yang masih sibuk berdiri di tempat  sama dan masih menjelek-jelekkan orang lain"
-Tere Liye-

Sebuah kutipan yang sangat super sekali....!!!! Meskipun, kutipan ini sudah basi tapi aku menyukainya, sangat mengena dan mengetuk hatiku yang pernah dihadapkan sebuah kata-kata yang sungguh manis tapi pahit (prasangka buruk-difitnah-ditelanjangi di jejaring sosial) yang sempat aku ingin mengubur diri dan menghilang dari dunia. Sabarku masih panjang meski itu terasa sulit mempertahankan sebuah kesabaran yang akhirnya hatiku menciut dan ada sedikit penyesalan karena bangkit dari diamku. Astaghfirullah..................................(The Confession) :'(
Alhamdulillah, Allah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung, Allah Maha Baik... karena aku masih tersadar dengan kata-kataku. "Maafkan aku yang pernah ku lukai hatinya. Meskipun memaafkan tak selamanya menghapus luka. Aku tahu rasamu".
 
Yah, diam lebih baik dan dimanapun kita mendapati sebuah kata yang tak mengenakkan hati, baik itu dalam hal persahabatan, pertemanan, rumah tangga, pekerjaan dan sebagainya, maka diamlah dan teruslah menjadi pribadi yang lebih baik. :)

Minggu, 10 November 2013

Dahulukan Prasangka Baik


Jika saudara atau temanmu berbuat kesalahan maka carikanlah keringanan/alasan positif untuknya (udzur) jangan dahulukan prasangka negatif.

-------
Ibnu Mazin berkata: “Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.”

Abu Qilabah 'Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata: “Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang tidak kau sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu, jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, 'Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui.”

Hamdun Al-Qashshar berkata: “Jika salah seorang dari saudaramu (yang menurut pendapatmu) melakukan kesalahan, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima (mendapatkan) satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela.”

(Adabul ‘Isyrah, hal 19).

Dari Yunus bin 'Abdil A'la, beliau berkata: "Aku mendengar Asy-Syafi'i (rahimahullah) berkata:

'Wahai Yunus, terlalu tertutup dari banyak orang akan mengakibatkan permusuhan, sedangkan terlalu bertoleransi dengan banyak orang mengakibatkan datangnya teman-teman yang tidak baik, maka jadilah engkau berada di antara keduanya'."

(Jawaahiru Shifatish Shafwah, edisi Indonesia: Teladan Hidup Orang-Orang Pilihan, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor)

Dari Raja' bin Haiwah, diriwayatkan bahwa ia berkata:

"Barang siapa hanya bersahabat dengan orang yang (menurutnya) tidak bercela, akan sedikit sahabat yang dimilikinya. Barang siapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari sahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Dan barang siapa yang mencela sahabatnya atas setiap dosa yang dilakukannya (dilakukan oleh sahabatnya), (maka ia) akan banyak memiliki musuh."

[Siyar A'lam an-Nubala (4/557-558). Lihat di buku Sudah Salafikah Akhlak Anda?, Pustaka At-Tibyan, Solo; dan juga di buku Belajar Etika Dari Generasi Salaf, Darul Haq, Jakarta, yang diterjemahkan dari judul aslinya Aina Nahnu Min Akhlaq as-Salaf]

Sebagian penyair berkata: Engkau menghendaki seorang teman yang tidak ada aibnya Maka apakah ada kayu gaharu yang mengeluarkan bau wangi tanpa asap??

(Silsilah Al-Huda wan Nuur no. 32)

Sumber : Klik

Senin, 19 Agustus 2013

Sahabat Seperti Apakah Kita ?


Sahabat seperti apakah kita ?. Tak jarang aku mempertanyakan tentang kita dalam sebuah hubungan yang sudah terlalu lama kita jalin. Lama, telah lama menapaki jalan yang kita tempuh bersama yang terkadang kita menemui jalan yang lumayan tajam dan terjal, tanjakan dan tikungan yang menukik dan menjadi pertikaian hebat diantara kita sebab jalan kita yang selalu sama, berbeda dan salah arah. Salah paham, salah pengertian, salah penjelasan, dan salah petunjuk hingga membuat kita tersesat dalam kesendirian.

Hampir satu setengah tahun lamanya yang entah topik permasalahan apa yang membuat kita tersesat dan renggang dalam keingintahuanku terhadap arah penjelasan yang tak pernah kau jelaskan saat ku minta. Yah, aku salah. Salah menjadi sahabat yang baik untukmu. Sebab, terlalu banyak air mata yang telah kau tumpahkan yang selama ini kau bendung atas diriku. Kau muak denganku, Kau tak tahan denganku. Kau jijik denganku. Lantas aku harus apa ? Salahkupun kau rabunkan tanpa arti yang kau jelaskan. Kita hanya memilih diam meminum air mata nanah dan darah sendiri, membiarkan waktu meredakan amarah dan kembali menyatukan jari-jari tangan kita dalam dekapan ukhuwah. Sahabat seperti apakah kita ?

Dengan kediaman dan kesabaran kita menunggu waktu, Allah sangat bijak mengambil keputusan terhadap kita. Dialah sebaik-baik pembuat keputusan Maha Pengasih Maha Penyayang. Baru kemarin aku menulis kerinduanku (Rindu Hijaumu, Hijau Kita), kini Dia membuat kita kembali tersenyum melihat dunia dan kembali menapaki jalan yang telah membuat kita salah arah lewat do'a-do'a kerinduan yang kita sampaikan pada-Nya. Tangis bahagia, kedewasaan telah mendewasakan kita yang telah sekian lama dan terasa berabad-abad tanpa jalan yang kita lalui bersama. Aku melihat, kau telah jauh lebih baik dari apa yang ku kira. Meskipun bagiku jalan yang kita tempuh membuatku kaku berjalan dan berbicara terasa hambar seperti kita baru saling kenal mengenal. Kita tak bersahabat seperti dulu. Lantas aku harus apa ? Aku melihat, kau lebih menyenangi orang-orang baru disekitarmu, bahagia dengan mereka, banyak candamu dengan mereka, memilih bepergian dengan mereka ketimbang ketika ku minta dirimu untuk datang ke rumahku tapi itu adalah hakmu dan aku tak dapat memaksamu, maka akupun memilih berlaku biasa-biasa saja terhadapmu tapi kau tetaplah istimewa. Cemburu, yah aku cemburu dan takut mengganggu kesenanganmu dengan mereka. Sahabat seperti apakah kita ? Kita hanya yang bahkan terlalu sering mengirim pesan facebook dengan simbol senyum saja. Tapi, itu cukup bagiku. Meskipun, dalam keinginan, kita dapat kembali menapaki jalan dengan senyum, canda, tawa dan tangis yang tak pernah usai tentang kita. 

Sahabat seperti apakah kita ? Jawablah, jika kau menemukan sepenggalan kata-kata hatiku di ruang ini. Sebab, kebanyakan yang kubaca sahabat diibaratkan berlian yang sangat berharga dan jarang dimiliki, ibarat cermin yang menggambarkan diri kita, ibarat mentari yang menyinari, ibarat hujan yang menyirami tanah gersang dan tandus, ibarat pelangi yang selalu memberi warna, ibarat bintang yang memberi cahaya dalam kegelapan dan aku tak tahu seperti apa kita. Tapi, bukan berarti kita ingin diibaratkan, hanya saja aku ingin mengatakan bahwa dirimu adalah sahabat yang terbaik dari yang terbaik dan tiada upayaku untuk melupakan tentang kita. Jazakillah Khairan Katsira, ukhti. Ahabbakalladzii Ahabbataniilah

Kamis, 18 Juli 2013

Ummu Kultsum Binti ‘Ali Bin Abu Thalib


Jika ada wanita yang dikelilingi ahli surga, Ummu Kultsum binti Ali bin Abu Thaliblah orangnya. Dia adalah cucu Rasulullah saw. Ayahnya termasuk assabiqunal awwalun (pemeluk agama Islam yang pertama). Ibunya adalah pemimpin wanita di surga, yakni putri Rasulullah saw, Fathimah ra. Sedang dua saudaranya, Hasan dan Husein adalah penghulu ahli surga.

Keutamaan Ummu Kultsum sebagai wanita mulia keturunan Rasulullah, menarik hati Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai khalifah. Meski demikian, Ali sebagai ayah dari Ummu Kultsum tidak serta merta mengiyakan keinginan Umar tersebut. Saat Umar mengkhitbah Ummu Kultsum, Ali bertanya,” Apa yang kamu inginkan darinya?” Umar menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebabku dan nasabku sendiri'.” 

Menurut riwayat Abu Umar bin Abdul Barr, Umar berkata kepada Ali, “Nikahkanlah aku dengan Ummu Kultsum, karena aku melihat kemuliaan-kemuliaan pada dirinya yang tak terdapat pada orang lain.” Lalu Ali menjawab, “Aku telah menyerahkannya kepadamu jika kamu meridhainya dan aku telah menikahkanmu dengannya.”

Umar menikahi Ummu Kultsum dengan mahar sebesar 40 ribu dirham (senilai dengan 64 miliar untuk ukuran saat ini) sebagai bentuk penghormatan padanya. Mereka dikaruniai 2 anak, Zaid dan Ruqayyah.

Sebagai pendamping Amirul Mukminin, Ummu Kultsum senantiasa mendukung suaminya dalam mengayomi masyarakat. Dan salah satu peristiwa penting dialami Ummu Kultsum menjelang wafatnya Umar.

Pada malam itu, sebagaimana biasa Umar melakukan ronda mengelilingi wilayahnya. Untuk memantau keadaan masyarakat, kalau-kalau ada orang yang kelaparan atau membutuhkan pertolongan. 

Di pinggir kota Madinah, Umar bertemu dengan seorang Badui yang tengah gelisah di depan sebuah kemah. Dari dalam kemah terdengar rintihan seorang wanita. Bergegas Umar mendatangi Badui tersebut dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Awalnya Badui itu menolak menjawab, namun karena Umar terus mendesak akhirnya Badui itu berkata bahwa istrinya sedang kesakitan karena mau melahirkan sementara tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Umar bergegas meninggalkan Badui itu dan pulang ke rumahnya. Ia menemui Ummu Kultsum dan berkata,” Apakah kamu ingin mendapat pahala yang Allah akan limpahkan kepadamu?” Ummu Kultsum menjawab dengan antusias, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?” Lalu Umar menjelaskan kondisi keluarga Badui yang baru ditemuinya sekaligus mengajak Ummu Kultsum untuk membantu persalinan wanita istri Badui tersebut. Ummu Kultsum bergegas menyiapkan peralatan untuk persalinan bayi dan Umar memanggul gandum serta membawa minyak samin. 

Sesampainya di sana, Ummu Kultsum bergegas masuk ke dalam kemah dan menolong wanita Badui melahirkan bayinya. Sementara itu Umar bergegas memasak makanan di luar kemah. Ketika bayi telah kahir, Ummu Kultsum secara spontan berseru dari dalam kemah: "Wahai Amirul Mukminin, sampaikan kepada temanmu itu bahwa ia dikaruniai anak laki-laki." Orang Badui dan istrinya pun kaget, tidak menyangka bahwa orang yang memasak untuk mereka adalah Amirul Mukminin. 

Sepeninggal Umar, Ummu Kultsum menikah dengan sepupunya 'Aun bin Ja'far bin Abi Thalib sampai wafatnya ‘Aun, lalu ia menikah lagi dengan saudara dari 'Aun bin Ja'far, yaitu Muhammad bin Ja'far bin Abi Thalib. Setelah wafatnya suami ketiga ini, Ummu Kultsum pun menikah lagi dengan saudara dari dua suaminya ini yaitu 'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib hingga Ummu Kultsum wafat.

Selasa, 09 Juli 2013

Diam Lebih Baik

Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
memberi komentar..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam
persetujuan..

tapi..

Biarlah DIAM kita mereka faham artinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum
maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..

karena..

DIAM kita mungkin disalah artikan..
DIAM kita mungkin mengundang
prasangkaan..
DIAM kita mungkin tidak membawa maksud
apa2..
DIAM kita mungkin tak berarti..

maka..

jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
seharusnya kita DIAM..
namun seandainya DIAM kita bukanlah
sesuatu yang bijak..
berkatalah sehingga mereka DIAM..

Sabtu, 06 Juli 2013

Rindu Hijaumu, Hijau Kita

Untukmu saudariku : Aminah Namina Minami

Tiba-tiba rinduku kembali menyapa
Pada kata yang tak dapat terjelaskan
Tentang kita yang telah lama jauh dari keberadaan
Tentang kita yang telah lama jauh dari kedekatan
 Tentang kita yang telah lama jauh dari kebersamaan
Tangan-tangan keegoisan dan kemaafan enggan berjabat
Memilih diam dan sendiri
Membiarkan luka kian memeluk diri
Membiarkan waktu terus berlari
Untuk menggapai ketenangan dan kedamaian
Tanpa aku ataupun kau

Bersama hijau
Kita melangkah sendiri
Memudarkan dan menjadikannya gersang
Walau pada kenyataan, perih
Karena rindu yang tak dapat terhindarkan oleh perasaan
Sementara kita tetap saja diam
Menunggu hujan menetesi dan kembali basah
Agar luruh kejelekan-kejelekan dan berganti saling pengertian
Kedekatan kembali subur
Nyatanya, kita tetap saja diam
Malukah ? Sementara rindu semakin mencekam nurani dan tak tertahankan
Tak perlu, aku hanya ingin menjabatmu, memelukmu erat dan melepaskan rinduku
Rinduku yang ku sebut kaulah hijauku

Kamis, 20 Juni 2013

Dunia Wanita Itu


Dia adalah wanita yang berkepribadian melankolis cenderung plegmatis. Cinta hijau yang berarti dia mencintai kedamaian, keteduhan, dan ketentraman. Baginya kedamaian adalah segalanya. Jika timbul masalah ia akan berusaha mencari solusi dari hasil perenungannya tanpa ingin timbul konflik yang lebih besar. Dia begitu pendiam, terlalu pemalu, dan tidak mau menonjolkan diri. Tak mau banyak bicara. Sebab, dia takut tak bisa menjaga perkataannya yang akan menyakiti hati yang dijaganya. Dia selalu serba salah, sering menyembunyikan emosi, dan sulit mengungkapkan perasaan. Namun, mempunyai keinginan kehidupan yang perfeksionis dan berusaha menjadi pribadi yang baik.

Dalam dunianya, kehidupannya tak seindah yang dibayangkannya, begitu rumit dan sulit dipahami. Setiap kali dia melangkah ke dunia luar, dia seolah tak terlihat oleh mata lain, maka dirinya lebih memilih menyendiri atau bahkan berdua dengan Sang Khalik ketika dirinya benar-benar tak sanggup menghadapi persoalan hidupnya. Kebahagiaan, kedamaian, keteduhan dan ketentraman yang dicintainya seolah-olah tak pernah dirasakannya. Terlalu banyak konflik yang dia temui sehingga membuat dirinya kalut mencari solusi dan pengharapannya hanyalah pada Allah sebaik-baik penolong dan menyendiri terasa lebih nyaman baginya. Namun, dia selalu bersyukur dengan kebahagiaan apapun yang dimilikinya dan ditemukannya sekalipun ada saja orang-orang yang ingin melenyapkan dan memusnahkannya. Keyakinannya begitu kuat bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, diapun menjadi sabar, tenang, tegar dan kuat. Meskipun air mata menjadi pilihan terakhirnya. Saat dirinya ditinggalkan, diabaikan dan dikhianati oleh orang paling dekat denganya, maka disitulah rasa rendah dirinya dimulai dan dia bisa melewati orang-orang itu saat bertemu dengannya. Bagi wanita itu, luka itu seperti terjatuh ke dalam air yang paling dalam. Semua orang tak tahu seberapa dalamnya luka itu. Sebab, terlalu banyak orang yang melupakan dan meremehkan luka orang lain. Sabar, ikhlas dan memaafkan.

Dalam pengaduannya, dia selalu berharap mencicipi kebahagiaan yang diimpikannya yaitu berada diantara orang-orang yang dicintainya dan disayanginya menjadi akur tanpa ada rasa keegoisan, ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menyakiti hati satu sama lain. Berbeda dengan dunia percintaanya, dia juga memiliki pengharapan pada kebahagiaan yang dinantinya dibatas waktu. Dia menanti seseorang yang mencintainya yang dapat menghantarkannya pada cinta-Nya, menerima apa adanya yang bukan melihat kekurangannya melainkan kelebihannya. Namun, saat dirinya berbaur dengan begitu banyak hati dan menjumpai tipe orang yang melihat pada sisi kekurangannya, dia merasa tidak nyaman, dia menjadi orang yang tak mudah percaya, mati rasa dan mengganggap semuanya sama. Dia mempercayai takdir. Meskipun, betapa tertutup dan rapuhnya cinta tak berbalasnya yang tak mampu menemukan jalan keluar pada sosok yang pantas diinginkan. Dia tahu, dirinya yang lebih dulu memulainya meskipun sekuat apapun pondasi keimanan menjaga hatinya agar tak jatuh cinta yang pada akhirnya jatuh juga. Namun, dia berusaha bangun cinta dengan masih memiliki kesempatan untuk menebar benih dan berbunga, maka adalah benar-benar takdir bila cinta itu berhasil dipanennya. Setidaknya sampai saat ini... Sebab, dia takut jika apa yang dirasanya hanya sekedar melintas di hatinya dan ternyata bukan pilihan Allah untuknya.
Bagi wanita itu, cinta adalah rahasia yang tidak perlu diungkap kepada orang lain atau bahkan tidak pada dirinya sendiri. Itulah cinta dalam diam dan lebih terjaga. Diam adalah caranya mencintai.

Dengan dunianya yang sekarang, dia semakin terbiasa menjalani kehidupannya dan mencari kebahagiaan yang tak ditemukannya dan hal itu membuatnya dewasa. Dia selalu berusaha menjadi pribadi yang baik yang memimpikan tempat hijau dalam setiap perjalanannya mencintai-Nya. Dunia wanita itu, dia akan membuatnya menjadi indah...

Mujahidah

Minggu, 16 Juni 2013

Tiada Yang Beda


Kemarin dan hari ini tiada yang beda
Bagiku tetaplah sama
Bukan pada aku, tapi pada mereka
Pada mereka yang berjiwa iblis bersampulkan senyum manis mencari kesenangan
Pada mereka yang menuntut kesempurnaan berlabelkan cantik, tampan dan kaya
Pada mereka yang berkomitmen dan berjanji yang pada kenyataannya omong kosong
Pada mereka yang merekatkan tangan kemudian melepasnya
Pada mereka yang mengajak berlayar yang pada akhirnya menenggelamkan
Pada mereka yang datang dan berlalu pergi
Pada mereka yang tiada beda dengan yang lain, mereka semua sama

Yah, bagiku tetaplah sama
Bukan pada mereka, tapi pada aku
Pada aku yang berdiri sendiri dibawah langit kelam, cerah bersama senja yang makin temaram
Pada aku yang tersudutkan oleh dunia luar dan memilih berada di ruang yang berpetakkan 4x3 m
Pada aku yang ditenggelamkan oleh yang menenggelamkan
Pada aku yang bahagia dan membahagiakan diri sendiri
Pada aku yang berharap penuh keyakinan dalam setiap do'anya
Pada aku yang berteman dengan sepi dan hanya Allah sebaik-baik sahabat

Tiada yang beda, tetaplah sama
Setidaknya sampai saat ini

Jumat, 14 Juni 2013

Memilikimu

Saya mencintai sunset,
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah,
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati
Selalu begitu, hingga akhir nanti.

-Tere Liye-